Dua hari berikutnya, tiba hari di mana Namira akan menikah dengan pria asing yang sama sekali belum dikenal olehnya. Namira sendiri tidak menyangka jika dia akan menikah secepat itu dengan pria yang tidak dia cintai sebelumnya. Malangnya Nasib Namira menerima kucing dalam karung karena dia tidak tahu seperti apa kepribadiannya calon suaminya itu.
"Mimpi apa aku semalam sehingga tiba-tiba menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana jika ternyata pria itu sangat kejam?" Namira gundah di dalam kamar sendirian.
Air matanya menganak sungai membasahi pipi yang sudah cantik dengan riasan. Perasaannya juga sangat hancur sekarang Jika saja tidak memikirkan keselamatan ibunya, Namira memilih pergi dari rumah itu dan meninggalkan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.Pikirannya buntu, masa depannya terasa semu. Namira ingin pergi dari kenyataan itu.
"Haruskah aku pergi, saja?"
Namira beranjak ke arah jendela, menatap rumah-rumah mewah yang mengelilingi ruangannya. Dia ada di lantai dua dua tidak mungkin Namira pergi dari sana dengan mudah. Apalagi di depan pintu gerbang itu terdapat pagar besi yang cukup tinggi dengan duri diatasnya. Penjaga keamanan yang lebih dari tiga, Namira tidak yakin dia bisa kabur di hari pernikahannya itu.
Namun, baru memikirkan rencananya tiba-tiba pintu kamar terbuka dan ternyata itu calon suaminya. Pria itu berjalan mendekat ke arah Namira, penampilannya gagah dan rapi dengan balutan tuksedo putih dan tampak mahal. Pria itu terlihat semakin tampan dengan tatanan rambut rapi kebelakang.
"Bagaimana, apa kamu sudah siap untuk memulainya?"
Namira merasa sangat gugup karena pria itu sudah berdiri persis di belakangnya. Sengaja mengikis jarak dengannya dan membuat Namira salah tingkah.
"A–apa pernikahannya akan segera di? Aku belum selesai berdandan." Namira memberikan alasan.
Zavier tidak mengindahkan pertanyaan Namira. Dia hanya menatapnya, menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kebaya modern berwarna putih bertabur payet-payet mahal di setiap sisinya, berpadu dengan make up natural dan rambut yang hanya di tata model half updo yang apa adanya menunjuk Namira yang sederhana namun tetap cantik karena pancaran dari auranya.
Melihat penampilan Namira, Zavier tersenyum dan mengusap wajahnya karena Dia sangat menyukainya. Zavier begitu betah memandangnya berlama-lama sebab wanita itu semakin mengingatkan Zavier pada almarhum istrinya.
"Kamu sangat cantik dan aku menyukainya," puji Zavier menatap Namira.
Namira tersipu tetap berusaha bersikap biasa saja. Kini dia hanya menatap tangan pria yang menggandeng tangannya.
"Ayo sekarang kita, turun. Kita akan menikah secepatnya," ucapnya.
Belum sempat menjawab, pria itu sudah lebih dulu menggenggam tangan Namira dan meletakkan di lengan kirinya. Namira sangat gugup karena belum terbiasa. Tetapi Pria itu memperlakukannya dengan sangat baik sehingga Namira meras cukup nyaman dengannya.
"Tunggu dulu, aku belum tahu siapa namanya. Apa aku harus bertanya?" batin Namira melirik sekilas pria di sampingnya.
"Ada apa?" Pria itu mengalihkan pandangannya pada Namira, menyadari Namira barusan meliriknya.
"Sebentar lagi aku menjadi istrimu, tapi aku belum tahu siapa namamu," jawab Namira dengan wajah polosnya itu.
"Namaku Zavier, panggil aku 'Mas Zavier' atau terserah kamu saja."
Namira menganggukkan kepala tanda mengerti. Setelahnya dia berjalan beriringan dengan calon suaminya itu. Sepanjang menuju pelaminan Namira menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan untuk mengurangi rasa gugupnya. Hingga setibanya di pelaminan sederhana di dalam rumah, Namira merasa semakin gugup karena itu adalah kali pertama baginya.
"Tersenyumlah, sekalipun kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini. Aku tidak ingin orang lain tahu jika kamu terpaksa menikah denganku." Zavier berbisik ditelinga Namira yang memasang wajah murung di sampingnya.
Mendapati peringatan. Namira langsung memasang wajah sumringah, seulas senyum terpaksa dia sunggingkan pada orang-orang yang sudah duduk di kursi tamu yang hanya terdiri dari beberapa orang saja. Ada juga sang ayah yang duduk di sana dan akan menjadi saksi pernikahan mereka. Melihat itu Namira menjadi kesal dan ingin sekali mengumpatnya.
"Ayo Nona, silahkan duduk di sini." Seorang wanita mempersilahkan Namira duduk bersebelahan dengan Zavier yang sudah lebih dulu mengambil kursinya.
Namira menurut dan langsung duduk di sebelah calon suaminya. Sementara pria yang bertugas sebagai penghulu itu sudah duduk berhadapan dengan Zavier. Tidak perlu berlama-lama pernikahan itu di mulai, Zavier yang sudah siap itu langsung menyambut baik tangan pak penghulu itu dan melakukan ijab qobulnya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan, Engkau. Zavier Dirgantara Putra bin Wahhab dengan Namira Almaira Azahra binti Gunawan dengan mas kawin uang seratus juta rupiah di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Namira Almaira Azahra binti Gunawan dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" seru Zavier dalam satu tarikan nafasnya saja.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!" Seru tamu undangan bersamaan.
Kalimat Hamdalah dilantunkan bersama dengan serangkaian doa-doa. Zavier tersenyum lega sembari menatap Namira. Sementara Namira merasa sedih karena dia telah kehilangan masa lajangnya dengan terpaksa.
Di sebelahnya Darma tersenyum tipis. Di sangat senang dengan pernikahan Namira yang sudah memberikan banyak keberuntungan untuknya. Setelah ini dia bukan hanya di angkat sebagai mertua tapi pria itu juga akan mendapatkan uang pelunasan dari majikannya.
"Selamat Tuan. Tuan Zavier telah menikahi wanita yang sangat mirip dengan almarhum istri Tuan. Semoga rasa rindu Tuan terobati dengan kehadiran Namira," ucap Darma menyalami Zavier dengan memberikan senyum terbaiknya.
"Terima kasih Pak Darma!" Zavier menjabat tangan Darma.
Lalu Darma mengalihkan pandangannya pada Namira yang sudah menatap tajam padanya. Darma tahu Namira sangat membenci dirinya. Namun, dia berusaha bersikap biasa saja seolah-olah mereka tidak ada masalah.
"Selamat Namira, kamu sudah resmi menjadi istri Pak Zavier. Seorang pengusaha muda dan ternama, Ayah yakin kamu akan hidup bahkan dengannya
dan ibumu juga akan mendapatkan pengobatan yang layak," ungkap Darma pura-pura baik pada Namira.
Namira yang sudah hafal dengan watak ayah tirinya itu hanya memalingkan wajah untuk menutupi kekesalannya. Andai dia tidak diancam pasti Namira sudah mengumpat pria itu dan bahkan menghabisinya.
"Tuan, silahkan bersiap-siap untuk pemotretan." Seorang pria yang ditugaskan menjadi fotografer itu menyela pembicaraan.
Sehingga Darma menjauh dari Namira dan membiarkan anak tirinya itu menikmati pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan. Zavier sendiri sudah bersiap dengan posisinya, memeluk Namira dari belakang seperti yang diarahkan. Pria itu terlihat sangat menikmati setiap momen pernikahan mereka.
Berbeda dengan Namira yang masih merasa canggung saat pria itu meletakkan dagu di pundaknya dan kedua tangannya memeluk pinggangnya dari belakang. Bukan hanya itu masih banyak pose lain yang menuntut Namira harus bermesraan dengannya dan memasang wajah bahagia.
Hingga acara pernikahan itu usai, semua tamu yang datang telah meninggalkan ruangan. Namira kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Namun sebelumnya dia menatap diri dalam cermin memandangi penampilannya sendiri. Rasa belum percaya jika dirinya sudah menikah dengan pria asing dari ibu kota itu mendominasi hatinya. Pernikahan itu terkesan biasa saja, tidak ada rasa bahagia seperti pengantin baru pada umumnya.
"Mungkinkah aku bahagia dengannya? Bagaimana jika menyakitimu suatu saat nanti?" Pikir Namira.
Bayangan buruk terlintas di otaknya, begitu banyak hal-hal yang Namira takutkan setelah pernikahannya, terutama momen malam pertama.
"Aku harus tidur lebih awal sebelum pria itu datang. Aku sama sekali tidak siap untuk melayaninya malam ini." Namira buru-buru melepaskan kebaya yang masih melekat di tubuhnya.
Namun, baru saja melepaskan sebagai kebayanya tiba-tiba lampu di kamar dan seluruh ruangan padam. Kamar dan sekitarnya menjadi sangat gelap, membuat Namira yang memang takut gelap itu ketakutan sendirian.
"Astaga, apa yang terjadi? Kenapa gelap sekali?" Namira panik, tangannya meraba-raba mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memberikan penerangan tetapi tidak menemukan apa-apa.
Dia pun mencari jalan keluar dan berniat meminta bantuan pada orang lain. Di saat bersamaan seseorang membuka pintu kamar membuat Namira merasakan ada yang berdiri di depannya. Dia pun merabanya dengan kedua tangan sepertinya itu adalah wajah seorang pria, deru nafas terasa di wajah Namira, tetapi dia tidak tahu itu siapa.
Mungkinkah suaminya?
"Apa yang sedang kamu lakukan?" suara berat khas pria dewasa itu mengejutkan Namira.
"Aku sedang mencari jalan keluar, aku takut dengan gelap. Tolong nyalakan lampunya, aku tidak bisa berlama-lama di tengah gelap seperti ini." Namira memegangi lengan orang yang ada di depannya.
"Malam ini ada pemadaman listrik. Aku sudah menyuruh orang menyalakan genset, jadi tenanglah."
"Benarkah?"
"Ya, sekarang duduklah. Kita tunggu saja sampai lampunya menyala." Pria itu menuntun Namira ke ranjang dan mendudukkannya di sana.
Namira sendiri begitu gugup karena dia harus memegangi kebayanya yang belum selesai di lepas tetapi kancingnya sudah terbuka. Dia tidak bisa membukanya atau memasangnya kembali.
"Kenapa sepertinya kamu resah, apa ada masalah?" Zavier yang sejak tadi curiga itu akhirnya bertanya.
"Ti–tidak apa-apa, aku hanya takut gelap saja. Aku tidak bisa berlama-lama seperti ini," lirih Namira memeluk tubuhnya sendiri.