Aluna baru saja keluar dari ruang interview kerja Perusahaan Pradipta. Ia memang melamar pekerjaan di kantor Pradipta Furniture itu sebagai salah satu desainer furniture seperti saran mantannya, Safwan yang tidak lain adalah putra bungsu pemilik perusahaan tersebut. Kini senyum lega terpatri di wajahnya. Pihak perusahaan ini akan kembali menghubunginya dalam seminggu. Jika lolos tahap pertama, maka ia harus menjalani masa uji coba selama sebulan.
Aluna sendiri heran dengan perusahaan milik keluarga mantannya itu. Proses seleksinya benar-benar ketat dan hasilnya harus langsung terlihat. Tidak akan ada kesempatan main orang dalam. pantas saja Safwan tidak mau membantunya. Namun dibalik itu, selama sebulan masa uji coba tahap pertama tersebut, ia sudah diberi gaji standar walau tanpa tunjangan. Lumayan. Terutama untuk statusnya sebagai pengangguran.
Me:
Assalamu alaikum om,
Luna sudah selesai interview.
Y.M. Raja:
Wa alaikum salam
Bagaimana hasilnya?
Me:
Luna lulus tahap pertama.
Harus uji coba dulu sebulan.
CEO perusahaannya Safwan
ada-ada saja deh.
Luna jadi takut. Nggak PD
saingan sama yang lain.
Ini tuh kayak ujian skripsi...
Y.M. Mulia
calling
"Halo om, Luna nggak PD, takut bikin malu. Kalau Luna gagal, pasti diledek Jendral Gib. Terus nanti Luna bikin malu om sama papi sama mami kalau Luna pengangguran. Nanti keluarganya dosen itu bakal bilang apa? Luna udah master tapi pengangguran? OMG! Luna juga nggak bisa minta tolong Jenderal Gib, soalnya Luna sudah PD palak dia kemarin." Hamizan tersenyum mendengar kekhawatiran keponakannya itu.
"Om tahu kamu gugup. Tapi anggap saja ini awal yang menegangkan. Nanti kamu akan terbiasa sendiri. Ingat, kamu itu peri kesayangan om. Jadi tidak perlu malu. Om justru suka dan bangga."
"Tapi bagaimana kalau calon mertuanya Luna bilang nggak mau punya mantu kayak Luna? Mana Luna sudah bilang mami kalau setuju dijodohin. Minta Luna ke Makassar karena minggu depan mau makan malam sama keluarga mereka." Orang-orang yang sedang berlalu-lalang memperhatikan Aluna tersenyum gemas melihat tingkahnya.
"Keluarga mereka tidak nuntut kamu harus punya pekerjaan. Banyak orang yang pintu rezekinya terbuka setelah menikah. Apalagi kalau niatnya tulus sama mau ibadah kepada-Nya." Hamizan terus saja tersenyum mendengar kekhawatiran Aluna dan berdoa jangan sampai kedua putranya tahu hal ini.
"Terima kasih Your Highness. Luna jadi semangat lagi. Oh ya, soal permintaan Luna kemarin bagaimana? Om Faizal setuju apa tidak?"
"Setuju banget. Dia bilang, anak-anak di rumah sakit ini pasti akan sangat senang karena dia akan mendatangkan seorang Barbie dari negri dongeng untuk mereka. Karena kamu masih pengangguran, nanti hadiah-hadiah buat mereka om yang atur. Peri kecil om bahagia, jantung om jadi sehat."
"Om memang cocoknya jadi Yang Mulia Raja deh... tahu aja kalau Luna kere. Hahaha..."
"Hahaha... bukannya tadi kamu bilang kalau Om ini Raja Satan?"
"Iya, Raja yang sayangnya kebangetan."
Keduanya kembali tertawa hingga panggilan itu diakhiri. Aluna sudah bersiap pulang ke rumah Nafisa. Peri kecilnya yang juga merupakan peri manja Derdi itu senang sekali mendengarnya tertawa bahagia. Hamizan tidak bodoh. Ia hanya pura-pura tidak tahu apa yang dialami Aluna di Bandung beberapa bulan terakhir saat ia kembali ke Indonesia. Mendengar Bara minta dijodohkan, maka ia tidak berpikir dua kali lagi untuk menjodohkan mereka. Baginya, Bara adalah sosok yang tepat untuk peri kecilnya itu. Urusan belakangan bagaimana Bara nanti akan meyakinkan Derdi. Setidaknya Lenata sudah setuju.
Hamizan memang sudah meminta Lenata agar merahasiakan pada Aluna tentang siapa sosok yang akan dijodohkan dengannya. Pertimbangan Hamizan mengambil keputusan itu, ia tidak ingin Bara ataupun Aluna merasa terpaksa karena pilihannya. Ia ingin mengejutkan Aluna dan Bara. Membuat mereka saling mengenal dan saling menerima. Apalagi selama ini Bara tidak tahu kalau Derdi dan Lenata punya seorang putri. Semua itu sengaja disembunyikan sejak kecelakaan Gibran.
Derdi merasa jika pelaku yang menyerang Gibran malam itu tahu jika ia dan Gibran memiliki hubungan. Orang yang dihubungi Gibran tepat sebelum mobilnya meledak adalah Derdi. Panggilan yang masih terhubung saat putranya itu ditembak berkali-kali oleh beberapa pelaku.
Hamizan mendengar cerita itu langsung dari mulut adik iparnya yang masih merahasiakan hal tersebut dari orang lain. Beberapa waktu lalu saat Gibran mengaku siapa Alif yang selalu ia sebut dalam keadaan tidak sadar, membuatnya mengerti keputusan adik iparnya menyembunyikan Aluna. (Baca ARU series part#1, ADA RINDU UNTUKMU)
***
Aluna bukannya pulang ke rumah, melainkan mengirim pesan pada Bara minta bertemu. Sayangnya pesan itu tidak kunjung dibalas. Aluna menjadi semakin kesal karena dosen pengganti itu kini menambah kekesalannya. Merasa haus dan lapar, Aluna melangkahkan kakinya ke sebuah kafe yang masih berada di kawasan Pradipta Land Zona Timur itu.
Sepanjang perjalanan ke kafe yang berada tepat di depan gedung kantor utama itu, banyak yang menatapnya. Aluna hanya tersenyum dan mereka pun balas tersenyum. Bagaimana tidak? Sosok bidadari cantik dengan balutan dress formal putih dan anting jumbai pom-pom putih kecil di telinganya. Kembali melangkah dengan ceria ketika Safwan membalas pesannya. Pesan berisi rekomendasi menu yang bisa membuat berhenti kesal.
Langkah Aluna terhenti setelah beberapa saat memasuki kafe. Matanya menangkap sosok biang kerok hatinya sedang duduk bersama seorang pria tua. Keduanya tertawa entah sedang membicarakan hal apa. Diselingi tawa, keduanya sesekali fokus dengan lembaran kertas di meja dan file di gadget. Sementara Aluna sendiri tidak sadar menjadi objek tatapan hampir seluruh pengunjung kafe.
Dosen pengganti itu tidak membalas pesannya karena sedang sibuk dengan seseorang dan MacBook di tangannya. Omnya benar jika dosen pengganti yang akan menjadi calon suaminya itu memang ganteng. Seperti kata Nafisa kemarin saat mereka mengikuti kuliah umum itu. Dogan yang satu ini lebih ganteng dari Jendral Gib yang keren dan lebih ganteng dari Safwan yang selalu dikejar-kejar cewek matre. Selera maminya memang nggak bisa diragukan kalau soal lirik cowok ganteng.
"Nona, maaf. Apa anda sudah punya janji dengan seseorang ini tempat ini?" Seorang karyawan kafe yang menghampiri Aluna mengulas senyum ramah. Aluna yang tadinya ingin menggeleng langsung mengangguk ketika melihat kedua orang yang diperhatikannya sejak tadi sedang berjabat tangan. Pria tua itu berdiri dan kembali mengancing jasnya. Aluna kembali tersenyum dan menunjuk ke arah Bara sebagai jawaban dari pertanyaan karyawan kafe tadi.
"Pesan aku kenapa tidak dibalas?" Aluna berdiri di hadapan Bara yang sedang merapikan beberapa lembar dokumen dan memasukkan ke dalam tas kerjanya.
Bara bergeming melihat sosok gadis yang menghampirinya. Rambut panjang hitamnya terkuncir rapi. Poni yang ditata miring membingkai wajah imutnya. Mata bulat dengan bulu mata yang tebal dan lentik yang mungkin bulu mata palsu sengaja digunakannya. Hidung kecil yang tidak pesek tidak juga terlalu mancung. Pipi yang tidak begitu chubby, mulus dan terlihat lembut. Bibir kecil dan sedikit bervolume yang pink alami dan dagu terbelah yang menurutnya menarik untuk dikecup. Bara beristighfar dalam hati. Godaan setan ada di mana-mana.
"Kemarin kita baru ketemu dan kamu sudah lupa? Aku bocil yang kamu suruh berdiri di ruang kuliah. Nah, sekarang lihat. Aku bukan bocil, tapi gadis dewasa. Ya papi sama mami bilang cuma sedikit imut." Aluna menunjuk kepala hingga ujung kakinya kemudian duduk di kursi kosong di depan Bara.
"Kamu kok bengong? Aku ini lagi kesal sama kamu." Aluna mendengus melupakan keanggunannya.
"Saya belum cek ponsel. Ada perlu apa anda dengan saya?" Bara masih terpaku dengan sepasang mata bulat yang mengerjap lucu menggemaskan itu. Ia tidak menyangka jika gadis yang duduk di hadapannya saat ini adalah gadis yang sama di lecture learning kemarin. Gadis yang menjadi penanya terakhir sebelum kuliah itu ia akhiri.
"Nggak tahu juga sih? Aku cuma tahu kamu bikin aku kesal kemarin. Terus aku lihat kamu duduk di sini. Daripada aku duduk sendirian dan diganggu sama banyak cowok yang minta kenalan, ya mending duduk di sini sama kamu." Aluna tidak sadar jika ia baru saja menyampaikan maksud hatinya untuk menjadikan Bara tameng. Ia tidak sadar kalau kalimatnya itu akan menyinggung perasaan Bara. Selain itu, ia memang punya maksud lain, apalagi kalau bukan untuk melancarkan rencananya. Balas dendam pada si biang kerok hatinya.
"Saya minta maaf. Tapi saya buat anda kesal karena apa?" Bara mengedarkan pandangannya dan benar saja gadis di depannya itu sedang jadi objek utama pengunjung kafe. Seorang karyawan kafe menghampiri dan meletakkan buku menu.
"Kamu sudah makan?" Aluna justru menjawabnya dengan pertanyaan. Bara8 penasaran kesalahan apa yang dilakukannya dan membuat gadis itu kesal? Tadinya ia ingin segera kembali ke rumah sakit. Tapi ia tidak ingin terganggu dengan rasa penasaran, akhirnya memutuskan untuk makan siang di sini saja bersama gadis yang harus ia akui memukau itu.
"Jadi?" Bara kembali bertanya.
"Jadi apa?" Aluna mengernyit.
"Apa kesalahan saya yang sudah membuat anda kesal?"
"Ya ampun aku hampir lupa karena lapar. Itu... gara-gara kamu ledek aku bocil. Aku kesel banget sampai mau cakar-cakar kamu. Jendral Gib aja yang nyebelin nggak pernah anggap aku bocil. OMG!! Keterlaluan! Sejak kemarin kamu itu biang kerok hati aku dan bikin aku kesel seharian dan nangis di kantin. Body aku itu cuma imut dikit, tapi bukan bocah kecil. Paham?" Aluna memukul meja dengan sepuluh jarinya dengan ekspresi kesal di wajahnya. Ekspresi yang justru terlihat semakin menggemaskan.
Bara ingin sekali mencubit sebelah pipi yang menggembung itu. Tapi menahan diri dan memilih menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuk. Mengingat kembali apa yang terjadi di tempat ia memberi kuliah umum. Rasanya jadi aneh sendiri jadi objek perhatian pengunjung kafe seperti saat ini karena pukulan gadis itu di meja terdengar cukup jelas. Tapi sepertinya gadis cantik ini tidak sadar sama sekali.
"Seingat saya, saya tidak pernah mengatakan apa yang anda tuduhkan. Kemarin saya tidak pernah sekalipun mengatakan anda bocah kecil. Tolong diingat kembali. Anda baru saja menuduh saya tanpa bukti dan itu termasuk tindak kejahatan."
Aluna melongo. Beberapa detik ia bergeming kemudian menjauhkan tubuhnya dan duduk bersandar dengan menggigit bibir bawahnya. Memikirkan kembali ucapan laki-laki di hadapannya ini. Melihat bahu kecil itu merosot, Bara rasanya ingin tertawa. Tentu saja ia tahan karena tidak ingin membuat gadis itu menangis karena malu. Ini tempat umum dan dirinya bisa kembali disoroti.
"Saya minta maaf."
"Sorry."
Aluna meringis dan merasa malu saat ini. Merasa canggung juga dengan ucapan mereka yang terdengar bersamaan. Kekesalannya diejek bocil menutupi akal sehatnya. Padahal bukan dosen pengganti ini yang mengatakan ia bocil, melainkan mahasiswa lain di tempat kuliah kemarin.
Dosen ini tidak tahu jika dirinya sudah berdiri. Dosen ini tidak tahu kalau tubuhnya sedikit pendek di banding tinggi standar rata-rata. Mau bagaimana lagi, tinggi badannya yang cuma 154 cm itu tidak pernah berubah meskipun ia sudah mengkonsumsi obat peninggi badan.
Aluna akhirnya sadar, jika ia yang berdiri di depan saat itu dan bertukar posisi, mungkin ia juga akan mengira dirinya masih duduk. Tubuh imutnya sekali lagi jadi bencana. Tidak, bukan tubuhnya, melainkan otaknya yang selalu dibilang bodoh oleh Gibran. Otak yang selalu dibilang polos oleh Safwan.
Kecanggungan itu perlahan surut dengan kehadiran karyawan kafe yang membawakan pesanan mereka. Aluna yang sudah kembali ceria melihat menu yang dipesannya rasanya tidak sabar untuk mencicipi. Tapi ia kembali meletakkan sendoknya dan mengikuti apa yang laki-laki di depannya itu lakukan. Menyatukan kedua tangan kecilnya saat melihat seorang Mubarak Alfatha tertunduk menatap kedua telapak tangannya sembari membaca doa sebelum makan. Aluna jadi merasa malu. Untung saja laki-laki di depannya itu bukan Jendral Gib yang akan geleng-geleng kepala meledeknya karena bertingkah seperti bocah kecil.
"Boleh ngobrol sambil makan?" Aluna akhirnya kembali membuka pembicaraan. Ia tidak suka terjebak dalam suasana canggung seperti ini.
"Silahkan. Asal jangan marah-marah seperti tadi. Nanti saya disangka orang lain sedang menyakiti anda."
"Boleh nggak, panggilnya aku kamu saja. Ini bukan ruang kuliah yang kaku. Kamu juga bukan dosen aku dan aku bukan mahasiswi kamu. Sekalipun kecil begini, aku sudah 24 tahun, jadi jangan anggap aku anak kecil. Aku nggak akan nangis."
Bara mengulas senyum sembari mengangguk. Jujur saja ia cukup terkejut mengetahui usia gadis cantik ini. Bara sempat mengira masih remaja berusia 18 tahun seperti mahasiswa S1 yang mendominasi kuliahnya kemarin. Walau ia tidak memungkiri penampilan gadis itu hari ini sedikit dewasa dibanding kemarin. Menebak-nebak jika usianya mungkin 20 tahun. Wajah imut dan ekspresi menggemaskannya membuat Bara tertipu.
"Namaku Luna."
"Panggil Bara saja. Saya bukan dosen kamu, jadi jangan panggil Pak Mubarak seperti mahasiswa saya yang lain." Aluna kembali tersenyum dan mengangguk antusias. Ingin sekali ia mengatakan jika ia menyukai suara tenang laki-laki yang akan dijodohkan dengannya ini. Tapi gengsi masih menahannya. Aluna ingat pesan Safwan untuk tidak jadi cewek murahan.
"Sejak kapan jadi dosen pengganti?"
"Sejak semester ini. Tepatnya tiga bulan lalu."
"Mengajarnya di mana saja?"
"Cuma di kampus yang kemarin. Itu pun hanya setahun kontrak untuk menggantikan beberapa mata kuliah Prof. Hamizan selama beliau sibuk melakukan beberapa kegiatan seminar kesehatan keliling kota di Indonesia."
"Jadi sebelum itu kamu ngajarnya di mana?"
"Saya tidak mengajar di kampus lain. Ini pertama kalinya saya mendaftar jadi dosen karena Prof. Hamizan Irsyad yang meminta. Beliau percaya saya mampu, jadi saya lakukan. Sebelumnya sibuk di rumah sakit. Mungkin kamu lupa atau tidak begitu memperhatikan slide kemarin. Ada artikel yang saya tampilkan dan ada nama saya dan beliau di sana. Saya ini adalah mahasiswa bimbingan beliau saat mengambil program dokter spesialis BTKV."
"Jadi kamu dokter spesialis kayak Prof. Hamizan? Kok bisa? Kamu kok nggak tua? Umur kamu berapa?"
"Usia saya 28 tahun lebih 5 bulan."
"Kok muda banget udah jadi dokter jantung? Spesialis BTKV bukannya harus 5 tahun?" Aluna menelengkan kepalanya sambil berpikir, "Kamu juga kerja di Rumah Sakit Universitas?"
"Iya."
"Kamu kenal sama anak cowoknya Prof. Hamizan yang polisi itu?" Aluna bertanya tentang Gibran. Menurutnya Gibran adalah topik pembuka yang cocok untuk mengenal sosok di hadapannya ini.
Jika Jendral Gib menyukai sosok Mubarak Alfatha ini, maka ia akan yakin dengan sangat dengan perjodohan ini. Kakaknya Gibran tidak akan pernah membuatnya bersama orang jahat. Sekalipun Gibran sering membuatnya kesal, tapi kasih sayang Gibran tidak akan pernah ia ragukan. Sekalipun Mubarak Alfatha adalah sosok calon suami pilihan orang tua mereka, tapi ia harus tahu pendapat Gibran juga. Ia belum menghubungi Gibran karena waktu tiga harinya masih ada beberapa jam lagi.
"Iya. Saya cukup kenal. Bagi saya dia adalah seorang kakak yang penyayang walau sedikit... menyebalkan." Aluna kembali tersenyum mendengar pendapat itu tentang Gibran. Benar-benar sama 100% dengannya. Tidak, bisa saja 1000%.
"Menurut kamu dia ganteng?"
"Rupawan dan keren. Itu istilah paramedis di rumah sakit yang mengidolakan Kak Gibran. Tapi belakangan ini banyak yang kecewa berat karena mengetahui jika Kak Gibran sudah punya pujaan hati."
"Sudah punya cewek maksudnya?" tanya Aluna terkejut. "Awas saja Jendral Gib. Aku harus tahu hal penting ini dari orang lain. Aku nggak akan biarin kamu tenang. Bisa-bisanya mau kasih aku calon kakak ipar tanpa bilang dan kenalin sama aku dulu? Kalau dia sosok kuntilanak kayak yang kejar-kejar Safwan bagaimana? Aku nggak mau punya ipar kuntilanak." Batin Aluna.
"Kamu suka sama Kak Gibran?" tanya Bara penasaran karena gadis itu mengenal Gibran. "Apa dia salah satu gadis yang mama Mariska ingin jodohkan dengan Kak Gibran? Sepertinya Kak Gibran akan menyesal kalau tahu pilihan mama Mariska secantik ini." batinnya lagi.
"Setengah suka setengahnya lagi nggak. Dia baik tapi menjengkelkan. Dia itu Devil, yang nggak pakai jubah serem kayak di poster-poster, tapi malah pakai seragam polisi."
"Kalau itu saya setuju. Saat pertama kali ketemu dia empat tahun lalu dan lihat kondisinya di meja operasi, saya pikir dia tidak akan selamat."
"Meja operasi?"
"Saya salah dokter yang menangani Kak Gibran saat dia mengalami kecelakaan parah empat tahun lalu. Kecelakaan yang membuat dia koma hampir 3 tahun."
Trrangg!!!
Sendok yang dipegang Aluna jatuh ke lantai setelah lebih dulu mengotori dress putihnya. Gibran pernah mengalami kecelakaan? Gibran dioperasi dan koma? Koma?
"Ada apa?" tanya Bara ketika melihat ekspresi terkejut Luna.
"Ko...ma? Maksudnya tidur lama?" tanya Aluna yang diangguki Bara.
Ponsel Bara berdering dan ada nama rekannya yang pasti sedang mencarinya saat ini. Siang ini ia ada jadwal operasi. Tapi kehadiran gadis ini yang tiba-tiba membuatnya urung untuk segera kembali ke rumah sakit setelah urusannya tadi dengan salah satu manajer departemen store selesai. Memang tidak banyak yang tahu jika dirinya juga memiliki bisnis lain selain berprofesi sebagai dokter.
"Saya minta maaf, tapi saya harus pergi sekarang. Ada jadwal operasi yang sudah dijadwalkan siang ini. Terima kasih atas waktunya, Nona Luna. Saya pamit." Bara beranjak dan Aluna hanya mengangguk.
Meskipun ia penasaran dengan perubahan raut wajah gadis itu, tapi ia sadar jika memiliki tanggung jawab yang lebih penting. Ada pasien yang membutuhkannya saat ini. Ia hanya berharap jika pertemuan itu bukan yang terakhir kali. Jika saja ia tidak pernah mengutarakan keinginannya untuk dijodohkan karena kasihan melihat Gibran yang selalu diteror untuk segera menikah, maka ia pasti akan mengejar gadis itu.
Bohong jika dirinya tidak tertarik. Paras menawan, penampilan anggun dan ekspresi menggemaskan Luna masih bisa ia ingat. Tapi ia lebih percaya dengan pilihan papa angkatnya. Terlebih Mariska mengatakan jika dirinya tidak akan menyesal karena calon menantu pilihannya adalah gadis cantik yang bisa membuatnya terpesona pada pandangan pertama. Walau terdengar klise, tapi ucapan mama angkatnya itu begitu meyakinkan.
Entah siapa yang paling cantik nanti. Apakah gadis yang akan dijodohkan dengannya yang sampai saat ini masih dirahasiakan namanya oleh orang tua angkatnya? Ataukah sosok menawan Luna yang baru saja ia temui? Bara bahkan baru sadar jika ini pertama kali dalam hidupnya duduk dan makan berdua bersama gadis asing.
Sementara di kafe, Aluna masih bergeming dengan wajah berderai air mata. Ia tidak pernah tahu jika kakak sepupunya itu pernah mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan biasa, tapi kecelakaan yang menyebabkan Gibran sampai koma. Tidur lama seperti putri tidur. Bukan, sekarang istilahnya Pangeran tidur karena Gibran laki-laki.
Dokter yang baru saja beranjak pergi itu tidak mungkin berbohong padanya. Ia lebih percaya jika keluarganya yang sudah berbohong padanya. Empat tahun lalu papinya yang tiba-tiba mengatakan dirinya dimutasi ke Manado. Saran untuknya mengikuti pertukaran pelajar di Korea bersama Safwan di tahun terakhir kuliahnya. Kemudian saran papinya dan omnya agar dirinya juga kuliah master seni rupa di Jepang bersama Safwan.
Selama beberapa tahun, tepatnya tiga tahun ia tidak pernah mendengar suara Gibran. Berkomunikasi dengan pesan saja. Selama ini ia dibodohi jika kakak sepupunya itu bekerja sebagai interpol di luar negri. Aluna juga yakin jika Safwan ikut terlibat dengan kebohongan itu. Setiap kali ia ingin mengadu pada Gibran, Safwan akan mengatakan percuma saja karena Gibran sedang ada misi. Kerjanya serba rahasia seperti pemeran intelijen yang di film-film action.
Ia dan Nafisa percaya saja saat Safwan bilang kalau Gibran seperti James Bond. Sampai di mana ia kembali mendapat panggilan telpon dari Gibran dan dirinya benar-benar senang. Gibran bahkan turut serta dalam kebohongan itu dengan mengatakan dirinya bahkan jarang melihat sinar matahari. Tentang pekerjaannya Gibran tidak menjelaskan banyak hal karena katanya itu rahasia negara. Ia benar-benar tertipu dan tidak pernah sedikitpun curiga dengan Gibran yang bahkan mengatakan bahwa sang Jendral Gib akan mengabulkan 10 keinginannya.
Aluna tidak kuasa menahan air matanya lagi. Tangisnya pecah dan kembali menjadi pusat perhatian di kafe. Salah seorang karyawan kafe menghampiri dan bertanya apa masalahnya. Aluna hanya menatapnya dengan iba dan kembali menangis seolah dunianya runtuh. Ia tidak menolak kotak tissue yang disodorkan padanya. Tapi ia juga tidak mampu menjawab pertanyaan orang-orang yang prihatin padanya karea tangisnya terdengar memilukan.
Sayup-sayup ia mendengar orang-orang berbisik jika dirinya menangis pasti karena baru saja di putuskan oleh kekasihnya. Mereka salah paham karena laki-laki yang tadi duduk bersama dengannya pergi lebih dulu dan tidak mengajaknya serta. Bara sudah bilang ada jadwal operasi pasien dan dirinya tidak mungkin mencegahnya. Ia ingin sekali berteriak kesal pada mereka yang seenaknya mengatakan dirinya diputuskan. Mengingatkan kembali tentang mantan pacarnya yang menjalin hubungan dengan selama beberapa bulan kemudian memutuskan bertunangan dengan orang lain.
Semua perasaan sakit itu berkumpul dan membuatnya sesak, kesal dan ingin berteriak. Mengetahui Gibran pernah sekarat dan koma. Mengetahui dirinya dibohongi keluarganya sendiri. Dibohongi oleh Safwan yang pasti menganggapnya begitu bodoh. Belum lagi ejekan orang lain yang menganggapnya sudah diputuskan. Orang-orang menganggap wajah cantiknya sia-sia. Kalau saja ia punya tenaga sekarang, ia ingin berteriak kalau mereka semua akan mereka ia laporkan ke polisi. Akan ia laporkan pada kakak dan papinya.
Ia sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan orang-orang. Tapi dirinya tidak punya tenaga lagi. Berdiri pun ia sudah tidak sanggup lagi sekarang. Dari semua alasan itu, ada satu alasan yang membuatnya tidak berhenti menangis. Dulu ia pernah mengutuk Gibran karena bonekanya dirusak oleh Gibran. Boneka putri salju miliknya yang tidak sengaja Gibran patahkan lengannya. Ia mengutuk Gibran menjadi pangeran tidur seperti putri saljunya yang tidur lama.
"Halo peri manja ada apa? Duitnya habis? Gampang nanti kakak kirim ke rekeningnya Nafisa. Biar nggak ketahuan Om Derdi. Kakak tidak lupa kok mau jemput kamu nanti malam di rumahnya Nafisa."
"Jen... Jendral Gib... hiks... hiks... hiks... hwaaa... Jendral Gib...."
"Kamu kenapa? Kenapa menangis? Siapa yang bikin kamu nangis?" tanya Gibran yang sayup-sayup mendengar suara orang lain di sekitar Aluna.
"Jendral Gib...."
"Kamu di mana? Sudah. Kamu jangan ke mana-mana! Kakak ke sana sekarang! Beneran, kakak nggak akan telat. Sepuluh menit lagi jam istirahat. Kasih ponselnya sama orang lain kalau kamu nggak bisa ngomong."
Akhirnya Aluna menyerahkan ponselnya pada manajer kafe dan memberitahu posisi Aluna sekarang. Meskipun tanpa diberitahu ia akan melacak ponsel adik manjanya itu. Hanya saja Gibran penasaran dengan apa yang terjadi dan menyebabkan Aluna menangis di kafe. Siapa yang ditemui adiknya itu di kafe dan membuatnya menangis?
-------------------
Kutukan peri manja dikabulin.
Jendral Gib jadi pangeran tidur
"Aku adalah bagian dari semua yang telah aku baca” -Theordore Rosevelt-
Kamu baca, tapp ❤️ & komen....
Maka kamu juga akan jadi bagian dari cerita ini
-------------------