Part 7 Sakit Sekali

3170 Words
Gibran sudah setengah jam duduk di depan Aluna yang masih terisak. Adiknya itu mengundang banyak tanya di benaknya. Semua pertanyaannya diabaikan Aluna yang malah menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Terkadang tatapan Aluna sendu, lalu beberapa saat berganti tatapan kesal dan bingung. Detik ini ada sorot rasa bersalah yang dilihat Gibran. Semakin yakin karena Aluna tertunduk. Perlahan kepalanya tergeletak di meja. "Kakak bayar makanan kamu dulu." Gibran beranjak ke arah kasir dan sesekali menoleh ke belakang. Melirik jam tangannya, ia hanya punya waktu 35 menit lagi sebelum waktu istirahat kantornya selesai. Ia ada rapat dengan timnya untuk kasus baru. "Maaf Pak, tadi pengunjung di meja 8 sudah menyelesaikan pembayarannya. Pria yang duduk bersama nona cantik itu," ujar karyawan kasir. "Seorang pria?" Gibran mengernyit. "Apa gadis cantik itu baru saja diputuskan sama pacarnya? Dia buat laporan ya Pak ke kantor polisi?" tanya karyawan kasir yang menoleh ke arah Aluna dan memperhatikan seragam PDH yang dikenakan Gibran, "Mereka jadi pusat perhatian di sini Pak. Satunya cantik satunya ganteng. Kayak putri sama pangeran. Tapi cowoknya pergi duluan, kata karyawan lain dia nangis setelah cowoknya pergi." "Pasti diputusin sama cowoknya. Wajar sih nangis, mereka tadi kelihatan baik-baik saja. Tapi saat cowoknya pergi, nah ceweknya mewek deh," ujar karyawan yang membawa nota pesanan. "Terima kasih," ucap Gibran pada karyawan kasir. Ia kembali menghampiri Aluna yang masih dengan posisi yang sama, kepalanya berada di meja. Gibran menghubungi seseorang untuk mencari tahu siapa yang duduk makan siang bersama adik sepupunya itu. Tidak ada waktu untuk mencaritahu sendiri karena saat ini ia sibuk. "Wah... hebat banget ya sekarang cewek kalau putus sama cowoknya. Langsung lapor polisi. Aku pikir dia putri atau bidadari pakai putih-putih. Sudah mau aku samperin tadi, tapi lihat dia samperin cowoknya, ya urung juga." "Itu karena kamu kalah jauh sama cowoknya. Mana ada cewek cantik kayak dia mau sama cowok muka standar kayak kita? Tapi kita beruntung, bisa saja kita minta kenalan langsung dilaporkan sama FBI." Gibran rasanya ingin menabok kepala keduanya yang sudah bergosip yang tidak-tidak tentang adiknya itu. Gibran mendesah dan kembali duduk di depan Aluna. Semakin lama adiknya berada di sini hanya akan jadi objek gosip. Setelah Gibran mengetuk permukaannya meja, Aluna akhirnya mengangkat kepalanya. Tapi sama sekali tidak ingin menatap Gibran. Lantai kafe lebih menarik darinya. "Alu-" "Gendong..." Gibran tidak mengatakan apapun lagi selain menggendongnya. Ia tidak ingin berlama-lama di sini dan jadi korban gosip. Sekali lagi Aluna jadi pusat perhatian dengan keluar kafe dalam gendongan seorang polisi. Kali ini Gibran kembali mendengar kalimat tidak menyenangkan. Seorang pengunjung kafe yang berlalu di dekat mereka merumpi jika pantas saja gadis cantik itu diputuskan pacarnya karena selingkuh dengan seorang polisi. Aluna menolak untuk diantar pulang ke rumah orangtuanya atau ke rumah orangtua Gibran dan memilih kembali ke rumah Nafisa. *** Malam harinya Gibran kembali menjemput Aluna di rumah Nafisa setelah mengambil koper adik sepupunya itu. Koper yang dititip Safwan pada salah seorang karyawan perusahaan sehingga Gibran tidak perlu bersusah payah menjelaskan kapan Aluna tiba di Makassar. Koper si Peri Manja itu punya label bagasi pesawat. Gibran benar-benar berterima kasih pada Safwan yang sudah memperhitungkan hal yang bisa membuat Aluna kena marah. Mantan sekaligus sahabat Aluna itu bahkan mengirimkan foto boarding pass tiket penerbangan sore tadi atas nama Aluna. "Loh? Gib? Tumben? Biasanya kalau mau datang bilang dulu?" Lenata membuka pintu pagar ketika melihat keponakan kesayangannya itu tersenyum menoleh ke belakang sambil menunjuk seseorang di dalam mobilnya. "Surprise.... Si Peri Manja pulang," bukan Aluna yang berteriak heboh seperti biasanya ketika ia pulang, tapi Gibran yang berbisik pada tantenya. "Dia kenapa murung begitu? Kayak bebek nggak dikasih makan seminggu." "Nggak tahu juga tante. Marahan sama Safwan kali? Nanti juga baik lagi. Sore tadi Safwan kirim boarding pass Aluna biar Gibran jemput dia. Tapi Gibran sedikit heran. Kopernya cuma satu." "Barangnya yang lain sudah dikirim duluan dari minggu lalu. Dia berantem sama sepupunya dan akhirnya setuju pindah kemari. Tante tinggal nunggu ujian semester selesai buat pindahin si kembar juga ke sini," Lenata menatap putrinya yang belum juga turun dari mobil dan hanya diam menatapnya dan juga Gibran. "Tinggalin aja Gib di mobil. Manja banget!" Lenata menatap kesal putrinya yang mengalungkan lengan di leher Gibran karena minta digendong. Bukan seperti siang tadi di kafe yang digendong ala bridal style. Kali ini ia minta dipanggul seperti dulu. Tiba di teras, Aluna belum juga mau turun dan masih bertahan depan posisinya. Gibran tidak protes karena ia tahu kalau Aluna tidak berniat berdebat dengan semangat 45 melawan dirinya. "Mau turun di sofa atau di kursi meja makan? Cacing di perut kamu sudah demo dari tadi." "Masa sih? Kok aku nggak dengar?" Gibran mendesah cemberut namun jauh dalam hatinya ia berteriak lega.... Akhirnya suara si Peri Manja ini terdengar juga. "Makanya jangan melamun! Tadi di mobil suara perut kamu lebih berisik dari pada suara musik." "Luna nggak beli makan karena nggak punya duit. Luna kan sudah selesai kontrak kerjanya di Bandung. Sekarang jadi pengangguran." "Duit yang papi sama mami kirim kamu telan? Kok udah habis?" "Hilaaang...." "Pantas saja murung kayak bebek lapar. Duitnya hilang. Ceroboh banget sih kamu?" "Luna bukannya ceroboh. Duitnya hilang diambil sama keponakan mami yang nyebelin itu. Nyuri di dompetnya Luna pakai ngancem mau gangguin si kembar kalau Luna nggak nurut sama tutup mulut." Aluna hanya bisa mengatakan kebenaran itu dalam hatinya. Lenata percaya begitu saja, tapi tidak dengan Gibran. Dia tahu kalau Aluna saat ini berbohong. Kebiasaan Aluna kalau berbohong akan menggigit bibirnya kemudian menoleh ke kelingkingnya yang selalu bergerak. Gibran duduk di sampingnya setelah kembali mengambil koper kuning Aluna. "Kalau begitu, Jendral Gib kasih duit. Tapi harus irit. Kamu itu harus kerja biar nggak morotin orang." Sindiran Gibran yang sedang tersenyum lebar melihat delikan tajam Aluna mengundang tawa Lenata. Sejak dulu Gibran memang tidak pernah pelit pada anak-anaknya. Bahkan kerap kali Aluna menegaskan kalau akan berhenti menguras gajinya jika Gibran sudah menikah. Semua itu karena Mariska ikut mengompori putrinya agar Gibran semakin terdesak untuk mencari calon istri. "Sejuta cukup?" tanya Gibran yang diangguki Aluna dengan cemberut saat membuka dompet Gibran dengan uang cash yang kurang dari sejuta. "Jangan sok-sokan sejuta deh Jendral Gib! Ini nggak cukup." Aluna mengembalikan dompet Gibran dengan mendumal. Namun langsung tersenyum cantik saat Gibran menyodorkan ponselnya yang menampilkan transaksi m-banking. "Isi sendiri, nanti kakak kamu sangka pelit lagi." Gibran menoleh pada Lenata yang membawakan segelas air mineral, "Sebenarnya duit yang kemarin kamu pakai apa Aluna? Kenapa bisa habis? Sejak kapan anak ini jadi nona boros?" batin Gibran sambil menenggak minumannya. "Papi mana mi?" "Ke rumahnya Gibran ketemu sama om kamu. Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan siang tadi, tapi tertunda karena om kamu ada operasi darurat." "Bicara soal perjodohan itu ya?" tanya Aluna sambil menekan angka satu dan nol sambil melirik maminya. "Mungkin. Sekalian sama calonnya Gibran." Gibran tersedak minumannya. "Aku juga sudah tahu dari seseorang kalau katanya kak Gibran sudah punya calon. Kok nggak bilang-bilang? Kalau dia kuntilanak kayak yang kejar-kejar Safwan bagaimana? Aku nggak mau punya kakak ipar kayak gitu!" protes Aluna. "Tunggu dulu. Gibran sama sekali tidak tahu kalau papa mau jodohin Gibran juga. Gibran sudah bilang punya calon sendiri tapi belum ketemu." "Belum ketemu? Alasan! Kamu itu banyak rahasia ya Gib? Mbak Mariska sudah cerita kalau kamu punya anak!" Lenata mendelik. Ekspresi yang sama seperti putrinya tadi. "Whaaattt!!!!" Aluna berdiri dari duduknya dan melotot pada Gibran. Ponsel yang tadinya ia genggam erat ia lemparkan pada Gibran. Bukan hanya itu saja, Gibran menjadi samsaknya. Belum puas, Aluna memukulnya dengan bantal sofa. Pukulan bertubi-tubi yang membuat Lenata menahan tawa. Sudah lama sekali tidak melihat pemandangan di depan matanya ini. Gibran akan diam saja jika Aluna sudah mengamuk seperti harimau. "Itu transaksinya klik tombol transfer dulu. Nanti... nanti kamu lupa. Kamu itu kan lagi kere." Aluna yang memang memiliki kekesalan sejak awal karena dibohongi kini rasanya ingin melampiaskan semua itu pada Gibran. Aluna menoleh pada ponsel Gibran yang sudah jatuh ke lantai. Tepatnya di atas karpet permadani merah antara meja dan sofa tempat Gibran setengah berbaring dengan pukulan bertubi dari kepalan tangan kecil Aluna. Tidak ingin Gibran lolos begitu saja, ia menginjak layar ponsel Gibran dengan jempol kakinya. Gibran mendelik pada Aluna yang masih melotot. Sementara Lenata mengabadikan moment itu dengan ponselnya. *** Keesokan harinya Aluna datang ke rumah Gibran setelah semalam Mariska mengatakan ingin segera bertemu dengannya. Aluna jadi semakin antusias saat Mariska kembali menyinggung soal perjodohan karena tantenya itu bilang punya info tentang bakal calon suaminya itu. Setelah sarapan pagi Aluna berangkat bersama papi dan maminya. Derdi dan Lenata hari ini harus menghadiri acara penting kepolisian di kantor Polda sehingga berangkat lebih awal dari biasanya. Setelah mengantarkan Aluna ke rumah Hamizan, Lenata kembali mengingatkan putrinya jika mereka akan kembali menjemputnya siang nanti. Aluna disambut bi Sukma dan putrinya yang menyiapkan sarapan pagi. Tapi ia tidak melihat satupun mobil di halaman rumah. Ternyata ia lupa mengecek ponselnya dan melihat pesan dari Mariska. Bi Sukma memberitahu jika om dan tantenya melayat ke kota sebelah. Jay dan Ratna yang baru pertama kali melihat langsung putri Derdi dan Lenata itu, tercengang. Mereka seperti melihat Barbie hidup. Ratna sampai penasaran apakah gadis imut di depannya itu memakai bulu mata palsu atau asli sehingga tanpa sadar mendekat dan ingin menyentuhnya. Maka tidak heran jika selama ini banyak yang memang mengira Aluna itu Barbie hidup. "Itu asli Ratna. Bulu matanya neng Aluna itu asli. Bukan bulu mata palsu." Bi Sukma menjawab rasa penasaran putrinya. Ini bukan pertama kalinya karena sejak kecil banyak sekali orang yang bertemu Aluna ingin menyentuh bulu matanya. Alasannya hanya untuk tahu apakah itu asli atau palsu. "Aku datangnya buru-buru. Jadi nggak sempat bawa apa-apa buat kalian. Tapi aku Janji bakal traktir kalian berdua. Tenang, walaupun sekarang aku pengangguran... aku masih dikasih uang jajan ekstra dari Jendral Gib." Aluna tersenyum malu-malu. "Ratna sama Jay juga mbak sering dikasih uang jajan ekstra sama kak Gibran." Ratna tampak senang bertemu Aluna. Meski tubuh Aluna lebih pendek darinya, tapi ia tahu jika Mereka terpaut usia 6 tahun. "Akhirnya mbak Aluna pindah ke sini juga. Kafe ARU baru saja ultah setahun. Kak Gibran belum bilang kalau salah satu kuponnya mbak Luna menang lotre?" Jay yang memang dasarnya punya sikap supel tidak canggung berkomunikasi dengan Aluna. Setahun terakhir ini ia sudah sering berkomunikasi dengan Aluna saat Gibran melakukan video call dengan Aluna. "Hadiah lotrenya apa? Makan sepuasnya setahun?" Jay dan Ratna tergelak. "Bukan mbak. Mbak Aluna menang hadiah terakhir. Buku novel genre romansa. Katanya kuponnya nggak salah alamat. Cocok bikin mbak Aluna mewek baca novalnya." Aluna mendesah berat karena gagal sudah impiannya dapat tiket makan sepuasnya selama setahun di kafe ARU. Safwan benar, angannya terlalu tinggi, harapannya terlalu besar, tapi beratnya kenyataan membuatnya jatuh juga. Mereka berbincang sejenak. Jay dan Ratna pamit karena harus ke tempatnya magang dan ke kampus untuk kuliah. Sehingga di rumah hanya ada Aluna dan Bi Sukma. "Jay magang di mana Bi?" "Di Hotel Pradipta neng. Direkomendasikan sama kenalannya nak Gibran. Kalau tidak salah namanya Zayyan." "Itu namanya Safwan. Safwan Zayyan Pradipta, tapi bibi jangan bilang sama orang lain. Dia nggak suka ada yang tahu kalau dia anak bos. Jadi jangan bilang juga sama Jay. Bibi tenang saja, kalau Jay magangnya bagus, dia bakal diterima kerja kalau lamar kerja di sana nanti. Kalau ditolak, aku minta Safwan pakai hak eksklusifnya." Bi Sukma tertawa mendengar ucapan Aluna. "Aamiin. Semoga nantinya anak bibi itu bisa dapat kerjaan yang halal sama bisa mencukupi kebutuhan." "Aluna tinggal dulu ya Bi, mau ke kamarnya Luna. Kangen." Tanpa menunggu jawaban dari bi Sukma Aluna sudah berlari menaiki tangga. Wanita paruh baya itu hanya meringis membayangkan bagaimana syoknya Aluna mengetahui jika itu bukan kamarnya lagi, melainkan kamar Bara. Semalam Hamizan sudah memberitahu mereka semua kalau akan menjodohkan Aluna dengan Bara. Tapi sampai saat ini masih dirahasiakan pada Bara dengan siapa dia akan dijodohkan. Hamizan ingin memberi putra keduanya itu kejutan sehingga tidak akan ada yang buka mulut, termasuk Gibran yang tadinya hendak protes. Mana berani ia menentang keputusan papanya? Terlebih ancaman papanya seperti bom waktu. Untung saja ketegangan antara ayah dan anak itu sirna saat mendengar suara motor Bara yang baru saja pulang dari klinik. Aluna mengernyit karena kamarnya terkunci. Kamar yang dulu menjadi istananya kini tidak bisa dibuka sang pemilik. Ia mencoba berpikir positif, mungkin Mariska sengaja menguncinya agar tidak ada yang mengacak-acak kamarnya. Ketika menghubungi Mariska dan ingin bertanya di mana kunci kamarnya, panggilan itu tidak dijawab. Sekali lagi ia berpikir positif jika mungkin tantenya itu sedang tidak mendengarkan panggilan telpon darinya. Sejak tadi Aluna dan pikiran positifnya bertahan, namun goyah ketika melihat pintu kamar Gibran yang berada tepat di depan kamarnya. Ide untuk balas dendam pun hadir. *** Bara rasanya tidak percaya dengan apa yang mata kepalanya lihat saat ini. Baru saja ia kembali dari kampus menggantikan papanya. Pagi ini Prof. Hamizan memiliki jadwal untuk mengajar mahasiswa pascasarjana. Tapi karena harus melayat ke pemakaman salah satu rekannya di luar kota. Ia memang cukup menikmati aktivitas barunya itu sebagai akademisi disela kesibukannya sebagai dokter bedah. Bara yang memang tidak memiliki kegiatan apapun hari ini karena sudah menyelesaikan urusannya kemarin dengan pihak departemen store sehingga menyanggupi untuk kembali menggantikan papanya. Ia tidak melihat siapa pun di rumah, namun ia tahu jika bi Sukma sedang sibuk di dapur karena mendengar suara blender. Mungkin saja bi Sukma sedang ke kamar mandi karena saat Bara masuk melalui pintu samping, kompor masih menyala dan blender masih bekerja. Bara melihat Luna di kamar Gibran. Gadis itu berkacak pinggang di atas tempat tidur setelah membuat kamar itu berantakan. Lebih tepatnya seperti kapal pecah. Jika orang yang baru pertama kali bangun tidur melihat kondisi kamar Gibran sekarang, maka yang terpikirkan adalah gempa bumi atau kamar itu baru saja kena angin p****g beliung. Tapi jika Gibran yang melihat mungkin kakaknya berpikir ini perampokan. Tempat tidur Gibran sudah terlepas sepreinya. Semua bantal berserakan di lantai. Sofa santai sudah bergeser dari posisinya. Buku-buku di rak sudah terbongkar dan beberapa kertas berhamburan. Semua laci terbuka dan bahkan ada yang sengaja di lepas kemudian isinya diacak-acak. Sebagian figura sudah berpindah ke atas tempat tidur dan sofa dalam keadaan terlepas fotonya. Jangan tanyakan lagi kondisi lemari pakaian Gibran yang berhamburan. Benar-benar mirip seperti lemari yang diacak-acak oleh perampok. "Arrrgghh!! Disembunyikan di mana sih?!! Foto cewek itu di simpan di mana? Ha!! Awas saja kalau ketemu!" Aluna menghentakkan kakinya di atas kasur dan melirik kamar mandi. Di saat yang sama Bara mendengar suara mobil papanya di susul suara mobil yang juga tidak asing di telinganya. Bara hendak masuk ke dalam kamar Gibran tapi ia tidak ingin disangka berduaan dengan gadis itu di kamar Gibran. Apalagi jika dituduh bersekongkol dengan Luna mengacak-acak kamar Gibran. Sepertinya Luna benar-benar terobsesi dengan Gibran sampai datang menghancurkan kamar Gibran hanya karena sebuah foto yang dicarinya. Bara memilih mengirimkan pesan kepada Gibran sebelum melaporkannya ke polisi. Menurutnya ada kesalahpahaman yang terjadi antara Gibran dan Luna. Bara mengulas senyum saat memasuki kamarnya. Senyum yang hadir karena teringat ekspresi wajah kesal Luna yang sedang terpejam sambil berkacak pinggang. Ia pun harus mempersiapkan diri jika Gibran marah padanya karena tidak sengaja mengatakan jika Gibran sudah memiliki seseorang di hatinya. Mengingat ekspresi wajah gadis itu kemarin saat membicarakan tentang Gibran, ada sorot kekaguman yang bisa ia lihat di mata Luna. Setelah menyimpan tasnya dan melaksanakan sholat luhur, Bara kembali keluar dan mendengar suara mamanya memanggil nama yang membuatnya mengernyit. "Neng peri... kamu di mana?? Tante kangen banget sama kamu...." Mariska berteriak dan Derdi hanya geleng-geleng kepala melihat kakaknya. Siapa sangka wanita setengah abad itu masih bertingkah seperti remaja? "Ma, ada kekacauan di atas. Ada yang acak-acak kamar kak Gibran." Bara yang berdiri di lantai dua memberitahu. "Kamu juga baru pulang?" tanya Mariska yang dijawab anggukan oleh Bara yang masih menunjuk ke arah kamar Gibran. Derdi juga ikut memperhatikan ke arah pintu kamar Gibran yang terbuka. Begitu juga dengan Hamizan dan Lenata yang sudah duduk di sofa depan tv. "Sebenarnya ada apa Bara? Kamu kayak habis lihat pe-" Derdi bergeming melihat kondisi kamar Gibran. Menahan agar tidak ada yang mendekat. Lenata dan Mariska nyaris saja berteriak jika Derdi tidak lebih dulu memberi isyarat agar mereka diam. Sementara Hamizan menghubungi putra sulungnya. Bukan jawaban telpon yang didapatkan Hamizan, melainkan suara mobil putranya yang baru saja tiba. Di lantai satu Hamizan melihat Gibran berlari ke arah tangga mengabaikan bi Sukma. Melihat isyarat dari papanya memintanya agar tidak berisik, langkah Gibran perlahan melambat. Napasnya tersengal-sengal. Derdi dan Gibran masuk lebih dulu sementara yang lain menunggu di depan kamar. Bara yang sedang menerima panggilan telpon sedikit menjauh dari mereka ketika papanya mengisyaratkan agar dirinya turun ke bawah. Bara yang ingin mengatakan sesuatu pada papanya hanya bisa menurut dan beranjak ke bawah setelah melihat wajah tegangnya. Hamizan diam-diam menghubungi rekan Gibran untuk minta bantuan untuk berjaga-jaga dengan mengirimkan pesan. Selama ini ia sudah bersiap jika suatu saat pelaku yang dulu membuatnya nyaris kehilangan Gibran datang dan mencari sesuatu yang mereka inginkan. Bukan pertama kalinya ini terjadi. Dulu tiga hari setelah kecelakaan Gibran, kamar ini juga diacak-acak seperti ini. Di rumah sakit yang di Singapura pun tempat ia membawa Gibran yang koma untuk berobat, putranya kembali diserang. Meski pengawalan Gibran tergolong ketat saat itu, tetap saja pelaku teror itu masih dengan mudah memanfaatkan celah. Benar yang dikatakan Derdi, pelakunya tidak akan berhenti sampai menemukan apa yang mereka inginkan atau sampai mereka berhasil membunuh Gibran. Gibran mengeluarkan pistolnya ketika mendengar suara dari kamar mandi. Mengarahkan senjatanya tepat ke arah pintu kamar mandi. Ketika mendengar suara handle pintu yang dibuka, Derdi sudah bersiap dengan pemukul kasti di tangannya. Menunggu aba-aba Gibran untuk memukul pelaku saat keluar dari kamar mandi nanti. Kreekk! Gibran membelalak ketika yang dilihatnya di balik pintu kamar mandinya adalah Aluna. Sementara Aluna sendiri diam membatu melihat Gibran mengarahkan pistol padanya. Ia sudah biasa melihat papinya dan Gibran latihan menembak sejak dulu. Bahkan sudah seringkali berada di posisi seperti saat ini. Tapi lain cerita dengan dulu saat yang diarahkan padanya adalah pistol asli, melainkan senapan mainan. Namun ini pertama kalinya Aluna melihat Gibran mengarahkan pistol asli padanya. Gibran meminta Aluna untuk diam dengan mengisyaratkan telunjuk di bibirnya. Derdi jadi bingung melihat keponakannya itu malah meminta pelaku yang ditunggunya diminta diam oleh Gibran. Sekali lagi Gibran memberikan isyarat pada Aluna agar tenang dan melangkah ke arahnya. Sementara fokus mata Gibran tertuju ke arah pintu. Kini ia bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Saking terkejutnya membaca pesan dari Bara jika kamarnya diacak-acak seseorang seperti kapal pecah, Gibran langsung berlari ke parkiran bahkan mengabaikan teriakan atasannya. Ia takut orang itu sampai mengetahui apa yang disembunyikannya di balik dinding kamarnya. Saat berada dalam perjalanan, ia bahkan ketakutan mengingat hanya ada bi Sukma dan Aluna di rumahnya. Saat bertemu dengan Om dan tantenya di kantor Polda, mereka memberitahu jika Aluna diantarkan ke rumahnya karena malas ke toko hari ini. "Kamu lagi syuting film Jendral Gib?" tanya Aluna mengernyit dan berkacak pinggang. Gibran menurunkan senjatanya. Raut wajah bingung Aluna sudah menjawab ketakutannya. Ketakutannya yang berlebihan karena trauma yang dialaminya dulu. "Tongkat ini hampir saja melukai kamu." Derdi menghela lega. "Tanpa dipukul pun rasanya sudah sakit. Sakit sekali...." Gibran bergeming mendengar suara lirih Aluna yang masih enggan beranjak. *** ---------------------- Sakit karena dibohongi... Kira-kira foto yang dicari disimpan di mana?? thanks sudah ❤️ ----------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD