Part 8 Luapan amarah

1565 Words
"Pelakunya sepertinya sudah pergi om. Good job Peri Manja, kamu ngumpet dengan baik. Apa pelakunya melihat wajahmu?" Gibran mengusap wajahnya dengan kasar dan kembali mengantongi senjatanya. Derdi menghela lega dan meletakkan pemukul kasti di atas sofa. Menatap putrinya sambil tersenyum lalu mengangguk pada yang lainnya. Hamizan, masuk lebih dulu dan memperhatikan kamar putranya yang kacau balau. Sementara Mariska dan Lenata menghampiri Aluna. "Berhenti!" Aluna meminta mami dan tantenya untuk tidak mendekat. Mariska dan Lenata saling pandang dan menatap Derdi dengan raut penuh tanya 'ada apa dengannya?'. Derdi menggedikkan bahu cuek. Ahana bergeming menatap lantai kamar yang berhamburan dengan alat tulis dan buku-buku. "Aluna... apa ka-kau melihat pelakunya?" Gibran bertanya dengan hati-hati karena tidak ingin membuat adiknya itu ketakutan. Tapi di sisi lain ia juga harus mencari tahu pelakunya. Aluna mendongak dan menatap penuh kemarahan padanya. Kedua tangan kecilnya terkepal di sisi tubuhnya membuat semua orang bingung. Bingung karena melihat kemarahan Aluna, bukan tangis karena ketakutan. "Per-" Hamizan ikut terdiam ketika Aluna mengangkat telapak tangan kirinya. Matanya masih menatap tajam ke arah Gibran seolah ingin menelannya bulat-bulat. Seperti tatapan penyihir yang hendak menjadikan Gibran patung batu. Aluna mengarahkan telunjuk ke arah Gibran dengan sorot mata yang semakin tajam, "Aku... membencimu, Jendral Gib!" *** Bukan hanya Gibran yang bingung atas ucapan Aluna yang tiba-tiba mengatakan membenci Gibran. Aluna bahkan tidak membiarkan siapapun mendekatinya. Perlahan air mata Aluna yang menumpuk itu berderai dengan masih menatap mereka dengan penuh kemarahan. "Apa salah kakak sampai kamu bilang benci?" Gibran merasa ada yang tidak beres. Rasanya ia tidak mengenal Aluna yang berdiri di hadapannya sekarang. Aluna yang dikenalnya akan marah dengan cemberut dan mengatakan dirinya jahat. Bukan membencinya. "Apa pelakunya menyakitimu? Dia mengancammu?" tanya Gibran mendekat. "Kau pelakunya!!! Kau orang yang jahat itu!" tunjuk Aluna tepat di d**a Gibran. "Tidak, semua orang jahat. Jahat sama aku! Aku benci kalian semua!!!" "Aluna!" tegur Lenata. "Nak, ada apa?" tanya Hamizan sudah berdiri di sampingnya dan mengelus sayang kepalanya. "Bilang sama om. Om ini kan Yang Mulia Raja kamu?" Bujukan Hamizan nyatanya tidak mempan. Bukannya luluh dengan kalimat menenangkan itu, Aluna justru menatapnya dengan pandangan yang buram karena air matanya mengalir tanpa bisa berhenti. Mereka semua tega membohonginya dan memperlakukannya seperti orang bodoh. Mengirimnya pergi jauh seperti orang yang tidak dianggap. "Raja Satan ayahnya Devil ini kan? Mana ada Satan sama Devil yang beneran sayang sama peri. Kalian semua mainin aku, bohongin aku, usir aku pergi jauh, jadiin aku orang b**o, sama pura-pura nggak terjadi apapun karena aku bego." "Siapa yang bilang begitu? Kasih tahu biar kakak marahin dia." Gibran mendesah. Aluna si Peri Manja ini lagi mode ngambek level penyihir. Seperti Maleficent yang diperankan oleh aktris cantik Angelina Jolie dalam serial Disney Sleeping Beauty. "Kamu!!!" sekali lagi Aluna berteriak sambil mendorong tubuh Gibran. Gibran yang cukup terkejut jadi limbung dan berusaha kembali berdiri dengan tegak. Aluna kembali maju menunjuk d**a Gibran dengan telunjuk kecilnya, "Ngakunya sayang tapi aku nggak dianggap! Kamu tidur lama sampai koma tapi nggak pernah bilang! Saat bangun malah bohong kalau misi kerjaan kamu selesai. Kamu nggak pernah kirim pesan pesan atau telpon karena sibuk kerja kayak James Bond? Bohong!!" Aluna mendongak seperti ingin mencekik Gibran saat ini juga. Gibran terdiam dan menatap penuh sesal pada adiknya. "Semua orang sekongkol jahat sama aku! Gara-gara kamu papi deportasi aku pergi jauh! Aku jadi merasa dibuang! Safwan pasti ngakak tiap hari karena lihat aku b**o! Pantesan selama ini aku selalu dibilang b**o!" Napasnya naik turun seiring langkahnya yang memojokkan Gibran ke dinding. "Aluna..." Gibran tercekat ketika Aluna menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menangis tergugu membuat semua orang iba. Mariska dan Lenata sudah banjir air mata. Tidak ada yang membantah hal itu. Namun mereka merasa jika Aluna salah paham dengan keputusan mereka. Mereka hanya ingin Aluna aman disaat pelaku toror kasus Gibran masih seringkali membayangi keluarga mereka. "Papi minta maaf. Ini salah papi yang mengambil keputusan itu tanpa minta pendapat kamu dulu. Papi hanya...." "Dari dulu papi selalu lebih sayang sama dia dibanding aku." "Itu tidak benar. Kamu itu Princess papi. Peri manja kesayangan papi sama Mas Hamiz. Kamu itu kesayangan kami semua. Termasuk Gibran yang juga pasti merasa bersalah karena harus bohong sama kamu karena tidak ingin kamu marah sama kami seperti ini." "Apanya yang merasa bersalah? Safwan bilang kalau Jendral Gib itu manipulatif! Pandai nipu orang! Semalam sudah ketahuan kalau kak Gibran punya anak! Nikahnya kapan? Sama siapa? Di KUA mana?!" Bugh!! Sekali lagi Aluna memukul d**a bidang Gibran dengan telapak tangannya. Kali ini ia harus menahan sakit karena memukul terlalu keras. Kalau bukan karena gengsi, pasti ia sudah mengadu pada Gibran kalau tangannya perih. "Kakak minta maaf. Dengan cara apa Jendral Gib akan dimaafkan?" cicit Gibran masih berdiri kaku dengan punggung yang bersandar di tembok. "Jawab dulu!" kali ini Aluna berjinjit mencengkram kerah seragam Gibran, "Nggak ada diskon dan nggak pakai nego!" tegas Aluna. "Kakak belum pernah nikah." "What??!! Jadi kak Gibran hamilin cewek gitu? OMG!! KAMU BENERAN DEVIL!!" teriak Aluna di telinga kiri Gibran. "Terus anak kak Gibran mana? Dibawa pergi sama mamanya?" Pekikan Aluna membuat mereka semua kembali mendesah. Mereka sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi, tapi Aluna belum tahu sehingga bereaksi seperti itu. Mereka cukup prihatin dengan Gibran saat ini. "Iya, dia sama bundanya. Namanya Alif." "Terus istrinya kak Gibran? Ah... bukan istri, belum jadi istrinya. Dia bukan kuntilanak kayak yang kejar-kejar Safwan kan? Aku nggak mau punya kakak ipar kayak gitu." "Aina nggak kayak kuntilanak versi kamu. Dia cantik kayak Princess Aurora." Gibran tersenyum kecil karena cekalan Aluna terlepas dan ia merasa tidak sesak lagi. "Pantesan kak Gibran koma! Princess Aurora itu putri tidur! Masa nggak ingat sih? Kan Luna sudah minta Jendral Gib buat hapal semua nama sama ceritanya?" Aluna berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala. Kini para orang orang tua di samping mereka saling lirik seolah bertanya 'apakah sudah reda?' karena Aluna berganti cemberut. Tidak lagi wajah marah dan garang seperti tadi. "Terus fotonya mana? Buruan! Mau aku ngamuk lagi?" ancam Aluna. Gibran beranjak ke kasurnya dan menarik rosleting yang ada di bagian bawahnya. Mereka semua bisa mendengar suara rosleting itu terbuka dan kembali tertutup. Aluna melongo karena tidak memeriksa jika kasur busa itu ternyata punya rosleting di sisi samping bagian bawah. Setelah menerima sebuah amplop, Aluna buru-buru membukanya dan ada map clear holder hitam di dalamnya. Melihat papinya mendekat karena penasaran dengan map yang dipegangnya, Aluna menyembunyikan map itu di belakang punggungnya. Langkah Derdi pun terhenti karena reaksi itu ia tahu putrinya masih marah. Aluna naik ke atas tempat tidur, membuka lembar demi lembar. Jangan bayangkan ia duduk, karena saat ini ia berdiri di atas tempat tidur. Tidak ingin jika yang lain ikut melihat. Wajah sembabnya tersenyum melihat foto seorang wanita dengan rambut dikuncir sedang memangku seorang bayi laki-laki. Selebihnya adalah beberapa lembar kertas yang tidak menarik minatnya. "Jendral Gib, haus." Gibran membuka botol air tapi kembali menutupnya. Jangan sampai pelakunya menaruh racun di botol ini karena tahu ini botol minumnya. "Jangan minum ini, airnya sudah lama tidak diganti. Kita ke dapur saja, ya?" ajak Gibran. "Nggak! Kamu pasti mau sembunyikan sesuatu lagi kan Jenderal Gib?" "Ya ampun, kan sudah kamu pegang mapnya?" "Nggak, nanti saja aku minum. Kamu selalu punya ide kebohongan yang kreatif sama manipulatif. Nafisa bilang kamu itu anti naif. Aku kadang kasihan loh sama buronan kamu, katanya kalau kamu lagi berburu itu agresif. Aku baca di koran Jendral Gib. Di koran tulisnya Iptu Gibran dan timnya memang dikenal sebagai tim yang agresif dalam mengincar buronannya." "Kamu kepoin aku juga ya ternyata?" Gibran mengulas senyum namun jawaban Aluna sungguh menohok. "Mau bagaimana lagi? Kak Gibran kan jarang kasih kabar? Di telpon nggak jawab. Di kirimkan pesan cuma balas satu atau dua huruf. Atau malah kirim emoticon doang. Ngetik pesan saja pelit, apalagi kasih perhatian." Lenata dan Mariska tidak bisa menahan tawa mereka lagi. Ucapan Aluna sepertinya tepat sasaran. Hamizan hanya tersenyum melihat putranya. Sementara Derdi mengangguk setuju dengan ucapan putrinya. Poor you Gibran. "Cantik jendral Gib. Tapi nggak matre kan? Dia cewek baik kan? Terus sekarang mereka di mana? Om sama tante nggak kasih restu kayak disinetron? Atau kamu ditolak sama calon mertua ya Jendral Gib? Mereka maunya anaknya nikah sama pengusaha bukan polisi kelelawar kayak kamu ya Jendral Gib? Kasih tahu dong... penjahat sukanya keluar malem, takut sama sinar UV." Aluna menghapus sisa-sisa air matanya. "Kakak jawab kalau kamu juga jawab pertanyaan kakak. Dari tadi kakak tanya terus diabaikan, tidak dijawab. Tadi... pelakunya nggak ngapa-ngapain kamu kan?" Aluna menggeleng dan Gibran menghela lega sambil mengusap dadanya. Begitu juga yang lainnya. "Kamu... lihat pelakunya?" tanya Gibran lagi. Aluna kembali menggeleng tapi kemudian menunjuk ke arah cermin tinggi di balik punggung Gibran. Gibran berlangsung berbalik dan memeriksa full body standing mirror di belakangnya. Berharap di sana ada pesan atau petunjuk tentang pelaku. "Tidak ada pesan apapun." Gibran memijit kepalanya dan memperhatikan seisi kamarnya. Pelakunya jelas-jelas ingin mencari sesuatu yang mereka kira selama ini ia sembunyikan. "Jendral Gib... pelakunya...." Aluna menunjuk hidungnya sendiri. Mata bulat cantiknya mengerjap lucu dan membuat semua orang melongo selain seseorang yang berdiri di depan pintu kamar Gibran. Bara mengulas senyum ceria di wajahnya. Bukan karena baru saja melihat Gibran tertipu, tapi karena semua tingkah laku Aluna. Kini ia mengetahui fakta yang hampir saja membuatnya menyesal seumur hidup jika terjebak dalam kesalahpahaman. Ia sungguh-sungguh mengucap syukur pada Sang Kuasa sehingga ia bisa mengendalikan diri untuk tidak berburuk sangka dan bertindak lebih jauh. "Oh? Kamu kok bisa ada di situ?" Aluna mengalihkan perhatian mereka semua ke arah Bara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD