Part 9 Hadiah 99 juta

2427 Words
"Oh? Kamu kok bisa di situ?" Aluna mengalihkan perhatian mereka semua ke arah Bara. "Karena saya ada di sini," jawab Bara seadanya. Berusaha keras agar dirinya tidak tersenyum dan menunjukkan ekspresi wajah tidak tahu apa-apa. Bisa kena marah kalau semua orang tahu kalau sebenarnya ia sudah tahu pelakunya itu adalah gadis yang sedang berkacak pinggang di atas tempat tidur Gibran. "Maksud aku kamu kenapa bisa ada di rumah ini? Ini bukan kampus atau rumah sakit. Tapi rumahnya om Hamiz sama tante Mariska. Oh iya... aku baru ingat, kamu dokternya Jendral Gib. Lagi kunjungan rutin buat periksa pasien ya? Tapi kan ada om Hamiz yang bisa periksa?" Aluna terus saja berbicara dan hal itu kembali mengundang tanya semua orang. "Kalian sudah saling kenal?" Lenata menunjuk Bara dan putrinya bergantian. "Sejak kapan?" Mariska melakukan hal yang sama. "Bukannya kamu baru pulang dari Bandung? Kamu sampai di bandara semalam kan Aluna?" Derdi memicing mata pada putrinya lalu beralih pada Gibran yang menggedikkan bahu dan ikut menatap Aluna. Tatapan mata Gibran seolah mengatakan 'mampus kamu Aluna' disertai senyum devil yang ditunjukkannya. "I-iya... Lu-Luna sampai di rumah malam dijemput Jenderal Gib. Papi tanya mami saja kalau tidak percaya. Jendral Gib pu-punya boarding pass aku, ko-koper aku juga ada tanggal check-in di bandara kok? Papi mau bilang Jenderal Gib bohong sama papi dan main trik gitu sama papi?" "Dasar peri manja licik. Dia jadikan aku tameng." batin Gibran. "Kalau kamu nggak bantu aku Jendral Gib, aku pastikan semua orang tahu kalau kamu dipalak di kantor kamu sendiri sama Barbie cantik. Biar bagaimana pun papi pasti hukum aku. Aku nggak mau dihukum sendirian, makanya cari sekutu yang bisalah tandingin papi berdebat," batin Aluna memberi isyarat kecupan dan menunjuk bagian kaosnya pada Gibran. Mengingatkan Gibran akan bekas lipstiknya di seragam Gibran saat itu. "Benar itu Gib?" Derdi menoleh pada Gibran yang mengulurkan ponselnya untuk menunjukkan pada omnya bukti yang dikirimkan Safwan padanya. Syukurlah sahabat Aluna itu sangat tahu kebiasaan Aluna yang suka keceplosan ini. Safwan benar, Aluna itu sedikit b**o tapi jangan lupa kalau dia juga juara polos. "Jadi sebenarnya kapan kalian saling kenal?" Lenata kembali mengulangi pertanyaannya. "Saya yang kenalkan mereka Lena, tapi belum kasih tahu rencana kita. Saya kirimkan nomornya Bara ke Aluna biar disave, sekalian lihat foto profilnya ganteng apa tidak? Lebih cakep dari Gibran apa tidak? Kan syaratnya dari dulu mau yang lebih cakep dari Jendral Gib-nya?" Hamizan menjawab rasa penasaran adik iparnya. Jangan sampai ia juga ketahuan menyembunyikan tentang kedatangan Aluna sejak beberapa hari yang lalu. Hamizan juga menghela lega ketika Bara tersenyum kecil lalu mengangguk pelan. Putranya yang cerdas itu sudah paham situasi. "Jadi maksud papa yang kema-" "Papa?!! Om nikah lagi? Tante Mariska dimadu?? Kamu punya mama baru Jendral Gib?" Aluna menatap mereka bergantian dengan wajah melongo. "Om tidak nikah lagi. Om ini orang yang setia sama Nyonya Hamizan Irsyad." "Terus? Kenapa dia bilangnya papa? Panggil om dengan sebutan papa?" Aluna kembali bertanya dengan telunjuk mengarah pada Bara. "Kamu lupa isi pesan yang kamu baca setelah om kirim pesan kontaknya Bara?" "Iya, Om kirim kontaknya 'Doctor Lucifer' padahal Luna mintanya kontak MUBARAK ALFATHA." "Terus kamu tanya kan, dia itu temannya Gibran? Om bilang bukan, saudaranya. Gibran kan Devil Police papi kamu. Kamu bahkan tanya sama om, kalau Devil Police sama Dokter Lucifer saudaraan, om ini siapa?" "Raja Satan," jawab Aluna polos yang membuat semua orang ingin bertawa. "Bara ini anak angkat om. Adiknya Gibran sejak Jendral Gib kamu itu keluar dari ruang operasi. Untuk kedua kalinya," tambah Hamizan dalam hati. Tidak mungkin ia memberitahu Aluna kalau setelah sadar dari koma untuk pertama kali, putranya kembali mengalami tabrak lari. "Kamu bisa cek kartu keluarga kalau kamu nggak percaya. Bara memang anak om sama tante, adiknya Gibran." Mariska mendekat dan mengulurkan tangan pada Aluna. Ia rindu ingin mendekap keponakannya, putrinya kecilnya yang manja. "Kamu mau ke mana?" tanya Gibran ketika Aluna turun dari tempat tidurnya dan berniat pergi. "Ke dapur. Tadi kan Aluna bilang haus Jendral Gib!" "Beresin dulu kekacauan yang kamu buat!" Gibran mengarahkan telunjuknya keliling kamarnya. "Duh... kepala Aluna pusing. Dehidrasi nih kayaknya, lemes banget." Aluna memijit kepalanya dan berjalan terseot. "Nggak usah acting! Kamu yang berantakan jadi kamu juga yang beresin!" Gibran mencekal lengan adik manjanya yang tertunduk lesu. Aluna mendesah gusar, niat balas dendamnya berbalik merugikannya. "Ehem... yakin?" Aluna tersenyum manis pada Gibran. Senyum yang membuat Gibran jadi was-was. "Kalau Aluna beresin dan dapat rahasia besar di kamar ini... Aluna bakal langsung kirim ke Nafisa buat dicetak di koran. Mau?" Benar kan dugaan Gibran? Aluna kalau tersenyum kelewat manis seperti ini kalau bukan ada maunya maka akan memojokkannya. "Dasar peri licik!" gumam Gibran mengangkat tangannya ingin mencekik Aluna. "Om, sebenarnya Aluna itu su-" ucapan Gibran terhenti saat Aluna membekap mulutnya. Melotot tajam seolah kedua bola matanya akan keluar. "Sebenarnya apa?" Derdi menyilangkan lengan di depan d**a dan memandang keduanya bergantian. Bahkan beranjak dan berdiri dalam jarak 2 jengkal. "Derdi, nanti saja kamu interogasinya. Kamu kalau nanya itu beranak pinak. Oh iya, kamu harus jawab pertanyaan mama Gib," Mariska menoleh pada Gibran dengan tatapan mengintimidasi. "Mama tahu semalam kamu transaksi seratus juta. Jangan bohong sama mama. Informan mama ini akurat, mama cuma tidak mau kamu anggap terlalu jauh ikut campur masalah kamu. Mama juga nggak peduli kamu mau apain itu duit karena itu duit kamu. Mama cuma mau tahu, itu buat siapa? Kamu transfer sama siapa? Apa mungkin... Aina? Kamu sudah tahu dia di mana?" "Aina?" Aluna menoleh pada Gibran yang justru terkejut dan menggelengkan kepalanya sampai bekapan tangan kecil Aluna terlepas. "Seratus juta?!!" Gibran melongo. Dia merasa dirampok sekarang mengetahui uangnya hilang. "Alaahh... Kamu jangan pura-pura! Informan mama bilang dari rekening kamu semalam ada transferan seratus juta! Mau ngeles? Cek sendiri kalau tidak percaya. Kamu mau bilang rekening kamu di bobol? Mama nggak percaya! Aluna benar, kamu itu selalu punya ide ngeles yang kreatif dan suka manipulatif!" "Tapi semalam Gibran cuma transaksi satu juta buat dia, iya kan Aluna?" tanya Gibran pada Aluna yang mengangguk polos. "Jam berapa mama dapat infor- tunggu," Gibran merogoh ponselnya dan mengecek sendiri riwayat transaksi mbankingnya semalam. Ketika membaca apa yang tertera, Gibran memicing mata pada Aluna yang menatapnya bingung. "Kenapa Jendral Gib? Kok sekarang kamu yang kelihatan licik kayak kakek sihir?" tanya Aluna mengernyit. "Kamu pelakunya. Pelaku perampokan yang sebenarnya." Gibran menunjuk jidat Aluna berkali-kali. Ingin sekali rasanya mengangkat tubuh kecil Aluna itu ke atas lemari dan meninggalkannya di sana. "Ya kan tadi aku sudah ngaku kalau aku yang berantakan ini semuanya. Pelaku yang dikira rampok," bela Aluna. "Tapi kamu juga rampok aku semalam. Katanya sejuta cukup, malah transfer seratus juta. Semalam Tante Lena lihat kamu transaksi pakai ponsel ini karena aku bilang isi sendiri nominalnya. Ini jelas perampokan!" Gibran menyodorkan ponselnya pada Aluna. Gadis itu mencebik kesal dan mulai membaca dengan hati-hati keterangan transaksi dengan nomor tujuan transaksi atas nama dirinya. Aluna melongo melihat jumlah nominal dengan delapan angka nol itu. Mulutnya yang menganga lebar bisa muat satu bakpao. Ia sendiri terkejut melihat angka fantastis itu di rekeningnya. Prraangg! "Akkkhh!! Papiii Luna nggak rampok! Luna nggak tahu kok bisa gini!" Aluna baru saja menjatuhkan ponsel Gibran seolah benda itu menjijikkan. Merengek pada papinya jika dia bukan pelakunya. "Papi hiks...papiii... Luna nggak rampok hiks, itu pasti jin yang nyasar yang nambahin nolnya. Semalam Luna cuma mau... hikss... tiga ratus ribu kok sebenarnya hiks.... Tapi Jendral Gib bilang sejuta cukup? Hiks... hiks... Luna mau teriak cukup banget. Safwan bilang hiks... kadang kesempatan nggak datang hiks... dua kali. Jadi Luna ketik seratus. Baru ketik satu sama dua nol hiks... hiks.... Luna nggak tahu kenapa nolnya nambah. Gimana dong pi... Luna nggak mau laporin rampok. Luna nggak rampok pi... hiks... sejutarius pi... beneran." "Kamu klik tombol transaksi terakhir?" tanya Derdi dan Aluna menggeleng. Memang benar dirinya tidak menekan tombol transaksi. Aluna menunjuk Gibran. "Jendral Gib." "Kamu, bukan kakak. Jangan asal nuduh!" "Uang kamu sudah habis? Kamu hamburin?" tanya Derdi pada putrinya dengan ekspresi sulit percaya atas pertanyaannya sendiri. "Ditelan. Itu kata tante Lena." Gibran kembali menunjukkan senyum devilnya dan membuat Aluna bersembunyi di belakang Derdi. "Benar begitu mi?" Derdi menoleh pada istrinya. Lenata sebenarnya syok mendengar angka seratus juta itu, tapi mengingat bagaimana proses transaksi itu bisa terjadi, ia tahu penyebabnya. "Apa yang dibilang Gibran sama Aluna benar," Lenata menunjukkan video yang semalam direkamnya pada sang suami. Derdi juga terkekeh melihat sesuatu yang sudah lama tidak dilihatnya itu. Sejak dulu pertengkaran Gibran dan Aluna akan jadi hiburan tersendiri di rumah ini. "Anak papi nggak sengaja ngerampok kakaknya. Transfer balik saja uangnya. Kamu sepertinya tidak sadar menekan tombol nol saat marah-marah sama Gibran. Coba diingat-ingat lagi." Aluna terdiam dan beberapa saat kemudian menarik lengan Gibran untuk duduk di tempat tidur. Ia sendiri mengambil bantal di lantai dan meletakkannya di atas pangkuannya. Mencoba untuk melakukan rekonstruksi kejadian semalam meski di TKP berbeda. "Semalam kamu kasih aku dompet kan Jendral Gib? Tapi isinya nggak cukup sejuta, jadi aku balikin. Nih dompetnya." Aluna mengembalikan dompet Gibran. "Seingat aku semalam itu dompet ini dilempar ke perut aku." Gibran menyeringai. "Siapa suruh tipu-tipu aku, sok punya duit sejuta di dompet. Padahal cuma dikit. Sok baik karena nggak mau dibilang pelit. Sini hp-nya. Rekonstruksi kejadian belum selesai. Aku bakal buktiin kalau aku nggak rampok!" Setelah semua reka ulang itu selesai, akhirnya kesalahpahaman itu bisa dijernihkan. Aluna yang semula hanya menekan angka 100 tiba-tiba terlonjak mendengar Gibran punya anak sehingga tidak menyadari jarinya menelan lama angka nol sebelum melempar ponsel Gibran yang jatuh di lantai. Aluna, Gibran ataupun Lenata tidak ada yang mengecek nominal sebelum transaksi diakhiri. Aluna yang mengakhiri transaksi itu dengan jempol kakinya tanpa melihat nominal seratus juta yang tertera. Aluna pun minta maaf dan akan mengirimkan kembali uang Gibran. "Nggak perlu." "Ini banyak banget loh Jendral Gib. Gaji setahun plus tunjangan plus bonus loh ini Jenderal Gib." "Anggap saja hadiah nikah kalau kamu nikah. Angka 99 juta itu angka cantik loh. Tapi ingat, habis kakak nikah, kamu cuma bisa minta duit sama istri kakak. Kalau dia nggak mau ngasih, poor you Aluna." "Om, ini Jendral Gib habisl makan apa? Kok baik banget ngasih duitnya? Biar berikutnya Luna kasih makan itu lagi biar tuh dompetnya gampang kebuka." Cengiran Aluna semakin lebar, "Tapi ini serius? No tipu-tipu kan? Nggak pakai surat yang dicapelok materai?" "Iya, no tipu-tipu, nggak pakai surat yang dicapelok materai," ucap Gibran tanpa sadar yang membuat Bara mengulum senyum. Sejak mengenal Gibran, ia tidak pernah mendengar kakaknya itu bicara dengan kosa kata aneh seperti itu. *** Tadinya semua orang mengira masalah telah teratasi dan kini bisa menikmati lega. Nyatanya itu tidak berlaku untuk Gibran. Ia tidak membiarkan semua orang untuk membantunya membereskan kamar kecuali Bara. Alasannya karena adiknya yang menyebalkan itu membuat masalah dengannya. "Aluna harus dihukum beresin kamar Gibran!" "Yakin? Nanti rahasianya diliput sama Nafisa loh..." Aluna kembali nego agar Gibran melepaskannya dari hukuman. "Kamu beresin isi lemari kakak nanti. Lipat semua pakaian sampai rapi. Siapa suruh kamu acak-acak. Yang lain biar aku sendiri yang beresin." "Padahal dari dulu kan kak Gibran hobi berantakin lemari. Kamarnya emang rapi, tapi kalau cari baju mah... asal narik! kehambur deh lipatan bajunya. Ini tuh aib seorang Gibran Akhtar!" "Itu dulu. Kamu jangan mengalihkan pembicaraan karena kamu dihukum." Gibran tertawa pongah melihat wajah cemberut Aluna. "Kak Gibran juga harus dihukum," Bara menunjuk sepatu Gibran, "Mama bilang, kalau ada yang pakai sepatu masuk rumah harus ngepel tiga kali. Sebenarnya cuma kak Gibran yang suka seperti itu." Gibran menatap kesal pada Bara yang duduk berhadapan dengannya di meja makan. Setelah makan siang ini, ia harus mengepel lantai tiga kali. Kali ini bukan sengaja, tapi karena Aluna. Gara-gara mengira jika ada orang asing yang mengacak-acak kamarnya, ia langsung berlari masuk tanpa melepas sepatu lebih dulu. Jangankan sepatu, pintu mobilnya saja lupa ia tutup. Rekan polisi dari polsek terdekat yang sudah berjaga di depan dan gerbang belakang baru saja pulang setelah Derdi mengkonfirmasi kejadian itu. "Bara, kamu kenal anak tante di mana?" Lenata yang baru saja menyelesaikan makan siangnya, menoleh pada Bara yang duduk di sampingnya. Tadinya Basa akan duduk di samping Gibran, tapi kali ini Gibran kesal dan malah menarik Aluna duduk di sampingnya. "Di ponsel tante, kemarin dia chat tanya di mana? Bara kira mahasiswi yang mau kumpul tugas kolektif dari kelas yang Bara ajar." Bara mengatakan sebagian isi pesan Aluna dan dugaannya. Dugaan lain selain Aluna adalah gadis yang ingin dijodohkan dengan Gibran. "Penasaran banget ya? Masih di bandara langsung chat mau langsung ketemu?" Hamizan mengulum senyum ke arah Aluna yang tadinya tegang kini mengangguk. Hamizan mencari cara untuk membuat semua orang percaya. Gibran diam saja dan Bara sudah mendukung jawabannya. Dia akan bertanya langsung pada Bara nanti. Bagaimana pun ia dan Gibran harus selamat dari amukan Mariska dan Lenata. Nisa gawat jika mereka tahu kalau Aluna sudah berada di makan sejak beberapa hari yang lalu. "Bi, Gibran minta tambah," ujar Gibran dengan cengiran lebarnya. Menu makan siang ini memang lebih spesial dari biasanya karena keluarga Derdi akan makan siang di rumah. "Kak Gibran mau hadiah apa? Kak Gibran kan baru ulang tahun ke 30? Bilang, peri kabulin." Aluna membuka kulit udang dan menaruhnya di piring Gibran. Bukan cuma satu, tapi dua. Hal itu tidak luput dari mata Bara. Mariska mengulum senyum karena menyadari hal itu. Gibran yang mendengar itu terdiam. Ada satu keinginan yang selalu ia pinta namun juga terkabul hingga saat ini. Memiliki Aina dan Alif dalam hidupnya. Memenuhi janji yang dibuatnya empat setengah tahun yang lalu untuk menjemput mereka kembali. Tapi takdir justru membuat mereka terpisah darinya. "Doain kakak kamu saja nikah sebelum 31 tahun, biar nggak ingkar janji!" Mariska membuyarkan lamunan Gibran yang sedang jadi objek tatapan semua orang. "Tapi ingat," Gibran memilih berbisik pada Aluna saat melanjutkan ucapannya. Aluna mengangguk antusias dan kembali membuka kulit udang untuk dirinya dan Gibran. "Setelah ini kita bicara perjodohannya mereka Derdi. Mas tidak akan maksa kamu dan Lena, ataupun Aluna. Kalaupun Lena sudah setuju, Aluna juga mau. Bara tetap harus berjuang dapat restu dari kamu." "Jadi yang mau dijodohkan sama Bara..." Bara yang tadinya menoleh pada Hamizan kembali menatap Aluna, "Bara pikir dia salah satu gadis yang mau mama jodohkan sama kak Gibran." "Ogah!" Aluna merinding. "Aku bisa mati muda!" Gibran meringis dan membuat Aluna mendelik tajam. "Tante bisa jadi pasien jantung tiap hari lihat mereka bertengkar." Lenata memijit kepalanya. "Mama maunya kalau Aluna sama kamu. Makanya mama dukung papa. Siapa tahu kalian cocok. Kami nggak akan maksa, kencan saja dulu. Kalian kan sama-sama jomblo. Jangan ikut-ikutan sama Gibran yang pacar saja nggak ada." Mariska mendengus ketika melihat wajah santai Gibran yang menikmati makan siangnya. Putra sulungnya tidak merasa tersindir sama sekali. *** ----------------- Maaf banyak typo Maafin Aluna juga Dukung pakai ❤️ ya see you next episode -----------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD