Baru saja panggilan dari rekannya ia akhiri. Kasus kriminal yang ditangani Gibran sudah berbuah hasil. Harus ia akui keponakannya itu akan sangat agresif jika pelaku kejahatan itu terlibat jaringan bisnis obat terlarang. Seperti kasus yang terjadi dua hari lalu yang membuat gempar para nelayan di sekitar Pelabuhan Makassar. Meskipun pengedar itu meninggal karena tenggelam di antara kapal nelayan dengan dugaan terpeleset dan terhimpit, Gibran kembali membuktikan jika pria bertubuh jangkung itu dibunuh. Bukan meninggalkan karena kecelakaannya.
Seperti ucapan Gibran, siapa bilang ini terlambat? Pelakunya pun bisa dipancing dengan mengatakan korban meninggalkan barang bukti di salah satu peti kemas truk container yang ada di pelabuhan. Gibran dan timnya berpura-pura memecahkan kode itu dan semalam bergegas ke pelabuhan. Tepatnya membuka sebuah peti kemas. Benar saja, Gibran dan rekannya pun dibuntuti. Gibran menggunakan peti kemas itu untuk menyambut pelaku pembunuhan yang merupakan rekan korban sebelumnya.
Peti kemas yang berganti menjadi ruang interogasi yang ditayangkan live untuk para orang langit sebelum upacara kenaikan pangkat pagi tadi. Upacara yang terpaksa tertunda dua jam. Bagaimana tidak? Hasil interogasi live subuh buta itu terpaksa membuat beberapa pejabat polri tertunda upacara kenaikan pangkatnya. Gibran sudah curiga sejak awal sehingga mengirimkan bukti penyelidikan pada Omnya. Tapi Derdi meminta agar masalah itu hanya dirinya, Bram dan Kapolres yang tahu.
Permasalahan bagi hasil yang tidak rata membuatnya tega menghabisi nyawa korban. Sedangkan korban mengaku pada pelaku jika ia terpaksa membagi hasil dengan salah seorang polisi dengan pangkat bunga satu. Pernyataan itu lantas membuat panas kantor kepolisian. Beruntungnya Kapolda meminta pengakuan pelaku diusut lebih dulu dan tidak serta merta percaya begitu saja. Bisa saja pelaku sengaja melakukannya untuk merusak sinergi kepolisian.
Derdi tersadar dari lamunannya kala mendengar suara kesal Gibran yang melangkah mundur sambil mendorong pel lantai. Keponakannya itu sedang mendumal kesal karena ulah Aluna dan Bara. Kedua nama itu membuat Derdi kembali memikirkan ucapan kakak iparnya beberapa waktu lalu. Sekaligus menjadi alasan mereka makan siang di rumah ini. Ingin membahas tentang perjodohan Bara dan Aluna. Ia pun beranjak masuk ke dalam setelah Gibran berlalu ke belakang untuk menaruh pel yang ditentengnya. Wajah kesalnya menjadi hiburan tersendiri, karena selama ini Gibran yang suka bikin kesal.
Derdi duduk diam bersandar di sofa dengan lengan yang bersilang di perut memikirkan ucapan kakak dan kakak iparnya. Sebagai ayah tentu ia ingin memberikan yang terbaik untuk putrinya dan kedua anak kembar laki-lakinya. Ada satu hal yang membuatnya ragu namun juga enggan untuk menanyakannya langsung pada Bara. Ia sudah menyelidiki Bara sejak Hamizan mempercayakan Bara sebagai dokter pribadi Gibran selain dirinya sendiri tentunya. Mengamati perkembangan Gibran setiap harinya dan menemani proses pemulihannya. Proses pemulihan yang jujur saja tergolong amat pesat.
Bukan hanya dari segi proses pemulihan fisik yang mampu Bara imbangi, tapi juga kegilaan Gibran lainnya. Ya, siapa sangka jika dokter yang satu itu juga punya hobi yang 85% mirip dengan Gibran. Saat keponakannya itu sadar dari koma dan mengetahui Bara juga menyukai hal yang disenanginya, anak itu langsung mengklaim Bara adiknya yang hilang. Hanya akan melakukan rehabilitasi jika nama Bara sudah masuk dalam kartu keluarga. Sedikit gila bukan? Klaim sepihak Gibran yang membuat Hamizan dan Mariska seolah dapat jeckpot.
Bukan tanpa alasan kakak dan kakak iparnya senang, itu karena Bara mampu memojokkan Gibran sampai tidak berkutik dengan ide-ide cerdasnya. Bara pandai membaca Gibran dan anehnya Gibran tidak mengamuk sama sekali jika berhadapan dengan Bara. Akal sehatnya bekerja, tidak sama seperti sebelumnya yang agresif karena terlalu berani atau memang tidak kenal takut.
Itu salahnya juga yang sudah mendoktrin keponakannya menjadi segila dirinya saat masih muda dulu. Sebelum akhirnya ia menikah dan memiliki Aluna dalam pernikahannya dengan Lenata. Masa di mana dirinya harus menerima akibat dari kekeraskepalaannya dulu dengan dipisahkan dari kedua bidadarinya. Ia selalu berupaya agar Gibran tidak mengikuti jejak itu. Dibenci mertua karena dianggap menomorduakan keluarga.
Bara memang bukan laki-laki yang buruk. Sulit ditolak sejujurnya. Paras tampan, profesi mapan, sopan, berkarakter, dan sangat cerdas. IQ Bara bahkan lebih tinggi dibanding Gibran yang selama ini selalu dianggapnya cerdik. Di mata Derdi sendiri Bara pemuda yang nyaris sempurna. Di lingkungan kerjanya, Bara tergolong orang disegani dan disenangi.
Derdi pun mengakui jika Bara tulus menyayangi keluarga kakaknya ini. Saat Gibran dinyatakan koma, ia bisa melihat Mariska terpuruk. Meyakinkan semua orang jika Gibran akan kembali sadar dan merepotkan semua orang. Ucapan itu terbukti benar adanya. Tapi satu hal mengusiknya sejak Hamizan mengatakan ingin menjodohkan Aluna dengan Bara. Hal itu karena ia terus saja teringat tentang permintaan Bara pada Gibran untuk mencari tahu seseorang yang katanya berharga.
Sayangnya Gibran tidak ingin berbagi tentang hal itu dengan alasan sudah berjanji pada Bara. Sementara ia tidak ingin bertanya langsung, akan terkesan jika selama ini ia tidak mempercayainya. Bagaimana jika orang dari masa lalu Bara dan berpotensi menyakiti hati putrinya?
Putrinya Aluna adalah gadis yang peka, penyanyang dan lebih suka memendam masalahnya. Hati putrinya itu terlalu rapuh dan mudah luluh. Perhatian kecil saja membuatnya merasa dicintai. Benar juga kata Gibran jika putrinya itu polos dan sedikit bodoh.
Aluna akan menangis di depan semua orang jika sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit yang ditanggungnya. Bukan tangis meraung yang berteriak melampiaskan kekesalannya atas rasa sakit yang diterimanya. Putrinya itu akan merasa dunia kejam dan tidak menginginkan dirinya hadir. Menangis diam sesegukan dengan air mata yang terus mengalir dalam kebisuannya. Tatapannya menyiratkan 'setidakberharga itukah aku?'
Satu-satunya orang di keluarga mereka yang selalu bisa membuatnya berekspresif dan mudah mengatakan isi hatinya adalah Gibran. Jendral Gib sang Peri Manja yang sejak kecil berjanji akan selau menjaganya. Selain Gibran, hanya Safwan sahabat sekaligus mantan pacar putrinya. Tapi tidak mungkin ia menikahkan mereka. Mereka kakak beradik yang saling melengkapi dan saling memahami satu sama lain. Tidak mungkin juga dengan Safwan yang jelas-jelas angkat tangan.
Harapannya ialah, sosok yang mencintai putrinya. Sosok yang akan berdiri dan mengambil langkah berani untuk melindungi putrinya. Sosok yang menjadikan putrinya hal yang berharga baginya. Derdi tidak tahu apakah Bara mampu melakukannya jika laki-laki itu memiliki seseorang di masa lalunya. Mungkin saja Bara berniat menemui orang itu dan menyelesaikan masalah mereka dan memulai hidup baru dengan putrinya. Sama seperti Aluna yang menyelesaikan hubungannya dengan mantan pacarnya beberapa bulan lalu.
Jangan kira dirinya tidak tahu. Ia selalu memantau putrinya, termasuk kedatangan Aluna sejak empat hari lalu dan tinggal di rumah sahabatnya. Semua itu karena ajudannya tidak sengaja melihat Gibran dipeluk seorang gadis aneh di lobi kantor. Merasa penasaran karena mungkin saja diam-diam Gibran sudah memiliki kekasih. Tentu kabar itu akan sangat dinantikan oleh Hamizan dan Mariska. Setelah mengecek cctv, ia sampai syok menyadari jika itu putrinya. Jika tidak melakukan pertukaran dan perjanjian dengan Gibran, mungkin ia sudah menjemput putrinya itu. Ya, pertukaran dengan informasi rahasia dari kasus yang terbongkar semalam.
Sampai detik ini ia masih bertanya-tanya untuk apa Aluna meminta uang gaji plus tunjangan Gibran? Nominal yang berkisar 6-7 juta itu bukan nominal yang sedikit untuk sekedar jajan atau shoping seperti alasan yang dikemukakan Aluna pada Gibran. Terlebih saat pulang, Aluna tidak memiliki belanjaan yang banyak hingga menyentuh angka jutaan. Apakah putrinya punya utang? Meskipun Gibran tidak pernah mempermasalahkan jika uangnya diambil Aluna karena adiknya memang punya hak. Tapi tetap saja ia terusik.
Derdi tahu benar jika putrinya bukan tipe orang boros, cenderung hemat sebenarnya. Semua itu karena ajaran Lenata yang selalu mengingatkan anak-anak mereka jika gajinya itu tidak seberapa dan harus bisa cukup untuk mereka berlima. Baik Aluna, Faiz ataupun Raiz sudah terbiasa menabung uang jajajn mereka untuk hal yang mereka inginkan. Jika terdesak dan tidak ingin minta padanya atau Lenata karena takut dilarang, maka sasaran mereka adalah Gibran. Bahkan saat Gibran koma dan anak-anaknya tidak tahu, transferan itu rutin diberikan Mariska seolah Gibran yang mengirimkan mereka jajan. Ya walaupun diam-diam di belakang istrinya ia kadang memberikan uang jajan lebih dengan alasan bonus.
***
Hamizan yang baru saja keluar dari ruang kerjanya mengernyit melihat adik iparnya mendesah gusar. Jika saja rambut Derdi sedikit lebih panjang, mungkin ia kan melihat adik iparnya itu menjambak rambutnya sendiri. Tapi rambut di kepala Derdi hanya setinggi satu cm dan selalu rutin dicukur rapi. Sebagai atasan ia memang selalu wajib memberikan contoh, termasuk dalam penampilan.
Kalau boleh jujur, Hamizan mengakui penampilan adik iparnya itu lebih menakutkan jika kepalanya nyaris botak seperti ini dibandingkan dulu saat masih sedikit lebih panjang. Mungkin saja jika dicukur blontos, Derdi akan lebih mirip seorang mafia. Ia ingat benar bagaimana dulu susahnya mendapatkan restu Derdi untuk bisa menikahi kakaknya. Jika bukan karena usaha Gibran, mungkin ia tidak akan pernah bisa mendapatkan Mariska.
"Kamu kenapa Der?" Hamizan duduk di sofa tunggal memperhatikan raut cemas di wajah adik iparnya.
"Aku penasaran mas, apa Bara punya seseorang di masa lalunya? Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Gibran dan Bara yang minta tolong untuk mencari tahu seseorang dari masa lalunya. Katanya itu seseorang yang berharga. Aku hanya tidak ingin Aluna terluka."
"Kamu bisa bisa bakar rumah ini kalau Bara menghianati Aluna. Sebagai seorang ayah, aku juga tahu kekhawatiran kamu. Aluna juga seperti putriku. Dia juga tumbuh dengan kedua tanganku ini." Hamizan menatap kedua telapak tangannya, "Jangan sampai kami lupa itu." Menatap kembali dengan tatapan mengintimidasi. Tatapan yang sama diturunkannya pada Gibran. Derdi mengulum senyum menatap kakak iparnya.
"Aku tidak akan biarkan dia bersama laki-laki yang tidak bisa menghargai wanita apalagi sampai menghianatinya. Sama seperti pacarnya yang baru saja putus dengannya beberapa bulan lalu. Pacarnya bertunangan dengan seorang model." Derdi mengangguk dan bersyukur putrinya tidak bersama laki-laki yang ia dan Lenata sangka baik, namun mempermainkan hati putrinya.
"Sedih senang suka dan duka itu wajid datang dalam setiap hubungan, karena bagaimana pun juga hal itu turut serta menguatkan hubungan itu. Ujian akan datang silih berganti. Sama seperti kamu dan Lena yang kuat menghadapi ujian hidup. Aku percaya mereka bisa menjalaninya dan berdiri di atas tanggung jawab kehidupan pernikahan mereka nanti. Sama seperti keputusan berat yang kamu ambil dulu saat mengirimnya ke Singapura dan Jepang bersama sahabatnya." Hamizan menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya di sofa. Mengenang beberapa hal kecil ketika memperhatikan ruang bersantai keluarganya ini.
"Itu sangat mas. Berbohong pada Aluna untuk mengikuti program pertukaran mahasiswa di tahun terakhirnya. Kemudian memintanya lanjut kuliah lagi di Jepang. Jika bukan karena Safwan dan Nafisa, mungkin dia tidak akan setuju. Kali ini bukan Safwan yang membujuknya, tapi dia sendiri yang mau dijodohkan. Ia bahkan langsung setuju tanpa tahu siapa orangnya. Libatkan? Untuk urusan seperti ini ia langsung mengambil keputusan." Derdi kembali mendesah gusar.
"Karena itu aku memilih Bara. Aku tidak punya kandidat lain yang tepat untuk Aluna. Uji saja dia kalau kau ragu. Aku sengaja tidak memberitahu Bara dengan siapa dia akan dijodohkan, bahkan tidak menunjukkan fotonya. Bara menyerahkan keputusan itu padaku dan Mariska. Tapi aku lebih dulu memberitahu Aluna siapa yang akan dijodohkan dengannya. Aku juga tidak ingin kalau putra bungsuku itu menyukai Aluna hanya karena dia cantik. Siapa yang bisa menolak kecantikan putrimu?"
"Safwan Zayyan Pradipta." Derdi mengulas senyum dan membuat Hamizan terkekeh.
"Safwan itu tidak menolak kecantikan Aluna. Dia akui jika Aluna cantik, sangat cantik kata Safwan. Tapi Safwan tidak merasakan getaran seseorang yang jatuh cinta pada si peri manja kita itu. Dia menyayangi Aluna dari hati, sebagai saudara dan sahabatnya. Bukan sebagai pria pada wanita. Jika Safwan seorang pemuda b******k, mungkin kita sudah kehilangan Aluna kita dan dia kembali menjadi sosok yang asing. Tapi kenyataannya? Aluna tidak berubah selain semakin cantik dan modis. Itu juga yang membuat Safwan sakit kepala." Derdi mengangguk setuju atas ucapan kakak iparnya.
"Ih... Jendral Gib! Aku nggak mau tahu pokoknya gendong!"
Hamizan dan Derdi menoleh ke arah tangga di mana Mariska, Lenata dan Bara menuruni tangga. Sementara dua makhluk sisanya masih berdebat di atas sana. Suara cempreng Aluna sudah kembali terdengar. Gadis itu protes jika kakinya kram karena terlalu lama duduk melipat pakaian dan sekarang minta digendong.
Sementara Gibran terus menerus menolak dengan alasan lelah karena baru saja selesai membereskan kamarnya dan mengepel lantai yang dilaluinya hingga ke kamar menggunakan sepatu. Bi Sukma sudah turut bergabung di ruang keluarga selah Hamizan meminta Bara memanggilnya. Sekarang waktunya rapat keluarga. Tidak sempat menunggu Jay dan Ratna yang sedang magang dan kuliah. Biarlah nanti keputusan itu disampaikan karena mereka juga berhak tahu.
"Ini bukan rapat untuk interogasi Gibran, kan?" Gibran menginterupsi perbincangan para orang tua yang tampak serius. Di punggungnya Aluna memasang senyum manis dan terkikik melihat wajah Gibran cemberut.
"Bukan, bukannya tadi pelakunya sudah mengaku dan cerita semuanya? Bahkan sampai melakukan rekonstruksi kejadian."
"Yang Mulia Raja kok nyindir Luna? Mentang-mentang sudah jadi Raja Satan, peri kesayangan dilupakan." Aluna kembali melayangkan protes.
"Kita mau bahas kamu sama Bara. Maksudnya tentang perjodohan kalian," Derdi menepuk sisi sofa di sampingnya dengan maksud meminta agar putrinya duduk di sampingnya. Di antara dirinya dan Lenata.
"Turun! Kamu itu makin berat! Kasihan Safwan ngurus bayi kayak kamu. Kalau aku jadi Safwan kamu sudah aku ekspedisi kembali ke Jepang," cerocos Gibran.
"Latihan Jendral Gib... nanti kalau calon istrinya Jendral Gib ketemu masa nggak mau digendong?" cibir Aluna.
"Aku haus mau ke dapur."
"Aku juga haus Jendral Gib, sekalian kita ke dapur. Kaki aku masih kram. Lantainya juga belum kering sempurna, kalau aku jatuh kepeleset, terus geger otak dan jadi Putri tidur bagaimana?"
"Alasan!"
"Aku ini lagi uji kesabaran kamu Jendral Gib, jangan marah-marah terus dong.... Orang kalau mau jadi seorang suami dan seorang ayah yang baik itu harus punya stok sabar. Biar nanti menangin hatinya kak Aina sama Alif nggak susah. Sekalipun kamu nggak bisa kasih banyak, tapi karena kamu sabar menghadapi semuuuuuaaa kekeraskepalaan wanita dan tingkah menyebalkan seorang anak, akhirnya mereka akan luluh juga. Jadikan kamu pahlawan dari kegundahannya."
"Tumben omongan kamu ada benarnya? Biasanya kamu asal ngomong nggak dipikir. Kesambet apa?"
"Bidadari langit," bisik Aluna tersipu, "Aku belakangan suka habisin waktu sama Biya. Saudarinya Safwan. Dia juga baru balik dari Singapura dan kerja tesisnya di Bandung. Jendral Gib, kok parkir di sini? Tadi kita mau minum. Ayo ke dapur!" Gibran yang semula mengangguk-angguk, kini mendelik tajam pada Aluna yang memainkan mata. Kesal karena dianggap kendaraan oleh adiknya. Sementara yang lainnya hanya terkekeh melihat keduanya.
Sebelum Aluna melangkah ke sofa, ia lebih dulu menoleh menatap Bara yang duduk di samping Mariska, "Kalau kamu mau nikah sama aku karena wajah aku cantik, mending nggak usah!"
"Saya tidak butuh paras untuk bahagia. Saya bisa menikah dengan siapapun pilihan papa Hamiz dan mama Mariska sekalipun itu bukan kamu." Bara membalas ucapan Aluna. Kalimat yang membuat semua orang dilanda ketegangan.
***
-------------------------
Aduh bagaimana dong?
Baru mau dibicarakan
Tapi genderang perang
Sudah lebih dulu ditabuh...
--------------------------
Jangan lupa ❤️ & komen ya!