Kehidupan Pernikahan
“Selamat ya, Ra, Mas Dito,” ucap Utari sambil menyalami kedua pengantin baru itu.
“Makasih Ut,” balas Dirla dan Nandito sambil mengumbar senyum yang lebar.
Di sini, di sebuah taman dengan hiasan pernikahan bernuanasa putih-putih dan bunga yang indah menghiasi, Dirla Vania Cakrawangsa dengan Nandito Akarsena mengucap janji suci untuk hidup saling berdampingan dalam suka maupun duka, senang atau sedih dan saling mencintai selamanya.
Langit biru nan cerah dengan awan putih tipis menghiasi membuat suasana sakral pengikat dua insan tersebut serasa semesta turut merestui bersatunya mereka berdua. Tepat tanggal 18 Agustus 2018, Dirla Vania Cakrawangsa dan Nandito Akarsena melangsungkan pernikahan. Mereka menggelar pesta yang sederhana di sebuah taman. Tamu yang hadir pun hanya teman-teman dekat mereka serta beberapa pegawai restoran sushinya Nandito.
Usai pernikahan, Dirla dan Nandito pulang ke rumah miliknya Nandito. Barang-barang milik Dirla sudah dibawakan oleh Utari, sahabat satu kampusnya.
Dirla Vania Cakrawangsa atau akrab disapa dengan Rara itu masih berstatus mahasiswa di sebuah universitas di Kota Jakarta. Ia saat ini sudah memasuki tahun ketiga. Ia juga sedang mempersiapkan skripsi untuk wisuda dalam tahun ini. Karena memang sudah terlahir sebagai anak yang pintar, Dirla maju selangkah daripada teman-teman sejurusannya yang lain.
“Mulai sekarang kamu akan tinggal di rumah ini, Ra,” ucap Nandito begitu tiba di depan rumah besar bercat krem tersebut. Rumah yang tidak kalah besarnya dengan rumah orang tua Dirla di Surabaya.
“Ayo masuk,” ajak Nandito sambil menggandeng tangan Dirla.
Dirla tidak percaya kalau dirinya hari ini benar-benar menikah dengan pria idamannya. Kegilaannya mengejar Nandito dalam waktu kurang lebih dua bulan ternyata membuahkan hasil.
Dirla masuk ke rumah Nandito. Di sana, ia kembali ingat bagaimana sebuah rumah besar, dengan banyak ruangan, membawanya pada memori lama yang tidak ingin ia kenang.
Mata Dirla secara mendadak berkaca-kaca. Ia tidak bisa lanjut melangkah masuk. Ia tidak bisa tinggal di rumah besar seperti ini. Ia merasa semua kenangan indah hingga yang paling terburuk terputar campur aduk semuanya.
“Ra, kamu kenapa?” tanya Nandito kaget dengan apa yang terjadi pada istrinya. Tadi, Dirla masih tampak bahagia. Apa Dirla tidak menyukai rumahnya ini?
Dirla semakin terisak saat Nandito bertanya seperti itu kepadanya.
“Ada apa, Ra?” tanya Nandito lagi sambil memegang kedua pipi Dirla.
“A-a-ku ingat rumah, Mas.” Dirla mengucapkan satu kalimat dengan sesegukan.
“Rumah orang tua kamu?” tanya Nandito dan Dirla mengangguk pelan.
“Memangnya kenapa, Ra? Sekarang rumah ini juga akan jadi milik kamu.”
Dirla menggeleng. “Aku ingat Papa, Mas.”
Nandito memeluk Dirla. “Nggak apa-apa. Papa kamu pasti ngerti dengan semua keputusan kamu, Sayang. Jangan dipikirkan terus, ya.”
Dirla punya kenangan pilu dengan papanya. Perempuan itu pernah bersiteru hebat perihal memilih jurusan kuliah saat ia tamat SMA. Ia bahkan nekat kabur dari rumah dan pergi ke Kota Jakarta seorang diri supaya bisa meraih apa yang ia cita-citakan.
Dirla adalah putri dari seorang pengusaha di Kota Surabaya. Papanya bernama Ismawan Cakrawangsa. Keluarga Cakrawangsa sangat dikenal di kota itu bahkan juga disegani masyarakat karena kerap memberikan bantuan untuk orang-orang yang membutuhkan.
Sebagai putri satu-satunya, Dirla dituntut oleh sang Papa untuk bisa menggantikan dirinya melanjutkan usaha keluarga. Namun, karena Dirla keras kepala, ia membangkang dan melawan pada papanya itu. Dirla hanya ingin menjadi seorang komikus, bukan seorang pebisnis.
Hidup di Kota Jakarta ternyata tak seindah bayangan Dirla. Ia harus dihadapkan dengan kerasnya perjuangan hidup sendiri tanpa sokongan dari orang tua. Untungnya ia tidak bermalas-malasan dan mau bekerja apa saja untuk bisa menyambung hidup hari demi hari.
Saat sudah mulai berkuliah, Dirla mulai meninggalkan pekerjaan-pekerjaan penyambung hidup yang ia lakukan dari mulai mengajar les anak-anak, berjualan keliling di kampus, dan sebagainya. Ia sudah bisa menggambar komik dengan lebih baik dan ia memilih menjadi asisten salah satu seniornya yang sudah menjadi komikus terkenal di sebuah platform digital.
Di sana, Dirla mendapatkan bayaran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanannya. Ia merasa kalau hidupnya jauh lebih baik dengan fokus menggambar komik.
Dirla ingin membuktikan pada papanya kalau ia bisa menjadi sukses dengan menjadi seorang komikus. Namun, belum ia menunjukkan keberhasilan itu, kabar duka lebih dulu datang.
Papa Dirla meninggal karena serangan jantung, tepat dua tahun ia tinggal di Jakarta. Ia pulang ke Surabaya dan melihat sang Papa dengan kondisi terbujur kaku, tidak bisa berbicara atau tersenyum padanya lagi.
Dalam hati, ada sedikit penyesalan yang Dirla rasakan. Bagaimanapun kebenciannya pada sang Papa, tetapi cinta sebagai seorang anak tidak akan pernah hilang. Ditambah, selama ini papanya itu selalu memanjakan dirinya.
Dirla benar-benar hancur kala itu. Momen terakhir yang ia miliki dengan sang Papa adalah pertengkaran hebat yang berujung dengan kabur dirinya meninggalkan kota kelahiran. Momen itu yang ia bawa sampai sekarang setelah papanya tiada.
“Mas, Rara nggak bisa tinggal di rumah yang besar seperti ini,” ungkap Dirla berkata jujur. Meski tinggal di rumah yang berbeda, tetapi ini membuatnya mengenang memori bersama sang Papa. Dirla tidak tahu mengapa, ia menjadi seperti ini sekarang. Seolah menjadi trauma yang membekas dalam ingatannya.
“Kenapa Sayang? Kamu nggak suka dengan rumah ini? Apa Mas beli rumah yang baru?”
Dirla menggeleng pelan. “Bukan begitu, Mas.”
Nandito memeluk erat Dirla. “Sayang, kamu pasti lelah. Kita ke kamar dulu, ya.”
Nandito kemudian menggendong Dirla dan berjalan menaiki tangga. Dirla tidak bisa menolak karena ia tidak mau Nandito merasa dirinya terlalu pemilih.
Di luar sana, tentu banyak wanita yang menginginkan posisi yang ia rasakan saat ini. Mempunyai suami tampan, mapan, dan juga tinggal di rumah besar nan mewah. Siapa yang tidak mau?
Dirla harus bisa melawan rasa takut akan memori yang buruk itu. Ia harus bisa melanjutkan hidup.
***
Hari-hari Dirla tinggal di rumah Nandito perlahan membuatnya terbiasa dengan suasana rumah. Meski hanya tinggal berdua, tetapi pembantu di rumah itu cukup banyak, jadi Dirla tidak merasa kesepian saat Nandito tidak berada di rumah.
Dirla menjadi nyonya rumah yang perhatian. Para pembantu pun senang melayani istri dari Tuan mereka. Sudah sangat lama mereka bekerja di sana, tetapi tidak pernah sama sekali Nandito membawa perempuan ke rumah tersebut. Hanya Dirla satu-satunya perempuan yang Nandito bawa.
Saat Dirla melakukan pendekatan dengan Nandito, pria itu pernah mengatakan pada Dirla kalau ia tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Ia pernah dikecewakan oleh seseorang sebelumnya. Namun, karena kegigihan Dirla untuk meyakinkan Nandito, ia selalu berusaha untuk membuat Nandito mengalihkan perhatian pada dirinya.
Dirla sering mendatangi Nandito ke restoran sushi milik pria itu. Hari-hari Nandito yang biasa dipenuhi pekerjaan yang menjenuhkan, berubah menjadi berwarna karena Dirla.
Hingga saat Dirla mengatakan ingin menikah dengan Nandito, pria itu jadi terkejut. Nandito tidak menyangka kalau seorang gadis berusia 19 tahun itu menyatakan perasaan sekaligus melamar dirinya yang sudah berusia 34 tahun.
Nandito akui saat itu ia sama sekali belum terpikir untuk menikah dengan siapa pun termasuk Dirla. Namun, Dirla mengajukan mereka melakukan hubungan percobaan yaitu pacaran selama dua bulan. Kalau Nandito merasa tidak nyaman dengannya, maka Nandito boleh menolak lamaran yang ia lakukan. Ia akan mundur dan pergi dari hidup Nandito.
Nandito awalnya mengira ia tidak akan terpengaruh oleh Dirla. Hingga satu bulan mereka menjalin hubungan, Nandito tidak mengerti kalau dirinya bisa memikirkan perempuan itu saat sedang bekerja atau melakukan aktivitas yang lain.
Di kala Dirla tidak datang ke restoran karena sibuk dengan urusan kampus, Nandito mulai merasa kehilangan. Ia merasa ada yang kurang dengan hidupnya. Dirla ternyata membawa pengaruh besar dalam waktu yang singkat.
Hati Nandito yang selama ini terkunci rapat pada wanita mana pun, perlahan dibuka oleh Dirla dan ia berhasil menempati ruang istimewa di hati pria tersebut.
***
“Hai pengantin baru,” sapa teman-teman Dirla.
“Apa sih? Udah nikah lebih seminggu pun,” ketus Dirla pada teman-temannya.
“Yeee, kan masih bisa dibilang pengantin baru. Oh iya, kalian nggak pergi honeymoon?” tanya Raisya.
Dirla langsung membulatkan matanya begitu mendengar ucapan Raisya. Kemudian, ia tersenyum lebar.
“Nanti dapat debay duluan dong sebelum wisuda,” cetus Bunga sambil mengedipkan mata pada Dirla.
“Yang mana pun duluan, harus disyukuri,” jawab Dirla pindah duduk ke depan.
Dirla sudah menyembunyikan tentang pernikahannya dengan Nandito. Bahkan saat hari pernikahan pun sengaja hanya mengundang orang-orang terdekat saja. Ia tidak mau menjadi omongan orang-orang, tetapi berita seperti ini memang tidak bisa disembunyikan. Hampir semua teman kampusnya tahu kalau ia sudah menikah.
“Ra, kamu benaran udah nikah?” tanya seseorang tiba-tiba duduk di depan Dirla.
Dirla yang baru saja memasang earphone langsung mencopotnya kembali. Kedua bola matanya membulat besar.
“Te-guh!” Dirla kaget.
“Yang dibilang orang-orang itu nggak benar, kan, Ra?” tanya Teguh menatap mata Dirla dengan sorot kecewa. Namun, Dirla hanya diam, tidak memberi jawaban sama sekali.
“Jawab Ra!”
“Iya, benar. Aku udah nikah,” jawab Dirla menunduk.
“Kenapa?”
Dirla mengangkat kepalanya kembali lalu tersenyum lebar. “Karena aku mencintainya.”
Wajah lelaki itu langsung berubah. Ia biasa terlihat ceria, tetapi saat mendengar kabar bahagia Dirla menikah, wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan.
Drrttt ….
Drrttt ….
Ponsel Dirla bergetar. “Ah, maaf Teguh. Ada panggilan masuk, aku pergi angkat dulu.”
Dirla menjauh dari Teguh. Teguh adalah teman baiknya Dirla selain Utari. Teguh juga kerap membantu dirinya jika ia mengalami kesusahan.
Tidak Dirla pungkiri, tanpa Teguh dan Utari, mungkin ia tidak bisa hidup dengan baik di Kota Jakarta. Namun, saat pernikahannya, Dirla tidak memberitahukan hal ini pada Teguh. Ia hanya mengatakan pada Utari saja.
Dirla mengangkat panggilan dari nomor pengurus rumah orang tuanya di Surabaya. Saat pulang ketika papanya meninggal, Dirla meminta pada pengurus rumah jika terjadi sesuatu pada mamanya, langsung segera menghubungi. Meski tidak tinggal bersama-sama, tetapi Dirla tetap tidak mau terjadi hal buruk pada wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
“Halo Pak Mun, ada apa?” tanya Dirla.
“Halo Non, ada kabar buruk tentang Nyonya,” ucap Pak Mun dengan suara bergetar.
Darah Dirla langsung berdesir saat mendengar ucapan Pak Mun.
“Mama kenapa Pak?”
“Nyonya masuk rumah sakit. Dia selalu sebut-sebut nama Non.”
Air mata tidak dapat lagi Dirla bendung. Mendengar kabar sedih seperti ini membuatnya langsung rapuh seketika.
Dirla kembali ke tempat barang-barangnya, lalu mengemasi ke dalam tas.
“Ut, aku pulang duluan, ya. Mau ketemu Mas Dito,” ujar Dirla dengan mata yang tidak berhenti meneteskan air mata.
“Ra, kamu kenapa?” tanya Utari berusaha mengejar. Namun, Dirla sudah pergi lebih dulu.
“Mama, Dirla akan pulang ….” Dirla berlari secepat yang ia bisa menuju parkiran.
***
Bersambung….