“Bob, tolong cari tahu tentang Cleo.” Devan memerintah Bobi, salah satu anak buahnya. “Lengkap. Semua hal tentang dia.”
“Siap, Bos. Serahkan semua pada saya.” Seperti biasa, Bobi selalu menjalankan perintah bosnya dengan sigap.
Bagi Devan, mendekati Cleo dengan cara menjadi juniornya di kantor tempat Cleo bekerja belum cukup. Cleo masih sangat cuek untuk bisa membuka hati kepada Devan.
Setelah kematian Bella, mantan pacarnya dulu, Devan tidak pernah lagi jatuh cinta meski banyak wanita datang di dalam kehidupannya. Kini, Devan merasa menemukan seseorang yang sangat ia rindukan. Kebaikan dan kelembutan Cleo membuat Devan terus memikirkannya.
“Kalau saja saat itu aku tidak ditusuk, mungkin aku tidak akan bertemu kamu, Cleo.” Devan mengenang pertemuan dengan Cleo. Ia senyum-senyum sendiri dengan wajah tampannya.
Sejurus kemudian, ponselnya berdering. Devan melihat nama Bobi. Buru-buru ia mengangkat telepon itu.
“Halo. Bagaimana?”
“Iya, Bos. Saya sudah dapat info tentang Cleo,” ujar Bobi.
“Kirim file-nya ke saya sekarang juga.”
“Siap, Bos!” Seperti biasa, Bobi selalu bisa diandalkan.
“Oke. I got it. Cari info lebih banyak tentang dia. Jangan sampai ada yang tertinggal.”
“Siap.”
Devan mengakhiri teleponnya dengan Bobi. Dia membaca semua informasi yang dikumpulkan anak buahnya tentang Cleo. “Akhirnya aku tahu alamat apartemenmu, Cleo.” Devan tersenyum penuh makna.
Di dalam benaknya juga tersimpan keheranan. Kenapa Cleo sangat berusaha untuk menutup dirinya? Padahal dia tahu kalau Devan ini pengusaha sukses. Perempuan zaman sekarang, kalau ada CEO sukses pasti langsung mendekat.
“Cleo memang beda. Dia tidak seperti perempuan lain yang sering datang dalam kehidupanku. Cleo, kamu benar-benar telah mencuri hatiku.”
Devan masih senyum-senyum sendiri membayangkan wajah cantik Cleo saat menolongnya. Saat Cleo panik melihatnya bersimbah darah, saat itulah ia merasa kecantikan Cleo langsung terpancar dari kelembutan hatinya. Perempuan seperti itulah yang selama ini diidam-idamkan oleh Devan.
“Bella, semoga kamu tenang di sana. Aku sudah menemukan muara kasihku kembali.” Devan berbisik lirih. Ia terkenang dengan Bella yang juga memiliki paras cantik dan hati yang baik seperti Cleo.
***
Cleo berjalan dengan gontai menuju lobby apartemennya. Dia merasa sangat lelah dengan pekerjaan di kantor. “Selamat malam, Mbak Cleo.” Seorang resepsionis menyapa Cleo dengan ramah seperti biasa.
“Selamat malam.” Cleo menyapa dengan sedikit senyuman. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa lelahnya. Ia langsung berjalan menuju lift.
“Mbak Cleo, sebentar. Ini ada paket untuk Mbak Cleo.” Resepsionis menyerahkan sebuah kotak yang cukup besar.
“Oh iya. Terima kasih banyak ya, Mbak.” Cleo langsung mengambil barang itu dan membawanya menuju lift. Sebenarnya Cleo tidak merasa memesan barang secara online. Tapi, ia tidak mau memikirkannya. Yang terpenting adalah ia bisa segera istirahat karena badan dan pikiran rasanya sangat lelah.
Sesampainya di kamar, Cleo segera membersihkan tubuhnya. Pikiran yang tadinya terasa lelah mulai segar kembali dengan guyuran air hangat yang membasuh setiap inci tubuhnya.
Usai mandi, Cleo pun mengeringkan rambutnya. Ia melihat kotak yang tadi diberikan oleh resepsionis. Ada tulisan From: Secret Admirer. Mata Cleo membelalak. “Sejak kapan aku punya pengagum rahasia? Jangan-jangan ini jebakan.”
Cleo segera membuka paket itu. Kotak pertama dibuka. Masih ada kotak berikutnya. Lalu, masih ada kota lagi hingga lima kotak berhasil dibuka. Setelah itu, ada sebuah kotak kecil. Cleo tidak sabar untuk melihat isinya. Jantungnya berdegup kencang. Ia khawatir kalau isinya semacam bom atau narkotika. Tapi, Cleo benar-benar penasaran dengan isi kotak kecil itu.
Betapa terkejutnya Cleo melihat isi kotak itu. Sebuah benda tampak berkilauan. Kalung berlian yang sangat indah dengan hiasan berbentuk hati. Cleo mengamati kalung itu dengan saksama. “Apakah mungkin ini berlian asli?”
Cleo mengamati lagi dengan lebih detail. Semakin dilihat, kalung itu semakin memancarkan kilaunya. Cleo pernah melihat kalung berlian milik mendiang mamanya. Kilaunya persis seperti kalung itu. Jantung Cleo semakin berdegup kencang. Baru kali ini ia mendapatkan barang semewah itu.
“Tidak. Pasti ini salah kirim. Bahaya kalau aku menyimpannya.”
Cleo memutuskan untuk mengembalikan barang itu ke resepsionis. Ia merapikan bungkus yang sudah dibuka tadi. Setiap kotak ia rapikan lagi seperti semula. Meski tidak serapi yang tadi, setidaknya ia telah berusaha untuk merapikan.
Cleo turun ke lobby dan mengembalikan barang itu. “Mbak, mohon maaf, sepertinya itu salah kirim. Saya tidak pernah memesan barang itu.”
“Tadi pengirimnya meminta saya untuk memberikan pada Mbak Cleo. Dia menyebutkan nama lengkap Mbak Cleo.”
“Memangnya siapa orangnya?”
“Dia tidak menyebutkan namanya.”
Cleo berpikir sejenak. “Kalau begitu barangnya disimpan di sini saja, Mbak. Kalau orangnya datang lagi, minta tolong Mbak serahkan saja barangnya tadi. Saya tidak mau menerima. Terima kasih.” Cleo langsung berlari menuju lift.
“Mbak ... Mbak Cleo yakin?” Resepsionis itu berteriak memanggil Cleo yang buru-buru lari.
Cleo berbalik dan mengacungkan jempolnya. Resepsionis itu tersenyum.
Cleo kembali ke kamar dengan perasaan bertanya-tanya. “Siapa orang itu? Mana mungkin aku punya pengagum rahasia. Ah ya sudahlah, yang penting aku gak terima barang itu.”
Dari kejauhan, Devan melihat semua adegan Cleo yang mengembalikan kalung berlian pemberiannya. Tiba-tiba Devan merasa sedih. Bahkan Cleo menolak barang mewah yang biasanya menjadi incaran para wanita. “Cleo, harus dengan cara apa lagi?”
***
Keesokan harinya, Cleo pulang menjalang magrib. Pekerjaan kantor pun bisa diselesaikan dengan baik. Mood Cleo sudah jauh lebih baik dari kemarin. Devan masih setia menjadi juniornya. Setelah memarkir mobilnya, Cleo menuju lobby.
“Mbak Cleo, ada titipan barang lagi.” Resepsionis memberi tahu Cleo.
“Barang apa lagi, Mbak?”
“Itu, Mbak. Di sebelah sana.” Resepsionis itu menunjuk di sebelah pojok ruang lobby. Cleo menoleh dan betapa kagetnya ia karena itu adalah boneka teddy bear pink yang sangat besar. Tingginya melebihi tinggi Cleo.
“Astaga.” Cleo ternganga.
Semua petugas resepsionis tertawa. “Kami juga sangat kaget tadi, Mbak.”
“Dari siapa, Mbak?” Cleo penasaran.
“Secret Admirer.”
“Lagi?”
“Iya, Mbak. Sepertinya dia sangat mengagumi Mbak Cleo.” Salah satu petugas menimpali sambil tersenyum geli.
“Kalau gitu buat Mbak aja deh. Kamar saya gak cukup. Sudah banyak barang.”
“Yakin, Mbak? Itu boneka mahal lo Mbak.”
“Yakin seribu persen.” Cleo berkata sambil sedikit kesal.
“Terima kasih banyak ya, Mbak Cleo.”
“Iya, sama-sama. Saya ke atas dulu ya.”
“Iya, Mbak.”
Cleo menuju unit apartemennya. Ia masih tidak habis pikir dengan pengagum rahasia itu. Di satu sisi, Cleo merasa lucu. “Kemarin kaluang berlian, sekarang boneka teddy bear pink raksasa. Besok apa lagi ya?” Cleo tertawa geli.
Sementara itu, di sebuah sudut lobby apartemen, Devan melihat semua kejadian itu. Dia kembali menggerutu.
“Sekarang kamu tidak mau menerima boneka itu, Cleo” Devan mulai kesal.
Devan menelepon Bobi untuk meminta saran.
“Halo, Bob. Cleo menolak pemberianku lagi.”
“Bonekanya terlalu besar sepertinya, Bos.”
“Kamu ini bagaimana sih, Bob? Kan kamu yang belikan bonekanya.”
“Tadi katanya yang besar dan paling mahal, Bos.”
“Aduh kamu ini. Ya sudah, terus sekarang bagaimana?”
“Kasih bunga mawar saja, Bos.”
“Kalau dia menolak lagi?”
“Apa salahnya dicoba, Bos.”
“Ya sudah, saya coba pesan bunga mawar saja. Terima kasih sarannya. Awas kalau sampai Cleo menolak lagi,” ancam Devan.
“Ya dicoba saja dulu, Bos. Siapa tahu diterima.”
“Oke deh.” Devan mengakhiri teleponnya. Dia segera memesan bunga lewat online.
Setelah bunga datang, seperti biasa, Devan menulis nama Secret Admirer.
“Mbak, seperti biasa, saya titip untuk Bu Cleo ya,” kata Devan pada resepsionis.
“Tadi ditolak, Mas.” Kata petugas resepsionis menimpali.
“Iya, Mbak. Saya sudah tahu. Sekarang saya mau kasih dia bunga.”
Tiba-tiba, seseorang menepuk punggung Devan dan memandangnya. “Kamu?” Seseorang itu adalah Cleo. Tanpa Devan sadari, Cleo sudah ada di sampingnya. Tanpa sengaja, Cleo yang hendak jalan-jalan ke luar, mendengar namanya disebut lelaki itu.
Devan segera menurunkan topinya dan memakai kaca mata hitam.
“Kamu siapa? Sepertinya tidak asing.” Cleo tetap memandang Devan yang bingung harus bagaimana. Dia tertangkap basah.
Devan menunduk memberikan isyarat hormat dan melenggang.
“Hei, tunggu!” Cleo mengejar, tapi Devan sudah menghilang.
Cleo kembali ke lobby dan menanyakan perihal pria itu kepada petugas yang tadi menerima bunga dari Devan untuk Cleo.
“Itu yang namanya Secret Admirer, Mbak? Dia yang memberikan banyak hadiah?”
“Iya, benar, Mbak Cleo”
Cleo merasa mengenal orang itu. “Dari samping sepertinya dia adalah Devan. Tapi mana mungkin? Buat apa Devan bertindak konyol seperti itu? Bukannya di kantor dia terus berada di dekatku?” batin Cleo.
“Ini bunga mawar dari dia, Mbak. Tadi dia menitipkan bunga ini untuk Mbak Cleo.” Petugas resepsionis menyerahkan bunga itu kepada Cleo.
“Wah indah sekali.” Cleo mengambil buket bunga mawar itu dan menciumnya. “Harus sekali.”
“Syukurlah kalau Mbak Cleo suka.”
“Saya ambil bunga ini ya, Mbak. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama, Mbak Cleo.”
Cleo membawa buket itu ke unitnya. Dia paling tidak bisa menolak kalau ada yang memberi bunga.
“Gawat, aku ketahuan. Sial banget! Bagaimana kalau Cleo curiga?” Devan menggerutu di dalam mobilnya. “Bisa mampus besok aku kalau ketemu dia di kantor.”