Mengusik Hati

1427 Words
“Sumpah ganteng banget ya Si Devan itu,” Dewi berbicara sambil memperlihatkan mata berbinarnya. Dia sedang berbicara pada Cleo. Namun, yang diajak berbicara tampaknya justru sedang berkelana dengan pikirannya sendiri. Cleo masih bertanya-tanya apakah benar yang menjadi Secret Admirer adalah Devan? Cleo belum bisa menemukan jawabannya. Dia juga tidak habis pikir kenapa Devan bisa bekerja di kantor yang sama dengannya. “Bukannya dia seorang CEO?” bisik Cleo lirih. “Apa? Siapa yang CEO?” Mata Dewi membelalak. “Ah bukan siapa-siapa kok.” Cleo kembali tertangkap basah oleh Dewi. “Hei Bestie. Sepertinya ada yang sedang kamu sembunyikan ya.” Dewi menatap lekat kedua bola mata Cleo. Cleo langsung melengos dan merasa terjebak dengan sorot mata Dewi yang sudah bisa menebak ada sesuatu yang aneh dengan Cleo. Cleo melihat Devan datang. Dia buru-buru menutup pembicaraan dengan Dewi. “Saatnya kita kembali bekerja. Ayo kerja Dew,” seru Cleo sambil sedikit salting. “Dih apaan sih kamu Cleo. Dasar deh. Si paling gak bisa menyembunyikan perasaan. Tapi sok misterius pakai rahasia-rahasiaan.” Dewi kesal dengan Cleo. “Hehehe you know me kan? Aku masih belum bisa cerita, Bestie. Nanti saja kalau waktunya sudah tepat.” Cleo berbisik. Khawatir Devan mendengar pembicaraan mereka. “Okay. Santai aja. Kamu juga butuh ruang privasi, Bestie.” Dewi tersenyum sambil menepuk pundak Cleo. “Oh iya, by the way, gimana menurutmu Si Devan itu? Ganteng gak?” “Hust.” Cleo mengerlingkan mata pada Dewi sebagai isyarat untuk memberi tahu bahwa Devan di sudah datang dan sekarang tepat di belakang Dewi. “Apaan sih kamu? Aku kan Cuma nanya Devan ganteng atau gak menurutmu.” Dewi mulai kesal. “Ehem. Selamat pagi para senior,” sapa Devan pada Cleo dan Dewi. Dewi pun salah tingkah. Dia menggaruk rambutnya. “Se ... selamat pagi, Van. Sudah lama di belakang aku?” Dewi berkata sambil menahan malu. “Enggak kok, barusan.” Devan berkata dengan senyuman. Dewi seolah ingin terbang. Senyuman Devan sangat manis. “Hmmm gantengnya,” puji Dewi lirih. “Hust Dewi, cepat sana kembali ke mejamu. Sudah waktunya bekerja ini!” bisik Cleo. Dewi mendekatkan bibir di telinga Cleo dan berbisik. “Bener kan apa yang aku bilang? Devan ganteng banget.” “Yang lain juga pada bilang dia ganteng.” Cleo gantian berbisik pada Dewi. “Iya sih. Duh bisa kalah saingan aku sama mereka. Tapi kamu ngefans sama Devan juga gak?” kata Dewi masih berbisik. “Ngapain? Palingan dia sudah punya istri.” Cleo masih memelankan suaranya. Devan berada di sampingnya tapi sedang sibuk menyiapkan peralatan kantornya. “Hah? Masa sih?” Dewi berkata dengan suara lantang. Semua mata memandangnya, tak terkecuali Devan. “Ups, maaf ya teman-teman. Keceplosan.” Dewi berkata sambil tertawa nyengir. “Udah sana pergi. Kerja dulu!” Cleo menyuruh Dewi sekali lagi. Dewi mendekatkan bibirnya ke telinga Cleo lagi. “Kalau kamu suka sama Devan, pasti aku mundur deh. Secara siapa yang mau berpaling dari Cleo si cantik dari goa hantu.” “Ih apaan sih kamu. Awas ya.” Cleo mengambil bolpoin di meja dan melemparkannya pada Dewi. “Eits, gak kena. Wekkk” Dewi meledek Cleo sambil menuju ke mejanya. “Awas ya kamu Dew.” Cleo ikut tertawa. Devan memandang Cleo sambil tersenyum. Cleo langsung canggung dan berhenti tertawa. “Kenapa berhenti tertawa? Bu Cleo cantik kalau tertawa lepas begitu.” Devan masih memandang dengan mata berbinar. Cleo salah tingkah. Dia tidak tahu harus bagaimana. Buru-buru dinyalakan komputernya dan mencoba untuk mencari kesibukan. Devan pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Heran sekaligus senang melihat tingkah laku Cleo yang tampaknya memang sedang salah tingkah. Seketika Devan teringat kejadian kemarin saat dia tertangkap basah oleh Cleo. “Apakah Cleo tahu kalau pria pengagum rahasia itu adalah aku? Please jangan sampai tahu.” Devan hanya bisa berkata dalam hati. “Van ...” Cleo memanggil Devan. Devan tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Dia takut kalau Cleo akan bertanya soal pengagum rahasia. “Kenapa wajahmu begitu?” tanya Cleo. “Tidak apa-apa.” Devan gugup. “Memangnya kenapa Bu Cleo?” “Hmmm gak jadi deh.” Cleo mengurungkan pertanyaannya. Sebenarnya, ingin sekali dia bertanya perihal pengagum rahasia yang kemarin dia temui. Apakah itu benar Devan atau bukan. Tapi, di sisi lain, Cleo takut salah orang. Nanti malah dirinya terlihat seperti terlalu GR. “Kenapa tidak jadi?” “Gak apa-apa kok.” Cleo dan Devan kembali berkutat dengan pekerjaan mereka. Siang pun menjelang. Waktunya mereka beristirahat. Ponsel Devan berdering. Dia pun berdiri dan berjalan menuju tempat yang agak tidak ada yang mendengar percakapannya. “Halo, Bob. Ada apa?” “Bos tidak apa-apa kan?” “Kamu mencemaskan aku? Tentu aku tidak apa-apa dong. Seorang CEO sukses dan tampan sepertiku mana mungkin ada apa-apa.” “Syukurlah kalau begitu, Bos.” “Heh, dengar ya Bobi. Jangan mengkhawatirkan aku lagi. Cepat kerjakan tugasmu yang lain. Kamu mengganggu waktuku saja!” bentak Devan kepada Bobi. “Iya baik, Bos. Siap. Laksanakan.” Devan menutup telepon itu. Dia tidak habis pikir kenapa Bobi mencemaskannya. Saat hendak kembali ke mejanya, Devan melihat Dewi menuju meja Cleo. Devan menghentikan langkahnya. Dia mengamati percakapan Dewi dan Cleo. “Darrrr” “Apaan sih kamu, Dew? Bikin kaget aja.” Belum selesai dengan lamunannya, tiba-tiba Dewi mengagetkannya. “Habisnya kamu melamun terus. Ada apa sih? Ada masalah?” “Hmmm enggak kok. Gak ada apa-apa.” “Kamu jangan bohong deh. Biasanya kalau lagi gak konsen gini ada yang mengganjal di pikiranmu. Cerita aja sama aku.” “Hmmm” “Dari tadi ham hem ham hem aja kamu, Cleo. Bete deh!” Cleo tertawa cekikikan. “Maaf deh udah bikin bestie aku bete. By the way, gimana menurutmu tentang secret admirer?” “Hah? Pengagum rahasia?” “Iya.” Lamat-lamat Devan bisa mendengar pembicaraan mereka dan terbelalak karena Cleo membahas soal pengagum rahasia dengan Dewi. “Wah wah tumben pertanyaanmu kayak gini, bestie. Ada yang diam-diam jadi pengagum rahasiamu yaaaa?” Dewi meledek Cleo. “Apaan sih kamu, Dew.” “Lah kan kamu yang tanya soal pengagum rahasia. Idih, pipinya merah.” Dewi tertawa terbahak-bahak. “Ah masa sih?” Cleo segera mengambil cermin kecil di mejanya dan mengamati pipinya. Ternyata benar, pipinya lebih merona. “Ini terlalu banyak blush on tadi. Udah ah, kamu itu kalau gak tau soal secret admirer ya gak perlu ledekin aku.” “Eh, menyepelekan aku. Jelek-jelek gini aku juga pernah jadi pengagum rahasia.” “Hah, yang bener?” “Iya. Dulu aku pernah jadi pengagum rahasia saat kuliah. Tapi sayangnya, yang jadi pengagum rahasia di doi banyak banget. Aku tersisihkan. Huhuhu sedih banget.” “Pengagum rahasia itu maksudnya kamu suka sama si cowok itu?” “Iyalah. Dia famous banget, ganteng, sopan, berprestasi. Siapa coba yang gak klepek-klepek sama dia.” “Maksudnya kamu ada rasa cinta atau semacamnya gitu?” “Hmmm gimana ya? Lebih tepatnya aku mengagumi aja sih. Karena aku sadar diri gak mungkin dia membalas cintaku.” “Jadi intinya, kamu hanya mengagumi kepribadian dan fisiknya aja?” “Iya. Tapi kalau dia mau jadi pacarku, uuuuhhhh gak usah ditanya lagi gimana senengnya aku.” “Oh iya. Aku mulai paham.” “Paham apaan?” “Maksudku paham soal pengagum rahasia.” “Sekarang, jawab pertanyaanku. Kamu jadi pengagum rahasia atau ada orang yang menjadi pengagum rahasiamu?” Cleo tampak berpikir sejenak. “Nanti aja deh aku ceritain. Kerjaan lagi numpuk nih.” “Kan ini jam istirahat.” “Iya, tapi masih ada sedikit kerjaan ini.” “Awas kamu ya. Nanti bakal aku tagih ceritanya.” “Siap deh.” Cleo tersenyum sambil memperlihatkan giginya. Dewi pun pergi. Devan berjalan menuju meja kerjanya yang terletak bersebelahan dengan Cleo. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba Devan melihat Ronal mendekati Cleo. “Halo, Cleo. Ini buat kamu.” Tiba-tiba hadir seorang laki-laki yang memberikan Cleo sekotak makanan. Cleo menoleh. “Ya ampun, Ronal, kamu bikin aku kaget aja. Apaan itu?” “Ini makanan buat makan siang.” “Tumben kamu kasih makanan. Ada acara apa nih?” “Gak ada apa-apa kok. Aku taruh meja ya. Selamat bekerja kembali, Cleo.” “Terima kasih banyak ya, Nal. Tahu aja aku lagi lapar banget.” Ronal tersenyum dan kembali ke meja kerjanya. Devan terbakar api cemburu menyaksikan perhatian Ronal pada Cleo. Cleo pun menyambut perhatian itu dengan senyum yang merekah. Devan sangat cemburu hingga tangannya mengepal. “Van, kamu kenapa?” teriak Cleo dari kejauhan. Cleo tidak sengaja melihat ekspresi Devan yang menahan amarah. “Duh, sial aku ketahuan lagi,” umpat Devan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD