Devan tertangkap basah sedang menahan rasa cemburunya.
“Kamu tadi kenapa, Van?”
“Hmmm anu, Bu. Tidak apa-apa.” Devan bingung harus berkata apa.
“Kamu marah?”
“Marah kenapa, Bu?”
“Tadi aku lihat wajahmu merah dan tanganmu mengepal.”
“Ah tidak apa-apa kok.”
Cleo tahu Devan sedang menyembunyikan sesuatu, tapi dia tidak mau mengusiknya. Mereka sudah bersepakat untuk tidak masuk ke wilayah privasi masing-masing.
Cleo membuka makanan dari Ronal. “Wah enak sekali!” seru Cleo saat melihat spageti yang menggoda nafsu makannya.
Cleo pun menoleh kepada Ronal. “Nal, makasih ya. Aku suka banget,” teriak Cleo.
Ronal hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.
“Bu Cleo pesan makanan?” tanya Devan pura-pura tidak tahu kalau itu makanan dari Ronal.
“Tidak, ini Ronal yang kasih aku. Kamu mau?” Cleo menawarkan makanan pada Devan.
“Tidak, Bu. Terima kasih. Saya mau makan ke kantin.” Devan pamit kepada Cleo untuk makan di kantin. Hatinya benar-benar cemburu karena ulah Ronal.
Beberapa saat kemudian, Devan kembali ke meja kerjanya. Dia melihat Cleo sudah kembali bekerja.
Waktu sangat cepat berlalu. Senja pun telah tiba. Inilah waktu yang paling ditunggu oleh Cleo. Saatnya pulang dan beristirahat.
“Hei, ayo ke cafe. Kamu punya hutang cerita sama aku,” Dewi mampir ke meja Cleo. Devan melirik Dewi.
“Hai, Van, mau ikut ke cafe?” Dewi menawari Devan untuk bergabung. Devan masih berpikir.
“Jangan sekarang deh, Dew. Aku capek banget hari ini. Pengen langsung pulang terus istirahat.” Cleo menimpali.
“Ih kamu ini ya. Atau kita ke cafe berdua aja, Van. Mau gak?” ajak Dewi.
Devan pun tersenyum. “Maaf, Bu Dewi. Saya juga harus segera pulang. Capek sekali rasanya.”
Cleo menoleh pada Devan. “Kamu tidak terlihat capek. Masih full energi begitu.”
“Maksud saya, hati saya yang capek.” Devan salah tingkah.
Dewi tertawa terbahak-bahak. “Memangnya kamu apain si Devan ini sampai hatinya capek?” tanya Dewi pada Cleo.
“Bukan karena Bu Cleo kok, tapi karena ada permasalahan lain,” Devan menjawab sungkan.
“Oke deh kalau begitu. Next time ya. Dah.” Dewi melenggang pergi.
“Oke. Bye,” sahut Cleo.
Cleo menoleh pada Devan. Devan tampak menyibukkan diri untuk merapikan peralatannya.
“Hmmm Van, boleh aku tanya sesuatu?” Cleo bertanya.
“Iya, Bu. Ada apa?” Devan menoleh.
Cleo tampak ragu-ragu. “Katakan saja, Bu. Pasti saya jawab kok.” Devan berkata meyakinkan.
“Janji ya.”
“Hmmm tapi tanya apa ya, Bu?”
“Janji dulu kamu gak akan marah atau GR atau benci sama aku.” Cleo menatap mata Devan.
Devan semakin penasaran. “Baiklah. Saya janji, Bu.”
“Kamu ...” Cleo berhenti sejenak.
“Iya,” ujar Devan.
“Kamu kemarin ke apartemenku ya?”
Pertanyaan Cleo membuat teggorokan Devan tercekat. Darahnya seolah berhenti mengalir. Matanya mengerjap. “Maksudnya bagaimana Bu?”
“Van, aku menerima beberapa hadiah dari Secret Admirer. Terakhir, buket bunga mawar. Aku suka sekali. Indah dan harum. Aku sempat melihat si pemberi bunga itu. Dan aku yakin itu adalah kamu.”
Devan menunduk. Bingung harus berkata apa. Namun, dia berusaha untuk tidak terlihat terlihat bingung. “Kenapa Bu Cleo bisa seyakin itu?”
“Mata kamu, Van. Mata itu persis seperti yang aku lihat di lobby apartemen.” Cleo menatap mata Devan lekat. Saat itulah Devan tidak bisa lagi menyangkal.
“Sa ... saya minta maaf ya, Bu. Saya hanya mengagumi Anda. Bahkan saat Anda menyelamatkan saya saat saya sekarat, saya sudah mengagumi Anda.”
“Jadi benar pengagum rahasia itu kamu?” Cleo membuka mulutnya. Dia tidak percaya bahwa Secret Admirer adalah benar-benar Devan.
“Bu, saya tidak bermaksud meneror Anda. Saya hanya ingin memberi hadiah. Tolong maafkan saya.”
Cleo memegang kepalanya. Rasanya kepala itu berdenyut hebat.
“Bu, saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya janji.”
“Van, aku tidak tahu harus berkata apa. Sejujurnya awal menerima hadiah itu, aku takut itu dari orang yang berkehendak jahat. Apalagi barang yang pertama kamu berikan itu barang yang sangat mewah. Tapi, kalau boleh jujur, aku sangat senang karena pengagum rahasia itu bukanlah pengagum palsu. Aku senang kamu jujur.” Cleo tersenyum.
Devan tidak mengira respon Cleo seperti itu. Dia pun bisa bernapas dengan lega.
“Apa saya tetap boleh untuk menjadi pengagum rahasia Anda?”
“Kamu masih mau jadi pengagum rahasia? Kan sudah ketahuan!” Cleo tertawa.
“Iya juga ya.” Mereka tertawa bersama.
“Sekali lagi terima kasih ya sudah mau jujur.”
“Saya yang berterima kasih karena Bu Cleo tidak marah. Semalaman saya tidak bisa tidur khawatir Bu Cleo marah.”
Cleo tertawa lagi. “Gak lah. Ngapain marah. Kan ada pengagum. Berarti aku spesial dong.”
“Sangat.” Devan memandang mata Cleo lagi.
Cleo langsung terdiam dan mengalihkan pandangan.
“Ya sudah, Van, aku pulang duluan ya, selamat istirahat.” Cleo meninggalkan Devan dan berjalan keluar ruangan. Hatinya masih tidak karuan. Bahagia sekaligus gugup. Namun, kepalanya tiba-tiba pusing lagi.
Cleo berjalan pelan-pelan menuju parkiran mobilnya. Ketika hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba Ronal muncul.
“Cleo, kamu gak apa-apa?” Ronal tiba-tiba ada di samping Cleo.
“Aku gak apa-apa. Cuma pusing aja.”
“Aku antar kamu ke apartemen ya. Mobil kamu di sini saja. Aku antar pakai mobilku ya.”
“Gak usah, Nal. Aku masih bisa nyetir.”
“Yakin?”
Seketika, Cleo terjatuh. Dia pingsan. Ronal segera menggendong Cleo ke mobilnya. Di mobil, Ronal mendudukkan Cleo sambil memijat-mijat tangan Cleo. Dia sangat panik. Khawatir Cleo kenapa-kenapa.
Devan melihat Ronal memasukkan Cleo di dalam mobilnya sambil menggendong tubuh Cleo. “Cleo pingsan?” tanya Devan sambil berlari menuju mobil Devan. Namun, Devan segera menghentikan langkahnya. “Sabar, Van. Jangan terlihat terlalu impulsif. Jangan sampai orang curiga kalau kamu hanya berpura-pura menjadi karyawan di sini.” Devan menasihati dirinya sendiri.
“Cleo, kamu tidak apa-apa?” Ronal mengguncang tubuh Cleo sambil memberinya minyak kayu putih. Perlahan, Cleo mulai sadar.
“Syukurlah kamu sudah sadar.”
“Aku kenapa?”
“Kamu baru saja pingsan. Aku antar ke rumah sakit ya.”
“Gak usah, Nal. Aku emang lagi pusing aja. Lagi datang bulan.”
“Ya tapi lebih baik kamu periksa ke dokter.”
“Gak usah deh. Aku mau pulang aja. Aku punya obat kok.”
“Ya sudah kalau begitu aku antar kamu pulang ya.”
“Mobilku gimana?”
“Biar di sini saja. Besok pagi aku jemput di apartemenmu deh.”
“Gak usah repot-repot, Nal. Besok aku bisa naik taksi online.”
“Oke deh. Sekarang kita meluncur ke apartemenmu ya.”
Cleo pulang diantar oleh Ronal. Devan melihat mobil itu melaju. Sebenarnya, dia tidak rela melihat itu semua. Dia pun belum bisa berbuat apa-apa.
Dalam perjalanan, Cleo tertidur. Sejak lama Ronal memendam rasa suka pada Cleo. Namun, dia belum berani mengutarakan sebab Cleo tampaknya tidak tertarik dengannya. Kali ini, Ronal sangat bahagia bisa mengantar Cleo pulang.
Setelah sampai di apartemen Cleo, dia masih tertidur. Ronal tidak tega untuk membangunkannya. Ronal menunggu terlebih dahulu hingga Cleo terbangun. Beberapa menit kemudian, Cleo terbangun.
“Sudah sampai ya?”
“Sudah, Cleo.”
“Kenapa gak bangunin aku?”
“Baru saja sampai kok.” Ronal tersenyum pada Cleo.
“Ayo, aku antar ke dalam.” Ronal membukakan pintu mobil dan menuntun Cleo yang tampak lemah.
Ronal melihat Cleo tampak sangat lemah. “Mau aku antar sampai unitmu?”
Cleo tampak bingung, lalu dia mengiyakan tawaran Ronal. Cleo mengangguk. Ronal mengantar Cleo hingga unitnya.
“Istirahat yang cukup ya. Minum obat. Kalau besok masih sakit, izin saja sama bos.”
“Oke. Terima kasih banyak ya, Nal. Kamu juga cepat pulang. Istirahat yang cukup.”
“Oke. Bye.”
Ronal pulang dengan perasaan khawatir. Dia takut Cleo kanapa-kenapa. Dia berjalan menuju lobby dan parkiran lalu pulang menuju apartemennya.
Sementara itu, di sudut lobby, ada seorang pria yang sedari tadi mengamati Cleo dan Ronal. Ya, pria itu adalah Devan. Devan merasa cemburu ketika melihat Cleo dituntun oleh Ronal. Ingin rasanya Devan yang membantu Cleo saat Cleo membutuhkan. Tapi apa daya, Devan tidak ingin Ronal curiga. “Awas kalau kamu berani macam-macam pada Cleo!” Devan menahan amarah dan cemburunya.