Malam pun menjelang. Cleo dan Devan harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Kantor sudah sangat sepi. Tidak ada yang lembur kecuali mereka berdua. Malam ini cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan lebat disertai petir menambah suasana semakin horor. Cleo tidak membayangkan jika dirinya harus lembur sendirian di tengah suasana yang hampir mirip dengan film horor ini. Diam-diam Cleo sangat bersyukur ditemani oleh Devan.
Di tengah pekerjaan mereka, tiba-tiba petir menggelegar. Reflek Cleo memeluk Devan di sampingnya. Badan Cleo gemetar. “Bu Cleo tidak apa-apa?” Jantung Devan berdebar kencang.
“Ah maaf ya, saya reflek memeluk kamu. Saya takut suara petir yang menggelegar begitu. Apalagi di malam hari begini. Untung ada kamu yang menemaniku. Kalau tidak....” Cleo tidak meneruskan perkataannya.
“Kalau tidak kenapa Bu?”
“Sudah lupakan saja. Intinya saya takut petir.”
“Takut petir dan takut hantu Bu?” Devan cekikikan.
“Hust kamu ini. Jangan sebut kata itu. Pamali. Nanti bisa mengundang.” Mimik wajah Cleo menyiratkan ketakutan.
“Tenang saja, Bu. Kan ada saya.” Devan sok menjadi pahlawan.
Tiba-tiba petir kembali menggelegar. Spontan mereka sama-sama kaget dan saling memeluk.
“Hei junior. Kamu berbuat tidak senonoh pada Cleo.” Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari belakang meja mereka. Ronal memergoki kelakuan Cleo dan Devan.
Spontan Cleo segera melepaskan pelukannya pada Devan. “Astaga. Maaf ya Devan saya reflek. Takut sekali sama suara petir.”
“Kok malah kamu yang minta maaf, Cleo? Jelas-jelas dia yang salah,” ujar Ronal sambil naik pitam.
“Bukan, Nal. Aku tadi yang reflek memeluk dia. Kamu tahu sendiri kan aku takut sekali sama suara petir.
“Saya juga minta maaf Bu. Saya tidak bermaksud untuk berbuat yang tidak senonoh pada ibu.”
“Halah alasan kamu. Bilang saja kamu menikmati momen ini kan.” Ronal semakin marah pada Devan.
“Ronal, sudah aku bilang kan, ini bukan salah Devan. Lagian kenapa kamu masih di sini?” Cleo bertanya dengan nada kesal.
“Kamu membela junior ini ya? Cleo, aku masih di sini karena khawatir sama kamu. Aku tidak bisa pulang sementara kamu masih di sini bersama junior yang baru kamu kenal. Dan kekhawatiranku terbukti, bukan? Hampir saja dia berbuat tidak sopan padamu.”
“Terima kasih banyak ya, Nal. Tapi aku mohon kamu jangan menyalahkan Devan atas kasus ini. Dia tidak salah.”
“Terserah kalau kamu masih mau membela dia. Tapi yang pasti di sini ada CCTV dan besok tunggu saja keputusan dari bos. Apakah junior ini masih dibolehkan bekerja denganmu.” Ronal memberikan peringatan. Bagi Devan, hal itu terdengar seperti ancaman.
“Jadi Anda mengancam saya?” Devan mulai tidak sabar dengan perlakuan Ronal.
“Siapa yang mengancam. Nyatanya memang kamu yang tidak tahu sopan santun.”
“Bapak Ronal yang terhormat, dalam hal ini memang saya salah karena telah memeluk Bu Cleo. Namun, Anda juga sudah mendengar langsung penuturan dari Bu Cleo tentang kejadian yang sebenarnya. Saya tidak melakukan tindakan yang amoral.” Devan meredam amarahnya sendiri dan mencoba menjelaskan dengan kepala dingin agar urusannya tidak semakin runyam.
“Halah. Itu kan alasanmu saja. Bukti tetaplah bukti. Ada CCTV yang merekam semua kejadian malam ini. Kamu jelas-jelas memeluk Cleo. Aku pun menjadi saksinya.”
“Sudah cukup, Ronal. Besok aku sendiri yang akan menghadap bos,” sahut Cleo mulai tidak sabar.
“Tidak perlu, Cleo. Di sini kamu hanyalah korban.”
“Aku tidak merasa jadi korban. Justru aku yang sangat terbantu dengan hadirnya Devan. Dia banyak membantuku menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Dia juga yang menemani di saat aku takut petir seperti tadi.”
“Begini saja, Bu Cleo. Sekarang Anda pulang saja. Selebihnya saya yang akan menyelesaikan pekerjaan ini. Daripada masalahnya tambah panjang dan runyam.” Devan mencoba untuk memberikan alternatif solusi. Dia mulai muak dengan perlakuan Ronal yang seperti sengaja untuk menyingkirkannya.
“Nah, cerdas kamu. Biar Cleo pulang saja karena sudah malam.” Ronal menimpali.
“Tidak bisa begitu dong, Devan. Ini pekerjaan saya. Justru seharusnya kamu yang pulang dan istirahat karena jam kerjamu sudah selesai.”
“Tidak apa-apa, Bu Cleo. Biar saya yang menyelesaikan semuanya. Tadi kan ibu sudah memberi tahu saya banyak hal. Saya bisa menyelesaikannya sesuai arahan ibu.”
“Tidak tidak. Biar saya kerjakan sekarang juga. Kalian tolong tinggalkan saya sendiri. Tolong pulang saja dan istirahat.” Cleo segera menghadap laptopnya dan mulai mengerjakan kembali pekerjaannya.
Devan tidak bisa meninggalkan Cleo sendirian. Dia pun kembali berkutat dengan laptopnya dan mengerjakan pekerjaan yang sudah Cleo bagi tadi. Tanpa suara. Yang terdengar hanya suara keyboard yang saling bersahutan.
“Sial,” umpat Ronal dalam hati. Dia merasa menjadi kambing congek yang sedang diabaikan oleh dua orang sekaligus.
“Kalau begitu, aku tunggu kamu ya, Cleo.” Ronal menawarkan diri.
“Terima kasih. Tidak perlu.” Cleo menjawab tanpa menoleh sedikit pun pada Ronal.
“Kalau begitu aku ikut bantuin kamu saja ya. Sebentar, aku ambil laptopku.” Ronal bergegas mengambil lepatopnya. Devan benar-benar muak dengan tingkah Ronal.
“Benar-benar nekat ya si Ronal ini. Awas saja dia,” batin Devan.
“Cleo, tolong bagi tugas kamu dengan aku ya. Kirim file di sini.” Ronal menyerahkan flash disk kepada Cleo. Cleo tidak mau banyak bicara dan tidak ingin menambah persoalan. Diambilnya flash disk itu dan mengirim salinan file yang belum dikerjakan.
“Terima kasih ya, Nal,” kata Cleo sambil menyerahkan falsh disk berisi file yang harus dikerjakan.
“Dengan senang hati, Cleo.” Ronal membalas dengan senyuman. Namun, Cleo sedang malas untuk tersenyum. Dia langsung menghadap kembali ke layar laptopnya.
Devan juga mengerjakan tugasnya tanpa berbicara sepatah kata pun. Mereka sibuk dengan laptop masing-masing. Sesekali kilat dan petir menyambar. Namun, Cleo sudah tidak kaget atau takut. Dia fokus dengan pekerjaannya. Kejadian malam itu membuat mood-nya menjadi turun drastis. Kelakuan Ronal sangat mengganggu. Dia juga takut Ronal akan mengadukan pada bos perihal insiden berpelukan tadi. Dia tidak bisa membayangkan kalau Devan harus kena teguran atau justru dipindahkan kepada senior yang lain untuk membimbingnya.
“Ya Tuhan, kenapa aku khawatir seperti ini? Kenapa aku takut jika Devan tidak lagi belajar bersamaku. Kenapa aku takut bos akan marah padanya? Apakah aku mulai nyaman dengan dia? Apakah dia juga nyaman bekerja bersamaku? Bagaimana kalau ternyata dia tidak nyaman? Astaga Cleo, kamu ini mikir apa sih? Kenapa sampai berpikiran seperti itu? Kenapa jadi overthinking begini?” Cleo bedialog dengan dirinya sendiri.
Sesekali, Cleo mencuri pandang menoleh pada Devan. Dia melihat Devan sangat fokus dan serius dengan pekerjaannya tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Tampak Devan juga sangat menghormatinya sebagai senior. “Kamu lihat sendiri kan Cleo. Betapa seriusnya anak itu dalam bekerja. Dia sangat fokus. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Dia itu hanya juniormu di kantor. Tolong kendalikan dirimu. Kalau tidak, bisa-bisa dia dapat masalah. Sekarang saja dia sudah mendapat banyak masalah gara-gara Ronal.” Sekali lagi Cleo berdialog dengan dirinya sendiri.
Devan melihat dari ekor matanya. Cleo terlihat sedang gelisah. Ingin rasanya dia menanyakan perasaan Cleo saat ini. Apakah dia sedang takut petir? Ataukah dia sedang tidak nyaman dengan keadaan yang sangat caggung ini? Namun, Devan mengurungka niatnya. Kalau dia bertanya, yang jelas Ronal akan segera bereaksi seperti tadi dan tentunya hal itu akan membuat Cleo tidak nyaman. “Tenangkan dirimu, Devan. Sabar. Ujian orang yang memperjuangkan cinta memang tidak mudah. kamu harus bertahan demi perempuan yang berhasil membuka hatimu kembali ini,” batin Devan.
“Akhirnya selesai juga,” celetuk Cleo sambil meregangkan tangannya. Dia juga meregangkan leher yang sedari tadi kaku.
“Wah syukurlah, Bu. Ini saya juga hampir selesai.” Devan menimpali.
“Ini file-nya sudah aku simpan di flash disk ini Cleo.” Ronal menyerahkan flash disk kepada Cleo.
“Ini saya juga sudah selesai, Bu.” Devan juga turut menyerahkan flash disk kepada Cleo.
“Wah syukurlah pekerjaan jadi lebih cepat selesai. Terima kasih, Ronal. Terima kasih, Devan.” Cleo akhirnya bisa tersenyum lega.
“Iya, sama-sama Cleo. Dengan senang hati bisa membantumu,” balas Ronal.
“Saya yang harusnya berterima kasih pada Bu Cleo. Karena bimbingan ibu, saya bisa belajar sambil praktik secara langsung. Dengan begitu jauh lebih cepat saya dalam belajar,” Devan berbicara sambil tersenyum tulus. Entah kenapa hati Cleo langsung berdesir. Senyuman Devan sangat manis. Ditambah dia sangat tampan dan tubuhnya proporsional. Perempuan mana yang tidak tertarik dengan dia.
“Ya sudah, ayo kita pulang. Saya bawa mobil kok. Jadi, kita barengan hanya sampai parkiran,” ajak Cleo.
“Bu, saya tidak ikut ke parkiran. Saya ke lobby.” Devan menjelaskan kepada Cleo.
“Kamu tidak membawa mobil?” tanya Cleo.
“Tidak, Bu. Saya mau memesan taksi online.”
“Kalau begitu bareng saya saja.” Spontan Cleo menawarkan bantuan.
Ingin rasanya Devan menerima tawaran itu. Namun, dia tidak ingin Cleo mendapat masalah.
“Mohon maaf, Bu. Rumah saya jauh. Saya naik taksi saja. Terima kasih banyak atas tawarannya.”
Cleo mengerti sepenuhnya kenapa Devan menolak tawarannya. “Ya sudah, aku dan Ronal pamit duluan ya. Sampai jumpa besok.”
“Iya Bu. Sampai jumpa besok”
“Bye junior.” Ronal ikut berpamitan pada Devan.
Kejadian malam itu membuat perasaan Cleo campur aduk. Dia sangat bahagia bisa dekat dengan Devan. Sesekali momen saat penusukan Devan kembali mencuat dalam benaknya. Dia yakin Devan bukan orang sembarangan dengan banyaknya body guard di sekelilingnya saat itu. Cleo sudah tidak mau ambil pusing. Yang pasti, dia sangat bahagia hari ini.