Pagi masih muram. Matahari enggan menampakkan sinarnya. Banyak orang yang berpikiran bahwa saat itu masih terlalu dini untuk memulai aktivitas. “Wah cuaca mendung nih. Pasti banyak yang terlambat ke kantor,” gumam Pak Rudy yang sudah tiba di kantornya. Dia selalu datang lebih awal daripada seluruh karyawannya. Sebagai seorang bos dia ingin menunjukkan kedisiplinan kepada seluruh karyawan yang ada di situ, yaitu datang paling awal dan pulang paling akhir di jam kerja.
Plak Rudy menuju ke ruangannya. Seperti biasa, masih ada petugas kebersihan di situ. Seketika seseorang menyapa, “Selamat pagi, Pak Rudy.” Hal itu membuat jantung Pak Rudy hampir copot.
“Ya ampun Ronal, kamu membuat saya kaget setengah mati. Tumben sekali kamu datang sangat awal. Padahal ini cuaca mendung lo. Biasanya pada datang telat.”
“Hehe iya, Pak. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Bapak.” Ronal berkata dengan senyuman yang mengembang.
“Oh baik, ayo masuk ruangan saya.” Pak Rudy berjalan menuju ruangannya diikuti oleh Ronal di belakangnya.
“Silakan duduk, Nal. Ada apa? Apa ada yang penting untuk dibicarakan sepagi ini?”
Ronal duduk di sofa seperti perintah Pak Rudy. “Hmmm saya harus mulai dari mana ya, Pak? Ada kejadian yang harus Bapak ketahui dan ini sangat tidak pantas.”
“Maksudnya? Jangan berbelit-belit, Nal. Langsung saja to the point.”
“Pak Rudy sebaiknya mengecek CCTV, Pak. Ada yang perlu Bapak ketahui.”
“CCTV?”
“Iya, Pak. Mari saya tunjukkan, Pak. Saya sudah dapat salinannya.”
Pak Rudy mengernyitkan dahi. Dia masih belum paham apa yang dimaksud oleh Ronal. Ronal menunjukkan rekaman CCTV dari ponselnya.
“Silakan Bapak lihat dengan saksama.”
Rekaman CCTV itu memperlihatkan adegan saat Cleo dan Devan berpelukan. Pak Rudy langsung mengerti dengan situasinya. Ronal pasti ingin memanfaatkan momen itu untuk menjatuhkan Devan. Dalam CCTV jelas terlihat kalau Cleo sangat ketakutan dan reflek memeluk Devan. Devan pun demikian. Dia tampak kaget dan reflek memeluk Cleo karena Cleo sedang memeluknya.
“Bapak sudah lihat kan kelakuan karyawan baru itu? Dia bertidak tidak senonoh pada Cleo.” Ronal mencoba menjelaskan kejadian versi dia kepada Pak Rudy. Namun, Pak Rudy tampak berpikir. Dia tidak memberikan respon apa pun pada pernyataan Ronal.
“Kenapa kamu bisa tahu kejadian ini, Nal?”
“Jadi semalam itu, Pak, saya tidak langsung pulang. Perasaan saya tidak enak. Cleo lembur ditemani karyawan baru itu. Dia baru mengenalnya hari itu. Saya khawatir junior itu akan melakukan hal yang tidak sopan pada Cleo. Dan itu terbukti, Pak. Waktu saya masuk ke ruangan, Devan sedang melakukan hal yang tidak senonoh pada Cleo. Ini tidak bisa dibiarkan, Pak. Harus ada sanksi tegas untuk karyawan yang melakukan tindakan asusila.” Ronal nyerocos dengan argumennya. Dia tampak sangat bersemangat untuk menjatuhkan Devan.
“Kalau saya lihat dengan saksama, bahkan rekaman itu sudah saya putar berkali-kali, kok sepertinya Cleo sedang ketakutan dan dia reflek memeluk Pak Devan. Pak Devan juga reflek memeluk Cleo. Bisa jadi karena dia ini ingin melindungi Cleo atau dia sendiri juga sedang kaget.” Lagi-lagi Pak Rudy menyebut Devan dengan sebutan Pak Devan. Hal itu tentu saja membuat Ronal menjadi kesal dan tidak enak hati.
“Apa pun alasannya, Pak, yang namanya tindakan asusila, itu tetap tidak dibenarkan di sini. Bapak harus panggil dia.”
“Dia? Bukannya harusnya panggil mereka berdua? Mereka saling berpelukan. Malahan, kalau saya lihat, Cleo duluan yang memeluk Pak Devan.”
“Ah iya, maksud saya mereka berdua, Pak. Tapi di sini Cleo hanya sebagai korban, Pak. Saya tahu betul bagaimana karakter Cleo. Dia bukan perempuan gampangan yang dengan mudah menggoda pria.” Ronal bicara dengan gelagapan.
“Baik, kalau begitu nanti saya akan memanggil mereka berdua dan saya ingin mendengar pernyataan langsung dari mereka.”
“Terima kasih, Pak Rudy. Tapi saya minta Bapak harus memberikan tindakan tegas kepada Devan. Eh, maksud saya Pak Devan.” Ronal mencoba untuk mempersuasi Pak Rudy dengan bujukannya.
“Baiklah. Nanti akan saya pertimbangkan dengan baik nasihatmu.”
Wajah Ronal sumringah. Dia berharap Devan akan mendapatkan teguran bahkan dipindah kepada senior lain untuk membimbingnya. Kalau perlu tugas Cleo untuk membimbing Devan dialihkan padanya. Dia ingin membuat perhitungan pada Devan.
“Oh iya Pak. Nanti tolong Bapak pertimbangkan juga apakah Cleo masih akan tetap menjadi pembimbing untuk Pak Devan. Atau lebih baik Bapak memindahkan tugas itu kepada senior yang laki-laki saja, Pak. Bahaya jika Pak Devan melakukan tindakan yang tidak senonoh lagi.”
“Iya, Nal. Nanti akan saya bicarakan dengan Pak Devan.”
Ronal tidak habis pikir dengan pernyataan bosnya itu. Kenapa harus dibicarakan dengan Devan? Bukannya yang memegang kendali atas semuanya adalah Pak Rudy? Ingin sekali dia bertanya. Namun, dia takut terkesan terlalu memojokkan Devan.
“Ngomong-ngomong, kenapa sikap kamu begitu pada Pak Devan?” tanya Pak Rudy.
“Maksudnya begitu bagaimana, Pak?”
“Maaf ya, Nal. Kalau saya lihat dari sikapmu, sepertinya kamu tidak suka dengan Pak Devan.”
Ronal sangat kaget dengan pernyataan Pak Rudy. “Ah, bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin melindungi Cleo dari hal yang bisa membahayakannya.” Ronal menggaruk rambutnya yang tidak gatal sambil menoleh ke kiri dan ke kanan karena tidak sanggup menatap mata Pak Rudy.
“Kamu suka sama Cleo?” pertanyaan Pak Rudy semakin menohok.
“Ah anu, Pak. Bukan begitu.” Ronal salah tingkah.
Pak Rudy tersenyum. “Tidak apa-apa, Nal, kalau kamu suka sama Cleo. Siapa laki-laki yang tidak tertarik padanya. Dia cantik, baik, tidak gampangan, mandiri. Perfect lah pokoknya. Wajar kalau kamu tertarik. Tapi, Nal, sepertinya yang tertarik pada Cleo bukan hanya kalian-kalian yang ada di sini. Ada orang yang sangat berpengaruh yang tertarik sama Cleo. Jadi, persaingannya akan semakin ketat untuk mendapatkan hatinya.”
Ronal tampak bertanya-tanya dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Pak Rudy. “Orang penting, Pak? Maksudnya?”
“Ah, sudah lupakan saja.”
“Apa Pak Rudy juga tertarik sama Cleo? Bapak kan orang berpengaruh.” Ronal memberanikan diri untuk bertanya.
“Hus, jangan ngawur kamu. Saya ini sudah tua. Sudah punya cucu. Cleo sudah seperti anak saya sendiri.”
“Terus maksud Bapak tadi?”
“Sudah, lupakan apa yang saya katakan tadi. Intinya, kalau kamu ingin mendapatkan Cleo, tunjukkan ketulusan hatimu padanya. Perempuan akan tertarik pada laki-laki yang karismatik. Tentunya yang tulus dalam mendekatinya.”
“Terima kasih banyak, ya Pak atas masukannya. Siap laksanakan. Saya akan berusaha untuk menjadi laki-laki yang karismatik untuk Cleo.” Ronal tampak sangat bersemangat.
“Namun, Ronal, jika Cleo nantinya tidak memilihmu, apa yang akan kamu lakukan?” Pak Rudy mencoba untuk mengulik tentang perasaan Ronal lebih dalam.
“Pak, jujur saya sudah bertahun-tahun memendam rasa suka saya sama Cleo. Selama bertahun-tahun itu saya juga melakukan berbagai hal untuk mendekatinya, tapi Cleo terlihat sangat menikmati pekerjaannya sehingga belum tertarik untuk berpacaran. Meski demikian, saya tidak akan mundur begitu saja. Saya akan berusaha untuk mendapatkan Cleo.”
“Maksud saya, bagaimana jika nanti Cleo lebih memilih orang lain dibanding kamu? Apa yang akan kamu lakukan?”
“Hmmm yang pasti saya sangat kecewa, Pak. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Itu sudah menjadi keputusan Cleo. Saya harus mundur.” Ronal tertunduk.
“Bagus. itu namanya laki-laki yang keren. Tidak memaksakan kehendak apalagi berusaha untuk merusak hubungannya dengan lelaki pilihannya.”
“Iya, Pak. Saya juga tidak sampai hati jika harus melihat Cleo menderita.”
Pak Rudy berdiri dan mendekati Ronal. Ditepuknya pundak Ronal. “Kamu akan mendapatkan perempuan yang terbaik untukmu, Nal. Perjuangkan yang ingin kamu perjuangkan dengan tetap tidak mengedepankan ego. Kamu pasti akan mendapatkan yang terbaik. Percayalah.”
Ronal rasanya ingin menangis. Dia ingat perjuangannya bertahun-tahun untuk Cleo, tapi tidak sedikit pun Cleo membuka hati untuknya. Saat ini, justru Cleo lebih nyaman dengan orang yang baru dikenalnya. Apakah dia bisa kuat untuk terus berjuang? Perkataan Pak Rudy sukses membuat hatinya terenyuh.
“Terima kasih banyak ya, Pak. Untuk saat ini saya akan berusaha untuk mendapatkan hati Cleo dulu. Saya akan berusaha dulu semampu saya.”
Pak Rudy kembali menepuk bahu Ronal. “Lakukan dengan baik tanpa menjatuhkan orang lain ya, Nal. Semua kebaikanmu nanti akan kembali padamu juga.” Pak Rudy tersenyum. Baru kali ini dia deep talk dengan Ronal. Dia merasa harus berbicara dari hati ke hati dengan Ronal.
Ronal mendongak menatap wajah Pak Rudy. Pak Rudy memberikan senyuman yang menenangkan. Senyuman itu mampu menenangkan hati Ronal. Baru kali ini dia merasakan kasih sayang Pak Rudy yang bukan sekadar bos di kantornya. Dia merasakan kasih sayang seorang ayah yang justru belum pernah dia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri.
“Ya sudah, kamu ke ruanganmu ya. Nanti laporan ini akan saya proses.”
“Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih atas nasihatnya dan terima kasih karena sudah menerima laporan dari saya. Saya pamit ya, Pak.”
Ronal pun keluar dari ruangan Pak Rudy sambil berkaca-kaca. Dia pun langsung menuju ke toilet. Di san, Ronal menumpahkan semua perasaannya. Dia menangis sesenggukan. Ada rasa syukur sekaligus penyesalan dari dalam hatinya. Bersyukur karena dia memiliki bos yang sangat baik. Selama ini dia berpikir bahwa Pak Rudy adalah orang yang keras dan tidak bisa menoleransi apa pun. Namun, sekarang dia bisa merasakan kasih sayang Pak Rudy yang bahkan seperti ayahnya sendiri.
Kedua, dia menyesal karena telah berusaha menjatuhkan Devan. Namun, bagiamana pun juga, tidak akan semudah itu baginya untuk menyerah dari mendapatkan Cleo. Dia akan berjuang mati-matian untuk meluluhkan hati perempuan yang sangat disayanginya itu.
Setelah mencuci wajah dan menghapus bekas tangisannya, Ronal keluar dari toilet dan menuju ruangannya. Di sana, semua orang sedang berbisik-bisik. Ronal tidak tahu apa yang sedang terjadi.
“Dew, ada apaan sih ini?” tanya Ronal pada Dewi.
“Nal, gawat. Katanya Devan melakukan hal yang tidak senonoh pada Cleo.”
“Kok kalian semua tahu?”
“Tadi Cleo dan Devan dipanggil sama Pak Rudy ke ruangannya. Aku dengar-dengar sih karena Devan melakukan tindakan yang tidak senonoh.”
“Memangnya tindakan apa yang dilakukan Devan?” Ronal berpura-pura tidak tahu dengan kejadian itu.
“Aku juga kurang tahu sih. Tapi katanya ada yang melaporkan mereka ke Pak Rudy. Jahat banget tuh orang yang melaporkan Cleo. Aku takut nantinya Cleo dapat SP atau ditegur sama Pak Rudy. Tahu sendiri kan Pak Rudy tipe orang yang tidak bisa menoleransi kejadian yang tidak semestinya dilakukan di kantor ini.”
Devan menelan ludah. Dia langsung duduk di kursinya. “Tuhan, tolong jangan sampai Cleo kena masalah,” batin Ronal. Ronal sangat khawatir pada Cleo. Di satu sisi, dia juga takut kalau Cleo justru akan membencinya.