Devan tahu hari ini akan tiba. Hari yang sebenarnya masuk dalam rencananya, tapi tidak secepat ini dan tidak seperti ini konsepnya. Devan akan diadili karena telah memeluk Cleo. Dituduh berbuat tindakan asusila. Difitnah telah melakukan tindakan yang tidak senonoh pada seniornya. Siapa lagi kalau bukan Ronal penyebabnya. Namun, dia harus tetap pada rencana: memenangkan hati Cleo.
“Silakan duduk kalian berdua,” kata Pak Rudy dengan wajah serius di ruangannya.
Devan dan Cleo duduk dengan takzim.
“Saya mendapat laporan yang tidak pantas tentang kalian.” Pak Rudy mengawali pernyataannya dengan kata-kata yang sangat mengagetkan, terutama Cleo. Dia langsung pucat pasi.
“Tolong jelaskan apa yang kalian perbuat kemarin malam!”
“Mohon maaf, Pak. Saya yang salah karena telah memeluk Bu Cleo. Saya mengakui sepenuhnya saya yang salah.” Devan berkata sambil menunduk. Tampak sangat menyesal.
Cleo pun menimpali, “Tidak, Pak. Saya yang salah. Kemarin malam sedang terjadi hujan lebat dan petir menyambar. Suaranya sangat menggelegar. Saya sangat takut pada suara petir. Saya pun spontan memeluk Devan. Jadi, dalam hal ini, saya yang bersalah.”
“Tidak, Pak. Saya yang salah. Saya ...”
“Tidak, Pak. Tolong jangan hukum Devan. Saya yang bersalah. Justru dia yang membantu menenangkan saya.” Cleo memotong pertakataan Devan. Tampak dari sorot matanya Cleo sangat takut jika Devan mendapat masalah. Devan pun sebenarnya tidak tega menyaksikan Cleo yang sangat khawatir dan ketakutan.
“Baiklah, saya akan terima pernyaataan dari kalian. Namun, menurut saya, saya harus berbicara empat mata dengan Pak Devan. Kejadian ini tidak boleh terulang lagi.”
“Pak, saya mohon jangan mengeluarkan surat peringatan untuk Devan. Eh, Pak Devan. Saya sangat menyesal dengan kejadian ini. Izinkan saya tetap menjadi pembimbingnya seperti surat tugas yang Bapak berikan.” Mata Cleo tampak berkaca-kaca.
Pak Rudy tampak berpikir. “Saya harus berbicara dulu dengan Pak Devan. Selanjutnya akan saya pertimbangkan dulu keterangan darimu, Cleo.”
“Baik, Pak.” Cleo meremas jarinya. Dia sangat khawatir kalau Devan akan mendapat masalah besar karena tingkahnya.
Di sebelah Cleo, Devan menyaksikan kekasih hatinya tengah berada dalam kekhawatiran yang mendalam. Apakah itu pertanda kalau Cleo mulai menyimpan rasa? Entahlah. Masih terlalu dini untuk Devan mengambil simpulan. Dia masih harus memerankan perannya sebagai junior yang sedang dalam masalah besar.
“Kalau begitu, silakan kamu menuju ke ruang kerjamu, Cleo. Pak Devan mohon untuk tetap di sini.”
“Baik, Pak.” Devan dan Cleo menjawab dengan bersamaan.
Cleo keluar dari ruangan Pak Rudy. Mata yang sedari tadi berkaca-kaca akhirnya tak kuasa menahan air mata. Cleo menangis dalam diam. Dia berusaha menghentikan air matanya, tapi tetap tidak bisa.
Cleo masuk ke ruangan divisinya. Semua mata memandang ke arahnya. Wajah Cleo tidak karuan. Dia tidak peduli semua orang yang sedang memandangnya. Dia langsung duduk di kursinya dan membuka laptop untuk mengerjakan pekerjaannya.
“Cleo, are you okay?” Dewi mendatangi Cleo.
“Aku baik-baik daja, Dew. Kamu kembali saja ke mejamu. Nanti yang lain takutnya ikut ke sini.”
“Oke deh.” Dewi kembali ke meja kerjanya.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundak Cleo. “Cleo, maafkan aku.” Cleo meoleh ke arah suara itu. Cleo pun langsung berpaling.
“Cleo, maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi terlibat masalah.”
“Nal, silakan kamu kembali ke tempat dudukmu.”
“Cleo, aku melakukan semua ini demi kebaikanmu.” Ronal mulai ketakutan karena Cleo sangat marah dengannya.
“Cukup, Nal!” Cleo berdiri sambil meninggikan nada bicaranya. “Sekarang kamu kembali ke tempat dudukmu. Tidak perlu ada penjelasan lagi.”
“Semua mata tertuju pada Cleo dan Ronal. Semua yang ada di ruangan itu langsung bisa menyimpulkan. Ternyata yang mengadukan Cleo kepada Pak Rudy adalah Ronal.
Dewi pun melongo menyaksikan kejadian yang ada di depan matanya. Dia tidak menyangka jika Ronal yang mengadukan perbuatan itu kepada Pak Rudy.
“Hmmm mentang-mentang ditugaskan untuk membimbing karyawan baru yang cakep. Langsung deh kena masalah.” Reva dari kejauhan meyindir Cleo. Semua mata jadi teralih kepada Reva.
“Hei, Reva. Jaga ucapanmu ya!” Dewi menimpali.
“Kita semua tahu Devan itu cakep. Tapi sekalinya masuk divisi ini langsung dapat masalah. kasian banget ya di Devan,” Santi menimpali.
“Asal kalian tahu ya. Ini semua salah Devan, bukan salah Cleo,” bantah Ronal yang membela Cleo.
Suasana jadi semakin kacau. Cleo sudah tidak tahan. Dia pun pergi keluar ruangan menuju ke toilet.
***
Sementara itu, di ruangan Pak Rudy, Devan dan Pak Rudy sedang membicarakan perkara ini.
“Bagaimana menurut Bapak?” Pak Rudy menanyakan tentang kejadian yang sedang terjadi antara Devan dan Cleo.
“Tolong lakukan sesuai dengan prosedur semestinya saja, Pak. Biar saya jadi tersangka dan mendapat hukuman untuk dipindah di kantor cabang. Bagaimana menurut Bapak?”
“Ya, boleh, Pak.” Pak Rudy setuju dengan permintaan Devan.
“Pak, saya terima kasih banyak sama Pak Rudy karena telah membantu saya untuk menjalankan rencana ini. Padahal ini bukan suatu hal yang penting.”
“Bagaimana tidak penting, Pak. Pak Devan ini investor terbesar untuk perusahaan ini. Kalau saya membantu Bapak, berarti saya juga sedang membantu untuk kemajuan perusahaan ini. Jadi, jangan dikira saya melakukan ini semua semata-mata untuk hal yang remeh, semacam cinta Pak Devan ke Cleo.” Pak Rudy tertawa lepas.
Devan pun ikut tertawa. “Jadi, menurut Bapak cinta saya sama Cleo ini remeh?”
“Wah bukan begitu, Pak. Maksud saya, saya tidak pernah mengurus masalah percintaan di kantor ini. Namun, karena Pak Devan, akhirnya saya mengurus persoalan cinta di kantor ini.” Sekali lagi Pak Rudy terkekeh.
“Jangan panggil saya Bapak dong. Saya terkesan tua lo,” protes Devan.
“Panggil apa dong? Mas? Mas Devan.” Pak Rudy meledek.
“Devan saja, Pak. Supaya terlihat seperti anak sendiri. Hehehe.”
“Ya sudah, saya panggil Devan ya.”
“Oke, Pak. Tapi ngomong-ngomong, saya sebenarnya tidak tega melihat ekspresi Cleo tadi, Pak. Kasian,” kata Devan.
“Tidak apa-apa. Justru itu yang akan memberikan bumbu romantis.”
“Romantis apanya, Pak?”
“Ya coba lihat saja nanti. Setelah ini, saya akan umumkan pemidahanmu ke kantor cabang. Lihat apa yang akan terjadi.”
“Bapak bikin saya merinding,” kata Devan.
Pak Rudy membalas dengan tawa lepas.
Pak Rudy dan Devan masuk ke dalam ruangan divisi keuangan. Cleo baru saja kembali dari toilet dan duduk di tempat kerjanya.
“Mohon perhatiannya sebentar,” kata Pak Rudy yang berdiri di dekat pintu masuk. Di sampingnya, berdiri Devan yang sedang tertunduk.
“Teman baru kalian, Devan, akan saya pindahkan ke kantor cabang. Jadi, mulai sekarang Devan akan bekerja di kantor cabang dalam waktu yang belum bisa ditentukan.”
Semua mata membelalak dan saling memandang satu sama lain. Cleo kaget setengah mati dan melongo. Tidak percaya dengan keputusan yang diambil oleh Pak Rudy.
“Yaahhhhh,” terdengar suara dari beberapa orang yang mengeluh karena Devan harus pindah. “Padahal baru saja kita mendapat rekan kerja yang ganteng,” ucap Reva.
“Silakan Devan berpamitan kepada teman-teman di sini,” ucap Pak Rudy.
“Teman-teman, saya mohon maaf sudah membuat kegaduhan dan tindakan yang tidak pantas di kantor ini. Namun, kejadian ini murni karena ketidaksengajaan.”
“Oh iya, saya lupa belum menjelaskan.” Pak Rudy memotong perkataan Devan. “Saya mau meluruskan masalah yang ada di sini ya. Jadi, Devan dan Cleo tidak melakukan tindakan yang tidak pantas. Mereka hanya lembur di malam hari dan ada kejadian yang seolah Devan bersalah. Namun, saya sudah bisa pastikan kalau kejadian itu tidak benar. Devan dan Cleo tidak bersalah. Akan tetapi, demi kenyamanan kita bersama, saya akan pindahkan Devan ke kantor cabang. Silakan dilanjutkan, Devan. Maaf tadi saya potong perkataanmu!”
“Baik, Pak. Tidak apa-apa.” Devan melanjutkan perkataannya, “Saya minta maaf ya, teman-teman, terutama sama Bu Cleo. Maaf karena saya selama ini banyak merepotkan dan membuat masalah.”
Cleo memandang Devan sekilas dan segera menunduk. Dia tidak berani untuk menatap Devan. Dia malu sekaligus merasa sangat bersalah.
“Saya pamit ya teman-teman,” lanjut Devan.
“Bye, Devan.” Beberapa orang mengucapkan salam perpisahan.
Cleo hanya tertunduk. Air matanya menetes lagi. Pak Rudy dan Devan pergi dari ruangan. Cleo berdiri dan mengejar Devan beserta Pak Rudy ke luar ruangan.
“Devan.” Cleo memanggil Devan. Devan dan Pak Rudy menoleh ke arah Cleo.
“Pak Rudy, saya mohon kesempatannya untuk berbicara dengan Devan ya.” Cleo meminta izin kepada bosnya. Air mata Cleo masih berlinang.
“Iya, silakan. Saya tinggal dulu ya.” Pak Rudy meninggalkan Devan dan Cleo berbicara di lorong.
Cleo terisak, “Devan .... a .. aku.”
Devan memeluk Cleo. Cleo semakin terisak.
“Sudah, tidak apa-apa. Kita masih bisa bertemu lagi.” Devan menenangkan Cleo yang masih terisak di pelukannya.
“Maafkan aku, Devan. Aku merasa sangat bersalah,” kata Cleo dalam isakannya.
“Aku yang minta maaf, Cleo. Aku yang membuat semua kekacauan ini.” Devan mulai memberanikan diri dengan memanggil nama Cleo, tidak dengan sebutan Bu.
Cleo melepaskan pelukan Devan, tapi Devan menarik Cleo lagi dalam pelukannya. “Tenangkan diri dulu, jangan buru-buru lepaskan.”
Cleo masih sesenggukan. Perasaannya begitu tenang saat Devan memeluknya. Perasaan bersalah yang sedari tadi mengganjal, perlahan luruh dalam tangisan.
“Sudah tenang?” tanya Devan.
Cleo megangguk. Devan pun melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata di pipi Cleo. “Senyum, dong. Masa kita berpisah dengan keadaan begini,” kata Devan.
Cleo pun tersenyum kecil.
“Nah, begitu kan cantik.” Devan pun tersenyum pada Cleo.
Cleo merasa sangat damai, tenang, bahagia, semua jadi satu. Lelaki yang pernah ditolong dalam penusukan itu, bahkan sampai membuatnya sangat benci, kini mampu meluluhkan hatinya. Meleburkan semua rasa bersalahnya yang membuncah.
“Devan, kita masih bisa bertemu lagi?” tanya Cleo.
“Of course. Kapan pun kamu mau bertemu, hubungi aku ya. Sini ponselmu. Aku kasih nomor w******p-ku.”
Cleo memberikan ponselnya pada Devan. Devan menyimpan nomornya di kontak Cleo. Dia menekan tombol memanggil. Devan kini juga punya nomor Cleo. Mereka telah resmi bertukar nomor kontak. “Terima kasih, Cleo. Eh, Bu Cleo.”
Cleo tersenyum dan memukul lengan Devan. “Aku sekarang sudah bukan seniormu lagi. Panggil nama saja. Biar lebih akrab.”
“Siap, Cleo.” Mereka pun tertawa bersama.