Cinta Terhalang Bayang Masa Lalu

1668 Words
“Cleo, ayo ikut Papa pulang!” kata Pak Wilson, Papa Cleo, dengan nada tegas. “Pa, kenapa Papa bisa ada di sini?” Cleo mulai panik. Wajahnya pucat pasi. Dia tidak habis pikir kenapa papanya bisa ada di cafe Romansa. Dan yang lebih mengherankan lagi, wajah papanya tampak tidak ramah. Kali ini entah kenapa sangat mengerikan. “Itu tidak penting. Ayo ikut papa pulang sekarang!” Pak Wilson menggamit lengan Cleo dan mengajaknya pulang. “Pak, mohon maaf sebelumnya. Apakah ada kejadian yang genting sehingga Bapak mengajak Cleo pulang?” Devan menyela. “Bukan urusanmu,” jawab Pak Wilson dengan sinis. “Iya, Pa. Aku akan ikut Papa pulang.” Cleo mengambil tasnya. “Cleo, tunggu sebentar!” Devan mencoba untuk mencegah Cleo. “Kamu tidak dengar perkataan Cleo? Dia mau ikut saya pulang,” bentak Pak Wilson. “I ... iya, Pak. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Devan membungkukkan badan. “Van, maaf ya,” ucap Cleo dengan wajah sedih karena harus meninggalkan Devan di saat momen dinner romantis mereka. “Iya, tidak apa-apa, Cleo.” Devan mencoba untuk tersenyum meski hatinya bertanya-tanya. “Bye...” Cleo masih menoleh pada Devan sambil berjalan mengikuti papanya. Devan termenung. Menerka-nerka tentang kejadian yang beru saja terjadi. “Apakah ada kejadian genting yang mengharuskan Cleo segera pergi? Apakah papanya tidak setuju kalau Cleo menjalin hubungan dengan laki-laki? Jangan-jangan Cleo sudah dijodohkan.” Pikiran Devan dipenuhi dengan terkaan. Dia belum bisa mencerna semua yang terjadi. Dinner romantis yang sudah direncanakannya berakhir dengan kejadian yang sangat mengherankan. Sementara itu, di parkiran, Cleo kembali menanyakan alasan papanya yang bertindak aneh malam itu. “Pa, tolong Papa jelaskan sama aku, ada apa ini?” Pak Wilson menghela napas panjang. “Cleo, tolong jangan dekat dengan laki-laki itu.” “Maksud Papa, Devan?” “Iya.” “Tapi kenapa, Pa?” “Papa belum bisa menjelaskan. Tapi yang pasti, dia laki-laki yang berbahaya.” Pak Wilson mulai merendahkan nada bicaranya. “Maksud Papa?” “Nak, Papa belum bisa menjelaskan apa-apa untuk saat ini. Namun, Papa berjanji, suatu saat Papa akan menceritakan semua padamu.” “Lalu bagaimana aku bisa mengerti, Pa?” tanya Cleo yang tidak habis pikir dengan perilaku papanya. “Nak, kamu adalah anakku satu-satunya. Mama kamu juga sudah tidak ada. Papa tidak mau kehilangan kamu, Nak.” “Pa, aku semakin tidak mengerti dengan perkataan Papa.” Cleo mengernyitkan dahi. Dia menghela napas. Beban berat seakan memenuhi dadanya. “Nak, percaya sama Papa. Jangan pernah dekat dengan Devano Mahendra.” Pak Wilson kembali berkata dengan tegas. “Papa tahu nama lengkap Devan?” “Ya.” “Aku saja tidak tahu, Pa. Sebenarnya apa hubungan papa dengan Devan? Siapa dia?” Cleo tidak bisa membendung rasa ingin tahunya. “Nak, tolong sabar dulu. Suatu saat pasti akan Papa ceritakan semuanya. Papa janji.” “Tapi kapan, Pa?” “Kalau situasinya sudah tepat. Tapi pesan Papa, tolong jauhi Devan. Jangan berhubungan lagi dengan dia apalagi pacaran dengannya. Papa mohon, Nak.” Pak Wilson benar-benar tidak ingin anaknya berhubungan dengan Devan. “Pa, aku tidak tahu harus bagaimana.” “Cukup berhenti untuk menghubunginya. Kalau perlu blok nomornya. Ini demi kebaikanmu, Nak.” Cleo lemas. Padahal baru saja dia bisa merasakan bahagianya dekat dengan seseorang yang menurutnya sangat berjuang untuk mendapatkannya. Cleo tertunduk. “Nak, tolong percaya sama Papa. Papa tidak mungkin membiarkan putri Papa satu–satunya berada dalam bahaya.” “Pa, semakin Papa bicara, semakin aku tidak mengerti semua arah pembicaraan itu. Seolah bahaya besar sedang mengintaiku.” “Iya, Nak. Memang benar. Kalau kamu berhubungan atau dekat dengan Devano Mahendra, tentu saja kamu akan dapat masalah besar. Dan itu sangat membahayakanmu. Sebelum semuanya terlambat, jauhi dia sekarang!” “Ya sudah, Pa. Aku akan menuruti semua kata-kata Papa.” Akhirnya Cleo setuju untuk tidak lagi menghubungi Devan. Pak Wilson memeluk putrinya. “Terima kasih banyak ya, Nak. Papa sangat sayang padamu.” “Iya, Pa. Terima kasih banyak juga Papa sudah sangat mengkhawatirkanku. Aku percaya Papa akan selalu mengingikan kebaikan untukku.” Cleo memeluk papanya erat. *** Devan masih di mejanya. Dia overthinking dengan semua yang terjadi. “Jangan sampai Cleo dijodohkan dengan orang lain. Tuhan, tolong.” Devan menggigit bibir bawahnya. Dia sangat cemas dengan masa depannya bersama Cleo. Devan mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Bob, tolong cari tahu siapa papa Cleo. Aku butuh info lengkapnya maksimal besok.” “Siap, Bos!” Bobi tidak pernah membantah perkataan bosnya. Devan menutup telponnya. Dia mengirim pesan kepada Cleo. “Cleo, are you ok?” Pesan itu tampak centang dua, tapi belum dibaca. Hati Devan semakin tidak tenang. Dia pun memutuskan untuk pulang. Di parkiran, dia melihat Cleo dan papanya saling berpelukan. Papanya tampak menenangkan Cleo. Meski temaram, Devan bisa melihat dengan jelas wajah Cleo. Papanya melepaskan pelukan itu sambil terus berbicara pada Cleo. Cleo pun mengangguk-angguk seperti tengah mendapatkan sebuah penjelasan. “Tampaknya Cleo sudah tenang. Papanya sudah berhasil menenangkannya. Syukurlah.” Devan menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya tentram. Pasalnya, tidak pernah sekali pun Devan mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Sejak lahir, dia tidak pernah tahu siapa ayahnya. Perlahan rasa sedih memenuhi relung hatinya. Cleo dan papanya masuk di mobil yang berbeda. Mereka menuju arah yang sama. Dengan gontai, Devan menuju ke arah mobilnya. Rasanya dia tidak ingin dia pulang. Segala tanya dan kekhawatiran berkumpul menjadi satu. Di dalam mobil, Devan kembali mengecek pesan yang dikirim untuk Cleo. Pesan itu masih belum centang biru. Cleo sepertinya belum sempat membaca pesan itu. Devan pun menuju apartemennya dengan penuh tanda tanya di kepala. *** Cleo menyetir mobilnya menuju apartemen. Malam ini papanya akan menginap di apartemennya. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi sih? Kenapa Papa sampai segitunya melarangku berhubungan dengan Devan?” Cleo bertanya-tanya dalam hati. Namun, semakin dia mempertanyakan hal itu kepada papanya, semakin penasaran dia. Sebab jawaban dari papanya seolah memperlihatkan tentang bahaya besar yang akan ditemuinya jika dia masih berhubungan dengan Devan. “Ya Tuhan, padahal aku mulai ada rasa pada Devan. Apa aku bisa membendung perasaan ini? Apakah Devan bisa dengan mudah harus menjauh dariku? Dulu saja dia nekat untuk menjadi secret admirer.” Cleo hanya bisa berbicara dengan dirinya sendiri. Papanya berada dalam mobil yang berbeda. Pak Wilson menyetir mobilnya mengikuti mobil Cleo. Malam ini diputuskannya untuk menginap di apartemen putrinya. Dia tidak ingin Cleo tetap menghubungi Devan. Pak Wilson sangat khawatir akan keselamatan putri semata wayangnya. Namun, di sisi lain, dia tidak bisa mencerikan semua pada Cleo untuk saat ini. Dia tidak menyangka kalau masa lalu yang kelam akan terkuak kembali. Padahal dia telah memutuskan untuk menutup rapat-rapat kejadian buruk di masa lalu. Namun kini, justru semua tengah mencuat. Apa yang ditakutkannya justru terjadi di luar prediksi, bahkan kejadiannya sangat cepat dan mendadak. Pak Wilson tidak bisa membayangkan jika anaknya harus menanggung ganjaran atas dosanya di masa lalu. “Bagaimana kalau Cleo ternyata memang benar-benar menjalin hubungan yang serius dengan Devan? Bagaimana kalau ternyata dia hanya bisa bahagia dengan laki-laki itu? Apa mampu aku menghalangi cinta mereka?” Pak Wilson menyetir sambil melamun dan memikirkan tentang masa depan anaknya dengan Devan. Beberapa menit kemudian, Cleo dan Pak Wilson sudah sampai di apartemen Cleo. Mereka memarkirkan mobilnya dan segera menuju ke lobby dan menuju ke unit apartemen Cleo. Cleo tampak malas untuk berbicara. Selain karena dia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ada di kepalanya, dia juga harus menekan rasa cintanya pada Devan. “Pa, aku mau mandi dulu ya. Papa bisa istirahat di kamar tamu.” “Iya, Nak. Papa tunggu kamu selesai mandi ya. Papa mau bicara sama kamu.” “Papa mau bicara apa? Kalau hanya soal perkara yang belum bisa Papa Jelaskan, lebih baik kita tidak membicarakannya lagi, Pa. Aku semakin tidak mengerti kalau Papa mau menjelaskan itu semua.” “Tidak, Nak. Papa mau bercerita soal mamamu.” Cleo langsung duduk di sofa di sebelah papanya. “Cerita sekarang saja, Pa. Aku tidak sabar mendengarnya.” Pak Wilson tersenyum. “Papa tidak kuat sama baumu, Nak. Kamu mandi dulu saja biar wangi.” “Ih Papa apaan sih. Aku wangi tau. Ya sudah deh, aku mandi dulu ya, Pa.” Cleo pun menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Tas Cleo berada di meja tepat di depan Pak Wilson. Tiba-tiba ponsel Cleo berdering. Pak Wilson membuka tas itu. Dilihatnya nama Devan di layar ponsel. Pak Wilson mengangkat telepon itu dan meletakkan ponsel di telinga tanpa berbicara. “Halo, Cleo.” Devan menyapa dari telepon. “Halo. Cleo, kamu bisa dengar suaraku?” Devan tidak mendengar suara Cleo. “Cleo, tolong bicara. Maafkan aku, Cleo. Maaf karena aku sudah mengejarmu. Cleo, kamu bisa dengar suaraku?” Masih tidak ada tanggapan. Devan melihat layar ponselnya. Telepon itu masih tersambung. “Cleo, aku tahu kamu dengar suaraku. Cleo, aku mohon jangan jauhi aku. Baru kali ini setelah sembilan tahun lamanya hatiku terkunci, aku bisa merasakan kembali rasanya jatuh cinta. Bukan karena fisik atau apa pun itu, tapi aku jatuh cinta karena kebaikanmu, Cleo. Kamu yang sudah menolong nyawaku saat itu.” Pak Wilson masih menyimak perkataan Devan dengan tidak bersuara sedikit pun. “Cleo, kamu boleh menilai aku laki-laki seperti apa terserah kamu, tapi Cleo, tolong beri aku kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat. Jika kamu berpikir kalau aku laki-laki tidak baik, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Cleo, jujur aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam diriku. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu. Sangat bahagia. Aku bahagia melihat senyummu. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa sangat khawatir melihatmu menangis tadi. Cleo, tolong beri aku kesempatan. Tolong, Cleo.” Tiba-tiba panggilan terputus. Pak Wilson mematikan panggilan itu. Dia segera menghapus riwayat panggilan Devan dan mengembalikan ponsel Cleo di dalam tas. Seketika air mata Pak Wilson menetes. Dia bisa merasakan ketulusan Devan pada Cleo. Tapi, dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Dia harus berusaha dengan segala cara menghalangi cinta Cleo dan Devan. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri hatinya sangat sakit. Dia harus memisahkan anaknya dengan laki-laki yang dicintainya. Air mata Pak Wilson semakin deras mengalir di pipi. Kenyataan ini terlalu menyakitkan baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD