Dilema

1749 Words
“Bagaimana kalau kamu kehilangan Papa?” tanya Pak Wilson pada putrinya. Mata Cleo membelalak. Seusai membersihkan tubuhnya, dia berharap akan mendengar cerita tentang mamanya yang telah tiada. Cleo berharap hatinya menjadi lebih tenang setelah keanehan yang terjadi karena papanya. “Maksud Papa apa? Pa, tolong jangan buat aku bertanya-tanya.” “Jawab, Nak. Bagaimana seandainya kamu kehilangan Papa?” “Gak mau, Pa.” Cleo memeluk papanya erat. Air mata bercucuran di pipinya. “Begitu juga Papa. Papa tidak ingin kehilangan kamu. Kamu satu-satunya yang Papa punya saat ini. Jadi, Nak, tolong jauhi Devan.” Cleo melepaskan pelukan papanya. “Jadi ini masih tentang Devan?” Pak Wilson mengangguk. “Pa, kalau Papa belum bisa cerita, tolong jangan membahas soal Devan.” Cleo berkata sambil sesenggukan. “Maafkan Papa, ya Nak. Papa hanya tidak ingin kamu berada dalam bahaya.” “Sudah, Pa. Sudah cukup.” Isak tangis Cleo semakin jelas. Pak Wilson memeluk putrinya. Air mata Pak Wilson pun ikut mengalir. Baginya, Cleo adalah segalanya. Buah hati yang selalu dijaga selama bertahun-tahun setelah mendiang istrinya pergi saat Cleo masih berusia lima tahun. Kehilangan mama Cleo merupakan kejadian yang sangat memilukan. Bahkan, hingga saat ini, Pak Wilson tidak ingin membuka hati untuk perempuan lain. Cukup Cleo yang menjadi pelipur hatinya. Dia tidak ingin bayang masa lalu yang kelam membuat Cleo berada dalam bahaya. Cukup dirinya saja. “Nak, Papa sangat menyayangimu melebihi apa pun.” “Aku tahu, Pa. Aku juga sama,” jawab Cleo masih dalam pelukan papanya. “Papa akan melakukan apa pun demi kebahagiaanmu.” “Termasuk memisahkan aku dengan Devan?” Pak Wilson terdiam. “Pa, bagaimana kalau aku ternyata jatuh cinta pada Devan? Bagaimana kalau ternyata dia pun cinta sama aku?” Pak Wilson masih terdiam. Cleo enggan mengulangi pertanyaannya. Diamnya Pak Wilson adalah jawaban baginya. “Cleo mau istirahat, Pa. Rasanya lelah sekali.” “Selamat istirahat, Nak.” “Papa juga istirahat ya. Ayo, aku antar ke kamar tamu.” Cleo mengantar papanya ke kamar tamu. Pak Wilson mengikuti Cleo. Lalu, Cleo menuju ke kamarnya. Malam itu, Pak Wilson dan Cleo sama-sama tidak bisa memejamkan mata. Pikiran mereka mengembara ke satu hal yang sama: Devan. Cleo memikirkan perasaan Devan yang pastinya sedang kalut. Cleo bisa melihat dari sorot mata Devan bahwa dia memiliki cinta yang tulus padanya. Cleo pun memiliki rasa yang sama. Namun, mereka tidak bisa meraihnya. Hati Cleo bagaikan tersayat sembilu. Di kamar seberang, Pak Wilson juga sedang memikirkan Devan. “Anak itu darah dagingmu, Bram. Meski aku tidak tahu apakah kamu menyadari bahwa anak laki-lakimu kini tumbuh menjadi orang sukses, yang jelas aku tidak akan membiarkan putriku dalam bahaya. Aku tidak mau kamu akan menggunakan Devan sebagai alat untuk balas dendam.” Pak Wilson seolah berdialog dengan seseorang yang menjadi bayang masa lalu kelamnya. Sementara itu, Devan juga masih belum bisa tidur. Pikirannya diliputi banyak pertanyaan tentang siapa Pak Wilson dan kenapa dia harus memisahkan Cleo darinya. Apa hubungan Pak Wilson dengannya? *** “Bob, kamu sudah berhasil mengumpulkan informasi tentang Pak Wilson?” Devan menelepon Bobi. “Sudah, Bos. Tenyata Pak Wilson adalah pemilik perusahan besar Wilson Corporation.” “Apa?” Devan langsung berdiri dari tempat duduknya. “Jadi, papa Cleo bukan orang sembarangan. Tapi kenapa Cleo justru bekerja di perusahaan biasa?” “Nah itu saya juga kurang tahu, Bos. Mungkin Cleo ingin mandiri.” Devan masih terdiam dan berpikir keras. Seseorang mengetuk pintu ruangan Devan. “Iya, masuk.” Cyntia mengabarkan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengan Devan. “Ya, suruh masuk saja,” kata Devan sambil memegang ponselnya di telinga. Telepon Bobi masih tersambung. Tiba-tiba seseorang yang gagah masuk ke dalam ruangan Devan. Mata Devan langsung membelalak. Mulutnya melongo. “Selamat siang, Pak Devan,” ucap pria itu. “Selamat siang, Pak Wilson.” Devan membalas salam itu. Bobi langsung kaget mendengar Devan menyebut nama Pak Wilson. Dia tidak langsung mematikan telepon karena penasaran dengan obrolan bosnya bersama orang yang baru saja diselidikinya. Devan juga lupa kalau telepon dengan Bobi masih tersambung. “Boleh saya duduk?” tanya Pak Wilson. “Oh iya, silakan duduk, Pak.” Devan sangat gugup. Wajah Pak Wilson sangat berkharisma dan terlihat sangat tampan meski usianya tidak muda lagi. “Ada perlu apa, Pak?” Devan membuka percakapan dengan jantung berdebar. “Saya tahu Anda menyelidiki tentang saya lewat orang suruhan Anda yang bernama Bobi.” Devan langsung membelalak dan mulutnya terasa terkunci. Dia sedang tertangkap basah. Bobi juga bisa mendengar semua pembicaraan itu lewat telepon. “Aduh, mampus aku ketahuan,” gerutu Bobi. “Dan pasti Anda sekarang sudah tahu siapa saya, bukan?” Devan mengangguk. “Apakah ada yang perlu Anda tanyakan kepada saya lagi?” “Tidak, Pak. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya hanya belum memahami tentang kejadian di cafe Romansa kemarin itu. Saya tidak mengerti kenapa Bapak sangat ingin saya dan Cleo tidak berhubungan lagi.” “Apakah Anda sudah tahu jawabanya?” tanya Pak Wilson. “Tidak, Pak.” Devan menunduk. Kedua tangannya saling meremas kiri dan kanan. Keringat dingin mulai bercucuran. “Apakah Anda ingin tahu?” Devan mendongak, “Iya, Pak. Saya sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pak, tolong jangan terlalu formal bicara dengan saya. Panggil saya dengan sebutan “kamu” saja, jangan “Anda”.” “Oke. Pertama-tama, kamu tahu siapa ayah kamu?” Devan sangat kaget dengan pertanyaan itu. “Saya tidak pernah tahu siapa ayah saya. Sejak kecil saya tidak pernah tahu siapa ayah saya.” “Kamu yakin?” “Memang begitu keadaannya, Pak. Ibu saya tidak pernah memberi tahu siapa ayah saya. Entah saya ini punya ayah atau tidak.” Pak Wilson berpikir sejenak. “Saya belum bisa cerita tentang kejadian kemarin. Saya permisi dulu.” Pak Wilson berdiri dan membungkuk sejenak lalu pergi meninggalkan ruangan Devan. Devan semakin tidak mengerti dan sepertinya memang ada sesuatu yang sangat rahasia dalam hidup Pak Wilson. “Apa hubungannya Pak Wilson dengan ayahku?” “Bos, halo. Halo Bos.” Bobi berkata di telepon yang sedari tadi masih tersambung. “Iya,” sahut Devan. “Ternyata Pak Wilson tahu kalau saya sedang mencari tahu informasi tentang dia ya, Bos. maaf ya, Bos. Pak Wilson memang bukan orang sembarangan.” “Baru kali ini kamu tidak profesional,” bentak Devan. “Bukan begitu, Bos. Tapi memang pengamanan Pak Wilson sangat ketat. “Ya sudah saya tutup dulu.” Devan mematikan teleponnya. Dia lalu termenung kembali. Kepalanya berdenyut hebat. Devan semakin dibuat pusing dengan kejadian yang baru saja terjadi. *** Cleo masih tidak tenang, dia kepikiran soal Devan. Dia ingin meminta maaf kepada Devan soal kejadian di cafe Romansa. Setelah itu, dia akan menuruti permintaan papanya. Cleo menelepon Devan. Devan yang sedang termenung kaget melihat ponselnya yang berdering dan menampilkan nama Cleo. “Halo, Cleo. Selamat siang.” Devan sangat bahagia karena Cleo meneleponnya. “Siang, Van. Aku minta maaf ya atas kejadian yang kemarin.” “Iya, tidak apa-apa, Cleo. Kamu santai saja.” “Mana bisa aku santai. Nanti malam kita bisa ketemu?” “Bisa. Di mana?” “Di cafe Dandelion ya. Jam setengah 8.” “Boleh.” “See you.” Malamnya, Devan dan Cleo bertemu di tempat yang sudah mereka sepakati. Pulang dari kantor, mereka langsung menuju cafe Dandelion dengan mobil masing-masing. Devan sampai di cafe pukul 7. Seperti biasa, dia tidak ingin Cleo menunggunya. Dia ingin menjadi orang yang siap siaga di tempat sebelum Cleo datang. Pukul 19.25 Cleo pun sampai di cafe. “Malam, Van.” Sapa Cleo dengan setelan jasnya. Mata Devan langsung terpana dengan kecantikan Cleo. “Hei, lihatnya gitu amat sih,” ujar Cleo mengagetkan Devan. “Ah, maaf, kamu cantik sekali.” “Gombal ih.” “Beneran. Suwer.” “Gak percaya.” Cleo mengambil buku menu sambil membolak-balikkannya. Dia tidak kuasa untuk menatap Devan karena Devan sangat tampan. Hatinya berdebar. “Mau pesan apa?” “Lemon tea aja deh,” kata Cleo. “Kamu sudah makan?” “Sudah, kok.” “Oke sebentar ya, aku pesankan dulu.” Devan berjalan ke arah kasir untuk memesankan Cleo lemon tea. Cleo pun menarik napas panjang. Dia benar-benar grogi berada di hadapan Devan. Beberapa menit kemudian, Devan kembali ke tempat duduk mereka. “Van, aku minta maaf soal kemarin ya.” “Sudah, Cleo. Tidak apa. Kalau boleh aku tahu, kenapa papa kamu sampai segitunya melarang kamu berhubungan denganku?” “Nah, itu dia aku juga belum tahu. Papa bilang akan menceritakan alasannya suatu saat nanti.” “Apa mungkin kamu dijodohkan dengan orang lain?” Devan bertanya dengan hati-hati. “Ha? Gak mungkin lah. Papa bukan tipe orang yang seperti itu. Tapi, sepertinya ada kejadian masa lalu papa yang dirahasiakan. Itulah yang membuat papa bertindak begitu.” “Sepertinya papa kamu belum siap menceritakan semuanya. Kamu yang sabar dulu ya.” Cleo hanya mengangguk. Lemon tea datang dibawa oleh seorang pramusaji. Cleo segera menenggaknya. Kerongkongan yang sedari tadi kering akhirnya mendapatkan kesejukan. “Hmmm Cleo, boleh aku tanya sesuatu?” “Tanya apa?” “Kenapa kemarin malam kamu tidak bersuara saat aku telepon?” “Telepon? Kapan?” “Jam 11 malam.” “Ha? Tidak ada telepon dari kamu.” Cleo sangat kaget mendengar perkataan Devan. Devan pun tidak kalah kaget dengan penuturan Cleo. “Beneran, Cleo. Kemarin malam aku telepon kamu dan kamu diam saja.” “Apa mungkin itu papa?” “Mungkin juga.” “Papa tidak cerita apa-apa. Van, jujur aku pusing dan bingung dengan semua ini. Papa belum mau menceritakan semua sama aku.” “Mungkin ini memang bukan perkara mudah untuk papa kamu cerita saat ini.” Devan menenangkan Cleo. “Cleo, lihat mataku.” Cleo pun melihat kedua mata Devan. Saat itu, jantung Cleo semakin berdebar. Mata itu sangat indah. Cleo berpaling. Devan memegang tangan Cleo. “Cleo, tolong lihat mataku.” Cleo kembali menatap mata Devan. “Cleo, kalau boleh aku jujur, aku mulai jatuh cinta sejak pertama memandangmu. Saat kita bertemu dalam tragedi penusukanku. Saat itu, aku mulai jatuh cinta lagi setelah sembilan tahun hatiku terkunci.” Cleo menyaksikan mata Devan berkaca-kaca. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Lidahnya kelu. “Cleo, kalau boleh aku tahu, bagaimana perasaanmu padaku. Tolong jujur, Cleo.” Cleo seolah membeku. Dia tidak tahu harus berkata apa. Batin dan pikirannya seperti tidak sinkron. Dia mulai cinta sama Devan, tapi di sisi lain, dia harus menuruti papanya untuk tidak lagi berhubungan dengan Devan. Hati Cleo berkecamuk. Dia ingin mengutarkan perasaannya juga, tapi itu sangat berbahaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD