Bab 9| Impian Sepasang Sahabat
Suasana kini amat menegangkan. Bahkan lebih menegangkan daripada berada di kursi pengadilan.
Kedua tatapan lelaki itu sama-sama memancarkan aura dingin dan membunuh. Terutama Alex yang membuat Erickh terkadang merasa merinding.
Membicarakan insiden kejadian kemarin, sesungguhnya membuat emosi Erickh memuncak. Di tambah lagi, Alex menanyakan kepadanya perihal nya yang muncul tiba-tiba.
"So? Kenapa kamu tiba-tiba muncul begitu saja, bahkan pergerakan mu lebih cepat di banding anak buahku. Apa kau berpikir tentang keselamatan ponakan ku, kemarin?" Alex menatap tajam Erickh.
"Apa? Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" Alibi Erickh.
"Saat bom kemarin ingin meledak, Ran berlari begitu saja demi menghentikan waktunya. Namun Ran malah jatuh tergelincir segera dan dia segera gendong David yang tuntun oleh Hendon. Tapi aku sedikit penasaran...heh, tentang insiden peledakan bom kemarin. Kenapa tiba-tiba berhenti?"
"Bahkan bom itu di hentikan oleh mu. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu, hmm?"
"Maaf, aku bukan bermaksud menyinggung mu. Hanya saja aku sedikit salah paham" sela Alex begitu melihat ekspresi kerabat nya itu berubah drastis.
Erickh menghela nafas dalam-dalam "sebenarnya kemarin saat Ran pergi ke apartemen itu , aku baru saja pulang dari kerja namun tak sengaja melihat nya. Yahhh...begitulah! Aku menyusulnya, kemudian saat sampai di atap, aku melihatya ingin menghentikan bom itu. Mengulur waktu sejenak, aku berhasil mengambil alat kontrolnya dari antara mereka" alibi pria itu menjelaskan, meski masih sedikit ambigu.
"Jadi, apa kau tahu jika Ran berkelahi dan membunuh dua orang penjahat yang jatuh ke ruangan kaca, itu?"
"Tidak. Aku tak sempat menyaksikan nya" Erickh pura-pura memijat pangkal hidungnya dan mengusap dahinya. Seolah menunjukkan jika ia sedang tak baik-baik saja. Meski hanya sekedar acting dan bohong belaka.
"Apa kau sakit?" Tanya Alex
Lelaki aktor itu mengangguk "benar. Aku pulang dulu, butuh waktu istirahat. Kemarin aku tak bisa tidur"
Tanpa mendengar jawaban dari Alex, Erickh segera pergi berlalu begitu saja. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh pria itu.
"Aku tau kau punya rahasia besar yang selalu berusaha kau tutupi. Tapi sepertinya terlalu cepat untuk mencurigai mu" gumam Alex dengan pelan nyaris tak terdengar.
*****
DAVID POV
Aku menatap nanar wajah indah yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit itu.
Ku belai pipinya dengan lembut. Yang pertama sekali aku rasakan adalah 'kehangatan' yang mengingatkan ku telah berpisah cukup lama dari sahabat ku.
Namun sayangnya, baru pertama bertemu dengannya sudah terjadi hal-hal buruk.
Aku sengaja mengambil kesempatan untuk mengunjungi Ran. Usai paman Erickh dan Hendon keluar dari ruangan ini, aku segera masuk.
Masuk dengan membawa kotak makanan yang baru saja siap aku masak, dan sebuah buket bunga Lily berwarna ungu kesukaan Ran.
Aku lebih banyak mengetahui hal mengenai Ran daripada Tessa. Misalnya hal yang paling kecil adalah, hanya aku yang tahu jika Ran sebenarnya tidak menyukai makanan pedas. Namun ia berusaha memakannya jika Tessa yang mengajaknya agar tak mengecewakan sahabat kami yang usil itu.
Kemudian, hanya aku yang tahu jika Ran sebenarnya lebih menyukai hamparan padang ilalang saat musim dingin. Meski selama ini kami lebih sering pergi ke hamparan padang ilalang musim semi. Lagi-lagi alasannya hanya karena Tessa.
Entah kenapa, akhir-akhir ini aku semakin sensitif. Bahkan kemarin melihat Morgan bersama dengan Ran membuat ku ingin marah.
Terkadang aku ingin mencari tahu, perasaan apa ini. Tapi aku terlalu tak berani.
"Aku udah rindu banget sama kamu Ran" aku menggenggam tangannya erat
"Rindu apanya?"
Sebuah suara yang tiba-tiba ikut nongol membuatku terperanjat kaget "Tessa?!" Teriak ku saking kaget.
"Apa sih teriak-teriak? Kayak ada maling aja! Ntar Ran jadi bangun" cibir gadis itu.
"Gue udah bangun" Ran menyahut.
"Ran?"
"Ahhh... akhirnya kamu bangun juga, bestie. Gimana kabar kamu? Udah makan belum? Tidurnya nyenyak,ga?" Cecar nya gempar bertanya.
"Aku udah baikan"
"Belum makan"
"Ga nyenyak tidur"
"Dan terakhir, karena ada sepasang bocil nyamuk yang tiba-tiba teriak buat kuping aku tuh jadi hampir tuli"
Ketus Ran dengan beruntun. Seketika, Tessa tergelak keras.
Saking kerasnya ia bahkan hampir jatuh ke lantai, dan terus memegangi perutnya
"Hahaha...sejak kapan bestie aku jadi se-alay, ini? Perkataan kamu dari tadi sumpah bikin aku mau mati saking centilnya mau ketawa" Tessa mencubit pipi Ran dengan gemas
"Hmm...ouuhww iya, kapan gue bisa keluar dari sini? Sehari aja gue udah bosan di sini...aishhh" tanya Ran di iringi helaan nafas panjang.
"Besok kayaknya deh. Lagian gue dukung kok kalo semisal kamu tuh minta langsung keluar. Jujur aja, gue juga ga tahan sama bau rumah sakit yang kadang bikin gue pusing. Kebetulan besok kan Minggu, jadi bisa lebih fit deh kalo istirahat di rumah" Tessa menyahut.
"Sejak kapan panggilan kita berubah-ubah terus? Kadang 'gue-lo', kadang 'kamu-aku', kadang 'gue-kamu', dan kadang 'aku-lo'??" Tanya ku bingung.
Tessa mengendikkan bahu tanda tidak tahu "mana gue tahu! Abisnya kan suka gue deh. Gue ga tahan misal kalo terus manggil 'kamu-aku'! Jadi...yah kadang, meski panggilan terus berbeda-beda, ingat motto bangsa Indonesia 'Berbeda itu indah' hahahaa......" gelak gadis yang benar-benar usil itu.
"Sejak kapan lo jadi tahu semua budaya Indonesia?" Ran bertanya
"Sejak kapan? Sebelum gue rencanain buat pindah ke sini nyusul kamu, gue tuh udah belajar sebagian budaya Indo deh. Tapinya yahh..cuman yang penting-penting nya doang" cengir Tessa.
"Udah-udah deh! Topik sampe ini dulu. Ran kayaknya belum pulih, jadi masih harus istirahat" sela ku
*****
RAN POV
Pukul 06.00 A.M
Aku membuka mata, mengerjapkan nya beberapa kali untuk memperjelas penglihatan.
Merasa ada yang menimpa d**a ku, karena itulah aku terbangun.
Aku menatap tangan yang tengah mendekapku itu.
'b******n! Siapa yang berani menyentuh nya' umpat ku dalam hati
Aku menoleh ke samping, dan....??!
"Tessa, bisakah kau melepaskannya? Kau tahu itu sangat berat, membuatku sesak bernafas saja" lirih ku menatapnya.
Ia malah mengingau tak jelas 'hmmm...?' membuatku semakin sebal
Dengan sekuat tenaga, akhirnya aku bisa melepaskan dekapannya dari atas d**a ku "dasar payah" ocehku sebelum berusaha bangkit.
Namun ternyata, sampai sekarang tenaga ku belum pulih. Bahkan luka yang ada di tubuhku belum sembuh. Yang membuat ku semakin tak luas untuk bergerak saja.
"Perlu bantuan ku?" David muncul dari kamar mandi dan mengulurkan tangannya
Aku mengangguk dan menerima uluran tangan gagah itu. Dengan tertatih-tatih dan di bantu oleh David, akhirnya aku bisa berdiri meski belum sempurna.
"Lantas kau mau kemana? Apa perlu ku ajak berjalan-jalan ke taman?" Tawarnya
Aku mendongak ke arahnya kemudian mengangguk "boleh"
*****
Aku menatap dengan tatapan menerawang ke atas langit gelap yang terkadang masih di tutupi oleh embun malam, bahkan sebagian bintang masih terlihat dan begitu juga dengan bulan yang masih setia memancarkan sinarnya meski matahari akan segera muncul.
Menghirup udara pagi yang terasa begitu segar. Namun terasa dingin.
"Dav" panggilku tanpa menoleh ke sosok pria yang masih mendorong kursi roda, menuntun ku pergi berjalan-jalan ke taman ini.
"Ada apa?" Tanya nya
"Impian lo sebenarnya jadi apa?"
"Impian? Tumben, Ran. Yahh...kalo di tanya masalah impian sih, gue maunya jadi orang yang ngelakuin apapun sesuai bakat"
"Gue maunya jadi anggota marinir kayak paman Alex" sambungnya
"Ohww" aku hanya mengangguk, tanda paham
"Kalo cita-cita Ran emang mau jadi, apa?" Kali ini dia ganti bertanya setelah meletakkan kursi roda yang tengah aku duduki di dekat kursi taman. Kemudian membantuku untuk duduk di kursi taman tersebut di susul oleh nya.
Saat ditanyai tentang cita-cita , aku bungkam tak minat menjawab. Aku cukup kesal oleh kejadian kala itu. Dimana bunda bahkan ayah tak ada yang mendukung ku dan hanya menjawab dengan kalimat singkat.
Seperti 'Ohh..', 'gitu ya?', dan sebagainya yang membuat ku patah semangat. Biar bagaimanapun, aku hanya seorang manusia biasa. Hanya seorang anak yang pastinya harus butuh dukungan dari orangtua untuk melakukan sesuatu.
"Ran mau jadi artis, kayak cita-cita yang kamu bilang pas libur kamp waktu itu?" Tanya David yang ternyata masih mengingat moment lima tahun yang silam.
"Dav, kamu ternyata masih ingat, ya?" Aku menoleh ke samping, menatapnya yang sama-sama juga sedang menatapku.
"Of course"
Senyuman simpul dari pria itu benar-benar mampu membuatku tersipu malu.
Bagaimana tidak? Setiap lelaki itu tersenyum, mampu menunjukkan aura kemanisan, kelembutan, kegagahan, cool, jenius, dan sebagainya.
Dan aku sebagai kaum hawa yang masih waras, tentu akan tersipu jika melihatnya.
Tak terasa, satu jam telah berlalu. Yang menunjukkan jika sekarang adalah pukul 07.00 A.M
Bulan serta bintang yang tadinya masih kelihatan, sekarang tidak lagi. Digantikan oleh matahari si 'Cahaya Orange' yang tadi masih penuh malu untuk muncul.
Kini, taman yang tadinya masih sepi mulai ramai. Bahkan, para penjual seperti penjual ice krim, dan bakso sudah mulai parkir di dekat taman
"Lo mau ice krim, ga?" tanya David sembari menyodorkan semangkuk ice krim.
"Ehh?? Sejak kapan lo belinya?"
"Pas mo lagi ngelamun tadi"
Aku menerima mangkuk ice krim dengan berbagai paduan rasa itu. Ya! Makanan yang paling aku sukai 'Ice Krim'. Namun, David melarang ku untuk terus memakannya. Dengan alasan 'Kamu bisa mandel' an kalo terus makan ice krim'.
Aku mulai mencicipi ice krim dengan paduan lima rasa ini. Coklat, vanilla, strawberry, cookies n cream, dan kopi.
Pertama sekali aku menyukai ice krim, saat berkunjung ke sebuah cafe yang khusus menyediakan berbagai jenis-jenis ice. Cafe itu di usahai oleh seseorang berkebangsaan Australia.
Sampai sekarang, aku mengakui jika ice krim nya lah yang lebih enak yang pernah aku coba. Bahkan cafe nya selalu padat.
Tanpa aku sadari, David sudah menyeka sisa ice krim yang berada di ujung bibir ku.
Aku sedikit terkejut namun malah menunjukkan ekspresi tersipu "apaan sih, Dav?! Bikin malu kali" cibir ku menepis lembut tangan nya.
"Yahh...abisnya kamu tuh bikin gemes" gelak lelaki itu dan pada akhirnya aku juga ikut tertawa