Bab 9| Bantuan Tak Terduga.
Aku membuka mataku perlahan. Sayup-sayup, yang pertama kali ku lihat adalah sebuah ruangan berwarna putih bersinar.
Apa ini adalah Surga? Apa aku benar-benar sudah mati karena terkena ledakan bom waktu itu?
Aku merasa tubuhku mati rasa. Tak bisa bergerak. Saat aku kembali hendak memejamkan mata, seseorang dengan berjubah putih datang begitu saja.
Mungkin dialah yang sudah menyadarkan dari halunisasi ini.
Jika di dunia, dia akan di sebut sebagai 'Dokter' atau 'Suster'.
"Nona Sera? Apa anda sudah bangun?!" tanya nya, namun aku hanya menatapnya dengan kosong.
'Ahh....'
Hanya suara kecil itu yang mampu aku keluarkan. Jujur saja! Sekarang aku bahkan merasa rahangku sangat sakit nyaris tak bisa di gerakkan.
"Ran! Apa kau baik-baik saja??!" seorang pria muncul begitu saja dengan sebuah buket bunga mawar merah di tangannya.
"Morgan?? Itu kau?" tanya ku dengan pelan nyaris tak terdengar.
Aku bisa melihat gurat kebahagiaan muncul persis di wajahnya "syukurlah jika kau masih mengingatku. Aku pikir kau takkan mengenaliku dan aku akan kehilangan mu" spontan saja Morgan mendekap ku dengan erat.
Sementara tubuhku masih kaku dan lemah, serta terbaring di ranjang yang ada di ruangan serba putih ini.
Seruan-seruan yang lain kembali aku dengar "Ran!!! Are you okay?" perpaduan suara wanita dan pria ku dengar mengatakan bahasa itu dengan serempak.
Aku menoleh ke sumber suara. Tunggu! Lagi-lagi aku merasa familiar dengan wajah ini.
"Hey, who do you think you are? Dare to hug her?!" gertak wanita tadi.
"Kalian siapa?" taya Morgan perlahan melepaskan dekapannya.
"Ran! You still remember me, don't you?" pria tadi menyahuti sembari mendekap ku.
Berada di dalam pelukannya, kenapa aku merasa aman dan familiar? Bukankah ini pelukan hangat yang sering aku dapatkan saat masih berada di Paris? Bukankah ini pelukan hangat dari seorang David?
Dan, bukankah perlakukan wanita itu cukup mencolok dengan teman ku? Yahh...bukankah itu sifat Tessa? Tessa selalu memarahi orang yang mendekapku dengan sembarangan selain David.
Apa ini nyata? Kedua sahabatku datang kemari? Tapi itu tak mungkin. Sekarang saja aku berada di negara Indonesia. Meski itu tak mungkin, tapi aku memang mengharapkan apa yang kulihat sekarang ini benar-benar nyata.
Aku berusaha memperhatikan wajah pria yang sedang mendekapku.
"David? Is that really you?" tanya ku ragu-ragu.
"Correct! Hey Ran..get well soon and healthy! These two good friends of yours are already" ucap Tessa.
"Is this really, you guys? Does that mean I'm not dead yet?" ujarku bertanya.
"Tentu saja tidak!"
"Of course! No"
Tessa yang melihatku kebingungan, segera menggaruk tengkuknya "Ahh...benar! Aku izin pamit dulu, ingin membeli sarapan"
"Apa kau bisa berbahasa Indonesia?" tanya ku
"Tentu saja! Selama kau pergi, tentu saja aku mempelajarinya. Aku tak mau jika berkunjung dengan sahabat baik ku, tak mengetahui bahasa di negara itu sendiri" Tessa tersenyum sumringah, menampilkan deretan gigi putihnya yang bersinar.
"Sudahlah. Hei pria! bukankah kau Morgan? Cepat ikut dengan ku" ketus Tessa menarik dengan kasar tangan Morgan. Menuntun pria itu untuk keluar.
Morgan hanya bisa pasrah, dan melambaikan tangan nya kepadaku "aku juga pergi dulu ya, Ran!"
Tessa hanya berdecak kesal "sudah-sudah! Jangan terlalu banyak drama" kesalnya.
Begitu kedua manusia itu pergi, kini ruangan ini lengang. Menyisakan David yang tengah mendekapku erat.
"Hei! Apa kau ingin membuatku mati juga? Ini terlalu sesak, tahu" aku berusaha melepaskan dekapan tangan erat itu dari tubuhku.
David hanya tersenyum kecil kemudian menatapku "kau ini bagaimana? Sudah tak bertemu begitu lama, dan saat aku mendekap mu kau malah bilang lepaskan" kekeh nya.
"Jangan bodoh! Gue masih lemah, masa langsung di dekap?" kesalku mencebikkan bibir.
"Hahah.. fine... fine! Cukup sampai di sini bercanda nya" David melepaskan pelukannya kemudian ganti menatapku.
"Gue mau nanya sesuatu. Kenapa kamu bilang, kalo kamu belum mati?" tanya nya mengintimidasi.
Aku mengernyitkan dahi "Lahh?? Bukan nya gue terkena letusan bom kemarin?"
David terlihat cemas kemudian menghela nafas pelan.
"Benar-benar bodoh! Kenapa kau bisa sampai terkena masalah semalam?" bentak seseorang kemudian muncul tepat di depanku.
"Ayah?"
"Paman?"
"David! Aku meminta mu kemari bukan untuk berduaan dengan putriku. Aku hanya menyuruh mu untuk menjaga dan memberikannya pelajaran"
Aku hanya menatapnya dengan nanar.
"Sekarang juga, aku memintamu untuk pergi dari sini sekarang! Aku butuh bicara berdua dengan putri ku" pinta sang ayah mengusir David_sahabat ku itu.
David diam membungkam kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan ayah yang sedang marah tanpa alasan yang jelas dan aku yang kebingungan.
Pria itu meninggalkan ruangan ini dengan pintu tertutup rapat. Selepas David pergi, pandangan ku segera teralihkan ke sosok lelaki yang tengah berdiri dengan nafas memburu dan tangan bertolak pinggang.
'Sepertinya ayah benar-benar marah' batin ku
Memberanikan diri untuk bertanya, akhirnya aku buka suara "kenapa ayah mengusir Da-?"
'Paaakkkkkkkk.............'
Bukannya mendapat jawaban seperti harapanku tadi, kini yang aku dapatkan malah sebuah tamparan keras yang tepat mengenai luka di samping bibir yang masih di balut oleh kapas.
Sebuah darah segar terasa keluar, menyapa luka itu kembali.
"Heh"
Aku menyeka darah itu, lantas ganti menatap sosok lelaki di hadapanku yang sama-sama menatapku dengan bringas.
Melihat darah yang keluar, bahkan tak menimbulkan insiatif apapun dari nya.
Kenapa? kenapa sosok ayah yang dingin dari dulu malah berbuat seperti itu ini kepadaku? Sedingin-dingin nya ia dari dulu, bahkan tak pernah menamparku.
Tapi kenapa hanya tak bertemu beberapa hari, kini sikapnya berubah drastis? Bahkan menamparku saat aku masih sakit dan merasa lemah tak berdaya.
Kali ini aku merasa luka yang cukup sakit. Bukan sakit karena luka yang kembali berdarah ini.
Tapi, kenapa ia benar-benar tak bisa melihat situasi? Jika ayah benar-benar marah, kenapa tidak cukup hanya melampiaskannya kepadaku saja?
Kenapa David yang baru saja aku lihat setelah sekian lama ikut terkena amarahnya?
Kini aku benar-benar bingung harus bersikap apa saking tak tahunya jalan pikirannya yang sekarang ini.
Aku menengadah, kembali menatap netra hijau itu "apa ayah belum cukup memarahi ku? Kenapa ayah ikut memarahi David? Ayah pikir, ayah berhak memarahi orang tanpa sebab?"
"Diam!" lagi-lagi pria itu membentak ku
"Lain kali kau tak boleh melakukannya" titah nya.
Aku protes "tapi biar bagaimanapun, jika aku tidak segera bergerak kemarin bisa saja apartemen itu hancur, bukan?"
"Meskipun kau hebat, jangan pergunakan untuk hal yang tidak berguna! Siapa yang mengajarimu untuk menggunakan kemampuan seperti itu untuk melawan para penjahat!"
"Aku yang mengajarinya! Memang kenapa?"
Sebuah suara yang amat familiar terdengar mendekatiku dan juga ayah.
Begitu melihat wajahnya, aku terkejut "paman Alex? Paman Hendon?" kaget ku
Ekspresi yang aku tunjukkan malah berbeda dengan ayah yang justru seolah keberatan dengan kedatangan mereka
"Apa kau baik-baik saja, sayang?" Paman Hendon beralih menatap ku kemudian mengelus lembut kepalaku.
"Kau baik-baik saja bukan, jagoan?" Paman Alex mendekapku
Merasakan begitu hangatnya kedua paman ku, malah membuatku sedikit merasa kurang senang akan perilaku ayah yang memperlakukan ku dengan buruk tadi.
Saat aku mendapat pertanyaan hangat, senyuman manis, dan pelukan nyaman dari dua paman. Yang aku dapatkan dari ayah ku malah sebuah tamparan keras dan tatapan dingin.
Apa itu layak? Pantaskah seorang ayah berbuat demikian? seharusnya ia malu, bukan?
"Hei, ada apa dengan wajah mu itu? Kenapa nampak murung? Apa kau tak suka jika kami datang menjenguk keponakan kesayangan kami?" Paman Hendon menepuk bahu ayah_menyapa
Belum juga menjawab, Paman Alex kembali angkat bicara "hei kawan, apa kita bisa berbicara sebentar? Hanya empat mata?!" pintanya.
Awalnya, ayah seperti bingung dan kelihatan keberatan. Namun sedetik kemudian, ia segera mengangguk "tentu!" jawab nya dan menyusul paman Alex yang lebih dulu pergi.
Lengang! Kini ruangan putih ini hanya di huni oleh dua orang. Satu pasien dan saru lagi penjenguk.
Siapa lagi jika bukan aku, dan paman Hendon?
"Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya ku ragu. Inilah pertanyaan yang sudah lama sejak aku bangun ingin mendapat pencerahan
Lelaki CEO itu mengangguk "katakan" tanya nya lembut.
"Bukankah kemarin aku berlari demi menghentikan ledakan bom itu? Tapi kenapa aku tidak mati atau koma?" tanya ku.
Paman Hendon si Kerua FBI sekaligus CEO berkharisma itu terkekeh pelan "paman hebat kan ada! Mana mungkin membiarkan ponakannya yang super gemas ini begitu saja?"
"Apa paman bisa menjelaskan lebih detail lagi?" tanya ku memohon.
Lelaki itu mengangguk kemudian tersenyum "sebelum kamu mencapai bom, anggota FBI dan para anggota marinir sudah datang. Menggunakan helikopter, sesungguhnya kami sudah lama berada di sana. Hanya saja, kami menunggu apa yang akan di lakukan oleh orang bodoh itu. Singkatnya, paman segera menggendong mu dari sana karena sudah pingsan akibat jatuh tergelincir dan segera di larikan ke rumah sakit. David dan Tessa sampai tadi subuh, di jemput menggunakan heli pribadi" jelas pria itu.
"Jadi, apa paman melihatku membunuh dua orang di ruangan kaca?" tanya ku
Lagi-lagi pria itu mengangguk "tentu! Kedua orang itu, bahkan kami yang mendorongnya ke bawah. Aku melihat mu bersama Alex dari atas. Dan ternyata keponakan ku yang cantik ini juga hebat. Bisa di jodohkan sama anak paman dong 'David tampan'!" ke usilan paman yang satu ini mulai kambuh
Teringat akan perkataan bibi Ver sewaktu bertemu di toko kue, aku menoleh ke arah paman Hendon "ohh..iya! Btw, David bakal sekolah di sinikan paman?" tanya ku
"Kenapa? Apa udah bosan ya kalau David gadak? Wehh...wehhh.... akhirnya benih-benih cinta remaja mulai tumbuh" gelak nya.
"Bisa serius dikit kan paman?" kesalku
"Benar. Berkasnya bahkan sudah di siapkan Jo tadi malam. Mulai besok, David dan Tessa bakala sekolah di sini. Tessa ikut pindah gara-gara orangtuanya punya kesibukan di Indo. Yang pastinya, mereka hanya sementara saja di sini"
"Paman! Apa dengan kemampuan ku, aku boleh masuk ke anggota FBI? yeahh...misal cuman bantu-banth gitu doang. Soalnya aku malas deh skolah di sini. Monoton banget!"
"Paman masih ngebuat pertimbangan ya!" jawab lelaki itu belum pasti.
Meski sedikit kecewa, tapi aku mengangguk kemudian "Ahh...benar! Apa paman tahu, kenapa ayah malah marah kepadaku tadi?"
"Marah?"
Aku mengangguk "benar. Dia memarahiku karna sudah keluar kemarin malam dan menganggap ku menjadi pengacau yang akan membuat masalah ini semakin sulit. Bahkan ayah menamparku" akhirnya aku mengadu saking kesalnya dengan ayah
"Erick? Dia berani menampar mu?"
"Bukan hanya menamparku saja. Tapi David yang baru saja tiba di sini, di usir oleh ayah dengan marah-marah. Semua masalah ini ayah menganggap jika akulah biang keroknya" ungkap ku pada akhirnya tanpa ada istilah adu domba ataupun rekayasa
"Ohw? Jadi dia berani bersikap seperti itu, ya?" gertak paman Hendon
'Kenapa dari perkataan Erick, ada yang aneh? apa dia keberatan jika putrinya sendiri yang melakukannya? Apa dia keberatan karena Ran sudah mengacaukan kejadian tadi malam? Tapi kenapa dia kelihatan enggan? Jelas-jelas para b******n tadi malam ingin menghancurkan apartemen tempat barang-barang berhagarku'
'Tapi sudahlah! sepertinya aku saja yang terlalu sensitif. Aku tidak boleh terlalu mencurigai seseorang'