BAB 3|ANCAMAN SANG AYAH
" Sepertinya kita harus memberitahukan hal ini pada Ran, agar putri kita bisa menjaga rahasia ini" ujar Jenny, menatap sendu kearah Sang suami—Erick
.
Ucapan sang istri barusan, benar-benar membuat hati pria itu mendidih "maksudmu apa, hah? Kau pikir dengan memberitahukan kepadanya, dia bisa menjaga rahasia ini? Jangan bodoh!" Bentak Erich, memandang sang istri dengan tajam.
"Dan, jika kau masih bersikeras untuk memberitahu hal ini, aku takkan segan-segan untuk memasukkanmu kedalam penjara, bahkan membunuhmu. Kau tahu itu?" Ancam Erich masih meninggikan suaranya.
Jenny bungkam. Kepalanya mulai menunduk , ‘lihat saja tidak akan lama lagi rahasiamu ini akan terbongkar sendiri dan kau yang akan menanggung akibatnya’ Geram Jenny dalam hati. Jenny memiliki alasan tertentu, mengapa ia tak membantah sang suami. Karena apa? Bukan karena takut.
Nyali wanita itu sangatlah besar, sekalipun ia tak takut berhadapan dengan seekor singa.
Namun, ia hanya tak mau kasus ini akan ikut merembes pada Ran, putrinya.
***
Aku menatap layar ponselku sejenak, menunggu balasan dari Tessa. Hidupku rasanya hampa.
Tak ada satupun teman yang ramah yang sama dengan sahabatku. Pertama sekali menginjakkan kakiku kemari, aku tak b*******h.
Aku merasa bahwa semua makhluk-mahluk yang ada disekitarku tidak ada. Apa itu hanya perasaan ku saja? Mungkin.Cukup lama chatingan dengan kedua sahabatku, aku pun segera mengakhirinya, ketika aku merasakan ada seseorang yang datang menghampiriku.
Kumasukkan benda pipih itu kedalam saku dinas, dan memandang sosok yang kini tepat ada di hadapanku. Awalnya aku merasa aneh dengan tatapannya, tapi aku berusaha tetap bersikap normal.
" Hai...boleh numpang duduk ga?! Mumpung lagi sepi" sapa seorang Cowo, dan kebetulan ia adalah teman sekelasku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah menerima izinku, dengan cara mengangguk pria itu akhirnya duduk dikursi tamah yang aku duduki
.
Sepi. Tidak ada yang berbicara.
" Nama lu kalo ga salah Ran, ya?" Tanya Cowo itu membuka obrolan.
Aku tersenyum dan mengangguk "Benar! Gue Ran, murid pindahan" jawabku berusaha ramah. Aku masih merasa canggung.
N'tahlah, mungkin gara-gara murid baru kali?
" Nama lu Morgan, kan?"tanyaku.
" Yop!" Jawabannya semangat.
Hening lagi.
" Hmm...maaf kalo agak lancang ya. Alasan lu pindah kesini, kenapa?" Tanya Morgan dan sontak membuatku sedikit terkejut, mendapati pertanyaannya. Seharusnya sih aku tidak terlalu terkejut lagi, karena hal ini adalah sebuah kebiasaan.
Aku terdiam sejenak, mencari alasan yang paling tepat dan aman "ortu gue pindah kesini, gara-gara pemindahan tempat kerja" jawabku asal. Karena secara nyata, aku bahkan tak tahu alasan orang tuaku menyuruh pindah kemari. Keputusan itu datang secara tiba-tiba saja. Alasan itu mungkin sudah biasa, tapi hanya itulah yang terpikirkan di dalam otakku saat ini.
Morgan mengangguk tanda paham" kerja orang tua lu, apaan?"
Aku sedikit berdecak sebal, kenapa sih orang disini pertanyaannya banyak banget? Alay, gih. Gerutuku dalam hati.
" Papa gue kerjanya, Actor. Dan Bunda gue seorang model" ucapku.
" Hmm....kaya dong" puji lelaki itu tersenyum sumringah. Aku tidak tahu apakah itu pujian atau sesuatau yang bermaksud lain. Sesekali aku menatap sosok lelaki yang duduk di sebelahku, dari rupanya, dia termasuk lelaki yang tampan, meskipun ketampanan David—sahabatku, jauh lebih tinggi daripada sosok di sebelahku.
" Lu sendiri? Ortu lu, kerjanya apaan?" Tanyaku, berusaha untuk tidak membuat moment jadi canggung.
" Papa aku pengusaha, Mama aku Dosen" jawabannya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul" kaya juga dong" pujiku.
" Mau ga jadi teman, aku?" Tanya Morgan tiba-tiba.
" Emangnya kenapa?" Tanyaku. Kali ini tak ada senyum yang terbersit dibibirku. Yang ada hanyalah tatapan curiga. Jujur saja, aku adalah tipe yang tidak ingin menerima tawaran pertemanan secara langsung.
" Ga napa. Cuma temenan doang kok. Apalagi temenan sama cewe bule, gue dah bangga lhoo" ujar Morgan menatapku.
Aku hanya diam tak menggubris sedikitpun tawarannya" maaf gue belum bisa jawabnya. Jangan sakit hati, permisi" tuturku sopan, beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
Ketika jaraknya sudah cukup jauh, aku menghela nafas. Kutatap sekelilingku. Para murid mondar-mandir kesana-kemari. Benar, ini waktunya jam rehat. Merasa bosan, aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Karena murid baru, aku kurang hafal semua lika-liku sekolah ini, dan untuk mengenalinya aku cukup malas. Saat hendak beranjak, tiba-tiba cowo yang menghampiriku tadi ditaman, kini sudah berada di hadapanku.
Aku terlonjak kaget" ahhh..." Teriakku merasa kaget.
Dan pria itu, siapa lagi jika bukan Morgan?
"Mau aku ajak jalan-jalan sekitar sekolah ini ga? Biar lu, lebih mengenalinya dan tidak tersesat suatu saat nanti?" Tawar Morgan tersenyum manis padaku.
Belum sempat aku menolak atau menerima tawarannya, tangan pria itu lebih dulu menarik tanganku dengan lembut dan menuntunku pergi ntah kemana.
" Mau kau apakan aku, hei? Jangan lakukan yang aneh-aneh?!" Seruku berusaha berontak.
" Shuuttt!! Gue ga ngapa-ngapain lu kok. Sesuai tawaran gue tadi, kan gue bilang cuma ngajak lu jalan-jalan sekitar sekolah. Udah ga usah panik! Gue anak baik kok" seru Morgan mendiamkanku dengan cara meletakkan jari telunjuknya kearah bibirku, meski tidak bersentuhan, tapi Morgan berusaha untuk meyakinkanku.
Akhirnya akupun pasrah. Lagipula itu memang penting. Aku harus mengenal terlebih dahulu, semua lika-liku sekolah ini.
***
Perusahaan H.L
Seorang pria paruh bayah, tengah duduk di kursi kebesarannya sembari meminum teh kopi yang ada didepannya.
Lelaki itu terlihat sedang memeriksa berkas-berkas yang ada di depannya, berkas yang bertutup sampul berwarna coklat.
Drrrtttt.....drrrtttt...drttttt
Dering ponselnya seketika mengalihkan perhatian pria bayah itu. Ditatapnya benda pipih itu, sejenak memperhatikan nama si pemanggil dan akhirnya menggeser tombol hijau, tanda menerima panggilan.
"Hallo? Ada apa, kak?"
".............."
"Berapa jumlah korban?"
"............."
" Siapa pelakunya? Apa kalian sudah melacaknya?"
".............."
" Apa rekaman CCTV juga tidak ada menunjukkan siapa pelakunya?"
"............."
" Baiklah. Sebentar, aku segera kesana"
Hendon menghela nafas berat.
" Mau sampai kapan lagi, kasus ini tetap muncul? Bahkan sasarannya tetap ke perusahaanku. Huh, menyebalkan sekali" Gerutu lelaki itu,segera melangkah keluar. Mengambil kunci mobil dan juga jaketnya, tidak lupa dengan tanda pengenalnya.
Lelaki itu langsung melesat menuju tempat kejadian. Begitu tiba, sudah ada beberapa petugas di sana.
" Maaf terlambat. Dimana korbannya? Kapan kasus ini terjadi?" Tanya Hendon.
" Tadi pagi, tuan. Para korban sudah diurus oleh para staf kerja" ucap Jo, asisten pribadi Hendon yang tiba lebih dulu daripada dia.
" Tadi pagi? Jika tidak salah jumlah korban, lima orang bukan?" Ucap Hendon melempar pertanyaan lagi.
" Benar dan semua korbannya adalah pria. Kelima korban adalah karyawan tingkat bawah, tuan" imbuh Jo.
" Huh..kenapa rumit sekali sih? Setiap hari pasti ada korban. Apa benar, pelakunya belum ditemukan? Aku rasa, mereka pasti menyelinap masuk dan secara diam-diam mereka membuntuti setiap langkah karyawan.
Bagaimana cara menyampaikan kasus ini pada keluarga mereka?" Hendon memijat keningnya, dia terlihat begitu frustasi dengan apa yang terjadi.
"Tadi kakakku yang memberitahukan kasus ini padaku. Kak Jenny bilang, kau yang menyuruhnya untuk meneleponku, bukan?" Ucap Hendon tanpa melirik.
Jo menghela nafas kemudian mengangguk "benar tuan. Kemarin para karyawati yang kena bunuh, dan secara mendadak mereka segera dikubur sesuai permintaan keluarga masing-masing. Jumlah korban kemarin ada tiga orang" jelas Jo.
"Sepertinya aku harus bergerak. Aku akan turun tangan mengenai masalah ini dan kau Jo, cepat suruh anak buahmu agar tetap melakukan penyelidikan" pinta Hendon.
"Tapi tuan, misi yang sebelumnya belum kela…."
"Tenanglah, aku akan menambah bonus sepuluh kali lipat daripada sebelumnya, jika ini berhasil. Jangan ragukan, kau bisa menambah anak buahmu. Tapi ingat, harus benar-benar yang bermutu, jangan kau pilih anak buah abal-abal" ucap Hendon tegas.
"Baiklah, tuan. Aku akan berusaha bersama yang lainnya. Pelakunya akan segera didapatkan secepatnya juga" ucap Jo mantab.
"Thank's sobat. Aku percaya padamu" lirih Hendon menempuk punggung Jo, memberikan semangat.
Meskipun Jo adalah orang kepercayaan Hendon, tapi sosok itu sudah sepertinya teman, bahkan melebihi teman pada Hendon. Hendon sudah menganggap Jo, sebagai sahabat ny.
***
"Ini perpus, khusus baca novel, komik, pokoknya cerita deh. Trus itu gedung, perpus untuk belajar. Isi setiap rak, adalah buku pelajaran" jelas Morgan memperlihatkan dua gedung putih dan biru yang saling berhadapan.
Aku menganggukkan kepala, tanda paham "sippp" ucapku, mengacungkan jari tanda oke. Morgan kembali menuntunku, dan aku hanya pasrah mengikutinya. Aku tidak melakukan banyak hal, hanya berjalan mengikutinya dari belakang. Terkadang dia juga akan memaksaku untuk berjalan sejajar dengannya.
Kami melangkah menaiki anak tangga, dia memperkenalkan kantin atas dan ruangan apa yang ada di atas. Tak perlu lama, kami tiba disebuah tempat yang indah.
"Nah, ini rooftop sekolah. Cantik bukan?" Tanyanya melontarkan pertanyaan.
Aku mengangguk dengan mata berbinar "cantik banget. Ahhh...pasti segarkan disini?" Ujarku heboh untuk alasan yang tidak jelas.
Jujur, aku memang tahu rumor mengenai rooftop, banyak murid yang menatakan tempat ini adalah tempat paling menyenangkan, dan aku baru mencobanya sekarang.
"Jelas dong!"
"Haha...makasih..makasih deh. Makasih udah ajak gue kesini. Ahh, gue foto dulu ah disini, sekalian mau kenalin kondisi sekolah disini" ucapku girang. "Gan..boleh ga, bantu ambil foto gue dulu disini?" Tanyaku penuh harap, menatap Morgan.
Pria itu melangkah mendekat ke arahku" mau ngapain?" Tanyanya.
"Ga ngapa-ngapain kok. Gue cuma mau ngirim foto gue dan keadaan sekolah baru disini, sama sahabat aku" ujarku keceplosan.
"Sahabat? Lu, punya sahabat ya? Orang mana?" Tanyanya dan mulai duduk di sampingku.
"Hmm, punya dong. Tapi sahabat aku, waktu di Paris sih" ucapku enteng."Ohh...sekalian deh, kita berdua foto bareng. Soalnya mau kenalin lu, sama sahabat-sahabat gue. Kenalin teman baru gue. Gue nerima tawaran tadi, menjadi teman lu" ucapku dan mulai mengeluarkan ponsel dari saku.
"Makasih udah mau jadi teman aku. Udah deh, selifie bareng" ucap Morgan tersenyum.
Membuka aplikasi kamera, benda pipih itu kuhadapakan kearah depan agar semua pemandangannya nampak.
Mulai membuat gaya masing-masing.
Cekrekk
Aku memotret cukup banyak foto kami "trimakasih" ucapku tersenyum.
"Hehe...gausah kok ucapin terimakasih" ujarnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Aku mulai mengirim foto tersebut kepada kedua sahabatku serta membuat penjelasan, dan mempost nya kestatus WA.
Hari ini sedikit lebih baik karena Morgan, meskipun awalnya aku tidak ingin. Tapi sepertinya aku harus berterima kasih karena paksaannya.