Bab 8| Pistol Dan Kostum Hitam Yang Elastis
Morgan yang baru saja di bisiki sebuah kalimat dari bibi Ver mampu mengubah keadaan.
Jika tadi keadaan di penuhi kegembiraan, kini yang tertinggal hanya kesenyapan di antara kami.
"Ada apa? Kenapa suasananya serasa lagi berada di pengadilan, sih?" tanya ku.
"Gadak. Ohh iya, gue pulang duluan ya. Gue udah di tunggu sama saudara nih" Morgan menyahut.
Belum juga aku berbicara, pria itu segera pergi keluar. Meninggalkan ku yang kebingungan.
Setelah di tinggal oleh Morgan, kini bibi Ver bahkan ingin ikut pulang juga "bibi pulang dulu ya, sayang. Atau kita pulangnya bareng?" tanya nya yang sukses membuatku melongo
"Pulang? Padahal Ran 'kan masih baru disini. Bahkan belum beli apapun! Yodah deh, kalo bibi mau pulang duluan ga papa. Ran bisa sendiri kok" setelah menghela nafas, akhirnya aku bisa mengucapkan beberapa kalimat itu.
Meski cukup enggan, pada akhirnya wanita itu hanya mengangguk "hati-hati yah. Jangan pergi berkeliaran, kalo udah siap langsung pulang aja" ucap wanita itu.
Aku mengangguk, dan menatap kepergiannya yang semakin lama, semakin menjauh dengan sekotak roti yang di lapisi tas transparan.
Jika tadi aku datang kemari untuk melepaskan penat, apa yang terjadi malah melenceng jauh dari perkiraan ku. Yang ku dapati malah masalah baru
Aku bahkan tidak tahu, kenapa Morgan dengan anehnya mengatakan jika ia akan pulang lebih dulu. Dan malahan ia mengatakan jika sudah di tunggu oleh saudaranya
Jelas-jelas sebelum datang kemari, dia yang menawarkan diri untuk ikut. Aku sedikit berpikir, apa karena perkataan bibi Ver yang aneh atau memang benar ia telah di tunggu oleh saudaranya??
Entahlah aku bahkan tidak tahu. Dasar manusia yang suka-suka plin-plan!!
Sudahlah! Sekarang, lebih baik aku memilih roti yang akan ku beli agar lebih cepat pulang. Syukur saja saat datang kemari aku yang mengemudi. Agar bisa dengan cepat mengetahui lika-liku lapangan.
*****
"Hffftt.... akhirnya sampai juga" hela-ku begitu memasuki garasi mobil.
Setelah mematikan mesin mobil, dan mengunci garasi, aku segera masuk ke dalam rumah. Menyalakkan lampu, dan menyapa ruangan gelap itu dengan cahaya terang dari lampu.
Duduk di ruang tamu, yang aku dapat hanyalah suara jarum jam yang terus bergerak.
Hampa! Begitulah yang aku rasakan. Bagaimana tidak? Setiap hari jika aku sudah pulang ke rumah, yang aku temukan hanyalah ruangan kosong. Bunda terkadang pulang, namun paginya pasti langsung pergi lagi.
Jika bunda begitu, bagaimana keadaan ayah? Yahh...pria itu pulang sama saja dengan mengantarkan beban berat kepadaku. Karena biasanya, pria itu akan pulang dengan keadaan kacau balau.
Terkadang mengingau tak jelas, dengan bau alkohol yang menyengat dari tubuhnya. Terkadang aku selalu penasaran, kenapa setiap pulang keadaan ayah bak orang gila saja??
Apakah benar jika pria itu syuting film? Atau hanya pergi ke bar dan menghabiskan sepanjang hari untuk meminum minuman keras?!
Tidak heran jika bunda muak melihat sifat ayah. Bahkan aku sebagai anakpun sudah geram melihat tingkah ayah yang bak dewa langit tak berguna itu.
Sudahlah! Sekarang aku lelah. Memutuskan untuk pergi ke kamar yang berada di lantai atas, sembari menggenggam kotak roti di tangan ku.
Sesampai di kamar, aku segera menyalakkan lampu. Meletakkan roti di atas meja belajarku dan segera mengambil piyama tidur. Berjalan menuju kamar mandi, aku segera berendam air hangat di bathtub.
*****
Pukul 11.00 P.M
"Gue mau tidur, deh" aku yang sudah menguap segera beranjak pergi ke tempat tidur.
Sebelumnya aku sudah mematikan lampu blajar, dan mempersiapkan buku-buku untuk sekolah besok.
Roti yang tadi aku beli sudah habis hampir setengah di temani secangkir Americano.
Usia itu, aku segera merebahkan tubuh di atas ranjang empuk. Menyelimuti badan yang sudah dingin, kemudian mulai memejamkan mata. Aku-pun tertidur dengan lampu menyala.
Begitulah. Tiap kali tidur, aku selalu menyalakkan lampu ruangan. Aku merasa lebih nyaman jika menggunakan lampu ruangan daripada lampu tidur. Yahh... mungkin sebagian kalian akan menganggap ini sebagai lelocuon. Tapi memang begitulah keadaannya.
Namun aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Aku gelisah, karena merasakan firasat buruk.
Bangkit dari ranjang, aku samar-samar mendengar sebuah tembakan pistol.
'Pistol?' tanyaku membatin
Semakin lama, suara tembakan itu semakin jelas ku dengar. Mengintip dari jendela kamar, aku kaget tatkala melihat sebuah cahaya berwarna merah terang bagaikan laser sedang membidik sebuah bangunan yang amat familiar bagiku.
Bangunan megah yang dikenal sebagai apartemen, yang berada tak jauh dari rumahku.
'Dasar para sampah!' batin ku.
"Tapi tunggu dulu!! Jika aku bisa melihat dan mendengar suara tembakan pistol tadi, lantas kenapa orang-orang bahkan tak ada yang bergerak?" tanyaku bingung.
Saat melihat seseorang berpakaian gelap mulai membidikkan sinar ultramerah ke sebuah titik, aku rasa bahwa masalah ini jika di biarkan begitu saja pasti semakin besar dan kacau.
'Cihh...dasar para bede*ah!' umpat ku dalam hati.
"If left alone, this problem will definitely get bigger. Useless bastard!" ucapku dengan logat Prancis.
Akhirnya tanpa peduli ini pagi atau malam, dan tanpa melirik jam. Aku segera mengganti pakaian ku menjadi pakaian hitam ketat nan elastis, di baluti jaket hangat nan mahal.
Baju elastis itu di beli saat kami pergi berlibur ke Italia bersama David. Di beli karena kualitasnya bagus, dan sering kami pakai untuk melakukan hal-hal berbahaya yang berbaur tekanan fisik.
Baju itu juga sering kami pakai saat pelatihan bermain pistol. Bukan pistol hiu yang malah mengeluarkan air, namun ini benar-benar pistol berbahaya itu.
Meski di sana tidak di izinkan memegang pistol sembarangan, namun yang memberikan instruksi ini adalah Paman Alexander, si ketua marinir.
Paman Alex menekankan kemampuan fisik, bela diri terutama kepadaku dan juga David. Karena itulah pria itu secara pribadi mengajari kami bagaimana cara menggunakan pistol dengan benar.
Bukan hanya mengajari cara pemakaian nya, namun pria itu juga menekankan kepada kami agar tak menggunakannya dengan sembarangan.
Saat kami sudah lulus untuk tehnik pengunaan pistol, Paman Alex pernah menguji kami untuk ikut menjadi anggota marinir dalam uji coba yang di selenggarakan di Gunung Sahara.
Mengikuti kompetisi yang disana, aku dan David berhasil mendapat juara. Dan sebagai hadiahnya, Paman Alex menghadiahkan pistol perak kepadaku dan juga David. Dan juga kostum hitam yang lebih elastis dari sebelumnya lagi.
Harga kostum hitam yang elastis itu kurang lebih dari 1000$ Amerika. Jika di tukarkan ke nilai rupiah yakni mata uang negara Indonesia, kira-kira berapa?
Yahh...jangan heran deh. Gue Ran Sera, orang asli Paris. Jadi masih amatir buat ngitung uang rupiah, hehehehe.
Jika David dan aku melakukan pelatihan, apa kabar dengan Tessa??
Yahh..mahluk cerewet itu sering menghabiskan waktunya untuk rebahan, makan cemilan, baca novel, dan sebagainya.
Jadi jangan heran jika kepribadian kami bertiga memang beda, namun jangan cemas! Kami berusaha untuk menyesuaikan diri terhadap sifat masing-masing.
Selepas memakai kostum hitam itu,aku segera mengikat tinggi rambutku. Sama halnya dengan yang ku lakukan saat di Paris.
Bedanya hanya satu. Saat di Paris kami hanya latihan. Namun saat ini, aku akan melakukan pertarungan meski aku tidak tahu apa ink benar atau tidak.
Namun menurut akal sehatku, biar bagaimanapun orang berkostum gelap yang menembakkan laser ke bangunan itu pasti memiliki niat buruk.
Jika biasanya aku selalu bersama David, kali ini aku harus bisa membiasakan mandiri tanpa orang lain.
Usai itu, aku mengenakan topi keanggotaan marinir yang di berikan Paman Alex serta kacamata hitam yang berguna untuk menutup wajahku.
Menggunakan sepatu militer yang tentunya dari Paman Alex, aku perlahan berjalan menuju ruangan rahasia ku.
Membukanya perlahan, kemudian mengambil dengan pelan sebuah pistol perak yang biasanya akan di gunakan oleh para actor Amerika untuk syuting film genre action. Namun, pistol perak ku jauh lebih berkualitas dari pada yang digunakan oleh para actor itu.
Menyimpan pistol perak ke dalam saku khusus pistol yang berada di pinggang, aku menutup nya dengan jaket yang sudah aku kenakan. Kemudian menutup ruangan rahasia itu.
Perfect!!!!
Menurut pemandangan ku di cermin, aku sudah terlihat cool. Dan sekarang saatnya untuk melakukan aksi!!