JAUHI DIA!!

1189 Words
Bab 7| Jauhi Dia!! "Pagi Ran" Sapa Morgan begitu aku meletakkan tas berwarna hitam itu ke kursi sendiri. Aku tersenyum simpul "pagi" sahutku. Begitu aku duduk di kursi dekat Morgan, sebuah seruan tiba-tiba membuatku mendongak. "RAN!" begitulah seruan yang aku dengar. Aku yang belum duduk dengan sempurna dan tiba-tiba di suguhi oleh seruan, benar-benar membuatku ingin emosi "Hmm??" aku menaikkan sebelah alis, sembari menatap salah satu murid yang sedang berdiri di samping meja ku dengan kesal. Aku bisa melihatnya yang tiba-tiba menjadi gugup "Hmm...ehh a-anu, elo kenal ga sama Artis papan atas asal Paris? Ehh, sorry...maksud aku, model asal Paris itu?" tanya nya sembari jari nya menunjuk asal arah. "Memangnya kenapa?" tanya ku tak tertarik. "Model itu lagi nuggu di rooftop. Kebetulan aja sih, tadi pas gue lewat dari sana.Dia nyuruh gue manggil murid baru yang namanya Ran Sera" jelasnya. "Namanya siapa?" tanya ku lagi-lagi dengan raut tak bersemangat. "Kalo ga salah, Model asal Paris itu, namanya Jenny" seru nya "Jenny? Jangan-jangan, bunda ya?" gumamku yang tentunya masih bisa di dengar oleh mahluk hidup yang ada di kelas yang sedang aku tempati ini. "Bunda? Jadi, dia bunda elo ya, Ran?" tanya Morgan dan semua siswa di sana. Aku beranjak pergi, tapa menghiraukan seruan-seruan mereka yang menurutku sangat bising. Bagaikan suara nyamuk yang tak pernah diam di malam hari. **** "Ada apa, bun?" tanya ku saat melihat wanita paruh bayah yang masih cantik itu berdiri, menikmati hembusan angin tepat di atas rooftop. Seketika ia menoleh, melemparkan senyum hangat kepadaku. "Kemarilah" pintanya dan tanpa di suruh dua kalipun, aku segera bergegas mendekati nya. "Ran, bunda cuman mau bilang. Sekarang bunda bakalan pergi, jadi kira-kira kita ga akan ketemu tiga bulan lebih" beritahu nya yang sukses membuatku menghela nafas kecewa. "Bunda emangnya mau kemana?" tanyaku. Wanita itu tertawa kecil, dan mencubit pipiku gemas "pfffttt.....wajah kamu bikin bunda gemas, iho" Aku hanya diam tak memberikan ekspresi apapun, dan menunggunya untuk berbicara Wanita itu yang seakan tahu apa maksud ku segera mengubah raut wajahnya menjadi serius "Bunda mau pergi ke Paris" ucapnya. "Ngapain?" tanya ku dengan nada tak bersahabat. "Urusan penting. Lebih tepatnya ini privasi. Bunda harap kamu ga kecewa, soalnya ini benar-benar urusan penting" lanjutnya. Aku hanya mengangguk singkat, kemudian tersenyum paksa "gapapa bun. Ran juga udah biasa kok di tinggalin. Memang benar kok, pekerjaan bunda sama ayah lebih penting daripada aku, kan?! Hehe, kalo gitu Ran pamit dulu" Usai melontarkan kata-kata yang menurutku kejam secara tak langsung itu, aku segera beranjak pergi dari sana. Meninggalkan wanita itu yang menatapku dengan iba. 'Bunda cuman ga mau buat kamu kecewa. Jadi bunda berusaha buat nutupin semua ini dari kamu. Maafkan bunda Ran' Ucap Jenny membatin kemudian segera beranjak pergi. ***** Pukul 02.00 P.M Selepas pulang sekolah, aku berniat untuk mampir sebentar ke toko kue. Niat ingin sendiri, namun tak di sangka lagi-lagi akan bertemu dengan Morgan. "Elo mau kemana, Ran?" tanya nya di saat melihatku masih berada di area parkir. "Mau pergi ke toko kue. Boleh tunjukin sama gue ga, letak toko kue terbesar di sini??" tanya ku sekaligus meminta bantuannya. "Ohh... boleh-boleh aja sih. Ayo" ucapnya bersemangat. Namun seperti mengingat sesuatu, ia kembali menatapku "tapi kita naik angkot aja yah. Soalnya gue tadi jalan kaki, toh rumah gue dekat kok" ujarnya. Aku hanya diam. Menggaruk tengkuk begitu mendengar ucapannya. Aku memang sadar jika harus perlu beradaptasi dengan lingkungan disini. Pasalnya aku tak pernah naik angkot saat di Paris. Saat ke skolah aku lebih suka naik mobil atau taxi. Bahkan bisa dikatakan aku lebih suka naik sepeda atau jalan kaki saja. Suasana disana dan lingkungan nya yang benar-benar sejuk membuatku nyaman. "Ahhh...itu a-anu, gimana kalo kita naik mobil gue aja? Mumpung kan gue bawa mobil" usulku. Morgan hanya mengangguk sekilas "boleh" tanya nya sedikit lesu. "Okey, lo aja yang bawa" ucapku menyerahkan kunci mobil ke tangan Morgan. "Yoo...beres" sahut Morgan segera membuka pintu mobil di sebelah kanan. "Iho?! Setirnya di kiri, ya?? Mobil ini lo beli dari luar negeri?" cecar nya, gesit melontarkan pertanyaan. Aku mengangguk "iya" jawabku singkat. "Kalo gitu, lo aja deh yang nyetir. Gue kurang ahli nyetir di sebelah kiri, takutnya malah jatuh" pasrah pria itu dan aku hanya mengangguk. Aku segera mengambil alih kursi kemudi. Menancapkan gas kemudian melajukan mobil, menuju lokasi tujuan dengan Morgan sebagai pemandu. ***** 'Luas juga' batinku begitu memasuki gedung berwarna putih dengan logo makanan yang tertera di spanduk depan tokoh kue itu. "Ayo Ran!" ajak Morgan tanpa segan segera merangkul tangan serta menuntun ku masuk ke dalamnya. Namun sesaat aku tersadar, aku segera melepaskan tangan nya "gue bisa sendiri kok" ujarku tersenyum kikuk. Aku memasuki bangunan megah itu di dampingi Morgan. "Ada yang bisa kami bantu, kak?" tanya sang pelayan dengan ramah. Dengan kikuk aku hanya tersenyum "mau lihat-lihat dulu deh, Mrs" jawabku. "Ohh...ya! Kelihatan nya kakak orang bule ya? Ini pacar kakak ya?" tanyanya girang. Aku hanya menggeleng "bukan. Kita hanya teman kok. Masalah bule, memang iya. Gue baru datang ke sini. Baru pindah dari luar negri" cecar ku menjawabnya dengan cepat kemudian segera berlalu, berjalan menuju rak berbagai macam roti yang sudah di tata dengan begitu indah. Saat asyik memilih kue, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Seorang wanita! Yahh...dan wanita itu amat familiar bagiku. "Permisi..ehh, excuse me. Maaf?!" ucapku minta maaf dan membantunya untuk berdiri. "Tidak apa-apa. Aku juga salah kok, ga liat jalan tadi" jawabnya dan tanpa sengaja kami malah beradu tatapan. "RAN??" "BIBI VER??" Seru ku sedikit teriak, saking kagetnya. "Bibi Ver, kenapa bisa disini??" tanya ku masih kaget. "Owalahh....kirain siapa, ternyata keponakan tercantik bibi" seru wanita itu. Entah dorongan dari mana, kali ini aku segera mendekapnya "bibi Ver. Sejak kapan di sini?? Kenapa ga bilang-bilang sama, Ran? Sejak pindah ke sini aku lebih sering sendiri" isakku mengingat takdir yang memang seperti mempermainkan ku di bidang keluarga. "Bibi masih baru di sini. Sehari setelah kalian pindah ke sini, nah kami juga langsung pindah. Paman kamu punya urusan mendadak disini, jadi ngakak bibi ikut pindah ke sini buat sementara" jelas Ver melepaskan pelukanku dan kini berganti mengusap air mata yang jatuh dari netra indahku. "Jadi David dimana?" tanya ku. "David di Paris. Tapi tenang aja, bibi tau kamu sama anak bini ga bisa pisah. Jadi bibi udah maksa paman kamu buat ngurus surat pindah David ke sin ia buat sementara selama kami masih tinggal di sini" adu bibi Ver seketika membuatku tergelak. "Jadi kamu ngapain ke sini?" tanya nya. Aku hanya mengerucutkan bibir "mau beli roti. Mood aku langsung buruk pas bunda datang ke skolah tadi pagi, dan bilang hari ini bakal pergi ke Paris selama tiga bulan. Jadi yahh...aku mutusin buat beli cemilan dulu, heheh" seringai ku. 'Ternyata Ran juga ngalamin tekanan batin kayak gini, ya' batin Ver sendu. "Ohh..ya?? Gapapa, jadi cowo ini teman kamu ya?" tanya bibi Ver kali ini dengan nada sedikit menyindir. Aku mengikuti arah pandang wanita itu, "ohh...Morgan ya? Dia cuman teman aku kok bi. Ran ga tau letak toko roti terbesar di sini, jadi Ran minta bantuan dia" "Morgan, ya namanya?" tanya wanita itu memperjelas dan aku hanya mengangguk Bibi Ver segera berjalan mendekati Morgan dan seperti membisikkan sesuatu "Jauhi dia!!" bisik wanita itu terdengar tajam di kulit Morgan yang sama sekali tak tahu artinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD