BAB 6| DANGER!!!
Usai perbincangan nya dengan sang sahabat tadi, Hendon merasa sedikit lega. Namun, masih ada sesuatu yang benar-benar mengganjal pikirannya.
"Aku membuatkan kopi untukmu. Minumlah" ujar Ver-istri Hendon, sembari meletakkan kopi itu di dekat Hendon.
Hendon mendongak sejenak, kemudian tersenyum "Trimakasih sayang"
"Hmm, bukan masalah. Bagaimana dengan kasus nya? Apa Alex bersedia untuk membantu?" tanya Ver sedikit cemas.
Pria itu berdeham, sebelum menyesap kopi yang baru saja di buatkan oleh sang istri tercinta.
Meski mereka tak memiliki anak, namun, baginya. Asalkan ia dan istrinya saling mencintai dan tak pernah saling berkhianat, itu sudah cukup. Mungkin, tidak memiliki anak, sudah menjadi takdir hidupnya.
"Tenang. Alex bersedia untuk membantu kita. Aku harap, masalah ini bisa dengan cepat selesai" jawab Hendon menenangkan istrinya
"Ohh iya, kakak ipar tadi datang ke sini" beritahu Ver yang tiba-tiba teringat, akan kedatangan Jenny, sang kakak ipar.
"Sudah lama?" Hendon meletakkan kopinya, dan menatap lekat sang istri
"Belum. Masih baru, kira-kira lima menit yang lalu baru pulang" jawab Ver.
"Lima menit? Jika begitu, kenapa kami tidak ketemu di jalan?" tanya Hendon. Pasalnya, rumah nya dan juga rumah kakak besarnya yang sekarang berada di arah yang sama.
"Hmm, n'tahlah. Kata kakak ipar, dia masih ingin konser" sahut Ver.
Hendon mengangguk tanda paham "ohh... begitu. Apa yang kalian bicarakan tadi?"
Ver nampak menghela nafas sebelum memulai untuk berbicara "hanya membahas hal yang tidak berguna" alibinya.
Hendon yang paham akan maksud wanita itu mengangguk "apa dia membahas tentang kandungan mu lagi?"
Ver menatap kesal ke arah Hendon "hmm"
"Sudahlah Ver, jangan marah. Setidaknya jika kita tidak bisa memiliki anak kandung, kita masih punya David" Hendon berusaha memberikan kehangatan melalui sentuhan ke punggung wanita itu.
Maklum saja, siapa yang tidak merasa luka dalam jika dokter sang ahli kesehatan mengatakan kepada dua pasangan jika mereka takkan bisa memiliki anak kandung lagi untuk selamanya?
Ver tambah emosi menghadapai Hendon "Kalo begitu, kenapa Dav ga ikut bareng kita? Padahal aku rindu banget sama David" serunya dengan nada sedikit meninggi.
"David? Bentar lagi David bakal tamat SMA. Nanggung kalo dia ikut pindah juga. Masih repot buat ngurusin surat pindah nya. Lebih baik pas dia udah tamat, dia menetap disana buat kerja. Lagian kita cuman bentar kok di Indo" jelas Hendon berusaha memberikan sedikit kecerahan.
Ver melotot tak terima "kalo kamu benar-benar sayang sama aku dan David, kenapa malah bertindak sendiri, ha?"
"Ver, tolong deh buat pengertian dikit" bujuk Hendon namun Ver hanya mengabaikan nya.
Pria itu menghela nafas panjang "huftt....oke deh, aku bakal ngurus surat pindah David buat sementara, selagi kita tinggal di sini" akhirnya pria itu hanya bisa mengalah.
Ver bagaikan anak kecil yang di berikan hadiah segera mendekap erat sang suami dengan penuh rasa bahagia "makasih, Hen" ujarnya dan Hendon hanya mengangguk tersenyum, membalas dekapan sang istri.
*****
PARIS SCHOOL
"Woi Tes! Bisa serius dikit ga, sih?? Gue udah lama nyusun nya. Lahh elo?? Malah hancurin" geram David memijat dahinya yang serasa pusing.
Tessa yang melihatnya hanya kembali tergelak tak jelas "Lahh...abisnya lo lucu banget, sumpah! Sini selfie dulu! Ntar bakal gue kirim sama Ran"
Gadis berselera humor itu tanpa segan-segan, segera mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi camera.
Cekrekk...
Cekrekk...
Beberapa foto berhasil di ambil oleh gadis usil itu. Melihat hasilnya dan kembali tertawa "hahahaha....haha...su-suer, pe-perut gue jadi sakit" gelaknya nyaris seperti orang gila.
David yang sudah jengah menghadapi tingkah usil Tessa hanya menimpuk jidat gadis itu "Paok!! Dasar ga jelas! Perut lo sakit, ya? Lebih sakit lagi kalo ga punya perut, hehe" seringai licik David mulai di tunjukkan.
Tessa segera mengubah mimik wajahnya ke mode lugu "emang gue ada nanya?"
David hanya meliriknya malas kemudian kembali berkutat dengan laptop yang ada di depannya "Tes, udah deh! Kalo di bilangin mau jangan nantang terus. Bentar lagi kita bakal tamat, terus kalo skripsi tugas kelompok kita ga bagus emang bisa sukses?!"
"Meski Ran ga disini, yahh...setidaknya kita harus tetap fokus. Besok bakal di kumpul dan gue masih ada kerjaan di rumah. Jadi, pengertian dikit deh!" sambung pria tampan itu.
Tessa mengangguk "Hmm...oke-okey!" sahutnya. Kembali serius dan segera berkutat di depan laptopnya.
*****
Keesokannya.....,
"Hen, bangun!" seru Ver mengguncang lembut bahu Hendon.
Pria itu hanya menjawabnya dengan deheman "hmmm"
"Udah jam 07.00 iho. Dan aku mau ke mall pagi ini" jelas Ver.
Hendon hanya mengangguk dan segera bangkit "Mall?? Pagi ini?"
Ver mengangguk "iya iho, honey"
"Kalo gitu gapapa kan sendiri? Soalnya pagi ini aku ada kerjaan yang perlu di selesaikan" tanya Hendon meminta pendapat sang istri.
Ver tersenyum simpul "gapapa kok, honey. Aku juga pengen sendiri kali ini" tukasnya
"Lagipula kamu kan ada urusan mendadak dan pastinya penting. Aku ga mau ganggu. Udah deh! Cepat mandi, aku udah nyiapin pakaian kamu" titah Ver menunjukkan kemeja yang sudah ia tata sedemikian rupa.
Hendon merasa tersentuh "makasih, sayang" pria itu mengelus dan mencium puncak kepala sang isteri dan segera masuk ke kamar mandi.
*****
Pagi yang indah bagi semua orang, namun tidak bagi seseorang.
Seseorang itu nampak melamun di dekat jendelanya. Jidatnya menunjukkan jika ia memiliki beban pikiran yang amat berat
Saat tengah melamun, ponselnya segera berdering. Di lihatnya layar benda pipih itu kemudian mengangkatnya.
"Morning" sapa-nya.
"Morning too" Pihak Agensi film dari Paris.
"It's with Jenny, huh?" tanya nya lagi.
"Yeah...this is me, Jenny. What's the matter, director??" tanya Jenny menyahutinya
"Ohww?? Kita berbincang make bahasa Indonesia aja, deh. Aku masih mau latih pengucapan nya, heheh" seru sang sutradara.
"Boleh" jawab Jenny singkat.
Meski pelafalan sang sutradara masih hancur, namun Jenny bisa memahami nya "Nahh...akue cumen mo bilang, kalo film barunya, degera syutiing. Jadi, kamu harus cepat balik ke Paris" beritahu nya.
"Baik. Hari ini aku bakal balik, udah deh. Aku tutup dulu telponnya, aku sedang sibuk" Jenny segera menutup telponnya dan kembali melamun di dekat jendela.
*****
Selepas mengantar sang istri ke pusat perbelanjaan yang berada di kota pusat, Hendon segera pergi ke perusahaan H.L yakni singkatan dari Hendon Louis
Naik lift menuju kantor CEO, pria itu seolah memburu waktu. Meski ada yang menyapanya, kali ini ia hanya membalasnya dengan senyuman singkat.
Setelah sampai, Hendon segera masuk ke ruangannya. Duduk di kursi kebesaran, pria itu segera membuka laptop dan memeriksa rekaman CCTV.
Tokk...tokk... tokk
Terdengar suara ketukan dari luar, dan Hendon segera menyuruhnya untuk masuk "masuk" titahnya dari dalam
"Pagi tuan" sopa Jo dan salah satu sekretaris wanita yang berdiri di sampingnya dengan berkas-berkas melekat sempurna di tangannya.
"Pagi tuan besar" sapa sang sekretaris dengan hormat
"Pagi" sahut Hendon.
"Lapor tuan besar. Pagi ini kami sudah mendapat sedikit titik cerah dari kasus pembunuhan yang terjadi di perusahaan H.L " lapor sang sekretaris segera membuka map berwarna coklat yang tadinya ia pegang.
"Lebih baik melaporkannya sambil duduk" tukas Hendon.
Jo dan sang sekretaris itu mengangguk. Setelah duduk di dua kursi yang berada di depan Hendon, mereka mulai melapor.
"Sesuai penyelidikan, sang pelaku menghancurkan CCTV di ruang utama lebih dulu. Menonaktifkan keamanan yang berada di CCTV resepsionis dan masuk lewat ruang rahasia. Pelaku mencuri seragam staf. Kemudian menyamar menjadi cleaning servis dan staf lainnya.
Dibantu oleh bawahan Marinir Alexander, kami berhasil mendapatkan jejak pembunuhan. Pelaku sepertinya memecahkan kaca di lantai tujuh, dimana tempat terjadinya kecelakaan. Bisa dipastikan jika pelaku turun menggunakan tali, namun jejak pelariannya tak bisa dipastikan" jelas sang sekretaris dengan begitu terperinci.
"Dan lagi, kasus ini sangat berbahaya tuan. Buktinya, pagi ini kami mendapatkan bom yang di letakkan di lobi perusahaan. Jika saja kami terlambat lima menit, mungkin lobi akan terbakar habis bahkan perusahaan juga pasti kacau balau" imbuh Jo.
Hendon terkekeh pelan. Auranya benar-benar memancarkan kesinisan, ketajaman, dan kejahatan "Bom?? Ternyata benar. Selama ini kita terlalu santai, sementara ada bahaya yang siap menghujam kita kapan saja. Masalah ini benar-benar sebuah DANGER!"