BAB 5| INGIN TAHU
"Pacar? David?" Morgan yang mengingat perkataan salah satu cewek pas di Vidcall tadi, yakni perkataan Tessa, sedikit merasa kurang nyaman.
"Ternyata dia sudah punya pacar, ya?" gumam nya lagi sembari menyenderkan kepala di kursi yang sedang di dudukinya serta memejamkan mata.
"Ahhh...." helanya.
"Lagipula sih, itu wajar. Gue aja baru ketemu sama dia. Mungkin pacarnya juga pasti orang disana" Morgan membuka ponselnya, seolah mencari-cari sesuatu.
"But, wait. Kok gue cukup familiar sama wajah David tadi, ya?" batinnya.
*****
"Ada apa?" tanya seseorang dengan suara baritone nya, yang baru saja keluar dari dalam rumah bernuansa Eropa itu.
"Tidak ada. Apa mengunjungi mu juga butuh alasan?" kesal Hendon menerobos masuk, namun segera di tahan oleh tuan rumah.
"Siapa yang menyuruhmu bisa, masuk? Sembarangan saja!" decak sang tuan rumah berkacak pinggang.
Hendon menunjukkan wajah sangar nya "ada yang ingin ku bicarakan pada mu" ujarnya nyaris tak bersahabat.
"Baik jika begitu. Segera masuk, atau kita akan terekam oleh paparazi bajing*n itu" titah sang tuan rumah, yang tak lain dari Alexander atau dipanggil dengan nama karibnya, Alex. Ketua Marinir Amerika Serikat, sekaligus sepupu Hendon.
****
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Alex memberikan secangkir Americano ke hadapan Hendon.
Pria ketua FBI itu berdeham "apa kau tidak bisa meletakkan nya di meja? Jelas-jelas meja ada di depan kita berdua"
Tanpa berkata apa-apa, Alex segera meletakkan cangkir Americano itu ke meja, yang menjadi pembatas antaranya dengan Hendon.
"Cepat katakan! Aku masih mempunyai pekerjaan lain" tegas Alex menyesap kopinya dan menatap sang sepupu, dengan lekat.
"Aku kira kau punya waktu senggang untuk membantuku!" seru Hendon.
Alex mengerutkan keningnya "apa kau butuh bantuan ku?"
Hendon mengangguk "benar. Aku berharap kau bisa membantu ku untuk menyelidiki kasus yang terjadi di perusahaan H.L. Bukan hanya di sana saja, bahkan pelaku nya sudah mulai berani membuat jejak-jejak kejahatan di cabang markas anggota FBI"
"Hari ini, jika tidak salah ada korban yang mati. Jumlah korban kurang lebih dari sepuluh. Jadi, jika tidak ada yang bisa melacak pelakunya masalah ini akan semakin besar.
Terlebih lagi, aku sangat kagum dengan kemampuan pelakunya. Dia benar-benar membuat kejahatan tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Mungkin, dia benar-benar sudah paham, dan pintar dalam menguasai trik ini" jelas Hendon panjang-lebar.
Alex terkekeh pelan "Sekarang kau datang mengadu kepada ku. Sementara, waktu itu, kau telah menolak saranku untuk menyewa seorang detektif yang mampu menyelesaikan kasus-kasus ini. Ini bukan masalah besar atau kecilnya kejahatan, Hen.
Tapi, ini sudah termasuk perbuatan kriminal yang melampaui batas. Aku sebagai Ketua dari pasukan marinir, sangat menentang hal seperti ini. Pembunuhan yang dilakukan secara bertahap dan memakan banyak korban, bisa saja membuat semua orang yang ada di perusahaan mu meninggal semua"
Hendon berpikir sejenak "mungkin saranmu memang benar. Tapi, jika aku harus menyewa seorang detektif yang berharga jutaan sampai dengan miliaran, mungkin aku takkan cukup. Kau juga harus paham, jika kondisi ku bukan seperti keluarga bangsawan. Aku memiliki banyak pengeluaran" elak Hendon.
"Terserah! Yang penting kau harus memikirkan hakiki menurut universal para staf atau pegawai yang berkerja di perusahaan mu. Biar bagaimanapun, mereka juga memiliki hak untuk bekerja dan hidup dengan nyaman maupun aman. Jika kau tidak punya banyak duit, apa salahnya untuk meminjam kepada bank atau orang lain? Terlebih kau bisa meminjam kepada kakak besar, Jenny bahkan kepadaku!" saran Alex.
"Maaf. Tapi bagian meminjam dan berhutang bukanlah tipeku" tolak Hendon dengan halus.
"Meminjam dan berhutang ke hal yang baik dan berguna, apa salahnya?"
"Apa kau tidak ingat? Aku sudah mengenal kakak besar (Jenny) cukup lama. Dia bukanlah tipe orang jahat, boros, atau yang suka membocorkan keburukan orang, dengan kata lain dia sangat penyanyang dan perasaan terutama kepada mu. Mungkin kau lebih mengenal sifatnya, karena kau adik kandungnya.
Sifatmu tidak beda jauh dengannya. Jadi, kenapa kau tidak meminjam uang nya saja? Atau kepadaku? Atau meminjam ke bank? Apa kau lupa, bahwa saat kau membangun perusahaan mu, karena kekurangan dana. Kau meminjam uang ku, bukan? Asalkan di gunakan ke hal yang berguna dan termasuk hal baik, itu bukanlah masalah!" tutur Alex begitu panjang dan mulai bernostalgia.
"Jadi, apa anggota FBI sudah mulai bergerak?" tanya Alex.
"Belum" jawab Hendon.
Alex menggeleng "itu salah satu kelalaian mu. Jika sudah begini, kenapa tidak menyuruh agar semua anggota keamanan bergerak?" nada bicaranya pun sudah mulai meninggi.
"Maaf. Aku tahu ini adalah kesalahan ku, tapi, apa kau pikir selama ini aku tidak sibuk? Aku tidak pernah punya waktu sengg-" kalimat Hendon terpotong, tak lain karena Alex kembali angkat bicara.
"Kau tidak perlu minta maaf kepadaku. Seharusnya, tiap ada korban, kau harus minta maaf dan bersujud kepada mayatnya menandakan bahwa kau salah" Alex mulai tidak bisa mengontrol emosinya.
"Tidak punya waktu katamu? Aku juga sibuk, kau tahu itu! Tapi, di balik semua itu, itulah artinya kenapa kita punya. Asisten, orang yang dipercaya, bawahan. Itu semua ada untuk membantu kita! Jangan berpikir dan bersifat, seolah kaulah orang yang tersibuk di dunia ini, Hen" kesal Alex meluapkan seluruh emosinya.
Hendon bungkam, menjadi pendengar setia dari Alex.
"Well, jika kau butuh bantuan ku. Itu bukan masalah! Aku akan mengirim bawahan anggota marinir terbaik ku. Jangan lupa untuk menyewa detektif yang benar-benar mampu. Serta, jangan pernah menyepelekan orang-orang yang di sekitarmu. Kurasa, kasus ini tidak jauh dari perbuatan para mafia. Namun, sebelum melapor ke pihak yang berkewajiban, kita harus melangkah lebih jauh. Untuk mengorek informasi dan bisa mengambil bukti"
"Satu lagi! Jika bergerak, jangan pernah bersifat gegabah. Tetaplah tenang, namun menghasilkan buah yang memuaskan. Jika pelaku itu adalah mafia, jangan lupa dengan motto mereka. 'Yang kuat memakan yang lemah'
Jadi, jika kau terlambat untuk bergerak jangan salahkan jika kau akan dibunuh. Serta jika kau bersikap gegabah, jangan lupa juga, bahwa mereka sudah menguasai taktik itu dan salam sekejap, kau akan di mangsa oleh monster" pesan Alex.
Hendon tersenyum simpul, menatap sepupunya itu "trimakasih Lex. Aku sungguh berterimakasih kepada mu. Aku akan melakukan yang terbaik dan mempertimbangkan semua saran-saran mu" serunya memeluk Alex dengan begitu erat.
"Hmm...masalah tadi, sepertinya aku agak marah ya? Jangan di bawa kehati ya, Hen. Aku sungguh tak bisa mengontrol emosi. Aku terbawa perasaan dan juga merasa tak terima di masalah yang kau hadapi" Alex merasa bersalah.
"Itu bukan masalah. Kita sepupu, atau lebih tepatnya sahabat. Selama kita bisa saling memaafkan dan saling perasaan, itu bukanlah kesalahan yang perlu dibesar-besarkan" sahut Hendon di iringi senyuman, serta memeluk Alex semakin erat.
Cukup lama mereka saling berpelukan, akhirnya Hendon melepaskannya "sudahlah. Aku pergi dulu, Lex. Mungkin istri ku sedang sendirian. Aku tidak mau mengecewakan nya" seru Hendon.
"Tentu. Jangan pernah membuat nya kecewa, apalagi dengan kondisi yang seperti itu. Pergilah" Alex mengakhiri perbincangan nya dengan Hendon, dengan senyum dan inti yang benar-benar bermanfaat.