Tak Terduga (1)

814 Words
Bu Euis Aku belum bisa memejamkan mata padahal sudah pukul sepuluh malam. Tiba-tiba aku teringat amplop pemberian istri Pak Bayu. Saat kubuka, alangkah kagetnya, amplop tersebut berisi cek yang isinya menurutku jumlahnya sangat besar, 25 juta rupiah. Aku kaget. Tak menyangka. Masihkah ada orang baik seperti mereka? Awalnya aku menyangka ucapan istri dokter untuk jajan Aqila mungkin nominalnya seratus atau dua ratus ribu. Aku segera menghampiri Icha. Saat keluar kulihat dia masih di ruangan, duduk di kursi dan memelototi laptop. Jemarinya bergerak memencet huruf-huruf di keyboard. Kulihat dia sedang mengedit CV-nya. Mungkin untuk lamaran. Seringkali aku lihat rajin sekali dia apply lamaran meskipun belum ada lembaga atau perusahaan yang menerimanya. Tapi aku salut dengan kesabaran dan kerja kerasnya. "Ehmm.. Cha, maaf Mama nggak apa-apa ganggu bentar ya?" ujarku sambil mengelus rambutnya yang tergerai sepanjang punggungnya. "Boleh Ma, nggak apa-apa kok," ucap dia sambil tetap mengetik dan kedua matanya fokus memandangi layar laptop. Tak lama kemudian dia memalingkan muka ke arahku, "Ada Apa Ma? Mama kok tumben belum tidur?" "Ah Mama rasanya belum ngantuk, sayang," balasku, "Icha mama punya kabar mengejutkan." "Apa itu, Ma?" Icha sangat antusias. "Lihat ini," aku menunjukkan selembar cek dengan wajah berbinar. Icha mengambil cek itu dan melihat dengan jeli. "Beneran ini, Ma? Dapat dari mana?" "Amplop yang dikasih istri Pak Bayu, isinya satu lembar cek ini." "Wawww, alhamdulillah, Ma. Mereka kok baik banget sih. Atau jangan-jangan Mama pinjam uang ke mereka ya?" "Nggak pernah sama sekali. Tapi Mama juga beneran kaget lho. Alhamdulillah ini rezeki kita semua." "Betul sekali, ini kali ya Ma yang salah satu bentuk rezeki nomplok, rezeki yang kita dapatkan dari arah yang tak pernah disangka-sangka." "Iya mama pernah dengar itu sekilas dari seorang penceramah yang mama dengar dari speaker. Tapi emang bener ya, Cha?" "Bener apanya maksud Mama?" "Ya rezeki nomplok, rezeki anak saleh, atau yang sejenisnya lah ... " Icha mencoba mengingat-ingat sebuah ayat tentang rezeki dari arah yang tidak terduga. "Seingat Icha, ada ayat membahas tentang rezeki nomplok. Ada di Surah Ath-Thalaq ayat 2 dan 3." Icha membacakan kedua ayat tersebut. Lalu dia bacakan pula terjemahannya, ".. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." "Berarti kita sudah termasuk hamba yang diberikan jalan sama Allah, Cha?" "Hmmm. Banget Ma. Sampai hari ini kita masih bertahan, itu semua karena Dia yang telah menguatkan kita. Dia yang telah memberikan nafas, bahkan nyawa pada kita." "Tapi Mama merasa belum termasuk orang yang bertakwa dan bertawakkal. Kalau Icha mungkin sudah masuk pada level itu." "Aku belum masuk level itu, Ma. Masih sangat jauh. Kita harus belajar mencapai tingkatan itu. Barangkali Allah memberikan dengan memberikan rezeki tak terduga ini benar-benar memberikan jalan pada kita agar kita selalu bertakwa dan bertawakal kepada-Nya. Ah mulai sekarang aku mau lanjutin lagi kebiasaan dulu yang pernah aku lakukan tapi terhenti." "Emang apa, Teh? Mama akui kamu paling rajin ibadah." "Aku pernah shaum Daud, Ma. Aku pengen mulai menunaikannya lagi. Icha pikir mumpung Icha masih single, belum punya suami dan anak." "Yang satu hari puasa, satu hari berbuka itu kan? Aduuh The Icha, mama khawatir kamu selalu padat, orangnya nggak bisa diam, nanti kamu sakit lagi." "Mohon doanya aja, Ma. Tidak ada ceritanya orang yang puasa itu sakit, yang ada justru malah sehat." "Iya juga sih, mama ingat, pernah baca penjelasan seorang pakar, Elson M. Haas. Menurut dia, puasa adalah bagian yang hilang dalam diet dunia Barat. Puasa dapat mengobati berbagai macam penyakit seperti diabetes, hipertensi, influenza, diare, penyakit jantung koroner, insomnia, epilepsi, kanker, sakit mental, dan masih banyak lagi." Putriku mengangguk menyimak penuturanku. "Emang kalau sudah menikah susah gimana sih, Teh Icha?" "Nah itu, kalau puasa Daud udah nikah, harus minta izin dulu sama suami. Kalau suami ngizinin alhamdulillah, kalau enggak kan nggak bisa maksain diri. Kalau maksa puasa tanpa izin suami malah jadi berdosa. Terus juga tantangannya nambah kalau udah hamil sama punya anak. Boro-boro puasa sunnah, yang wajib aja kalau lagi hamil dan menyusuri belum tentu tamat. Icha suka merhatiin mama sendiri sama senior-senior Icha di kampus yang harus meng-qadha puasanya." Terasa ada setetes embun yang meresap dalam kalbuku yang saat ini seperti lahan kering yang terbelah. Aku masih membutuhkan kesejukan. Aku baru sadar bahwa putriku memiliki spiritualitas lebih baik daripada ibunya sendiri. Sepertinya aku harus banyak belajar darinya. Aku juga salut dengan jilbab dan kerudungnya yang tetap terjaga. Dia tak pernah menanggalkannya kecuali di rumah. Saat keluar rumah dia tak pernah menanggalkan kaos kakinya. "Kaki juga termasuk aurat juga lho, Ma," ucapannya itu masih terngiang saat aku mencoba sesekali nggak perlu pake kaos kaki. Aku menyesal dulu pernah melarangnya. Sebagai ibunya, aku belum bisa sekonsisten dia. Kalau ke halaman rumah aku masih sering membuka kerudungku. Kerudung yang rapi kupakai hanya saat berangkat kerja. * Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD