“Makan dulu yuk. Sekalian ucapan makasih nih.”
Baskara tiba-tiba memberhentikan motornya di sebuah restoran ayam yang cukup terkenal. Kanya tentu saja kaget karena pria itu tiba-tiba mengajaknya makan, bukannya pulang. Belum juga beberapa jam Kanya sarapan bersama pria itu, ia sudah akan makan-makan lagi bersamanya?
“Aku masih kenyang nih,” Kanya beralasan.
“Nggak papa. Kamu bisa pesen jus atau apalah,” jawab Baskara menaruh helm. “Jangan ditolak dong. Ini aku beneran mau bertrima kasih sama kamu.”
Dengan helaan nafas yang pendek, gadis itu mengangguk. Langkah kecilnya berada di samping Baskara yang dengan sengaja memelankan jalan agar Kanya tak terseok seperti di Rumah sakit.
Restaurant ini sebenarnya adalah milik kakak Baskara, Randu. Ia hapal dengan seluk beluk makanannya, sudut-sudutnya, dan sebagian besar para pegawai, karena Baskara lumayan ada andil dalam mengkonsep dan membangun tempat ini.
“Selamat siang kak, meja untuk berapa orang kak?” tanya seorang waitress yang menghampiri.
“Dua mbak.”
“Mari ikut saya.” Mengikuti dari belakang, Kanya memperhatikan restaurant besar ini. Desainnya merupakan perpaduan antara tradisional dan modern. Ini bisa terlihat dari bentuk joglo restaurant yang dipadukan dengan warna-warna hitam dan putih.
Setelah duduk, pelayan itu menyerahkan menu dan menunggu hingga keduanya memesan sesuatu. Kanya memesan teh hangat dan mendoan, sementara Baskara dengan ayam saus Bangkok dan air putih. Setelah sang pelayan pergi, keduanya berdiaman hingga akhirnya pria itu memecah kesunyian,
“Kanya, tadi kamu ngomong apa sama Renata?”
Kanya terdiam, pikirannya kembali mengingat bagaimana ia dan Renata bercakap soal ‘kecelakaan’ Renata.
Setengah jam yang lalu…
“Halo Nya, maaf ya aku harus misahin kamu dulu dari Bas.” Renata berujar lembut. “Tapi seriusan, aku pengen ngobrol berdua sama kamu kalau nggak keberatan.”
Kanya menatap gadis di depannya. Bahkan dengan perban menutupi kepala dan sebelah mata, Renata tetap terlihat cantik. Terhipnotis, Kanya mengangguk dan duduk ketika Renata menyuruhnya untuk mendekat ke samping ranjang.
“Kamu mau tanya apa?” tanya Kanya. Selama Kanya bisa menjawab, apapun pertanyaan Renata, ia akan berusaha memberikan penjelasan yang terbaik.
“Um… kamu tahu nggak penyebab kecelakaanku?”
Kanya terdiam, lalu mengangguk pelan. Ia sebenarnya tak enak karena mengetahui detail bagaimana Renata sengaja menjatuhkan diri dari mobil yang sedang melaju. Kanya takut kalau Renata marah karena ia tahu hal nekat yang Renata lakukan, padahal mereka tak dekat.
Renata terlihat menghembuskan nafas panjang. “Iya sih ya… nggak mungkin Bas ngajak kamu ke sini tanpa ngasih tau kejadian itu.”
“Maaf ya Ren,” Kanya merasa harus meminta maaf karena melihat wajah gadis di hadapannya jadi sedih. Ia manunduk sementara jarinya memainkan ujung baju yang lama kelamaan menjadi kusut.
“Nggak papa,” ujar Renata lembut. “Tapi tolong jangan bocorin kejadian ini ya.”
Secepat kilat, Kanya mengangguk dengan yakin. “Pasti!”
“Satu lagi Nya, aku mau nanya dong kenapa tiba-tiba kamu dan Baskara tiba-tiba jadi deket? Kalian ke sini barengan ya?”
Kanya terdiam cukup lama dan terbingung harus menjelaskan seperti apa. Pada akhirnya, dengan kata yang ia susun seadanya di otak, mulutnya bersuara.
“Um… aku certain kronologisnya aja ya.”
Renata terlihat agak bingung tapi tetap mengangguk dan mendengarkan. “Sebenernya, gara-gara Baskara cerita soal kamu. Terus ya gitu, kita temenan.” Kanya mengingat-ingat apa yang ingin dirinya katakan. “Seminggu ke depan, termasuk hari ini Baskara juga sarapan di tempatku, terus tadi kan selesai makannya, aku ke kampus. Abis ngampus tiba-tiba Baskara ngajak njenguk soalnya…”
“Soalnya kenapa?”
“Baskara bilang kamu nangis. Terus dia ngajak aku siapa tahu aku bisa nenangin.” Kanya merunduk ketika melihat Renata yang kaget.
Tiba-tiba suara tawa yang kecil keluar dari mulut Renata. Lama-lama tawa itu menjadi besar hingga Kanya merasa gadis di depannya seperti kesurupan. Ia agak takut, namun kemudian Renata menghentikan tawanya perlahan.
“Maaf ya, lucu banget.” Renata menghapus air mata yang keluar dari ujung-ujung manik. “Sebenernya aku nggak nangis, mungkin Baskara bohong sama kamu. Mungkin dia emang pengen ngajak kamu main berdua.”
Seperti tersambar petir, Kanya terkaget dengan penjelasan Renata. Ia ingin tak percaya mengingat Baskara seperti orang kesetanan saat tadi menyetir motor menuju rumah sakit. Tapi bagaimana mungkin gadis cantik bak malaikat di hadapannya berbohong? Kanya tak dapat memutuskan mana yang bisa ia percayai. Namun… jika perkataan Renata benar, apa mungkin Baskara ingin… mendekatinya? Seperti kata Lintang dan Sendy dahulu, “menjadikan Kanya target”?
“Maaf ya Nya, meskipun Baskara sahabatku, tapi aku tetep pengen kamu hati-hati.” Ujar Renata menaruh tangan di atas tangan Kanya. “Aku juga nggak tahu maksud Baskara apa, tapi aku dengar kamu udah ada pacar kan? Pokoknya hati-hati aja ya. Takutnya kamu dijadikan ‘target’ sama Baskara.”
Kanya menatap mata Renata. Mata indah itu seolah tak menyiratkan kebohongan apapun. Jadi Kanya mengangguk. Siapapun yang berbohong, ia akan tetap berhati-hati.
“Makasih sarannya ya, Ren.”
“Sama-sama Kanya. kita kan teman.”
Hati Kanya membuncah, seorang terkenal dan cantik seperti Renata menganggap Kanya adalah temannya.
Kanya mengangguk dengan antusias, tak menyadari kalau gadis di depannya sekilas menyunggingkan senyum sinis.
***
“Rena tanya soal aku tahu nggak soal kenapa dia kecelakaan. Terus dia minta jangan dikasih tahu siapa-siapa.”
Baskara mengangguk mengerti dan kemudian terdiam. Kanyapun sama, banyak pikiran berkecamuk dalam otaknya yang tak bisa dikeluarkan. Ia ingin bertanya pada Baskara perihal ‘Renata menangis’? Tapi rasanya itu tak dibutuhkan karena lihatlah, Baskara mengajaknya makan sekarang. Bukankah ini memang terlihat seperti pendekatan?
Gadis itu memutuskan mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi berada pada mode getar. Matanya membelak ketika menyadri ada lima puluh lebih missed calls dari Banyu, Lintang, dan Sendy. Ia membuka salah satu pesan Banyu.
…
Kanya, kamu di mana?
Aku udah sampe kampus nih
Banyu
…
Gadis itu panik, tanpa pamit, buru-buru ia keluar dan menelpon Banyu.
“Please Banyu, angkat.”