Hanya senyum yang bisa keluar dari wajah gadis itu. Jika melihat lebih detail dan memperhatikan dengan seksama, orang-orang akan melihat bahwa mata Renata tak memancarkan sinar dan hanya ada kegelapan di sana. Tentu Gadis itu harus tersenyum, memang apa lagi yang ia bisa lakukan? Marah-marah dan kembali membuat hubungannya dengan Baskara renggang? Atau mengusir Kanya dari hadapannya dan membuat Baskara mengira dirinya gila? Jika hubungannya dengan Baskara kembali tak enak, Bisa-bisa pujaannya ini malah makin dekat dengan gadis yang saat ini berada di depan Renata.
Itu tak boleh terjadi karena…
Belum seminggu lepas sejak Renata masuk rumah sakit, Lihatlah, Baskara kini sudah begitu dekat dengan orang yang menyebabkan kan hatinya terbakar. Pria itu bahkan berani membawa Kanya ke hadapan wajah Renata, menggandeng tangan pula. Sakit hati pastilah ia rasakan, namun Renata telah sadar sepenuhnya ia tak bisa melampiaskan kesalnya pada Baskara, pria itu tak peka dan pun… Renata malu mengakui kalau dirinya cemburu.
Yang benar saja? Gadis tercantik di kampus mengaku cemburu dengan Kanya yang pas-pasan dan jelas tak sebanding? Benar kata Mutia, kalau ia benar-benar membenci kedekatan Baskara dan Kanya, ia harusnya tak melakukan tindakan drastis yang menyebabkan Baskara jauh darinya. Ia harusnya fokus menyingkirkan pesaing, bukan malah membuat diri sendiri sakit.
Rasanya ia ingin mencakar wajah Kanya, membuat gadis itu tak lagi disukai siapapun, termasuk Baskara. Tapi karena saran Mutia yang menyebut kalau ia harus melakukan ‘penyingkiran’ dengan elegan, Renata tak akan melakukannya. Pun kini ia tak punya tenaga.
“Kanya ya?” Suara lembut otomatis keluar dari bibir Renata. masih tetap tersenyum ia memperhatikan gerak-gerik Kanya yang mengangguk kecil dan juga tersenyum padanya.
Dari ujung mata Renata, ia bisa melihat Iris dan Mutia dengan ekspresi khawatir bercampur kesal dan marah, berdiri kaku di pojok ruangan. Keduanya terlihat takut jikalau laki-laki Renata melakukan hal tak terduga seperti sebelumnya. Tentu dibanding Mutia, Iris sudah terlihat siap ingin menerjang kedua orang yang berdiri di samping ranjang Renata, terutama maniknya yang seperti laser itu ditujukan kepada Kanya.
“Eh, iya Ren. Kamu masih ingat aku rupanya.”
“Iyalah, akukan nggak amnesia.” Renata tertawa kecil sementara batinnya terus mengutuk gadis yang barusan ikut tertawa bersamanya.
“Ini Ren, aku bawa buah.” Kanya melangkah menaruh buah di nakas samping kasur. “Dari aku dan Baskara.”
Jantung Renata mau meledak saking marahnya mendengar kata-kata itu. Alih-alih mengamuk, senyum Renata semakin melebar, di dalamnya, gigi Renata saling berderak karena rahang Renata menegang.
Renata mengangguk, sementara itu Kanya mengambil duduk di sebelah Baskara. Pemandangan itu begitu dibenci Renata, ia terus menyumpahi Kanya dalam hati hingga tak fokus pada ocehan Baskara yang sudah bicara panjang lebar serta kedua sahabat yang ke luar ruangan sejak tadi.
“Ren, kamu ndengerin nggak sih?” tanya Baskara. Pria itu memandangi Renata menyelidik karena sejak tadi gadis itu malah memandangi sofa yang keduanya duduki.
“Hah?” kaget, Renata menatap balik Baskara. “Maaf aku agak kurang sehat. Aku masih agak pusing makanya nggak bisa fokus.”
“Aku berisik banget ya?”
Renata menatap pria yang ia cintai dengan lembut. “Enggak kok, aku cuma butuh istirahat sebentar.”
“Kalau gitu aku pulang sekarang ya,” ujar Baskara. Pria itu mengelus rambut Renata dan menyisirnya dengan jari. “Besok aku datang lagi.”
Renata mengangguk.
“Bas, aku mau bicara sama Kanya sebentar boleh?”
Kedua manusia yang sekiranya akan beranjak itu saling bertatap, dengan segera Baskara menganggukkan kepala setelah Kanya memberi sinyal, ‘aku akan bicara sama Renata’.
“Oke, aku tunggu di ruang sebelah ya.”
“Jangan, kamu tunggu di luar. Ini kan pembicaraan cewek.” Renata berujar sambil mengerucutkan bibir.
“Jangan lama-lama.”
Dengan helaan nafas panjang, Baskara mengangguk dan melangkah meninggalkan ruangan.
“Kanya, duduk sini dong,” masih dengan senyuman Renata menghela gadis itu menuju sisinya.
Tanpa prasangka Kanya duduk ranjang samping Renata.
***
“Tadi ngomong apa aja Ren?” tanya Iris. Ia dan Mutia kembali ke kamar setelah melihat kepergian Baskara dan Kanya bersisian menuju luar bangunan. Sedari tadi, mereka duduk di bangku dekat sana, berbincang sembari sesekali melirik pintu ruangan Renata dirawat. Keduanya keheranan saat melihat Baskara keluar sendirian tanpa gadis yang tadinya pria itu bawa, Kanya.
“Kalian tau nggak kalimat ini, ‘keep your friends close and enemies closer’?”
“Hah?” Iris terheran sedangkan Mutia mengangguk.
“Ada dua jenis orang yang kamu perlu tahu dan mengerti kalau kamu ingin menang dalam peperangan.” Mata Renata menerawang. “Yang mana teman dan mana musuh. Dari pada teman, kamu harus lebih tahu musuhmu supaya bisa tahu gerak-geriknya dan berencana satu langkah di depan."
Kali ini ketiganya diam sejenak, mencerna kalimat barusan perlahan.
"Jadi?" Mutia memecah kesunyian. Ia tak ingin sebenarnya menanyakan rencana Renata, tapi bagaimanapun juga dia penasaran. Mutia tahu gadis yang saat ini terbaring di depannya bisa bertindak kotor untuk mendapatkan yang ia mau. Sejak SMA Renata sudah begitu, Mutia sendiri tak tahu kenapa ia masih terus berteman dengan Rena hingga saat ini. Mungkin ia dan Renata berbagi cerita sedih yang sama? Cinta bertepuk sebelah tangan? Keduanya dekat setelah membuka diri dengan cerita itu, semakin dekat, hingga Mutia lupa kalau beberapa yang Renata lakukan begitu busuk. Mutia selalu tutup mata, telinga, dan mulut tiap-tiap kali Renata berbuat curang, berbuat semena-mena, dan menggunakan kekuasaannya dengan cara salah.
"Jadi apa?" Rena menatap Mutia sambil tersenyum sinis. "Aku cuma membuat musuh dekat. Semakin dekat, semakin baik. Dia nggak akan tahu kapan pisaunya akan ditancapkan."
Melihat temannya tersenyum bengis, Mutia kaku sambil bergidik ngeri. Iris yang masih setengah jalan memproses tak menyadari betapa menyeramkannya ekspresi Renata saat ini.
Diam-diam Mutia bersyukur tak lagi satu sekolah dengan Renata, ia tak tega membayang hal-hal yang akan diterima Kanya nantinya. Ia tak ingin lagi melihat Renata melakukan hal yang sama seperti masa SMA mereka.
Bertahun-tahun lalu…
Empat orang gadis terlihat sedang duduk di pojok kantin sekolah menengah atas prestisius dan favorit di kota tersebut. Salah satunya menutupi wajah dan tergugu berusaha menahan suara. Gadis itu dikerubungi tiga orang, Renata, Mutia, dan Iris. Dua orang terakhir lebih banyak diam dan membiarkan Renata vokal bersuara.
“Terus kamu mau gimana?” tanya Renata. Wajah Renata terlihat mengiba, ia mengelus terus gadis yang membenamkan wajahnya pada dua telapak tangan tersebut.
“Ak-ku… aku nggak tahu,” gadis yang menangis tadi mengangkat kepala, matanya terlihat bengkak dan basah. Ia mengelus perutnya perlahan, mencari tanda ada kehidupan di sana. “Kalau sekolah tahu, aku harus bagaimana?”
Ia lagi-lagi menyembunyikan wajahnya ke dalam, berharap semua masalah ini tak pernah terjadi. Sementara itu Renata membelai-belai punggungnya.
“Say, kalau kamu mau…” suara Renata terdengar ragu mengatakannya. “Aku tahu tempat buat aborsi.”
Tiga pasang mata di sana menatap Renata tak percaya. Gadis yang menangis itu mendongak, ingin marah, namun sejenak kemudian ia berkata,
“Di mana? Aku… mau.”
Hampir saja mata Mutia lepas karena satu-satuya orang baik dan waras di antara mereka berempat mengatakan akan mengaborsi jabang bayi yang bahkan belum genap satu bulan. Ia sudah akan mencegah jika Iris tidak langsung mencubit tangannya. Pertanda kalau Iris ingin Mutia diam saja dan tak ikut campur masalah ini.
Tentu dua sahabat ini tahu betul apa yang sedang terjadi. Ini bukan kondisi hamil di luar nikah biasa, ini kondisi hamil di luar nikah yang direncanakan. Tentu yang merencanakan adalah gadis dengan rambut panjang dan berjepit mutiara yang saat ini duduk memandang senang pada gadis yang menangis itu. Ya. Siapa lagi kalau bukan Renata?
Sebulan yang lalu, Renata membuat temannya sendiri, yang saat ini menelungkupkan wajah di sampingnya, berhubungan intim dengan orang yang sama sekali ia tak sukai. Renata membuat gadis itu kehilangan keperawanannya dan kini, hasil dari percintaan satu malam itu adalah jabang bayi yang tak diinginkan. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena Baskara. Gadis yang saat ini mengeluarkan air mata itu dan juga Baskara, saling suka, saling sayang, dan jatuh cinta.
Saat mendengar rencana itu, tentu Mutia tak setuju. Gadis itu adalah teman satu-satunya –digeng ini, yang betulan baik dan masih waras.
Renata? Lihatlah kelakuan gilanya yang saat ini memakan korban. Iris? Meskipun Mutia paling dekat dengan Iris, namun Iris sama sekali tak menolak dan mencegah rencana Renata. Dia sama saja buruknya. Mutia? Dirinya sendiri memang menolak, tapi kemudian menyetujui karena tak tahan Renata bersedih hati pujaannya memilih gadis lain. Mutia pernah merasakan hal yang kurang lebih sama, cinta bertepuk sebelah tangan. Bedanya adalah Mutia menyerah, sedangkan Renata tutup kuping dengan semua itu dan membuat fantasinya sendiri. Ilusi kalau Baskara betulan menyukainya, sayang, cinta pada Renata. Padahal siapapun yang kenal dekat Baskara akan tahu kalau pria itu hanya sekedar menggoda Renata karena Baskara menganggap Renata sudah seperti adik sendiri. Mutia tetap saja merasa bahwa dirinya buruk, tak ada bedanya. Bahkan mungkin lebih buruk dari Renata itu sendiri. Ia adalah ‘enabler’, seseorang yang membolehkan tindakan buruk orang lain. Dan meskipun ia tahu apa yang dilakukan Renata salah, ia tetap diam. Mulutnya membisu karena rasa kasihan pada Renata.
Mutia merasa pikirannya di atas awan, ia merasa bersalah hingga tak menyadari kalau Renata dan gadis itu bersepakat untuk bersama mendatangi dukun beranak di pedalaman Jawa Tengah. Saat menyadari kesepakatan itu, Mutia telah terlambat mencegah.
Dia selalu seperti itu. Jadi orang kesiangan yang tak bisa berbuat apa-apa. Ya, hanya ‘orang’ biasa, bukan pahlawan. Bukankah pahlawan adalah orang baik? Mutia bukan orang baik karena…
Masalahnya bukan hanya itu.
Renata belum puas. Ia berencana menjebak gadis tadi dengan menggunakan polisi. Renata tidak berencana membantu. Renata, Mutia, dan Iris akan meninggalkan tempat saat nanti polisi datang dan menggrebek.
Mutia tahu ini salah, tapi lagi… lagi… terus dan terus… ia diam.
Mutia hanya berharap kalau ia bisa berani. Ia bisa berhenti terus menjadi patung. Ia bisa lepas dari Renata dan lingkaran setannya.
‘Suatu hati nanti, suatu hari nanti…’