Hari ini tak ada kuliah. Setelah kembali dari rumah Kanya, Baskara merasa bosan di rumah. Ia sudah memainkan PS, sudah mengerjakan tugas, bahkan ia merapihkan kamar yang telah rapi saking tak ada kerjaan. Kata bosan ia gumamkan beberapa kali. Pria itu menatap langit-langit sambil tengadah, ‘Ngapain lagi ya enaknya?’
Baskara membuka ponselnya, berharap ada tontonan menyenangkan dari aplikasi yang ia pasang. Tapi moodnya malah memburuk karena tak ada yang mampu menyenangkan. Kamar dan ponsel yang ia sukai seolah memerangkap tubuh, membuatnya seperti pesakitan yang tak dapat keluar. Ia kesepian, terlebih setelah berbincang seru dengan Kanya. Ia memang lebih suka di kamar dan tidur, tapi ia tak suka sendirian. Kalau saja ada Renata…
“Renata!” ingat pria itu tiba-tiba. Dua hari ke belakang, Baskara memang jarang mengecek keadaan sahabat sekaligus ‘adiknya’ tersebut. Meski begitu, sekali-dua kali ia melihat apakah pesan whatsappnya telah dibaca. Sampai siang ini, ia lupa kalau ada eksistensi Renata yang ia harusnya perhatikan.
Segera Baskara membuka perpesanan. Chat beberapa hari yang lalu telah ia kirimkan sudah tercentang biru, beberapa detik setelahnya Baskara melihat gadis itu online. ‘Apa Renata sudah bisa dijenguk?’ batin Baskara.
Tanpa pikir panjang pria itu menelpon sahabat yang beberapa hari terakhir tak berkabar. Seluruh tubuhnya seperti menegang karena bersemangat mengetahui Renata mungkin bisa ditemui. Lebih baik lagi jika gadis itu mau membicarakan dengan kepala dingin soal kejadian ‘lompat dari mobil’. Tapi itu akan Baskara lakukan nanti jika Renata dalam kondisi prima.
Panggilan pertama tak diangkat Renata, padahal status online masih tersemat di bawah nama kontak. Dua kali, tiga kali, hingga lima kali, sahabatnya juga masih belum menjawab. Semakin sering Baskara menelpon, semakin redup pula semangatnya.
'Ini yang terakhir,' batin Baskara. Pria itu menatap layar dan memencet ikon telepon hijau.
"Halo."
Wajah Baskara cerah kembali. Pria itu memegang erat ponselnya tak mau lepas. Suara yang sudah lama ia tak akrabi itu terdengar serak.
"Halo Ren, gimana kabar kamu?"
Ada sunyi cukup panjang dari seberang, membuat Baskara menunggu dan mengrinyit dalam diam.
"Baik."
Baskara menyadari suara itu makin mengecil, namun ia tak tahu mengapa. Mungkin karena Renata masih sakit? Ya pasti itu. Mana mungkin wanita yang biasanya menyapa dengan suara keras tersebut itu mengerdilkan tone di depannya.
"Ren, kamu udah bisa dijenguk belum? Aku kangen nih." ujar lelaki tersebut. Lagi-lagi sepi di ujung sana. Apa Renata masih tak sehat hingga bicaranya menjadi lama begini?
"Boleh." Suara tersebut akhirnya menjawab, tapi sedetik kemudian, Baskara mendengar isak tangis dari ujung sambungan. Lelaki itu kebingungan dan tak tahu ada apa sehingga berulang-ulang, ia memanggil nama Renata yang masih tersedu-sedu di sana.
“Rena, kamu nggak papa kan? Kalau sakit banget, panggil dokter. Aku segera ke sana, oke?” ujar Baskara khawatir. Sembari tetap menempelkan telepon pada telinga, pria itu memakai jaket jeans kesayangan, mengambil kunci motor, dan membuka pintu kamar. Mulutnya terus-terusan menanyakan keadaan Renata dan berusaha membuat tangisannya mereda.
“Bas…” sambil tersedu gadis itu berujar lemah. “Maaf ya…”
Suara ‘tit’ panjang terdengar dari ponsel Baskara. Panggilan dimatikan. Pria itu semakin panik. Dalam kondisinya yang kurang stabil, ia menghubungi Kanya. Entah mengapa jarinya otomatis memencet kontak gadis itu. Mungkin karena ia tak bisa menenangkan Renata, dengan meminta bantuan Kanya, ia akan bisa membuat Renata buka suara atau apapun yang membuat sahabatnya tak lagi bersedih. ‘Mereka kan sama-sama perempuan?’
Ia segera mengetik pesan.
…
Nya, mau temenin njenguk Renata?
…
Setelah pesan terkirim, ia baru ingat kalau Kanya merespon chat dengan lama. Ia berniat untuk menelpon langsung, namun tiba-tiba ponselnya bergetar.
…
Boleh, kapan?
…
Pria itu tak menyangka kalau Kanya akan langsung membalas, pun setuju. Segera, Baskara memberikan pesan.
…
Sekarang. Aku jemput ya!
…
Dengan sekali pencet, Baskara menelpon Kanya.
“Halo Bas?”
“Kanya di mana?” tanpa ba-bi-bu, Baskara bertanya langsung.
“Di Kampus. Kamu mau jemput sekarang banget? Aku lagi nungguin Lintang sama Sendy nih.”
“Bilang aja ke mereka kamu balik sama aku.” Setengah memaksa, Baskara bicara. “Renata tadi nangis, aku nggak tahu kenapa dia sedih. Aku bingung ngadepinnya. Kamu bisa bantu aku kan?”
Gadis yang sedang ia ajak bicara diam sejenak, lalu mengiyakan.
“Aku bilang Lintang sama Sendy dulu ya.”
“Oke, aku ke kampus sepuluh menit lagi. Kamu tunggu di depan gerbang aja.” Tanpa salam, lelaki itu langsung menutup panggilan setelah mendekte. Baskara tahu bahwa Kanya mungkin agak terpaksa dan bisa saja sebal karena harus mengikuti kemauannya, tapi mau bagaimana lagi? Kalau Renata kembali menangis dan ia tak bisa menenangkan, ia akan panik seperti tadi. Sejak dahulu ia tak bisa menangani gadis menangis. Baskara takut akan membuat suasana makin runyam. Satu-satunya solusi yang bisa ia pikirkan hanyalah membawa Kanya bersamanya.
Segera ia menuju garasi, mengambil motor merah dan mengendarainya ke jalanan.
***
Keduanya kini telah sampai di Rumah Sakit. Setelah menjemput Kanya yang cemberut karena harus berpanasan menunggu Baskara di depan gerbang, gadis itu duduk di belakang sambil menggerutu ke Baskara soal tempat duduk motornya yang terlalu ke atas. Sejenak karena keluhan itu, Baskara bisa tersenyum bahkan tertawa kecil. Keduanya sempat berhenti membeli buah yang diwadahi keranjang di dekat kampus.
Rumah sakit ini berbeda dengan rumah sakit tempat pertama kali Baskara membawa Renata. Ini karen kedua orang tua Renata memutuskan memindahkan putrid mereka ke tempat yang lebih besar dan lengkap fasilitasnya.
Dengan cepat Baskara berjalan disusul Kanya. beberapa kali pria itu menyadari kalau langkah besarnya membuat gadis di belakang harus setengah berlari untuk sekedar bersisian, oleh karena itu Baskara memelankan jalan. Meskipun tak sabar ingin bertemu sahabatnya, Baskara dengan sabar berjalan di sebelah Kanya.
“Sus, ruangan Melati 103 di mana ya?” tanya Baskara pada suster yang sedang berjaga di resepsionis.
“Oh, itu di gedung B mas. Nanti belok kanan, masuk ke gedung baru, itu gedung B. Bangsal melati ada di lantai satu pojok kiri setelah resepsionis. Nanti langsung cari aja ruangan 103.”
“Terima kasih sus.” Baskara langsung tancap gas dan lagi-lagi lupa kalau dirinya meninggalkan Kanya di belakang terseok-seok karena kaki kecilnya tak mampu menyamai.
Sesampainya di gedung B, Baskara menanyai suster di resepsionis lagi untuk memastikan. Dengan segera, setelah informasi diperoleh, pria itu setengah berlari menyusur Bangsal Melati dan mencari kamar Renata.
Kamar itu tidak jauh, karena hanya berjarak sepuluh meter dari depan. Dengan antisipasi tertahan, Baskara mengetuk pintu. Sebuah suara, “Masuk,” yang ia kenal membuat tangannya otomatis meneken knop pintu.
Ruangan di depannya cukup besar, mungkin sebesar kamar miliknya. Kamar itu dibagi dua dengan sebuah partisi berupa rak besar berisi TV, vas bunga, dan kulkas. Di depannya, sofa empuk berjejer serupa ruang tamu. Pria itu masuk lebih dalam ke ruangan sebelah tempat Renata berada.
Renata tidak terbaring, ia duduk dan sedang bercakap dengan kedua temannya –tentu wanita itu teman selain Baskara. Iris duduk di ranjang sebelah dan menatap Baskara terkejut. Sedangkan Mutia, yang duduk di kursi yang juga ia tempatkan di sebelah ranjang menatap Baskara dengan sama kagetnya.
Baskara tak begitu mengenal keduanya, pria itu hanya tahu kalau Renata bersahabat dengan Iris dan Mutia. Mereka memang satu SMA dengan Baskara, Iris dan Renata masuk ke universitas dan jurusan yang sama dengan Baskara. Sedangkan Mutia memilih belajar di universitas negeri terbaik di kota sebelah.
“Aku ganggu ya?”
“Nggak kok!” Secara otomatis ketiga sahabat itu menjawab bersamaan. Mereka saling bertatapan dan tertawa bersama.
“Tuh Ren, aku dah bilang kan dia bakal ke sini beneran,” ujar Mutia. Gadis itu tertawa karena sebelumnya ia sudah bertaruh dengan Iris mengenai apakah Baskara akan datang atau tidak.
Mutia dan Iris memang sudah di sini sejak tadi, mereka sudah tahu semuanya, tentu dari presepektif Renata. Respon Mutia tentu saja marah-marah, ia kesal karena: satu, Renata begitu nekat hanya karena cemburu. Dua, jelas Kanya tak akan sebanding dengan Renata yang sudah jadi teman dan ‘significant other’nya Baskara lebih dari enam tahun. Dan terakhir, Renata bisa mati! Membayangkan Renata dengan kondisi tiga hari lalu, membuat Mutia begidik ngeri. Hampir seluruh permukaan tubuh yang bisa Mutia lihat tertutup oleh perban dan baju. Hanya rambut dan mata sebelah kiri terpejam yang bisa Mutia lihat.
Tentu Mutia dan Iris jugalah yang membuat Renata pada akhirnya mau mengangkat telepon dari Baskara. Setengah memaksa, Mutia menyodorkan ponsel yang bergetar hingga akhirnya Renata mau menjawab meskipun sambil menangis.
“Yah, aku kalah deh,” seru iris dengan kesal. Renata terkikik kecil.
Kondisi Renata jauh membaik dari kemarin dan Baskara menyadari sekali. Meskipun banyak perban yang bersarang ditubuhnya, namun di bagian kaki –yang Baskara kira patah, tak dipenuhi benda itu. Tentu saja pria itu senang.
“Gimana kabar kamu?”
“Baik.” Jawab Renata singkat. Mutia dan Iris memberi tempat keduanya dengan berpindah meskipun mereka hanya membawa badan ke sofa sebelah. Untunglah Mutia dan Iris tetap ada di ruang besar ini, karena suasana akan jadi canggung tanpa keberadaan keduanya.
“Dokter bilang apa soal keadaan kamu?” tanya Baskara lagi.
“Um… tangan dan telapakku yang ini patah dan retak.” Renata mengangkat sedikit tangan kanannya “Sendi lututku lepas. Sisanya kegores sama luka luar doang.”
“Jangan bilang doang, aku khawatir tau. Aku pikir kamu hampir mati,” ujar Baskara dengan sedih.
“Babas marah ya?” cicit gadis itu.
“Engga kok. Mana mungkin aku bisa marah kalo kamu kayak gini.” Baskara cemberut. “Makanya cepet sembuh dong biar bisa aku marahin.” Renata dan Baskara tertawa kecil. Keduanya bercakap-cakap cukup lama, tak menyadari kalau ada keributan di ruang sebelah.
“Bas,” panggil Mutia. “Kamu bawa temen ya?”
Segera, Baskara tersadar. Ia buru-buru melangkah menuju luar ruangan, namun ia menemukan Kanya yang berdiri di samping Iris yang menatapnya tak suka. Ia memohon maaf ke Kanya dengan perlahan, Kanya yang agak kesal pun akhirnya mengangguk.
Baskara menarik tangan Kanya, ingin membawa ke depan Renata sampai akhirnya Iris menghentikan.
“Mau ngapain?” gadis itu melotot. Raut tidak suka tentu saja terpampang jelas di wajah. Mutia terdiam bersandar di samping lemari, namun sebenarnya dirinya juga memblokade jalan agar Baskara tak lebih jauh membawa gadis penyebab cemburu Renata lebih jauh ke dalam.
“Njenguk Renata dong Ris, kamu kenapa sih?” tanya Baskara heran. Ia tak tahu kenapa gadis ini mencegahnya membawa Kanya ke depan Renata.
“Renata nggak boleh dijenguk orang luar.” Ujar Iris setengah marah. Gadis itu menatap Kanya tajam, menekan kata ‘orang luar’ agar Kanya sadar diri dan mundur perlahan. Kanya menyadari hal itu dan ingin pergi dari ruangan bertensi tinggi ini jika saja Baskara tak memegang pergelangannya kuat.
“Dia kan temen kuliah Ris, dia bahkan bawain oleh-oleh buat Rena. Lagian dia juga kenal!” nada Baskara naik satu oktaf.
“Bukan berarti dia temen deket kan?” Iris juga ikut menaikkan suara. “Oleh-olehnya aku bawain, kalian cepet pulang aja deh.”
Iris dan Baskara bertatapan sengit, Kanya mendapati dirinya sendiri berada dalam posisi yang tak mengenakkan. Sementara itu Mutia memandang ketiganya penuh perhitungan, ia mencari cara supaya Baskara mau membawa gadis itu keluar ruangan. Pokoknya jangan sampai Renata lihat!
“Siapa Mut?” suara Renata sayup terdengar memanggil. Iris dan Mutia yang membeku sepersekian detik karena pertanyaan tersebut kecolongan saat Baskara dengan kecepatan kilat membawa Kanya masuk ke ruang sebelah.
“Ren, ada yang mau jenguk kamu.” Dengan senang, Baskara berujar.
Kanya dengan kikuk tersenyum dan memeluk erat parcel tentengan yang ia bawa.
Raut Renata tak tertebak, ia menatap Baskara dan Kanya bergantian. Tak lama, senyumnya terpancar.
“Kanya ya?”