Si Tukang Gombal

1518 Words
“Jadi… ini yang namanya earl grey? Harum ya?” “Iya, ini enak banget kalo diminum pagi-pagi.” “Kalo pagi minum teh, sore kamu juga minum?” “Biasanya sih tetep. Enak banget sore tuh minum teh, pas banget suasananya.” Kedua manusia itu menyesap minuman beraroma bergamot dengan tenang. Mereka duduk bersebelahan dengan kursi yang berbeda di teras, menatap jalanan raya yang lengang di hadapan. “Rumah kamu dipinggir jalan tapi engga berisik ya?” Kanya mengangguk dengan mantap. Setelah sarapan dan ditinggal bunda, Baskara mengajaknya bicara dan menanyainya banyak hal, terutama soal teh. Dengan senang hati Kanya menjawab. Seiring berjalannya obrolan, kekhawatiran akan canggungnya suasana yang diduga Kanya ternyata tak terjadi. Mereka kini duduk sambil masing-masing memegang cangkir yang mengepul. “Aku jadi tahu kenapa ayah kamu suka banget minum teh di teras sini. Suasananya enak, sejuk, dan kamu bisa ngelihat keramaian dengan tenang.” Ujar Baskara. Mata laki-laki itu tak lepas dari jalanan, beberapa motor lalu lalang dengan lambat, lainnya mengebut dengan knalpot yang memekak telinga. Meski begitu, secara keseluruhan, teras ini sangat nyaman untuk diakrabi. “Biasanya ayah dan bunda duduk di sini,” Kanya merujuk pada kursi kayu yang keduanya duduki. “Aku biasanya duduk dipangkuan ayah.” Gadis itu juga tak mengalihkan pandangan dari depan. Ia sangat menyukai waktu minum teh. Stress dan kecemasannya menghilang, ia bisa melemaskan otot dan sendi kaku dengan bersmdar dan menaruh kaki kurusnya ke atas meja, seperti yang sekarang gadis itu lakukan. “Kamu suka kangen ayahmu nggak Nya kalau lagi begini?” “Kadang sih.” Jawab Kanya agak sedih. “Kamu sama ayahmu gimana?” Baskara terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Hubungan kami nggak terlalu akrab.” Kanya tak menanyai lagi. Baginya jawaban tadi adalah batas di mana ia tak boleh mengorek-orek. Jika Baskara akan bercerita, ia akan mendengarkan. Jika tidak, maka Kanya akan diam. “Kamu tahu nggak kenapa aku nggak suka –bahkan bisa kubilang benci makan sendiri?” Kanya menggeleng sambil menengok ke arah Baskara yang masih menerawang ke depan. “Dulu semua keluargaku selalu makan bareng. Tapi kemudian ayahku sibuk. Ibuku juga gitu. Kakak-kakakku sudah pindah dan menikah. Cuma aku di rumah.” Baskara menatap dalam Kanya. Mereka berpandangan. Kanya seolah terhipnotis oleh manik coklat bening tersebut, warnanya sama seperti warna teh. Sama seperti kesukaannya. Di dalamnya Kanya bisa merasakan kesedihan terpancar dari manik pria di depannya. “Rasanya kayak hampa. Tiap kali aku makan sendiri, aku makin kesepian. Jadi aku selalu cari tempat ramai, makan bareng orang lain meskipun mereka nggak satu meja. Seenggaknya aku nggak ngerasa sepi.” “Ditemenin Renata juga?” tambah Kanya. “Kadang. Biasanya kalau mamang bubur depan kompleks pulkam, kayak sekarang, aku sarapan di rumah dia. Tapi kamu tahu kan kondisinya…” pria itu menghadap depan lagi. Kanya tak melanjutkkan. Ia tahu belum ada kemajuan dalam perbaikan hubungan teman antara Renata dan Baskara. Ia tak mau menambah kesedihan teman duduknya jika menyambung obrolan. Entah berapa lama keduanya berada di sana, menghabiskan waktu dalam diam sampai sesapan terakhir. Tiba-tiba saja, Baskara menoleh dan menatap wajah mulus Kanya dari samping, “Banyu pernah duduk di sini?” “Hah?” Kanya menoleh, mendapati Baskara yang sedang memandang intens ke arahnya. “Kanya?” Tersadar, gadis itu menegakkan tubuh dan berdeham salah tingkah. Agak malu, ia menjawab dengan suara pelan, “Pernah.” Baskara menganggukkan kepala. “Sama kayak gini juga? Minum teh?” “Enggak sih. Banyu nggak pernah masuk ke dalam dan lihat koleksi tehku. Jadi aku nggak perlu terpaksa nyuguhin ke dia.” Kanya tergelak dengan candaannya sendiri. sementara Baskara pura-pura cemberut dan merajuk. “Jadi kamu terpaksa nih ngasih aku teh?”  Keduanya tergelak karena suara Baskara yang dibuat-buat. “Tapi serius, kamu nggak pernah nyuguhin teh ke Banyu? Kayak gini?” Baskara menanyai lagi setelah tenang. “Pernah dong, tapi nggak ‘kayak gini’. Dia minumnya cepet, Banyu nggak suka nikmatin waktu santai begini. Mungkin buat dia sia-sia.” Kanya menghela nafas dan mengedikkan bahu. “Tapi Banyu pernah kok duduk minum teh di sini.” Koreksi Kanya barusan seperti usaha membela yang gagal. Baskara ikut menghela nafas, entah mengapa pria itu ikut sebal dengan teman lamanya itu. “Banyu dari dulu ternyata enggak berubah ya?” gumam Baskara. Kanya tentu saja mendengar, tapi gadis itu tak ingin menanggapi hal tersebut. Meskipun penasaran soal karakter Banyu di masa sekolah, tapi Kanya beranggapan akan lebih seru jika Banyu bercerita sendiri dari sudut pandangnya. “Kalau temen kamu yang lain?” tanya Baskara lagi. “Lintang mungkin lebih kayak Banyu. Cara dia nyantai tuh dengan engga santai.” Jawab Kanya sambil tersenyum. “Lintang suka banget sibuk. Pokoknya badan harus gerak, otak harus mikir. Kadang aku iri soalnya dia keren banget.” Baskara menganggukkan kepala. Sejak beberapa hari yang lalu berbincang –mungkin lebih tepat disebut bertengkar, dengan Lintang, Baskara masih merasa sebal ketika gadis rambut pendek itu disebut-sebut. Kalau mengingat wajah Lintang, Baskara jadi ingin balas dendam. “Kalau Sendy… dia nggak terlalu suka teh. Tapi dia suka banget sama kopi. Dia suka banget keliling coffe shop, nyobain menu latte gitu.” “Oh… terus?” “Apanya yang terus?” keduanya berpandangan heran. “Kamu nggak punya temen selain mereka berdua?” Kanya menggeleng perlahan. Ia tersenyum masam. Gadis itu memang dikenal banyak orang, tentu sebagai teman Lintang dan Sendy. Kanya sejak dulu memang sulit berkawan dengan orang lain. Tapi sekalinya mengenal pribadi lain dan berteman, ia akan mencurahkan segala afeksinya dan menjaga loyalitas. Sayang, beberapa orang malah memanfaatkan kebaikan hati gadis itu. “Jadi… aku yang pertama nih?” “Eh?” Kanya agak malu sendiri mendengar kata tersebut. Memang Baskaralah yang pertama kali mau menikmati sesi minum teh bersama. Pria itu terlihat betulan penasaran dan tertarik dengan hobi Kanya. Ia bahkan tak keberatan duduk menghabiskan waktu cukup lama memandangi halaman dan jalanan tanpa bicara. Baskara memang mengeluarkan senyum menggodanya, tapi batinnya menjerit membodoh-bodohi diri sendiri. mungkin karena kebiasaannya menggoda wanita, makanya ia dengan lancar memberikan mengeluarkan gombalan. “Um… iya mungkin? Tapi jangan ge-er.” Ujar Kanya sambil tertawa kecil. Baskara ikut tersenyum lega. Untung Kanya tidak menganggap tadi pertanyaan serius, bisa-bisa hancur pertemanan mereka. Selain Kanya, menurut Baskara hanya Renata yang menganggap gombalan yang ia lontarkan tidak serius. Gadis itu bahkan selalu menimpali godaannya dengan godaan lain. Ah, ia jadi rindu Renata. “Kalau kamu biasanya ngapain pas luang?” Kanya balik bertanya. “Aku?” Baskara berpikir sebentar. “Aku biasanya di rumah sih, tiduran di kamar. Kadang kalo Renata mampir, dia main PS juga di kamar sambil aku tidur.” “Eh, Renata ke kamar?” tanya Kanya kaget. “Iya. Kita emang deket banget. Aku kan dah bilang kalau dia kayak adikku. Jadi ya dia sering banget ke kamar nemenin tidur.” Jawab Baskara disambut anggukan Kanya. “Kamu…” “Ya?” Kanya penasaran dengan dengan pertanyaan selanjutnya. “Mau nemenin aku tidur juga kah di kamar?” Pukulan cukup keras mendarat dibahu Baskara. Wajah Kanya memerah karena tak menyangka kalimat tersebut. “Dasar gombal!” Baskara tertawa keras. Sesi teh pagi itu berakhir setelah pukul sebelas. Baskara pulang dengan raut puas. Sedangkan Kanya membereskan rumah dan bersiap ke kampus satu jam lagi. *** Gimana sarapan hari ini? Banyu … Setelah kelas, Kanya terlihat duduk di sebuah bangku. Matanya menatap layar kecil di tangan dan memandangi lama-lama. ‘ Tumben banget nanyain,’ pikir Kanya. Pukul satu siang ini Kanya duduk di bawah naungan pohon sehingga panas yang menyengat tak sampai menyentuh kulit. Meski begitu gerah menjalari tubuh Kanya. Gadis itu tentu saja menunggu dua sahabatnya yang masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Lintang sedang mengunjungi akademik, mengurus sertifikat keikut sertaannya dalam lomba entah apa itu. Sedangkan Sendy masih asyik berbincang dengan beberapa orang di kelas, membicarakan entah gossip apalagi. Tentu saja Kanya bosan. Sudah hampir setengah jam ia menunggu dua manusia yang tak kunjung selesai beracara. Ia ingin pulang, menemui kasurnya yang empuk dan menyetel kipas angin yang akan membuatnya pergi ke pulau kapuk perlahan. Tentu angannya itu tak bisa diwujudkan secepatnya. Kedua sahabat sontoloyonya tak memperlihatkan batang hidung. Kanya biasanya akan meminta diantar Banyu. Meskipun rumah mereka berjauhan, setidaknya rumah Kanya dan Banyu searah. Sayang sekali pacarnya itu hanya ada kelas pagi. Lelaki tersebut pulang ketika Kanya baru datang ke kampus.  Dengan segera ia membalas pesan tersebut, … Ternyata berjalan lancarrrr. Baskara ternyata down to earth ya orangnya. Oiya… kapan kamu mau mampir ke rumah buat sarapan juga? Oiya lagi, kamu mau nggak jemput aku? Aku pengen pulang tapi Lintang sama Sendy masih ngurus banyak hal. Pwisss :3 … Menunggu balasan, Kanya meminum sisa teh botol yang ia beli di kantin. Selang beberapa detik, ponsel di tangan Kanya bergetar. Buru-buru gadis itu membukanya. … Nya, mau temenin njenguk Renata? … Ah, ternyata dari Baskara. Baru saja beberapa jam mereka bertemu, Baskara lagi-Baskara lagi, bosan. Mata Kanya menyiratkan rasa kecewa, tapi pesan itu segera dibalasnya. … Boleh, kapan? … Belum sempat aplikasi Kanya tutup, centang biru dan balasan segera terlihat. … Sekarang. Aku jemput ya!             … Gadis itu melotot dan terkaget. Tak lama, ponselnya bordering. Pria yang baru saja mengejutkannya menelpon. Segera, Kanya menjawab.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD