Hari Pertama

1529 Words
Deru motor keras terdengar memekak telinga, dan kini suara itu berada di halaman Kanya. Gadis itu sempat mengira kalau pencipta suara barusan adalah motor blombongan anak-anak SMP dekat sini yang terlambat ke sekolah. Perkiraannya salah karena kini sumbernya sedang tegak berdiri di depan rumah, tentu dinaiki sang pemilik yang Kanya kenal betul. Baskara. Pria itu melepas helm, menampilkan wajah yang meskipun terlihat tegang seperti habis dikejar setan, tetap tak menghilangkan kerupawanannya. Baskara terlihat gagah dengan jaket kulit yang kemudian ia sampirkan pada motor besar merah yang mewah. Kanya bisa tahu kalau kendara itu sangat mahal karena lihat saja body yang kokoh, ban mengkilap dan besar-besar, serta logo yang meskipun tak dicetak seperti gaban, namun mencolok. ‘Ducati,’ baca Kanya dalam hati. Ia bergidik membayangkan kekayaan keluarga Baskara yang bisa membeli barang semahal itu. Tapi dirinya lebih bergemetar lagi melihat pria yang diantisipasi kedatangannya, kini berdiri beberapa meter di hadapan. Ia sudah menduga kalau dadanya akan kembali berdetak cepat, tapi ia tak menduga secepat ini. Jantungnya selayak orang yang pergi lari sprint, berdetak hingga rasanya ingin meledak. Tapi organ itu tidak meledak, hanya terus berpacu kuat-kuat, sampai nafas Kanya tertahan dan sesak. Kenapa reaksi tubuhnya begini, Kanya juga tidak tahu, tapi gadis itu ingin kabur. “Itu Baskara?” tanya bunda mengagetkan dari belakang. Kanya membalik badan, menemukan wanita yang ia sayangi menatapi pria yang masih berdiri di halaman sambil mengecek ponsel. “HP kamu bunyi terus tuh.” Dagu bunda menunjuk pada kotak kecil yang tergeletak di atas meja makan. ‘Astaga, bahkan bunyi sekeras itu gak bisa aku dengar,’ batin gadis itu. Betapa fokusnya Kanya pada pikirannya sendiri, Ia sampai lupa kalau orang yang ia pikirkan sejak tadi menghubungi beberapa kali supaya bisa masuk ke dalam rumah. “Nya, aku dah di depan,” ujar Baskara sebelum Kanya sempat mengucapkan salam saat mengangkat panggilan ketiga dari pria tersebut. “Oke.” Kanya langsung menutup telepon. Kanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat beberapa kali. Gadis itu berharap bahwa tubuhnya, terutama di bagian d**a, bisa diajak bekerja sama untuk bersikap normal. Memang cara tersebut bisa mengurangi kegugupan dan perasaan khawatir lainnya meskipun cuma secuil. Mengumpulkan segenap keberanian, Gadis itu melangkah ke pintu depan. Ia menatap kenop lama-lama lalu memegangnya dengan erat seolah jika ia melepas maka runtuhlah seluruh tekadnya. Dengan sekali dorongan, pintu itu terbuka lebar, menampilkan pemandangan tanah coklat dengan beberapa pohon dan tanaman hias, serta dua makhluk yang biasanya tak ada, Baskara dan motornya. Meskipun hanya tahu bahwa Baskara tampan dan sejak tadi ia sudah memuji penampilan pria itu, namun semakin dekat, hanya bisa menyadari detail wajah orang yang membuat jantungnya tak biasa. Rambut Baskara yang agak tersibak tertiup angin, alisnya yang tebal, rahang keras, dan hidung bangirnya menjadi daya tarik kuat bagi siapa saja yang melihat. Berhadapan langsung dengan Baskara membuat apa yang ia kumpulkan sejak tadi menguap dengan segera. Kakinya lemas namun tetap berada pada tempatnya, tegak. Kanya tak bisa melangkah lebih jauh lagi, badannya kaku serupa papan pintu yang tak bisa bergerak sendiri. Sementara itu pupilnya membesar seraya semakin mendekatnya Baskara. Pria itu dengan langkah tegap berjalan pasti lurus ke arah Kanya. “Nya, sorry banget terlambat. Aku bangun kesiangan. Maaf ya." Kata-kata Baskara barusan menyadarkan Kanya dari sihir apapun yang membelenggu tubuh tadi. Gadis itu kini menatap dalam pada manik Baskara. Ia bisa melihat campuran kekawatiran dan rasa sesal. 'Pasti karena terlambat datang sesuai pada jam yang disepakati bersama,' pikir Kanya. Kanya mengangguk dan berkata dengan serak, "Nggak papa. Masuk yuk." Terlihat tenang Kanya berjalan menuntun Baskara masuk, namun sebenarnya gadis itu itu berusaha menahan diri yang sejak tadi ingin kabur dan lari setelah kaki dan tangan berhasil digerakkan. Gadis itu bahkan kaget sendiri karena suaranya keluar –meskipun serak, padahal ia sudah yakin membisu di hadapan Baskara Baskara langsung diarahkan ke dapur sekaligus ruang makan di mana Kanya dan ibunya biasa bersantap. Lelaki itu memandang ke seluruh penjuru, memperhatikan ornamen-ornamen kayu dan detail-detail rumah milik Kanya. Ia menyukai rumah ini, bahkan sejak berada di halaman yang ditumbuhi banyak bunga mawar. Rumah Kanya memang bergaya jadul, beberapa bagian rumah masih berlantaikan tegel abu-abu polos. Selain itu banyak jendela besar-besar khas rumah Belanda. Ini mengingatkan Baskara pada rumah nenek dari ibunya di Yogyakarta. Pun saat masuk ke dalam, ia lebih menyukainya lagi. Mungkin ini karena detail kayu yang digunakan membuat rumah terasa nyaman, seolah Baskara sedang berkunjung ke rumah ibu dari ibunya tersebut. Keduanya masuk ke dapur. lantai abu-abu yang dingin membuat Baskara merasa sejuk. Sedangkan bagian countertop menggunakan semen yang dilapisi keramik warna hijau. Lagi-lagi perkayuan mendominasi ruangan tersebut, namun yang menawan perhatian Baskara adalah rak coklat yang berisi jajaran teh beraneka ragam. Baskara tidak kaget karena sebelumnya ia telah tahu kalau Kanya memang memiliki kebiasaan minum teh tiap sore hari. Tapi ia tak menyangka bahwa Kanya punya koleksi daun teh kering sebanyak ini. “Kamu suka banget ya sama Teh? " Kanya yang sejak tadi asyik bersama pikirannya sendiri terkaget mendengar pertanyaan Baskara. Matanya otomatis menatap jajaran koleksi teh yang berada tepat di depan mata yang sering ia banggakan. “Iya bas. ayahku dulu suka banget minum teh, cuma beliau minum tubruk biasa. Mungkin karena sering liat, aku jadi penasaran sama teh. Makanya aku punya berbagai macam teh." Gadis tersenyum teringat ayahnya yang selalu duduk di teras rumah dan menikmati teh hangat suguhan Bunda. “Terus sekarang ayahmu enggak suka teh lagi?" "Eh... ayahku... udah nggak ada." Baskara terdiam, begitu pula Kanya. Jawaban barusan seolah membangun selaput tak kasat mata yang membuat suasana begitu canggung. Dalam hati, Baskara menyalahkan diri karena informasi besar seperti itu bisa luput saat kapan hari ia mencari tahu kebiasaan Kanya. “Maaf ya Nya, aku nggak tahu." Meskipun sempat bingung menjawab apa, Baskara langsung minta maaf begitu sadar. “Enggak apa-apa kok, enggak usah minta maaf. Ngapain kamu minta maaf, kan emang ayahku beneran nggak minum teh lagi." Kanya mencoba membuat suasana cair kembali. Hatinya tersenyum mendengar permohonan maaf tulus dari teman barunya ini dan tanpa gadis itu sadari, jantungnya sudah tak lagi berirama cepat. “Pada lagi ngapain ini?” suara bunda menginterupsi. Wanita itu tadi pergi ke kamar untuk berganti pakaian sekalian bersiap pergi bekerja. Meskipun sudah tua, bunda masih terlihat seperti wanita tiga puluh tahunan, tubuhnya yang kecil dan wajah imut tersebut menurun pada Kanya. Buru-buru Baskara menyalami ibu dari Kanya, ia memperkenalkan diri, “Saya Baskara tante.” “Saya Mirna, ibunya Kanya. Kamu bisa panggil saya bunda ya.” Jawab wanita paruh baya tersebut tersenyum. “Eh, iya bunda." Baskara agak kikuk. Baru kali ini ia disuruh memanggil ibu temannya dengan sebutan bunda. Ia merasa seperti memiliki ibu baru, padahal ibu kandungnya sendiri sudah jarang ia hubungi dan ajak bersapa. "Maaf ya tante, eh bunda, saya terlambat. Saya bangunnya kesiangan.“ Baskara menggaruk kepala dan menganggukkan kepala sekilas, pertanda sungkan. Bunda tertawa kecil. “Halah, nggak papa. Kanya juga biasanya bangun siang kok.” Wajah Kanya memerah karena sang ibu memberi tahu kebiasaan bangunnya. “Bunda!” seru Kanya. Bunda tertawa senang, sementara Baskara menatap Kanya dengan pandangan lucu. “Udah-udah. Makan yuk.” Ujar bunda sambil menghela kedua muda-mudi itu menuju meja makan. Ia membuka tudung saji dan memperlihatkan tumis kangkung serta ayam panggang dengan saus mentega yang menggoda saliva. “Maaf ya Baskara, makanannya seadanya.” “Eh, nggak papa tante.” “Bunda.” Koreksi ibu Kanya. wanita itu memang lebih suka dipanggil bunda oleh teman anaknya. Ia menganggap panggilan itu bisa mengakrabkan dirinya yang beda generasi. “Eh, iya bunda. Saya ini makan semua hal kok.” Ujar Baskara tak enak. “Eh, tapi makanan manusia.” Pria itu menambahkan. Bunda tertawa renyah. Baskara melanjutkan… “Saya malah nggak enak kalau tante, eh bunda, malah masak yang engga biasa dari yang bunda masak. Saya kan cuma numpang, ya pokoknya, saya ngikut menu tante, eh bunda, aja.” Bunda tersenyum sambil terkikik kecil tiap Baskara mengganti kata tante dengan kata bunda, “Iya Bas. Kalo gitu besok bunda masakin nasi goreng, mau?” “Mau banget bun.” Senyum pria itu. Sudah lama sekali ia tak merasakan nasi goreng rumahan. Meskipun bisa menyuruh pembantunya, namun ia tak suka duduk di meja makan luas sendirian. Di rumah Kanya, meja makan berukuran kecil dan percakapan membuat suasana ramai, beberapa kali kaki Baskara menyentuh kaki Kanya. Entah mengapa, hal-hal ini membuat hati pria itu menghangat. Bunda mengangguk seraya berkata, “Oiya, nanti bunda langsung pergi ya habis sarapan. Maaf ya Bas, nanti bunda tinggal duluan.” Baskara mengangguk dan tersenyum, mengisyaratkan ketidak masalahannya. Kanya yang sejak tadi menatap dalam diam merasa agak takut ketika bunda akan langsung pergi. Gadis itu harus ditinggal berdua dengan Baskara. Apa yang nanti akan mereka lakukan? Hari ini ia tak ada kelas pagi, jadi Kanya tak bisa mengusir Baskara dengan alasan tersebut. Otaknya berputar dan ia tetap mengunci mulutnya. Terus seperti itu, sampai tak ia sadari, akhirnya sarapan selesai. “Bunda pergi dulu ya,” saat itu Kanya baru kembali dengan kesadarannya. Ia ingin mencegah sang ibu pergi, tapi bunda melesat cepat dan kilat mengambil tas dan dalam beberapa detik, mengendarai motor di jalanan menuju butik. Gadis itu terbengong. "Jadi, kamu yang masak ini?"  "Eh?" Kanya menatap pria di sebelahnya yang memandangi dengan intens. 'Aduh! Bagaimana ini?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD