Persiapan

1228 Words
Hari ini harinya, Baskara akan datang ke rumah untuk sarapan bersama Kanya dan bunda. Gadis itu Bangun pagi-pagi sekali, pukul empat dini hari, hal yang jarang ia lakukan akhir-akhir ini. Tentu saja hal ini dilakukan karena Kanya khawatir dengan banyak hal mengenai acara sarapan di rumahnya. Hatinya bertanya-tanya, apa Baskara akan suka masakan nanti? Dia kan orang kaya, makanannya pasti selalu yang enak-enak sementara Kanya dan Bunda terbiasa sarapan dengan biasa saja; entah nasi goreng atau telur mata sapi di pagi hari. Ia takut akan membuat tamunya merasa tak nyaman dengan pelayanan yang ia dan ibunya berikan. Oleh karena itu, kemarin Kanya membelikan satu kilo ayam untuk diolah bunda pagi ini. Selain hal tersebut, Ia juga takut bertemu Baskara secara langsung. Apa mereka akan canggung? Baru sekali Kanya bertemu langsung dan bertatap muka, bicara dengan makhluk terkenal di kampus tersebut. Meskipun status mereka kini adalah teman, namun Ia hanya saling sapa dengan perantara media sosial. Lebih dari itu, Kanya takut dia tidak akan bisa menghentikan degupan jantungnya jika bertatap dengan Baskara langsung. Kanya telah terbiasa berbicara dengan Baskara tanpa melihat wajahnya, sehingga debaran tak karuan yang selama ini ia rasakan ketika bertemu dengan pria itu bisa dengan mudah dikendalikan. Tapi kalau harus menatap matanya langsung, apa jantungnya tak akan melonjak-lonjak dari tempat? Beberapa kali Kanya ingin sekali mengatakan kepada Baskara untuk membatalkan acara hari ini dan enam hari kedepan, tapi ia tak sanggup. Kanya sudah mengiyakan dan ia sudah berjanji tidak akan menarik kata-katanya. Maka itu sebisa mungkin keinginan kaburnya ia kubur dalam-dalam. Masih pukul lima, Kanya terlihat menyapu seluruh rumah  baik itu pojokan tersempit sampai kolong sofa yang biasanya ia malas membersihkan. Dahulu ia bertanya-tanya Kenapa Ibunya begitu panik membersihkan rumah saat ada tamu yang akan  berkunjung. ia merasa hal itu aneh karena Bunda terlihat terobsesi dengan Debu Debu yang terus muncul di kusen jendela. Kini lihat dirinya sendiri, ia menjadi apa yang dirinya anggap aneh, terobsesi membersihkan meja makan sampai ke bawah bawahnya. “Kanya sudah selesai bersih-bersihnya? Tolong bantu bunda manggang ayam. Bunda mau masak tumis kangkung dulu.” ujar bunda menghampiri. Gadis itu segera, dengan langkah cepat, tangan Kanya cekatan memasukkan potongan ayam ke dalam panggangan, mengatur api dan menunggu hingga kecoklatan lalu membaliknya. “Memangnya Baskara sekaya itu ya sampai kamu malu nungguin makanan yang biasa kita makan?” Kanya mengangguk sambil tetap menatap panggangan yang mulai membuat masakan di atasnya kecoklatan. Siapa yang tak tahu keluarga Raharja? dalam setiap proposal besar yang diajukan universitas tempatkannya belajar, perusahaan maupun anak perusahaan milik keluarga tersebut selalu nangkring menjadi salah satu sponsor paling besar dalam  kegiatan tersebut  Ia tak tahu bagaimana kepribadian Baskara Secara penuh. Keduanya memang banyak bicara ngalor ngidul soal kegiatan masing-masing dalam berapa kali mengobrol via teks maupun suara, tapi tentu saja itu hanya sebagian kecil dari seluruh hidup yang Baskara lewati. Hingga saat ini pun, Kanya juga tidak tahu makanan apa yang Baskara sukai atau yang dihindari. Kanya takut salah memasukkan menu dan mungkin saja --dalam skenario terburuk yang Kanya bayangkan, Baskara alergi dengan bahan makanan tersebut. ‘Orang kaya kan penyakitnya aneh-aneh,’ pikir Kanya. Ia takut membuat pria itu sakit atau bisa saja… mati. Kalau mengandaikan, bulu kuduk Kanya langsung berdiri.  Kanya menggelengkan kepala cepat. ‘Jangan sampai!’ Tentu saja Kanya Sudah menanyakan pada Baskara apa yang ingin makan saat sarapan hari ini, tapi pria itu hanya menjawab, "ngikut aja". Baskara beralasan karena ia hanya tamu, maka dirinya harus mengikuti menu yang disajikan oleh empunya rumah. keambiguan Baskara menambah  kecemasan katanya.  ‘Apa susahnya sih bilang suka makan apa?’ kesal Kanya membatin. Ruangan semakin terang karena hari sudah mulai siang, persiapan hampir selesai seluruhnya. Menengok jam, Kanya mendapati 20 menit lagi “Si Baskara dateng jam berapa rencananya?” “Jam tujuh bun.” “Setengah jam lagi ya? Wah, dah deket ya waktunya..” Kanya menganggukan kepala setuju. Diam-diam dadanya meloncat tak karuan kombinasi takut, khawatir, excited, dan lainnya. Gadis itu kini merasa panas dingin. *** Suara langkah kaki yang berdebam di lantai terdengar bersahut-sahutan. Bi Minah hari ini harus dikagetkan oleh teriakan tuan mudanya yang bangun lebih pagi dari jam biasa. Pria itu keluar kamar dan memanggil Minah sambil marah-marah bertanya kenapa ia tak dibangunkan. Meskipun bisa saja wanita tua itu memberikan alasan masuk akal yaitu, memang biasanya Baskara tak pernah minta dibangunkan dan biasanya memang tak pernah mau dibangunkan pagi, Minah diam di tempat dan mendengarkan ocehan Baskara tanpa henti. Sudah lama sekali rasanya ia tak membantu tuan mudanya menyiapkan pakaian dan menyiapkan sepatu, pria itu bahkan minta motornya dipanaskan – yang dikerjakan oleh pelayan lain, dan di taruh tepat di depan rumah agar segera bisa langsung tancap gas entah ke manapun yang Minah tak tahu. Minah jadi teringat ketika Baskara masih berada di sekolah dasar, tiap hari Baskara kecil terlambat datang secara konstan ke sekolah. Sekolah sampai menyurati kedua orang tua Baskara yang langsung menghukum bocah tersebut. Dari dalam kamar mandi Baskara berteriak untuk menyiapkan kaos hitamnya, kemudian berubah jadi kemeja hitam, lalu berubah lagi menjadi kemeja putih. Ia terus mengubah permintaannya, membuat Minah dan beberapa pelayan lain kewalahan karena membongkar seisi walk in closet Baskara yang kurang lebih berukuran tiga kali empat meter. “Bi, ganti pakai kaos item tadi aja. Tapi yang tulisannya dikit, jangan yang gede.” Minah menyuruh salah satu pelayan mencarikan. Beberapa baju diambil dari sana karena instruksi Baskara yang tak cukup spesifik. “Bi, jeansnya yang warna navy. Sama sepatu conversenya yang high!” teriak Baskara lagi.  “Eh, jangan! Pakai yang low aja! Warna kuning!” Minah menggaruk kepala karena tak mengerti istilah yang disebutkan Baskara, segera, ia meminta pelayan paling muda untuk mengambilkan keperluan Baskara. Ia melihat jeans berwarna biru tua dan sepatu tali warna kuning berada di tangan rekan sejawatnya. ‘Jeans biru sama sepatu kuning aja kok pakai istilah aneh-aneh,’ batin Minah setelah melihat barang tersebut. “Bi, handuk!” lagi, Baskara mengeraskan suara. “Semuanya keluar!” instruksi Baskara. Minah melangkahkan kakinya pergi dari kamar tersebut. Tak sampai lima menit, Baskara keluar dengan rambut basah tak tersisirnya yang terlihat serampangan dan berandal. Meski begitu, rambutnya yang ikal tak mengering tersebut malah menambah kesan seksi pada diri Baskara. Meskipun tak menyukai pakaian yang ia pakai sekarang, nmun hanya itulah yang bisa darinya gunakan. Memilih baju sendiri akan menghabiskan waktu lebih lama lagi. “Aku pergi dulu. Besok bangunin aku jam lima ya, bi.” ujar Baskara sembari kakinya berjalan menuruni tangga.   Semua orang tentu terheran-heran karena tak biasanya Baskara berlari di pagi hari karena terburu-buru. para pelayan an Selalu tersenyum bukan pemandangan pantai Baskara melewati ruangan demi ruangan bahkan saat ia telat masuk Korea.  dalam kepala-kepala tersebut pertanyaan mengenai mau ke mana dan mau bertemu siapa  berbunyi keras-keras.  tapi tak ada yang berani bertanya. mereka hanya menatap punggung yang makin lama makin kecil dan kemudian menghilang Terhalang tembok. Setelah naik di atas Ducati, kendara  hadiah ulang tahun dari Randu, Baskara menyalakan motor besar tersebut. Ia menambah kecepatan dari yang biasa ia lakukan agar cepat sampai Hai ke tempat nanya. jam tangan menunjukkan tujuh kebih lima belas, ia terlambat banyak dan semesta sama sekali tak mendukung. Banyak lampu merah menyala saat Baskara ingin lewat. .  "Sialan!" Teriak pria itu lantang. Ia Takut mengecewakan karena terlambat, tubuh Baskara panas dingin bersiap untuk yang terburuk: kehancuran reputasinya di hadapan ibu Kanya. ‘Haduh… pusing!’ batin Baskara sambil terus mengebut. Pria itu kembali fokus pada jalanan, yang nanti dipikir nanti
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD