"Bangst."
"Iya. Hidup b*****t banget."
Kedua sejoli itu menatap lantai setelah mengetahui bahwa orang yang tadi menelpon adalah Banyu. keduanya sejak tadi asyik berkata kasar untuk melegakan isi hati, sekarang karena tak ada lagi k********r yang tersisa di otak, Kanya merutuki diri dan membodohi diri dalam diam. Mengapa ia harus mengangkat tanpa melihat siapa penelponnya? Kenapa harus terburu-buru seperti itu? Gadis tersebut meengacak rambut frustasi.
Pria di sebelahnya tak kalah lelah. Ia mempertanyakan kenapa nasib terus tak berada di pihak sahabatnya. Rasa-rasanya Kanya terus mendapatkan kesialan dan karena dirinya bukanlah penasehat yang hndal seperti Lintang, Sendy merasa dirinya tak dapat diandalkan. Kalau seandainya tadi Sendy tak usil menyuruh cepat angkat telpon, mungkin sekarang Kanya tak akan lebih stress dari tadi.
"Kayaknya emang t***l aja sih aku Sen." Ujar Kanya tiba-tiba.
"Engga t***l," balas Sendy agak marah. "Lagi apes aja."
Keduanya menghela nafas bebarengan.
Sementara itu ponsel Kanya kembali bergetar-getar. Persegi yang ia letakkan di atas meja tersebut kini betul menunjukkan nama Baskara.
"Angkat aja kali ya?" Kanya tiba-tiba menatap Sendy dengan lemas. Sendy balas anggukan kecil. Segera, ikon hijau dipencet Kanya.
"Halo Kanya!" Suara yang ia kenali itu menyapa dengan hampir seperti membentak. Kanya harus menjauhkan benda kecil itu dulu karena kaget.
"Halo," sapa balik gadis itu. "Gimana Bas?"
"Gimana apanya? Kamu lihat grup kan?" Baskara lagi-lagi masih berada dalam mode bersuara keras. Mwmbuat Kanya yang sudah lemas malah makin mengrinyit tak suka.
"Iya aku lihat," ketus gadis itu. "Aku juga nggak tahu harus apa. Yaudahlah, aku nerima aja kalau dikatain tukang slingkuh sama anak-anak."
"Loh, Nya? Kok gitu?" Ujar Baskara. Pria itu makin meninggikan nada, membuat Kanya semakin kesal. Padahal gadis itu tadinya tak merasa marah, tapi mungkin karena Baskara terus menggunakan teriakan dan suara yang terdengan layaknya orang marah, Kanya pun ikut ingin meluapkan isi hatinya.
[06.26, 8/1/2022] Hanun Nabila: "Kamu enak, kamu selama ini kan udah dikenal playboy. Kamu nggak perlu ngebersihin nama atau citra karena emang dari dulu kan udah jelek." Seperti kesetanan, Kanya nyerocos tak karuan. "Kamu mana peduli soal orang lain yang jadi korban. Aku bakal kamu giniin juga kan? Yaudah, gapapa. Aku juga udah nerima kalau aku bakal dicap l0nte selama sisa kuliahku."
"HEH, AKU PEDULI SAMA KAMU."
"APA BUKTINYA KAMU PEDULI. KALAU KAMU PEDULI, YA JANGAN MAIN CEWEK DONG."
"APA URUSANNYA ITU SAMA KAMU? ITU NGGAK ADA URUSANNYA!"
"JELAS ADA DONG! SOALNYA KALAU KAMU NGGAK MAIN CEWEK, AKU NGGAK AKAN DAPET LABEL KORBAN KESEKIAN BASKARA!"
“KORBAN? KAMU NGERASA KORBAN?”
Segera, Sendy mengambil ponsel dari tangan Kanya. Pria itu tahu kalau Kanya sudah terlalu lelah menghadapi semua ini makanya gadis itu tak sedang dalam kondisi waras untuk bercakap dengan Baskara.
Kanya yang masih belum selesai mengucapkan banyak hal menggapai-gapai ponselnya agar dapat kembali. Sayang, meskipun tak terlalu tinggi, tubuh Sendy masih jauh lebih jangkung dibandingkan dengan gadis yang saat ini sedang meracau "kembalikan."
Dengan segenap kemampuan Sendy berlari ke luar dan menutup pintu depan. Ia mengunci Kanya di dalam rumahnya sendiri dengan tubuh gempalnya. Jelas Kanya yang bertubuh kecil dan juga seorang wanita tak akan mempu menerobos barier yang dibuat sahabatnya tersebut.
Di depan pintu, Sendy menempelkan ponsel Kanya pada telinga dan langsung disambut dengan suara yang sama emosinya dengan gadis di balik pintu. Sendy menghela nafas dan memasukkan udara dalam paru-paru menunggu Baskara berjeda dan selesai dengan apapun yang pria itu mau katakan.
"Bas, ini Sendy."
Pria di seberang sambungan tersebut terdiam beberapa detik sebelum kembali dalam mode marah, "Mana Kanya?"
"Bas, tenang dulu ya. Kalian sama-sama lagi kesel. Nggak enak kalau kalian ngobrol dengan kepala panas," ujar Sendy berusaha menenangkan. "Nanti aku suruh Kanya telpon lagi kalau kepala kalian udah dingin."
Ada helaan nafas frustasi yang terdengar dari sambungan.
"Kamu denger semua marah-marahku Sen?"
"Eh?"
"Kamu denger semua nggak?"
Sendy cepat menggeleng sambil berkata, "enggak."
"Yaudah bagus." Baskara terdengar lebih ramah dan tak lagi marah. Sendy bisa mendengar kelegaan dari suara Baskara. Memang apa yang Baskara katakan ketika marah tadi?
"Sampaiin aja ke Kanya, kalau aku nunggu telpon dari dia. Aku mau ndiskusiin masalah ini. Tapi dengan catatan, dia nggak teriak-teriak kayak tadi."
Kembali Sendy mengangguk dan membalas, "Iya," dengan segera.
Tak lama Baskara menutup telepon dan Sendy baru menyadari pintu depan tak lagi digedor. Begitu ia baru membuka pintu, Kanya sudah berada di sampingnya, membuat jantung pria tersebut hampir copot.
Sendy memegangi d**a saking kaget melihat Kanya layaknya hantu di siang bolong dengan wajah marah dan rambut acak-acakan.
"Kanya!" Kali ini Sendy bisa bersuara meskipun nafasnya masih agak memburu.
"Kamu lupa ada pintu belakang?"
Kali ini gadis tersebut terlihat lebih tenang. Kanya duduk di kursi teras dan merapihkan rambut dengan pelan. "Baskara bilang apa?"
Sendy mengikuti dengan duduk di sebelahnya. "Gini. Pertama, PLEASE JANGAN NGAGETIN BISA NGGAK SIH?" Sendy menjitak kepala Kanya pelan. Kanya terkikik pelan, membuat suasana jauh lebih hangat.
"Iya. Sorry." Knya menjawab dengan senyuman. Kali ini, meskipun tampilan masih berantakan, Kanya terlihat lebih stabil.
"Nah, bagus," Sendy berujar lega. "Kedua, habis ini kamu ngobrol lagi sama Baskara buat minta maaf dan..."
"Ogah."
"Kanya!"
"Aku sebel Sen," kali ini Kanya menekuk kedua tangan seperti anak kecil yang merajuk. “Yang bener aja tadi dia ngebentak aku waktu aku angkat telponnya. Terus ya aku balas keras lah! Aku capek Sen, aku beneran capek dimarahin terus. Kena sial terus.”
Sendy mengelus kepala Kanya. "Yaudah, nggak usah minta maaf."
Kanya mengangguk senang seperti mendapatkan permen yang ia inginkan.
"Meskipun kamu sebel tapi kamu nggak bisa menghindar. Kamu perlu ndiskusiin semua sama Baskara mengenai hal-hal yang terjadi."
Kedua sahabat itu terdiam. Yang satu menunggu respon, yang satu baru ingin memutuskan respon yang tepat.
"Oke."
Senyum mekar di bibir Sendy. "Bagus! Gitu dong manis."
Sementara Sendy sibuk dengan ponsel Kanya mengabari Baskara, si pemilik masih cemberut menatapi kendara lalu lalang yang sepertinya selalu terburu-buru di jalan. Ia masih kesal tapi Sendy benar. Ia harus bicara dengan Baskara mengenai masalah ini. Dan... ia juga harus bicara dengan Banyu. Apa Banyu masih mau mendengar penjelasannya ya? Semoga iya.
Dalam keheningan dan sela deru kendara, Kanya berdoa agar tak lagi ada malapetaka.
Tapi sepertinya masih banyak kotak pandora yang belum Kanya buka. Semoga isinya tak lagi nasib yang terus membuatnya sengsara.