Salah Lagi

1064 Words
Hanun Nabila: "Kok nggak diterima?" ... Kanya terdiam dengan ponsel yang masih bergetar di tangan. Ia bingung apakah harus menjawab telpon dari Baskara atau tidak. Dalam pikirnya tentu saja ia ingin mengangkat telpon dari orang yang telah membantunya belakangan ini, tapi di sisi lain, Kanya juga menyadari, sejak pertemuannya dengan pria tersebut hidupnya jadi rumit. "Coba diangkat dulu aja." "Nggak ah..." Kanya menjawab pelan. Ia menggeleng kecil. "Nya..." "Aku nggak tau Sen. Aku bingung," Gadis itu menghela nafas. "Kamu sadar nggak sih semenjak ada Baskara hidupku jadi berantakan." Sendy tak bisa mengangguk ataupun menggeleng. Pria itu sebenarnya juga tak dapat mengelak kalau semenjak ada Baskara, hubungan pertemanan maupun hubungan cinta Kanya memang memburuk. Sekarang bahkan Kanya memiliki citra tak baik di kampus. Tapi mungkin Sendy masih memiliki bias terhadap Baskara karena bagaimanapun juga mereka cukup sering berhubungan secara profesional dan bahkan berteman cukup baik meskipun tak dekat. Sendy tak bisa menyetujui kalau Kanya mengatakan Baskara merusakan tatanan hidup gadis tersebut layaknya p****g beliung memporak-porandakan sebuah perkampungan. Ada keheningan lagi diantara keduanya hingga akhirnya Sendy memecah, "Nya, tapi sebaiknya kamu jawab dia deh." "Nggak ah." Masih sama keras kepala, Kanya menggeleng cepat. "Kanya..." "Aku nggak mau Sen." Gadis itu kini melemparkan ponselnya ke sofa dengan pelan. Kanya kini duduk diam di sebelah Sendy dan menatapi lantai. Membiarkan getaran ponsel merajai keheningan keduanya. “Jangan maksa.” "Aku nggak bermaksuda maksa, tapi kamu coba pakai jalan pikiranku ya. Menurutku di jawab aja sih Nya." Sendy memberikan ponsel Kanya lagi ke depan wajah Kanya kayaknya menodong. "Yang punya masalah ini tuh bukan cuma kamu. Baskara juga pasti ngerasa sedih." "Mana ada sedih?" Kanya setengah membentak dan menepis ponsel tersebut pelan. Baskara adalah lelaki yang jelas akan dibela oleh banyak orang dalam kasus seperti ini, pun citra Baskara memang sudah buruk dalam hal cinta-cintaan. Tapi Kanya? orang akan menganggapnya apa? Gadis murahan? Tukang selingkuh? "Ya dia mungkin aja sedih. Gimanapun juga emang citra dia soal dunia 'wanita' udah buruk dan emang kamu doing yang rasanya Cuma dapet buruknya. Tapi selama ini kan dia seneng main sama kamu. Kalian deket kan? Bas juga pasti khawatir dengan keadaan kamu. " seolah membaca pikiran, Sendy mengatakan hal yang sama dalam kepalanya. Kanya mengangguk pelan sambil terus menatapi lantai yang tak jua berpindah tempat. "Aku sebel banget Sen jujur aja. Hidupku nggak ada yang berjalan baik akhir-akhir ini." "Tapi ya kamu nggak bisa nyalahin semua ke Baskara. Dia nggak tahu apa-apa juga." Ujar Sendy membelai punggung Kanya. "Nah makanya diangkat supaya enggak makin salah paham. Biar kalian tahu sudut pandang satu sama lain." "Tapi emang..." Kanya memberikan jeda sejenak. "Kamu nggak papa?" "Hah? Maksudnya?" Kanya menghadapkan posisi tubuhnya kepada Sendy Pria itu mengrinyit menatap gadis di sampingnyanyang kelihatan begitu serius "Kamu kan nggak suka dia. Baskara yang nyebabin Lintang dan kamu marah. Nggak papa nih?" Sendy mangut-mangut layaknya ornamen kucing d**a-d**a di toko china. "Sebenernya aku nggak terlalu bermasalah sih sama Baskara. Aku cuma khawatir kamu diapa-apain dan..." pria itu kali ini ikut menghadap Kanya sepenuhnya. "Aku nggak tahu hubungan kamu sama Banyu gimana, tapi aku jadi bingung kenapa kamu malah deket sama Baskara." "Sebenernya aku nggak terlalu bermasalah sih sama Baskara. Aku cuma khawatir kamu diapa-apain dan..." pria itu kali ini ikut menghadap Kanya sepenuhnya. "Aku nggak tahu hubungan kamu sama Banyu gimana, tapi aku jadi bingung kenapa kamu malah deket sama Baskara di saat kamu sama Banyu sedang nggak baik-baik aja." Terlihat murung. Kanya kembali mengerucutkan bibir. Ia tahu bahwa memang salah paham seperti ini bisa terjadi jika melihat kedekatannya dengan playboy nomor satu di kampus. Tapi gadis itu berani bersumpah bahwa ia sama sekali tak memiliki hubungan apapun dengan Baskara. Memang betul beberapa kali dadanya dibuat bergetar tanpa sebab karena Baskara dan pria itu memang jadi tempat bersandar saat ia merasa tak punya siapa-siapa, tapi Kanya merasa itu masih dalam batas wajar. " Oke deh aku jawab." Kanya memantapkan hati. Ia mengambil ponsel yang masih bergetar-getar karena panggilan. "Halo Bas..." "Bas?" Gadis itu menjauhkan ponselnya dan menatap Sendy dengan horror. Seluruh tubuhnya melemas dan kembali, jantungnya turun ke perut. "Kenapa?" "Banyu..." Kanya meringis dan ingin menangis *** Banyu tentu saja gusar melihat foto dan komentar di grup Line. Tapi ia tak ingin ikut berkomentar atau marah-marah di grup karena itu hanya akan menambah runyam masalah. Beberapa orang sengaja meng-tagnya suapa Banyu tahu dan ikut berkomentar, tapi tentu saja lelaki itu tahu kalau ia mengetik sedikit saja, ia dan Kanya akan jadi bahan gosip yang lebih besar lagi. Sejak tadi pria itu menatap langit-langit di kamarnya. Ya. Banyu tahu bahwa kemarin ia melihat Kanya dan Baskara bercakap dengan akrab, ia tak mengamati sampai akhir karena merasa cemburu. Kata 'cemburu' lewat dalam kepala Banyu dan membuatnya tertawa kecil. Ia tak pernah membayangkan bisa cemburu, tapi di sinilah dia. Di kamar sambil memikirkan Kanya yang terus berdua dengan Baskara. Ia benci fakta kalau Kanya begitu dekat dengan mantan temannya tersebut. Tapi lebih benci lagi fakta bahwa Kanya jadi terkena masalah karena pria tersebut. Tentu saja Banyu ingin sekali tahu kebenaran di balik foto ini. Angle yang digunakan memang memperlihatkan adegan berciuman, ini tentu membakar hati Bany lagi dan lagi. Namun Banyu menolak percaya bahwa gadis yang dikasihinya bertindak menyimpang seperti ini. Ia mengingkari janji mereka dan memilih Baskara. Apa dua tahun hanya sekedar waktu lewat saja? Apa sebegitu mudah Kanya meninggalkan masa lalu mereka agar bisa bersama Baskara? Pada akhirnya setelah keputusan panjang yang menguras pikiran, Banyu mengambil ponsel dan mencari kontak gadisnya Makin lama dipikirkan, pria itu makin gusar. Ia membolak-balikan badan di kasurnya. Foto profil Kanya di sebuah pantai merupakan hasil jepretan Banyu ketika mereka bermain-main di pantai saat sedang libur semester. Banyu tentu masih mengingat semuanya. Ia merindukan saat-saat tersebut di mana ia dan Kanya seolah hanya berdua menikmati keindahan semesta. Setelah bernostalgia sejenak, pria itu menekan ikon telpon. Deringan beberapa kali terdengar dan dalam beberapa detik, sebuah suara yang ia ridukan terdengar. "Halo Bas..." "Bas?" Ada kediaman di sambungan tersebut. Banyu tertawa pedih, entah mengapa ia merasa kecewa bahwa bukan telpon darinya yang diantisipasi Kany, melainkan dari Baskara. Apakah gossip dan foto tersebut benar? “Banyu, aku…” Tut Sambungan sengaja ia putus. Pria itu memutuskan untuk tidur. Ia ingin menghilangkan perih di hatinya sejenak dan mungkin setelahnya ia bisa kembali bicara kepala dingin dengan Kanya. meskipun terluka, Banyu tetap ingin membantu gadisnya. Pria itu juga ingin penjelasan. Tapi tidak sekarang. Tidak saat ia sedang panas seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD