Tenanglah, Aku di Sini

1576 Words
Banyu, aku tahu kamu masih marah. Tapi bisakah kita tetap ngobrol via chat. Aku masih nggak ngerti konsep break yang kamu maksud kayak gimana, tapi aku pengen kita tetep berhubungan baik meskipun nggak kayak dulu. … Kanya menatap layar di depan wajah, mempertimbangkan apakah ia harus mengirimkan pesan atau tidak. Wajahnya sedih, ia menggigit bibir bawah, dan terus mengangkat-menaruh ponsel di pangkuan. Saat ini gadis itu duduk di depan rumah. Setelah kembali dari kuliah pagi diantar Sendy, gadis itu melamun, memikirkan Banyu dan hubungan mereka. Ia belum bercerita apapun soal dirinya dan Banyu kepada sahabatnya itu. Kanya menunggu kepulangan Lintang dahulu sebelum memberikan update hubungan miliknya. Meskipun agak keras, Lintang adalah orang yang Kanya percaya untuk memberikan nasehat. Bukannya tak yakin dengan Sendy, namun Lintang jauh lebih rasional dalam memberikan sedikit pemikiran terhadap apapun. Ia tak bertele-tele dan langsung to the point tanpa mencoba membaik-baikan keadaaan. Sayangnya, sahabat perempuannya itu akan terlambat dua hari dari jadwal kepulangannya. Entah karena apa, Sendy hanya diberitahu kalau Lintang masih ada hal yang ingin di lakukan di Malaysia. Sekarang, satu-satunya orang yang telah ia beritahu adalah Baskara. Kemarin, ia akhirnya menceritakan soal hubungannya dengan Banyu kepada Baskara. Bagaimana Kanya tak mengerti mengenai konsep ‘break’ yang diminta Banyu, lalu soal mengapa Banyu tiba-tiba meminta hal itu, dan soal kecurigaannya mengenai Banyu yang tiba-tiba tahu bahwa ia dan Baskara pergi bersama. Percakapan soal kecurigaan Kanya terhadap Renata dan kedua temannya dihentikan oleh Baskara. Entah mengapa, Baskara seperti bersikap defensif. Melindungi Renata secara berlebihan meskipun Kanya hanya mengatakan hipotesis yang ia pikirkan. Kanya tahu bahwa Baskara dan Renata berteman baik, namun gadis itu tak menyangka kalau Baskara langsung menyanggah tanpa mau mendengar lebih lanjut. Saat itu, Kanya pun bungkam. Ia tahu tak ada gunanya bicara dengan Baskara soal hal ini. ia ingat betul kata-kata Baskara saat itu, “Aku kenal banget Renata. Dia nggak mungkin ngaduin kamu ke Banyu. Dia aja lagi sakit, mana mungkin punya waktu buat ngelakuin hal nggak penting gitu kan? Dan meskipun aku nggak kenal bener Iris sama Mutia, yah… meskipun kita pernah satu sekolah juga, tapi rasanya juga nggak mungkin. Buat apa coba? Aku juga gak pernah lihat mereka bertiga ngobrol sama Banyu, jadi… ya pokoknya, aku harap kamu nggak nuduh sembarangan dulu, Nya. Mungkin aja Lintang yang ngomong ke Banyu, kamu kan belum ngobrol sama dia sejak hari itu.” Sebenarnya Kanya merasa agak tersinggung karena ia dianggap menuduh Renata. Gadis itu hanya ingin berdiskusi soal mengapa tiba-tiba Banyu marah, tapi reaksi Baskara ketika Kanya mengaitkan dengan Renata membuat Kanya memilih bungkam dan tak meneruskan. Pun Baskara seperti menuduh Lintang, yang notabene adalah sahabat terbaik Kanya, mengadu pada sang pacar. Lintang memang terlampau jujur pada semua orang, tapi dia bukanlah orang yang gemar mengadu domba, apalagi jika itu soal Kanya dan Banyu. Lintang sangat mendukung hubungan kedua insan itu, bahkan sejak awal Kanya menyatakan ketertarikan pada Banyu, Lintang langsung memberi tahu kalau ia memiliki kontak Banyu agar Kanya bisa melakukan pendekatan alias PDKT. Tidak, bukan Lintang. Tapi kalau begitu, siapa? Kanya menghela nafas. Ia lelah memikirkan hidupnya, bagaimana dengan cepat, hanya dalam waktu beberapa hari ia dan Banyu masih merajut kasih, kini hubungan mereka di ujung tanduk. Apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki? Sementara Banyu tak mau bicara. ‘Sudahlah, kirim saja.’ Ia langsung memencet tombol send, mengirimnya pada Banyu. Berharap mungkin nanti pria itu bersedia membalas. Ah, bahkan centang dua berwarna biru saja sudah untung karena sejak kejadian itu, Banyu sama sekali tak menggubris pesannya. Sejak bertemu Banyu di rumahnya, Kanya sama sekali belum melihat batang hidung pria yang statusnya masih menjadi kekasih. Ini karena kemarin Kanya sengaja membolos semua mata kuliah dan hari ini, ia tak lagi berusaha mencari Banyu di kelas yang pria itu ikuti. Jujur, Kanya kesepian. Sendy memang jadi penemannya, tapi pria itu juga punya dunia sendiri. Ia aktif dalam beragam event dan organisasi, Kanya tak bisa terus menggantungkan diri pada Sendy untuk mengisi kesendirian. Gadis itu menumpu wajah pada kedua tangan. Kembali melamun memikirkan banyak hal. Kenangannya bersama Banyu dua tahun terakhir, pertemanannya dengan Lintang dan Sendy, pertemuannya dengn Baskara dan Renata. Beragam pertanyaan melintas tanpa ia tahu jawaban, membuat Kanya makin tenggelam dalam pikiran. Setelah berpuluh menit bergelut dengan pikirannya sendiri, ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Mengistirahatkan diri, membaringkan tubuh, berharap masalahnya secara ajaib menghilang. Gadis itu tertidur. Dalam mimpinya ia melihat Banyu, menggenggam tangan, merangkulnya, mencium kening, dan berkata, “Tenanglah Kanya, aku di sini…” *** Lagi-lagi Kanya terbangun dari tidurnya karena mendengar ketukan di pintu kamar. Setengah sadar, gadis itu menatap jam dinding. Pukul dua siang. Bukankah bunda harusnya belum pulang? Ketukan itu tak berhenti, tiga kali, ‘dok dok dok’, dengan jeda agak lama, lalu kembali terdengar. Masih belum penuh terkumpul nyawanya, Kanya segera mengambil semprotan nyamuk, memegangsalah satu ujung seperti memegang pemukul baseball. Tapi belajar dari kesalahan, ia tak ingin langsung mengayunkan tongkat-tongkatannya. Mengintip dari celah kunci, Kanya melihat tubuh berbalut celana jeans dan kaos putih dengan jaket jeans pula berdiri. Ah, tentu Kanya tahu itu siapa. Menaruh lagi penyemprot nyamuk, Kanya membuka pintu. “Kamu kenapa nggak ada suaranya sih kalau ngetuk pintu?” Kanya langsung mengomel begitu mendapati pria di depannya tegak berdiri. Yang ditatap cengengesan sambil melambai tangan seolah mengucap halo. “Kamu kok bisa masuk ke sini sih? Perasaan pintu depan udah aku kunci,” ujar Kanya dengan kesal. Suasana hatinya buruk karena tidur lelap harus diganggu Baskara. Pria itu menunjukkan kunci yang diambil dari saku, memamerkannya seolah memamerkan kunci mobil baru. “Dikasih bunda,” ujarnya sambil tersenyum mengejek. Kanya melipat tangannya sambil mencibir, “Ngapain sih bunda ngasih ke kamu? Berasa anak sendiri kali ya.” “Mau dijadiin mantu kali,” celetuk Baskara. Dengan sekali pukulan di pundak, pria itu mengaduh. “Jangan suka nggodain orang kalo nggak mau disalah pahamin, dong!” seru Kanya kesal. “Tapi serius, kok bunda ngasih kamu kunci rumah sih?” tanya gadis itu lebih serius. “Bunda yang ngasih kemarin. Sejak kita pulang, bunda khawatir sama kamu yang tiba-tiba keliatan sedih banget. Jadi ya… beliau nitipin kamu ke aku kalau beliau ke kantor. Bunda takut kalau kenapa-napa di rumah, makanya nyuruh aku jagain.” Baskara ikut melipat tangan. “Are you okay, now?” Gadis itu menunduk, ingin menjawab sesuatu tapi ditahan. “Kanya…” “Aku…” gadis itu menghela nafas berat. “Aku nggak tahu. Aku bisa ketawa sekarang atau ngomong dengan biasa aja, tapi nanti waktu aku sendirian, kerjaanku cuma nangis di kamar. Ngelamun.” Keduanya terdiam saling berkelana dengan pikiran masing-masing. “I’m not okay Bas…” Jawaban Kanya keluar bersamaan dengan air mata yang turun deras. Dengan cepat, ia mendongak, menahan laju genangan yang turun dan tentu saja gagal. Gadis itu terlalu banyak menangis akhir-akhir ini dan rasanya cadangan air matanya sudah akan habis. Tapi dugaan tersebut salah, air matanya masih tersisa, belum habis dan sepertinya tak akan pernah. “Hey, it’s okay,” dekap Baskara. Pria itu berusaha menyalurkan kepedulian beserta rasa aman pada Kanya melalui pelukan. Kanya tak ingin menangis, sudah kesekian kali Baskara jadi pelindungnya kala dia sedang tak merasa baik-baik saja. Kanya malu, tapi di sisi lain, hanya Baskara yang akhir-akhir ini selalu ada. Ia bersyukur, berterima kasih, sekaligus merasa bersalah karena pria itu selalu menenangkannya saat badai menerpa. “Maaf ya Bas, aku selalu ngerepotin.” Di sela tangisnya, Kanya berbisik pelan. Tentu Baskara mendengar. Dekatnya tubuh, kulit bersentuh kulit, membuat suara di antara satu sama lain seolah menggema. “Nggak apa, Nya. Aku dengan senang hati direpotin.” Baskara melepas peluk, dan memegang kedua bahu Kanya, menguatkan. “Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan ya bilang ke aku.” Kanya mengangguk, senyum perlahan muncul karena mengetahui ada teman lain selain Lintang dan Sendy yang bisa diandalkan. “Kamu juga kalau butuh bantuanku, jangan sungkan ya Bas.” Kali ini Kanya ikut memegang kedua pundak Baskara. Mereka tertawa kecil. Sedih barusan menguap di udara, menjadi bulir yang tak lagi terlihat. “Oh ya… kira-kira, bunda tahu nggak ya kalau aku sedih karena Banyu? Makanya nyuruh kamu nemenin aku?” Baskara mengangkat bahu, “Mungkin bunda tahu, tapi di saat yang sama juga enggak tahu. Satu-satunya yang kayaknya bisa bikin kamu sesedih ini kan cuma Banyu. Tapi ya mungkin beliau cuma bisa berspekulasi. Yang jelas, bunda lihat kamu kayak orang yang butuh support tambahan –meski bukan dari beliau.” Kanya manggut-manggut, memahami penjelasan Baskara mengenai maksud sang ibu yang khawatir pada sikap aneh putri semata wayang. “Bunda tuh tau kalau kamu lagi sedih, tapi nggak tahu alasannya kenapa. Kamu belum cerita ke beliau ya?” tanya Baskara. Kanya menggeleng, agak merasa bersalah karena belum membuka diri dua hari terakhir. Tak ikut sarapan dan meninggalkan wanita yang telah melahirkannya dengan tanda tanya. “Mungkin aku butuh waktu buat bilang ke bunda,” jawab Kanya setelah berpikir panjang. “Aku nggak mau bunda berpikiran jelek soal Banyu. Aku butuh waktu untuk nyusun kata-kata.” Baskara menggeleng, kelihatan tak senang dengan keputusan Kanya, namun pria itu menutup mulut rapat.  Kanya melamun lagi, memikirkan sang ibu yang mungkin tak fokus di tempat kerja karena memikirkan dirinya. “Kanya…” “Ya?” Baskara tersenyum lembut. “Kamu tahu? Banyak yang peduli sama kamu. Aku juga peduli sama kamu.” Kanya tertegun, ia ingat kilasan ini. Ia pernah mengalaminya, tapi kapan? “Tenang ya Kanya, aku di sini.” Ah ya… mimpinya. Kanya diam dan memandangi pria di depannya yang bukan Banyu. Gadis itu mengalami de javu, dengan orang yang berbeda.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD