Malu

1746 Words
Handuk basah di tangannya ditempel ke dahi pria yang saat ini meringis kesakitan duduk di sofa. Setelah memapah Baskara ke ruang tamu tadi, segera gadis itu mengambil handuk kecil di kamar dan memasukkan es di dalamnya untuk meringankan biru yang terletak di dahi. Tak ada darah, hanya sebuah benjol besar yang makin tak sewarna kulit seiring waktu. “Maaf ya Bas…” ini sudah kesekian puluh kali Kanya meminta pengampunan dan tentu, untuk kesekian kalinya juga Baskara mengangguk atau mengatakan iya. Kanya menatap Baskara yang masih meringis karena benjol di kepalanya tersentuh, merasa bersalah karena pria itu harus mendapat luka di sana karena keras semprotan nyamuk. Benjolan itu kelihatan tak apa awalnya, namun terus bertambah buruk seiring berjalan menit. Membuat Kanya makin khawatir ada sesuatu yang salah di dalam kepala Baskara. Mungkin saja Kanya membuat Baskara gagar otak, atau meretakkan batok pria tersebut. Pemikiran panik ini ia salurkan dengan mengusap benjolan berulang dengan kain basahnya karena Baskara sudah berkata tak usah ke rumah sakit. Pria itu menolak dibawa ke sana. Sebenarnya tubuh Kanya juga masih sakit, sisa jatuh bedebam barusan beserta akibat fisik kesedihan karena hubungan perpacaran. Ia juga ingin beristirahat dan merawat diri yang rasanya remuk, namun melihat Baskara dengan biru di jidat, Kanya urung. Menghela nafas, gadis itu beranjak menuju dapur. Menarik rak paling bawah pantry dan menemukan kotak bertuliskan P3K di atasnya. Kotak berisi alat kesehatan ini memang disimpan di bawah sana, ia sendiri yang mengorganisir, merapihkan, dan meletakkan. Bunda pernah jatuh dari tangga saat mencoba membetulkan atap setelah sang ayah tiada. Wanita yang telah melahirkannya itu ingin melanggengkan tradisi membetulkan rumah sendiri yang selalu dilakukan ayahnya. Naas, kaki bunda terselip di tangga keempat saat akan turun, menimbulkan bedebam keras dan Kanya terpaksa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa. Bunda memang tidak diopname, tak ada operasi yang harus dilakukan. Tapi kejadian itu membuat Kanya trauma. Ia jadi terbiasa membeli beragam obat mana tahu akan ada kejadian tak terduga seperti waktu itu. Sayangnya, Kanya lupa, membeli saja tidak cukup, ia harusnya belajar cara menangani luka juga. Gadis itu betul-betul nol besar dalam menangani luka, seperti saat ini. Gadis itu jujur saja tak tahu apa yang ia harus lakukan dengan kotak berisi banyak obat ini. ‘Tapi… pasti ada yang bisa membantu kan?’ pikirnya. Ia membawa kotak menuju ruang tamu. Duduk lagi di sebelah Baskara yang mengompres diri sendiri. Kanya membuka kotak tersebut, mencari alat yang tepat untuk mengobati. “Kamu ngapain?” tanya Baskara penasaran. Gadis itu menatapnya dengan heran, seolah berkata, ‘Mau ngobatin lah, ngapain bawa kotak kalau gak ngobatin?’. Kanya malas bicara dan menjelaskan, jadi ia berkomunikasi lewat ekspresi, berharap Baskara bisa membacanya. Otak yang sedang konslet karena lelah belum makan, kurang tidur, dan bengkak menangis, ini ditambah kaget dengan kedatangan pria di hadapannya yang seolah seperti maling, membuat Kanya merasa terdisorientasi dari sekitar. Dengan cekatan Kanya mengambil kapas dan perban serta plester. Berniat membebat dahi dan sekitar kepala Baskara dengan perbendaan itu. “Loh, ngapain?” tanya Baskara dengan agak curiga. Ia menatap gadis di sebelahnya yang urung menjelaskan. “Woy!” Gadis itu tiba-tiba menyerbu maju dan tanpa basa-basi seolah menyerang. Seiring teriakan, Kanya berusaha memasang kapas yang sudah ia beri obat merah pada benjolan Baskara. Sementara itu pria yang jadi sasaran berusaha menahan tangan memaksa Kanya. “Kamu tu ngapain?” teriak Baskara panik, takut akan dipukul kedua kalinya. Meskipun badan Baskara serta tenaga jauh lebih besar, namun karena terluka, Baskara harus mengeluarkan kekuatan ekstra menahan jemari Kanya yang kelihatan ringkih. Dengan terpaksa, pria itu membanting tangan Kanya ke samping dan menyingkir ke sofa sebelah, menjauh dari gadis yang saat ini masih membawa kapas di tangan kanan, perban di tangan kiri. “Mau ngobatin lah!” seru Kanya masih memaksakan. Ia mengejar Baskara ke sofa sebelah, tanpa melihat sekitar. Tiba-tiba bagian perut kanannya berdenyut, membuat gadis itu mengrinyit dan limbung. Kakinya terjegal oleh kaki meja, membuat tubuhnya oleng maju ke depan dengan tangan ke atas berusaha menyeimbangkan. Gagal. Kanya lagi-lagi terjatuh dengan posisi tengkurap. Bedanya, ia kini mendarat di perut Baskara. Beberapa detik berlalu, keduanya masih diam kaget sendiri dengan kejadian barusan yang berlangsung sangat cepat. Gadis itu bisa merasakan kerasnya bagian itu. Entah ada berapa kotak di sana, tapi sepertinya Baskara adalah tipe pria yang menjaga bentuk tubuh sempurna dengan olahraga. Kalau tidak, mana mungkin ia punya roti sobek seperti ini bukan? Sadar, wajah Kanya memerah.  Ia malu sendiri memikirkan tubuh Baskara dengan abs sempurna. Pun posisinya saat ini sama sekali tak membantu. Tangannya satu memegang d**a bidang pria itu, satu lagi berada di paha. Cepat-cepat, Kanya menyingkir dan gelagapan menatap Baskara.  Pria di depannya masih tak bereaksi, ia membeku sambil mengikuti gerakan Kanya dengan mata. “A-aku…” lagi-lagi gadis itu gelagapan. “Sorry…” “Nggak papa. Nggak sengaja kan?” jawab Baskara sambil membetulkan posisi duduknya. Canggung menyelimuti ruangan, Kanya duduk di bagian soa terjauh dari Baskara bertempat. Gadis itu menunduk dan merutuki kebodohannya. ‘Posisi apa itu?’ Batinnya malu. Baskara berdeham, membuat Kanya kembali memperhatikan pria yang tsepertinya telah melupakan kejadian barusan. “Ini benjol Kanya, bukan luka luar. Ngga perlu pake obat merah.” Ujar Baskara dengan ekspresi setengah kesal, ia cemberut layaknya anak kecil, membuat Kanya mau tak mau ikut tersenyum diam-diam. Sebenarnya, denyut di dahi Baskara makin bertambah karena kelakuan konyol Kanya barusan, tapi sejenak, pria itu tertawa kecil dalam hati. Gadis itu ikut berdeham agar tak terlalu malu, barusan ia melakukan tindakan bodoh dan jelas sekali memalukan. Tapi kalau memang Baskara tak mempermasalahkannya, maka Kanya juga tak akan mengungkit. “Aku… ke kamar mandi dulu.” Ujar Kanya kabur. “Aku buatin teh juga.” Setengah berlari, Kanya menuju WC yang terletak sepuluh meter dari ruang tamu. Dari belakang, Baskara tersenyum kecil memperhatikan. Mungkin Kanya tak melihat, tapi telinga pria itu memerah. Tak banyak yang tahu kalau jika Baskara tersipu, bukan pipi yang merona, tapi telinga. Kuping itu akan bergerak kecil dan menjadi merah, tanda malu dan senang bersamaan. *** “Aku di suruh bunda buat njagain kamu.” Kedua manusia itu kini duduk berdua di teras, meninggalkan tempat kejadian perkara. Kanya sudah kembali dari kamar mandi, tempat ia tadi membodohi diri. Setelah menyesuaikan perasaan agar kembali seperti semula, Kanya keluar, mengajak pria yang masih mengompres dahi tersebut duduk di teras. “Kenapa?” Baskara tersenyum simpul, memberikan pandangan yang seolah mengatakan ‘kamu lupa?’. Badan pria itu dihadapkan pada gadis itu, memberikan perhatian penuh dan mengamati penampilan Kanya yang tanpa rias dan berpiyama baby blue.  “Coba deh kamu liat diri kamu sendiri.” Menaikkan alis sebelah, Kanya kemudian menunduk melihat bagaimana keadaannya saat ini. Sudah tengah hari, namun ia masih dengan baju semalam. Tak mandi, tak sarapan, cuci muka saja tidak. Kotoran mata yang belum ia bersihkan pasti terpampang jelas. Ah, malu menyerang gadis itu lagi. Ingin tenggelam saja rasanya. “Lucu deh lihat kamu kayak gini,” ujar pria itu tiba-tiba. Membuat Kanya merasa semakin ingin masuk ke kamar dan mengusir Baskara. Kenapa pria itu harus menambah-nambahi sih? Kanya merengut sambil menutupi wajahnya. “Kamu tuh jangan gitu dong. Aku malu tau.” Gerutu Kanya. Dengan sebal ia menghadap depan lagi, mengangkat kakinya ke kursi, menyembunyikan wajah di antara kaki yang terterkuk tersebut. Diam-diam Kanya mengucek mata, menghilangkan belek yang menghinggap di ujung. “Kelihatan tuh kamu lagi ngilangin belek,” ujar Baskara sambil setengah tertawa. Kaget, Kanya dengan segera memukuli pundak Baskara, lupa kalau pria itu punya luka. “Aduh!” pekik kecil pria itu ketika tak sengaja Kanya mengenai jidatnya. “Eh, sorry!” Kanya dengan segera mengamankan tangannya sendiri agar tak lebih lanjut menyentuhi bagian tersebut. Wajahnya mendekat, meniup-niup benjol Baskara agar segera hilang, seperti ibu yang mengobati anak kecil. Badan condong ke depan, tangan sebagai tumpuan di sisi kursi. Baskara terdiam tak bergerak, ia menikmati tiupan itu yang meskipun tak berefek apa-apa selain mendinginkan sepersekian detik, namun membuatnya merasa senang. “Masih sakit nggak?” tanya Kanya khawatir. Baskara mengangguk. Lagi, Kanya meniupi luka tersebut, tak menyadari posisinya hampir seperti orang yang akan mencium dahi. Sementara pria yang dirawat tersebut tersenyum simpul. “Nya…” “Apa?” “Kamu tuh, suka clueless ya?” “Maksudnya apa?” tanya gadis itu menghentikan aktifitas. Baskara tersenyum menggoda, wajah yang membuat Kanya ingin sekali memukul. Gadis itu mengriyit, menatap lekat mata Baskara yang juga melakukan sama. Kanya menjauh sejenak, mengambil jarak di antara mereka sambil berekspresi curiga. Ia mengangkat tangan, melepas dari tempat sebelumnya agar bisa duduk sempurna di kursi, namun ditahan oleh jemari Baskara yang besar. Jari-jari itu melingkupi pergelangan, membuat Kanya bingung namun terasa mendebarkan. Gadis itu ingin melepaskan tubuhnya dan juga hatinya dari sensasi aneh yang diberikan pria itu. “Kamu ngapain sih?” tanya Kanya dengan nada tinggi. Bukannya galak, gadis itu malah seperti sedang panik. “Masih sakit.” “Eh?” Kanya memperhatikan tingkah Baskara, makin heran. Pria itu menunjuk d**a sebelah kiri dan menatap Kanya memelas. “Ini…” Baskara membawa tangan Kanya yang kecil menuju tubuhnya, menarut tepat di bagian atas jantung yang berdetak. “Yang kamu tendangin tadi masih sakit.” ujar pria itu pelan. Kanya tersipu dan berdebar karena tindakan impulsive Baskara satu ini. Tapi tenang, Kanya menarik tangannya. Gadis itu berdeham dan kembali ke tempat duduk dan diam. Pura-pura marah. “Kok nggak diobatin?” tanya Baskara dengan nada seksi. “Kamu nih apaan sih,” ujar Kanya sambil cemberut. “Aku khawatir beneran. Jangan bohong dong!” Baskara tertawa keras melihat Kanya yang sudah seperti anak kecil. Mulai dari baju piyama biru, rambut acak-acakan, wajah merengut, serta kaki yang ditekuk dan ia peluk karena sebal. “Ya maaf deh… abisnya kamu lucu banget.” Tanpa rasa bersalah, Baskara masih tertawa kecil mengingat ekspresi Kanya barusan. “Tapi beneran deh Nya, kamu coba cerita dulu kemarin kenapa. Bunda bilang kamu engga ada keluar kamar. Aku juga bingung jelasinnya ke bunda.” Suara Baskara yang serius dengan alis bertaut ke tengah, membuat Kanya diam. Gadis itu belum ingin menjelaskan kejadian kemarin. Ia masih dalam tahap menolak kenyataan kalau ia dan Banyu bertengkar hingga sampai begini. “Kalau kamu emang nggak mau cerita ke aku nggak papa.” Menyadarkan Kanya dari lamunan, Baskara menatap gadis di samping dengan serius. “Paling engga, kamu harus ngasih tahu bunda ya.” Keduanya bertatapan dalam diam, tenggelam dalam mata satu sama lain. Lama, tanpa suara, membiarkan waktu berjalan sendiri, sementara keduanya membeku. “Mata kamu masih ada beleknya tuh,” pecah Baskara.  “Nyebelin!” teriak Kanya, Baskara tergelak. Ia menelungkupkan wajah dan menyembunyikan kepala, diam-diam tersenyum kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD