Bagi Kanya, ini adalah saat paling canggung dalam hidupnya. Ia memanglah gadis yang canggung, namun tak pernah secanggung ini. Di depannya duduk Lintang dan Sendy, bersebelahan menatap ia dan Baskara bergantian dengan pandangan tak tertebak. Sementara itu Baskara yang berada di samping tak juga buka suara dan hanya diam menatap jemarinya yang ia mainkan di atas meja.
Keempat manusia itu bertemu di dapur, mereka memutuskan untuk berkumpul di sana setelah Kanya dan Baskara berganti baju. Beruntung bagi Baskara, ada baju ayah Kanya yang cukup untuk ia pakai meskipun agak kesempitan. Memang ayah Kanya berukuran lebih kecil dari pria tersebut, namun perut yang tambun semasa hidup membuat kaos-kaos yang beliau gunakan cukup dikenakan oleh Baskara sementara.
Tak ada yang buka suara, sepi. Lalu lalang kendaraan sayup-sayup terdengar mengisi kekosongan. Detik jam terasa begitu keras terdengar memenuhi ruangan. Kanya berdeham, mencoba mencairkan suasana dan ingin bicara. Belum sempat bicara, tatapan tajam Lintang dan Sendy mengenainya, mereka men-scan menyeluruh atas sampai bawah tubuh Kanya seolah orang yang baru pertama kali bertemu. Gadis itu urung bersuara dan kembali mengunci rapat-rapat bibir.
Entah berapa lama posisi seperti itu mereka endapkan. Menit-menit berlalu sia-sia, membuat Kanya jengah meskipun tahu bahwa ada salah paham yang saat ini harus ia luruskan.
“Jadi…” Lintang bersuara setelah menghela nafas. “Jelasin.”
Nada itu terdengar menuntut, bukan terdengar lagi, Lintang memang menuntut. Tubuhnya condong ke depan, meminta salah satu dari terdakwa di hadapannya –tepatnya Baskara, buka mulut mengenai apa itu barusan. Jemarinya mengetuk meja kayu, seolah menggantikan detik jam yang tadi menjadi penguasa.
“Tang, aku…”
“Bukan kamu, dia.” Menunjuk dengan dagu, Lintang menatap Baskara yang menarik salah satu pipi ke samping, menunjukkan raut kesal. “Kenapa kamu di sini?”
Suara Lintang yang jadi berat seolah mengintrogasi Baskara. Ia menunggu jawaban pria yang masih diam menatapi langit-langit, pantry, meja, jarinya sendiri, apapun itu asalkan bisa menghindari tajamnya mata Lintang.
“Lin… aku bisa jelasin.” Timpal Kanya. Ia bukannya ingin membela Baskara, tapi gadis itu tak ingin ada ‘pertumpahan darah’ di sini. Ia tahu betapa bencinya Lintang pada Baskara yang dianggapnya b******k, main wanita, dan b******k. Kata b******k memang diucap dua kali agar orang tahu betapa membencinya Lintang terhadap pria tersebut.
“Kanya diam,” ujar Lintang pelan tapi tegas. Tentu apalagi yang Kanya lakukan selain diam? Kelihatan sekali kalau sahabatny tersebut ingin meledak. Kanya tak ingin membuat masalah semakin runyam, jadi ia menurut.
Sendy yang sejak tadi diam, mengusap wajah kasar dengan kedua tangannya. Memuat rambut acak yang tak biasa ia biarkan. Pria itu tentu ingin sekali mengomentari adegan apapun itu barusan. Tapi ia tak bisa menemukan kata yang tepat atau jalan agar ia tak segera menghajar Baskara karena berani-berninya mendekati Kanya.
Dua manusia itu sangat protektif memang dengan Kanya. Ada banyak kerapuhan yang mereka ketahui tentang gadis tersebut dan ini membuat mereka ekstra hati-hati dalam menjaga lingkup ‘cinta-cintan’ Kanya.
Sekarang… lihatlah. Susah-susah Sendy dan Lintang memberi tahu untuk tak dekat dekat dengan Baskara, si playboy kampus, gadis itu baru saja basah-basahan mesra di depan sana. Rasanya Lintang ingin sekali marah. Apalagi mengingat cerita Sendy yang bilang bahwa Banyu sedang salah paham pada Kanya. bukannya instropeksi diri, Kanya malah segera mencari pasangan baru? Bukan Cuma baru, tapi pria paling popular di kampus? Apa Kanya tak mau memperbaiki hubungan?
Begitu banyak pertanyaan, begitu banyak amarah, namun Lintang pendam dan hanya diam, menyalurkan sebagian emosi lewat mata yang ia tajamkan. Kalau seandainya bisa, dengan matanya, Lintang ingin menembakkan laser ke kepala Baskara.
“Nggak ada apa-apa,” jawab Baskara sekenanya. Pria itu akhirnya buka mulut, melendetkan pundak ke kursi, seolah sedang menantang wanita ganas di depannya. Kanya tentu melotot mendengar jawaban tersebut. Gadis itu ingin sekali menutup mulut Baskara yang sepertinya tak direm dan tak disaring dahulu sebelum kalimat keluar.
Dibanding marah, Lintang tiba-tiba saja tertawa. Mungkin sudah hilang akal dia karena mendengar jawaban tak masuk akal dari pria paling tinggi di ruangan. Sendy menatap ketiganya dengan khawatir, terutama Lintang yang masih melontarkan tawa panjang tak berhenti seolah sedang kesurupan. Sendy lebih suka kalau Lintang sedang marah tak keruan dan mengomel tanpa henti, baru kali ini ia mendengar tawa aneh bin sinis yang membuat begidik ngeri.
Tawa itu lama-lama memudar, berganti jadi decihan sinis dan mata yang kembali menusuk.
“Kamu jangan bohong. Kamu ngapain di sini? Kamu ngapain ndeketin Kanya? Ngapain tadi basah-basahan?” kali ini Lintang menggeram. Tangan Lintang yang langsing itu mungkin bisa meremukkan tulang Baskara jika amarah bisa dijadikan kekuatan fisik.
“Tang, please… biar aku aja ya yang jelasin?” kali ini Kanya meminta. Dengan mengambil resiko, Kanya memegang jemari Lintang yang berada di dekatnya. Tentu Kanya tahu kalau ada kemungkinan dirinya kena damprat dan nasehat tak menyenangkan dari sahabatnya satu itu. Namun Kanya pikir, akan jauh lebih runyam lagi jika Baskara yang memberikan pengertian.
Tangan Kanya ditepis. Lintang menolak mundur, menjadikan Kanya tanpa harapan untuk melunakkan sahabatnya yang terlanjur murka.
“Jawab yang bener sebelum aku hajar kamu.” Ancaman keluar dari mulut berbisa Lintang. Kanya dan Sendy saling berpandangan dan memberikan kode satu sama lain agar salah satu dari mereka berdua meminta kembali Lintang untuk menyudahi interogasi. Pada akhirnya, karena memelas, Sendy kalah dalam permainan mata itu, ia dengan pasrah menjadikan diri sendiri tumbal dan samsak Lintang.
“Tang,” kali ini Sendy memegangi kedua pundak gadis sebelahnya yang tegang. Meskipun sedikit melambai, namun Sendy sebenarnya masih menyimpan kekuatan laki-laki sehingga seberapapun Lintang berusaha membebskan diri, ia tak bisa.
“Lintang, kita bicaraiin ini pelan-pelan sama Kanya.” Sendy mengingatkan. Meski tak ikhlas, Lintang dengn cemberut mengurangi tensi dalam ruangan. Ia duduk kembali, tegak, masih merasakan seluruh otot tegang karena marah.
“Baskara, tolong pulang.” Dingin, Sendy menyuruh. Dengan hela nafas panjang, pria itu berdiri, tak mendebat lebih jauh. Melangkah, pria itu pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan dapur Kanya dan Kanya sendirian. Ducati merah yang sudah mongering kena cahaya mentari, Baskara kendarai pulang.
Kanya merasa canggung ditatap, lebih vanggung lagi karena ia tahu kedua temannya kembali diam menatapnya lekat.
“Aku jelasin ya?”
Sendy mengangguk. Lintang masih diam menatap tak bersuara.
***
“Jadi gitu… kalian masih marah?”
Satu jam terakhir terasa begitu panjang bagi Kanya memberikan life update pada Lintang dan Sendy. Ia runtut menceritakan bagaimana ia dan Baskara dekat, bagaimana Baskara tiba-tiba meminta sarapan bersama, saling curhat perihal masalah hidup dan cinta. Gadis itu berharap bahwa dua sahabatnya tak akan memberikan penghakiman buruk atas apa-apa yang sudah dilakukannya. Sungguh, ia dan Baskara hanya murni berteman.
Tak lupa, Kanya juga bercerita soal Banyu yang menginginkan ‘break’ dalam hubungan keduanya. Kesedihannya dan juga soal Baskara yang membantu membangkitkan Kanya dari keterpurukan saat Lintang dan Sendy tak ada.
Hening.
Sendy mengusap wajah frustasi dan setengah tak percaya bahwa Kanya dan Banyu mengalami ‘break’. Yang barusan Kanya ceritakan seolah adalah karangan gadis itu saja, bukan hal nyata. Meskipun tak mengenai baik Banyu, namun Lintang dan Sendy yakin bahwa pria itu tak akan mengambil tindakan ekstrem kanya karena antar-jemput kemarin bukan?
“Nya, aku jujur aja ragu dengan kisahmu barusan. Banyu bukan orang yang picik dan gampang cemburuan kan? Ngga masuk akal di minta break cuma karena tahu kamu dan Baskara jalan bareng.”
Kanya menghela nafas lelah, pertanyaan soal Banyu tak mungkin begiti atau Banyu tak mungkin begitu ditampa Kanya berhati-hati. “Bukan soal jalan sama Baskaranya Sen, Banyu nggak suka dibohongi.”
Kanya jeda sejenak, menatap kedua sahabat yang sepenuhnya bisa menangkap arah pembicaraan ini akan dibawa ke mana. “Banyu marah karena ngerasa ditipu: sama aku, sama kalian. Dia bilang dia sulit percaya menegenai apakah ini pertama kalinya kalian ngelindungi aku dengan kebohongan atau kesekian kali. Dia bilang butuh waktu lagi buat percaya dan juga bilang kalau misal aku mau ngeeksplor rasa sukaku ke orang lain dulu, aku diperbolehkan." Dengan sedih, itulah yang Kanya simpulkan dari percakapannya beberapa hari yang lalu. Kalimat Banyu waktu itu terngiang kembali, menusuk lagi seolah saat ini Kanya memang sedang bicara berdua, mengulang kejadian tersebut dalam pikiran.
Sendy diam, Lintang juga membeku tak bergerak, mereka bergumul dengan kepala masing-masing. Pria gembul itu jadi merasa bersalah karena marah padahal ialah yang secara tidak langsung membuat Kanya dan Banyu bertengkar.
Baru saja Sendy akan minta maaf, suara dingin Lintang memecah keheningan.
"Jadi... kamu pikir pènyebab utama hubunganmu dan Banyu retak tuh karena aku dan Sendy?"
Kanya melotot mendengar simpulan yang barusan sahabatnya katakan. Tak bisa dihilangkan keterlibatan Lintang dan Sendy soal ‘break’ Kanya-Banyu, namun jelas mereka bukan sebab utama.
“Nggak gitu Tang!”
“Aku sama Sendy nggak kenal Banyu, tapi kita bohong karena kamu juga nggak jujur ke dia. Kamu buat dia nunggu, capek, di kampus nyari ke sana ke mari. Iya, aku sama Sendy bohong ngelindungin kamu, tapi jujur Nya… kalau seandainya kamu juju raja ke Banyu soal kamu pergi ke rumah sakit bareng Baskara, kami nggak akan perlu berbohong.”
Lintang menatap tajam gadis di depannya. “Percuma aku balik pagi buat ngasih surprise kamu, ternyata malah aku yang dikasih surprise,” Lintang berdiri, terlihat begitu kecewa.
“Tang… udah,” bisik Sendy menarik kembali gadis itu duduk di tempatnya. Tidak bisa, Lintang tetap tegak.
“Kamu tau nggak sih, Banyu bilang gitu mungkin karena emang lihat kamu yang plin-plan. Kamu yang engga punya batasan ke orang lain supaya mereka nggak ganggu hubunganmu. Kamu nganggep semua orang baik, padahal kami udah kasih warning. Giliran ada yang salah, kamu nyalahin kami juga?” Lintang tertawa getir, gadis itu tahu kalimatnya pasti menyayat hati Kanya, tapi ia tak peduli. Baru pulang dari Malaysia, ia malah menemukan sahabat yang katanya sedang ‘sedih’ berdua-duaan dengan orang yang paling Lintang benci di dunia.
Air mata Kanya mengalir, perkataan Lintang barusan tidak bisa ia sanggah maupun ia benarkan. Seandainya Kanya langsung bicara dan mengkomunikasikan semua, kejadian ini tak perlu ada.
”Kamu kelihatannya happy aja tuh ditinggal Banyu. Beneran ‘nge-eksplore’ kemungkinan lain.”
Kanya syok, sementara Sendy berusaha menghentikan laju mulut Lintang yang ia kira akan masih terus nyerocos. Tidak.
Lintang pergi dari dapur, mengambil koper yang ia taruh di depan rumah. Menggeretnya menuju mobil Sendy dan menunggu sang pemilik datang membuka bagasi mobil.
Sendy kebingungan menatap kepergian Lintang dan juga Kanya yang menutup wajah dan menaik turunkn bahu sesenggukan. Hati pria itu terbagi antara harus mendukung Lintang atau menenangkan Kanya. Pada akhirnya, setelah gesture mohon maaf, Sendy menyusul Lintang ke mobil.
Kanya sendiri, menelan kesedihan bulat-bulat.
‘Kenapa semuanya jadi begini?’