Banyu Cemburu?

762 Words
Dalam waktu beberapa jam, semua yang ia kira akan berjalan baik dan menyenangkan tidak sesuai ekspektasi dan malah jadi bencana. Lintang dan Sendy yang marah besar padanya. Banyu yang hingga kini belum membalas pesan kembali. Dan juga Baskara yang akhirnya pergi sendiri menjemput Renata untuk diantar ke kampus tanpa Kanya. Sebenarnya kemarin, sebelum rencana menjemput Lintang pukul satu –yang akirnya tadi gagal, Baskara akan mengajaknya membantu menjaga Renata dalam pemulihannya masuk kuliah perdana setelah kecelakaan. Dengan senang hati Kanya akan melakukannya, bagaimana mungkin Kanya melewatkan kesembuhan orang yang menganggap Kanya teman baik? Sayang… karena kejadian barusan, Baskara mengirimi pesan kalau ia akan membawa Renata sendiri. Entah berapa lama Kanya menangis di dalam kamarnya, tapi ketika mendongak, cahaya matahari yang agak panas menembus jendela dan mengenai gadis itu. Ini mungkin sudah siang, dan Kanya lgi-lagi terjebak dalam kesedihan, mengurung diri di kamar, tak mau keluar. Belum ada pesan atau telepon dari sahabat maupun kekasih. Semua kosong, meninggalkan Kanya seolah gadis itu adalah tokoh antagonis yang harus dijauhi. “Tidak! aku tidak mau begini!” pekik Kanya tiba-tiba. Hidungnya yang memerah ia seka, mendial nomor Sendy yang tak juga mengangkat. Lalu ia mencoba menghubungi Lintang, meskipun tahu gadis itu marah padanya, tapi siapa tahu Lintang mau memaafkan. Keduanya tak mengangkat, membuat air mata Kanya kembali mengalir. Dengan tangan gemetar ia menelpon orang yang selama ini melarangnya menelpon, Banyu. Beberapa kali deringan, Kanya sudah merasa makin hilang harapan. Tapi untuk, pada dering ke enam, pria itu mengangkat. “Halo Kanya?” Air mata langsung turun dari pipi Kanya. ia menangis sesenggukan, sementara pria di ujung sambungan terdiam mendengarkan isakan yang memenuhi pembicaraan. “Kamu kenapa?” tanya Banyu setelah isakan Kanya mereda. Kanya berusaha menjelaskan dengan terbata-bata, Banyu jelas tak mengeti dan hanya berkata, “Kanya… tenang dulu. Ceritanya nanti dulu, kamu jangan nangis dulu.” Mengikuti saran Banyu yang lebih kedengaran seperti perintah, Kanya mengatur nafas dan meredakan isakannya dan bicara dengan lebih jelas. “Aku… kayaknya sama Lintang dan Sendy… udah engga temenan.” Air mata masih terus turun meskipun sekuat tenaga, diaturnya suara agak tidak terbata. “Kenapa gitu?” tanya Banyu lembut. Mengambil nafas lagi, Kanya bercerita. Pria di ujung sambungan terus mendengarkan meskipun sesekali harus menghentikan obrolan karena suara tak jelas yang dihasilkan oleh Kanya. “Coba kasih waktu. Siapa tahu mereka juga mau ngehubungin kamu, Cuma waktunya aja yang sekarang lagi enggak tepat.” Singkat, Banyu memberi saran. “Nanti ada waktunya. Kamu sabar ya Kanya.” Mendengar nasehat dan semangat yang diberikan Banyu, Kanya menjadi lebih tenang. Ia mengurangi isakan dan pada akhirnya berhenti. Sementara itu Banyu diam dan menunggu hingga Kanya betulan berhenti berair mata. “Banyu…” “Iya?” “Makasih ya.” “Sama-sama, Kanya.” Kanya terdiam cukup lama, begitu pula Banyu. Sebenarnya ada banyak hal yang mau gadis itu katakana, banyak yang mau ia sampaikan bersliweran dalam kepala. Ia begitu rindu suara Banyu yang selalu ada menenangkan saat Kanya dalam masalah, ia rindu hadirnya Banyu yang selalu menunggu hingga Kanya selesai berair mata dan bukan berusaha menghentikan tangisnya, seperti saat ini. “Nyu…” “Iya, Kanya…” Dengan sedikit keberanian Kanya bertanya. “Kita… kapan bisa balik kayak dulu lagi? Aku kangen kamu.” Hening. Banyu diam membuat Kanya berpikir kalau pria itu meninggalkan sambungan dengannya karena pertanyaan barusan. “Aku nggak tahu juga. Aku mau ketemu kalau kamu udah bisa nata hati.” Jawab Banyu. “Nata hati tuh maksud kamu gimana Nyu?” Kanya hampir akan menangis kembali. “Aku nggak ngerti maksud kamu. Aku suka sama kamu, aku mau kamu, apa itu nggak cukup?” “Kamu yakin kamu suka aku? Bukan karena udah lama bersama, terus kamu jadi engga sadar perasaanmu sendiri?” “Maksud kamu apa?” kali ini Kanya terheran dengan perkataan Banyu. Ia tak mengerti kenapa Banyu menyimpulkan sesuatu yang tak masuk akal. Tentu Kanya menyukai Banyu, ah, bukan… Kanya jatuh cinta pada Banyu. “Aku juga engga tahu. Aku jujur aja enggak suka kamu deket sama Baskara. Kamu kelihatan bahagia banget bicarain aktivitas sama dia, kamu bahkan minta temen-temenmu bohong kalau kalian jalan bareng.” “Aku nggak minta mereka bohong, Nyu!” Sanggah Kanya tak terima. “Sama aja,” ujar Banyu. “Pokoknya, paling engga sebulan deh. Sebulan kita break. Kalau ternyata kita masih bisa bareng, tangan aku selalu terbuka untuk kamu.” Kanya terdiam, mendengarkan seksama. Bersamaan dengan itu, Banyu pamit dan memutuskan sambungan. Otak Kanya berputar terus, mempertanyakan kalimat, “Aku jujur aja enggak suka kamu deket sama Baskara”,  yang tadi disebutkan pacarnya. ‘Banyu… cemburu?’  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD