Tak Bisa Pergi

1148 Words
Duduk di bawah terik matahari, Kanya menatap gedung-gedung di depannya dengan kosong. Ramai riuh mahasiswa yang saling bercanda di seberang maupun derap langkah kaki yang terburu menuju kelas tak ia hiraukan. Kulitnya yang terekspos mentari memerah seperti udang setengah matang, rambutnya sudah tak bisa lagi melindungi ubun-ubun panas jika dipegang. Gadis itu memang sudah merasa pening sejak tadi, tapi itu tak membuatnya beranjak. Ia malah makin betah berada di bangku panas seberang lapangan. Mungkin ia tak sadar kalau tubuhnya sudah meminta dipindahkan, atau mungkin, dalam dirinya memang menginginkan seperti ini. Sakit… sakit yang sengaja ingin diciptakan dari membiarkan jasadnya terpanggang perlahan di bawah terik. … Nya, maaf ya hari ini aku nggak ke kampus dulu. Aku masih nenangin Lintang. Kamu tenang aja, dia pasti nanti bakal maafin … Lagi-lagi ingatannya berputar pada teks dari Sendy pagi tadi. Meskipun makin lemas, Kanya memaksakan tubuhnya untuk berdiri, beraktifitas lagi, masuk kampus. Ia tak ingin membuat bunda khawatir. Sudah beberapa hari terakhir gadis itu merasa tidak berguna karena terus-terusan membuat wanita nomor satu di hidupnya ketr-katir memperhatikan gerak-gerik Kanya. Jadi, setelah setengah mati berusaha menyeret kaki ke dalam kelas, berusaha memfokuskan diri pada kata-kata yang banyak rupa dari dosennya, Kanya berisitirahat. Mungkin di pinggir lapangan dengan banyak manusia lalu-lalang bukanlah tempat yang paling bijak untuk menenangkan pikiran maupun batin, tapi hanya dudukan inilah yang bisa Kanya capai secepat mungkin. Bermenit, puluh, ratus, berlalu begitu cepat, tak terasa kini ubunnya tak lagi merasa terbakar. Sinar oranye menyinari tubuhnya yang terlihat begitu kecil di antara bangunan raksasa di sekitarnya. Tak menyadari, tinggal segelintir saja manusia yang terlihat –bisa dihitung jari, setidaknya semua jari termasuk jari kaki. Tak menyadari, sesosok jangkung sedari tadi duduk di pinggir taman agak jauh di belakang Kanya terus memperhatikan. Menunggui entah sampai kapan gadis itu mau berposisi begitu. Sejak Kanya keluar dari kelas, Banyu sudah mengikutinya diam-diam. Sebenarnya tidak terlalu diam-diam, tubuh Banyu yang bisa dibilang tak seukuran pria lainnya membuat Banyu dengan mudah dilihat siapa saja meskipun berusaha agak bersembunyi. Entah sudah berapa lama pria itu ikut diam di belakang kekasihnya. Ia ingin menghampiri, namun rasanya tak bisa. Ia kemarin yang memutuskan dan meminta Kanya untuk berhenti sejenak berhubungan, termasuk juga saling mengirimkan pesan ataupun menelpon. Rasanya Banyu ingin memutar kata-katanya dan merengkuh Kanya dalam pelukannya. Ia merasa sangat sedih melihat gadisnya duduk sendirian dan termenung berjam-jam, entah pikiran Kanya berlari ke mana. “Kanya?” Suara yang Banyu kenali tiba-tiba hadir. Ah… pria itu, kawan lamanya. Refleks, Banyu menyembunyikan diri di belakang tanaman agar tak terlihat, diam-diam pria itu memperhatikan gerakan tubuh keduanya. Kalau cemburu adalah api, mungkin hatinya sudah habis terbakar. Banyu memang tak mau mengakui kalau apa yang ia rasakan sekarang adalah cemburu, tapi pria itu tahu betapa tak sukanya dirinya melihat Baskara yang duduk dan menenangkan Kanya. Bukan dirinya. ‘Lihatlah… Kanya tertawa,’ Sebuah suara kecil dari dalam dirinya melirih pelan. Api barusan padam, tiba-tiba surut dan hanya tersisa perasaan yang Banyu sendiri tak bisa jelaskan. Jika harus menggambarkannya dengan satu kata, maka ‘kalah’ adalah kata yang paling mendekati kondisinya saat ini. Mirip rasa mencelos saat mendapati pengumuman juara dan bukan nama kita di salah satunya. Pria itu tersenyum getir. “Saatnya pulang Banyu,” *** Baskara merasa bersyukur karena akhirnya Kanya bisa tertawa kecil akibat guyonan yang ia ciptakan. Kebetulan saja ada pertemuan organisasi yang harus Baskara hadiri sore ini, namun karena rapat tak kunjung mulai, Baskara memutuskan untuk jalan-jalan dan cuci mata melihat wanita-wanita di kampusnya. Yup, kebiasaan playboynya tentu belum hilang dalam semalam. Meskipun ia awalnya mendekati Kanya, namun Baskara tak bisa melanjutkan. Bukan karena kalah. Jikalau Baskara mau, pria itu merasa yakin bisa dengan mudah mendapatkan hati Kanya. Tapi tidak… mendekati Kanya sudah ia coret dari dalam listnya. Tentu Baskara masih membenci Lintang –alasan kenapa ia tertantang mendekati Kanya juga karena ia ingin menyakiti Lintang bukan? Ia masih tak suka dan berniat setidaknya membalas wanita licik itu sekali saja. Tapi setelah dipikir-pikir pria itu tak bisa menggunakan Kanya sebagai media balas dendam terhadap Lintang. Ia tak bisa karena tentu selain Kanya sudah dianggap sebagai sahabatnya –seperti Renata, Baskara juga merasa kejadian akhir-akhir ini terlalu berlebihan dan melelahkan. Kesalahpahaman Banyu dan Kanya, Renata yang tiba-tiba kecelakaan, atau Lintang dan Sendy yang entah mengapa selalu datang dan marah dengan hubungan pertemanan dirinya dan Kanya. Harusnya ia merasa senang karena berhsil membuat Lintang marah. Tapi apa yang Lintang kesalkan bukan hubungan asmara, melainkan pertemanan. Ia merasa seperti harus berebut teman dengan duo aneh tersebut, pun itu jadi membuat Kanya bersedih. Baskara tidak suka dengan hal tersebut. Ia terbiasa direbutkan dan pun ketika memperebutkan sesuatu, ia lebih memilih memperebutkan cinta. Apa-apaan berebut teman? Ia tak suka. Meskipun menyayangi Kanya, tapi ia tak bisa terus masuk dan bergelut dengan semua masalah yang menurutnya terus muncul begini hanya karena berada di sisi seseorang. Kalau masalah cinta sih tidak apa-apa karena Baskara merasa itu jauh lebih heroik disbanding berebut teman begini. Maka itu sebenarnya Baskara ingin memberikan jeda juga dalam hubungan pertemannnya dengan Kanya. ia ingin gadis itu menyelesaikan sendiri masalah dengan dua sahabatnya. Ia belum mau terlibat karena terakhir kali terlibat, ia malah membuat semuanya makin runyam. Pria itu memutuskan kembali menjadi Baskara yang dulu, yang tak peduli dengan masalah orang lain maupun perasaan orang lain dan hanya peduli pada diri sendiri. Baskara mau jadi orang yang masa bodoh lagi terhadap presepsi manusia lain. Ia bertekad kembali jadi playboy lagi! Ah… tapi saat melihat Kanya dan tubuh kecil yang duduk di bangku sendirian, Baskara tak bisa melakukan itu. Ia tak bisa meninggalkan gadis yang sudah menemaninya bercerita, berbagi kisah, dan canda selama beberapa waktu kebelakang. Kanya terlihat begitu rapuh dan meskipun Baskara terus terseret dalam kesalah pahaman yang menurutnya tak penting ini, Ia tak bisa begitu saja membuang sahabatnya tersebut. Dan kini di sinilah mereka, duduk kembali dan bercengkrama dengan Baskara yang berusaha jadi badut untuk memberikan Kanya semangat. “Kamu nggak jadi rapatnya?” “Hmm…” Baskara manggut-manggut membelai dagu tanpa jenggot. “Anggotanya pada belum dateng nih. Aku juga bingung kok engga ditelpon-telpon” Bohong, sedari tadi ponsel di sakunya bergetar kencang. Rapat pasti sudah di mulai dan Baskara juga pasti dicari-cari karena ia adalah koordinator humas untuk acara yang akan diadakan beberapa bulan ke depan. “Mau pulang nggak? Aku anter?” tanya Baskara. “Kamu nggak papa? Kan mau ikut rapat.” “Halah, itu gampang. Rumah kamu kan deket, nanti bisa ngebutlah kalaupun rapatnya telat. Lagian juga rapat kasual, nggak aka nada yang marah kalau aku telat.”  Kebohongan kedua. Baskara tentu akan dimarahi habis-habisan karena yang mengetahui progress divisinya dan yang harusnya mempresentasikan kemajuan tersebut adalah dirinya. Semoga saat nanti kembali dari mengantar Kanya, pria itu masih tetap bisa mempresentasikan apa yang sudah ia dan teman sedivisinya kerjakan. “Yuk.” “Makasih ya, Bas.” Meskipun Baskara bisa merasakan kesedihan gadis itu, setidaknya sekarang senyuman Kanya yang seperti biasa sudah muncul. Itu sudah cukup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD