“Eh, liat deh”
“Apaan nih?”
“Bukannya nih cewek dah ada pacar ya? Tapi emang Baskara suka keterlaluan sih.”
“Yaelah ini kan Baskara. Ya wajar lah. Yang enggak wajar tuh ceweknya. Udah punya pacar masih mau aja.”
“Kayak l0nte ya?”
Suara gaduh menyelimuti kampus pagi ini, membuat kicau burung yang harusnya syahdu tertelan suara parau manusia. Hiruk pikuk mahasiswa berlalu lalang bukanlah hal yang tidak wajar, namun kerumunan di depan mading (majalah dinding) perpus itulah yang tidak seperti biasanya. Karena ini masih pukul delapan, perpustakaan kampus yang baru akan buka pukul delapan makin memancing mahasiswa lain untuk datang karena ketidak biasaan tersebut. Ramai bergerombol, para mahasiswa memandangi konten yang membuat penasaran. Silih berganti orang-orang datang, melihat, berkomentar, lalu pergi lagi sambil terus membicarakan apa yang barusan mereka saksikan.
“Sendy, itu bukannya temen kamu ya?”
Terdiam, Sendy ikut memandangi beberapa foto yang ditempel acak, terasa terburu-buru untuk ditinggalkan di papan berita tersebut. Sendy lama terdiam, meskipun beberapa orang lain berusaha merangsek masuk karena ingin tahu, tapi tubuh besar Senyu tak bergeming. Setelah satu menitan berlalu, tangan pria itu dengan cepat mencabut semua gambar yang membuatnya kesal dan keluar dari padatnya manusia bergerombol. Suara sorakan terdengar karena kesal mereka belum sempat untuk menonton foto yang tadi ditempelkan.
Segera, Sendy mencari ponsel dari dalam totebagnya. Kulitnya yang memang putih menjadi merah padam saking kesalnya. Ia segera memanggil Kanya begitu menemukan si persegi panjang.
“Angkat dong!”
Agak jauh, di tempat Sendy berdiri, seorang wanita mengamati. Ia tersenyum senang melihat rencananya berjalan mulus. Sebentar lagi rencananya akan berhasil. Sambil terkikik kecil, langkahnya riang meninggalkan tempatnya barusan. Senandung ceria ia gumamkan.
“Senangnya…”
***
Terburu-buru, Kanya mendatangi Sendy yang kini sedang berada di belakang kampus. Ia tak sempat mandi karena kepanikan yang melanda. Ia bisa merasakan tatapan beberapa orang yang sinis saat kakinya menjejaki lingkungan fakultas. Gadis itu ingin sekali menutupi wajah, tapi tak bisa. Tak ada masker yang bisa ia gunakan, mka itu, lari adalah jalan yang bisa ia lakukan.
Dengan kecepatan yang tergolong lambat, kaki kanya mengayun dengan panik. Kepalanya tolah-toleh menjadi sahabat lelakinya tersebut. Tatapan itu masih mengikutinya bahkan sampai ke belakang kampus. Padahal ini masih tergolong pagi, tapi entah mengapa Kanya merasa mahasiswa yang ada terlalu banyak.
“Sendy!”
Kanya berlari mendekati Sendy yang duduk di bawah pohon akasia, tubuhnya yang gempal dan rambut klimis dari belakang tersebut tentu sangat dikenal Kanya. Nafas Kanya tersengal, menandakan kalau ia sudah lelah setelah tadi menyusuri kampus untuk mencari pria tersebut.
“Mana?”
Sendy dengan wajah muram menyerahkan lima buah foto yang ia genggam dan sedikit ia remas karena kesal. Segera, gadis itu mengambil dari tangan pria itu, memandanginya dengan seksama lalu… marah.
Tentu saja ia marah! Bagaimana tidak? foto itu berisi fotonya dan Baskara yang anglenya diambil secara tidak tepat. Ini membuat keduanya seperti sedang berciuman. Selain itu ada satu foto lagi yang diedit. Memperlihatkan kepala Knya yang ditempel tubuh berbikini. Tentu itu bukan tubuhnya! Mana ada KAnya pernah menggunakan bikini. Ia tak suka baju terbuka.
Siapa yang tega melakukan hal ini?
“Tadi aku udah berusaha untuk ngambil secepatnya, tapi kyaknya udah banyak yang liat.” Sendy terdengar sedih saat mengatakannya. “Maaf ya, Nya…”
Jantung Kanya seolah mencelos ke perut. Rasa marahnya berganti dengan sedih dan malu yang kini meraja, membuat gadis itu ingin pergi dan menghilang saja selamanya.
Air matanya turun, ia berjongkok untuk menutupi tangisan yang sepertinya akan bersuara. Buru-buru Sendy ikut berjongkok. Tangan pria gempal yang lembut memeluk Kanya, memberikan kekuatan agar gadis itu bisa bertahan.
“Sen… aku harus gimana?” Kanya tersedu di depan Sendy. Pria itu terdiam. Ia pun tak tahu jawabannya. Ia hanya bisa menenangkan gadis yang masih terus mempertanyakan kenapa semua ini terjadi.
“Sen, apa aku mati aja ya?”
Terkejut, Sendy membalikkan tubuh Kanya menghadapnya. “Kanya!”
“Aku… aku gimana? Aku malu Sen. B-banyu… kalau Banyu lihat gimana? Dia gak akan ndengerin aku,” lagi-lagi Kanya menangis. Kali ini suaranya cukup keras. Beruntung karena tempat ini tak banyak dijamah, hanya beberapa orang dan staff kampus yang lewat memandangi kasihan.
“Kanya… Kanya bisa. Jangan nyerah. Nanti aku bantu cari siapa yang nyebarin ya,” kali ini pria besar itu ikut menangis. “Kanya jangan sedih.”
Keduanya berpelukan erat sambil menangis berdua. Merasakan kesedihan satu sama lain dan nasib yang tak berpihak akhir-akhir ini.
Entah berapa lama keduanya berada pada posisi saling merangkul dan berjongkok, yang jelas ketika berusaha berdiri, kaki mereka langsung merasa kesemutan. Tawa kecil menular antar mereka. Keduanya memutuskan duduk di bangku dengan agak tertatih.
“Sen, ini gimana nyari dalangnya?”
Sendy terdiam, ia juga tak tahu harus bagaimana. Kalau seandainya Lintang ada di sini, mungkin saja ia bisa membantu. Tapi bagaimanapun juga kondisi pertemanan mereka yang masih terpecah belah membuat Senyu urung untuk menghubungi sahabatnya tersebut.
“Gimana kalau kita lihat CCTV? Di depan perpus bukannya ada ya?” Sendy merasa sangat cerdas karena bisa menemukan solusi dengan cukup cepat untuk sahabatnya.
“Tapi… emang bakal boleh ya?”
“Kalo nggak dicoba kan kita nggak akan tahu.”
“Iya sih…”
Dengan termenung Kanya memandangi lagi foto-foto di tangannya. Ia mengenali tempat ini dan kejadian ini.
“Padahal ini kemarin banget, Sen.” Kanya menghela nafas panjang. “Kemarin aku sedih banget dan males cepet pulang. Terus Baskara ngedatengin aku.”
“Kemarin banget?”
“Iya.”
Sendy berlagak menjadi detektif dan berusaha menyambungkan cerita dalam kepalanya supaya bisa digunakan sebagai clue.
“Terus gimana, Nya?” tanya Sendy penasaran.
“Ya kita ngobrol, terus ketawa-ketawa. Emang kemarin kita ngobrol berdua dan jaraknya nggak sedeket ini, apalagi sampe ciuman!”
Kanya memandangi gambar di mana kepala Kanya membelakangi gambar dan kepala baskara menghadap Kanya seolah mereka sedang beradu bibir. ia jelas ingat tak ada kejadian ini kemarin.
“Sen… ini gimana ya? Apa aku harus bilang ke Banyu dulu?”
Buru-buru Sendy menggeleng. “Jangan!”
“Kenapa?”
“Banyu bisa aja belum tahu dan kalau kamu ngasih tahu malah bikin dia makin nggak percaya. Aku takut dia malah nganggep kamu beralasan. Gimana kalau hubungan kalian makin buruk?”
“Tapi… aku nggak mau kalau Banyu denger dari orang lain. aku nggak tahu secepat apa gossip di kampus nyebar, tapi cepat atau lambat Banyu pasti bakal tahu juga. Jadi…” Kanya mengambil nafas berat. “Aku ceritaiin aja Sen disbanding dia tahu dari orang lain.”
Keduanya diam cukup lama. Pada akhirnya, setelah menimbang matang, Sendy mengangguk.
“Telpon Banyu sekarang,” ujar Sendy. Kanya mengangguk.
Tak sengaja, Kanya menurunkan notifikasi grup Line yang sudah lama ia bisukan.
…
Anjir, geli banget ada cewek kek gini.”
…
“Sen, buka grup angkatan deh.”
“Hah, kenapa?”
Secepat kilat jari Sendy membawa mata ke dalam grup chat angkatan. Hal pertama yang mereka saksikan adalah foto-foto yang tadi ditempel di madding dan kini Kanya genggam.
“Mampus…”