Sarapan

2061 Words
“ Aku tahu kamu sedih, tapi kamu juga harus menyadari kalau kamu nggak bisa memaksakan jawaban keluar dari mulut Renata. Kamu emang enggak tahu masalah apa yang membuat Renata sampai marah, tapi kamu nggak bisa terus-terusan berada di tempat gelap kayak gini. Renata butuh waktu, dan selama kamu belum mendapatkan closure, kamu mungkin bisa merefleksikan apa yang terjadi. Nggak perlu langsung semuanya secara besar-besaran,  just take one at a time. Klise sih ini. Tapi kalau kamu evaluasi satu-persatu, mungkin kamu bisa, untuk sementara, dapat ketenangan sebelum Renata mau  bicara sama kamu.” Pagi ini Baskara bangun dengan perasaan yang lebih  segar. Kemarin sore ia mengira bahwa ia tidak akan bisa tidur nyenyak atau bahkan tidak dapat tidur. Tapi setelah bicara dengan Kanya tentang permasalahan yang ia alami, perasaan di dalam dirinya jauh lebih tenang. Memang tidak sepenuhnya tenang, tapi setidaknya ia tak lagi terus menerus berjibaku dengan rasa bersalah. Suara Kanya yang lembut dan kadang mencicit kecil ketika merasa salah berkata terngiang-ngiang di telinganya. Semalam pun, setelah pria itu selesai ngobrol dengan Kanya dan tertidur, Baskara memimpikan kenangan SMAnya dengan Renata. Nostalgia di mana ia dan Renata bertengkar soal pilihan kuliah. Kalau bisa dianggap bayangan, maka seperti itulah Renata. Gadis itu ingin ikut Baskara tetap di Indonesia, sementara kedua orang tua Rena sudah keburu mendaftakannya ke Australia. Baskara dan Renata adu mulut dan melontarkan alasan masuk akal sampai paling konyol saking tak mau kalah. Pada akhirnya Baskara menyetujui karena kekeras kepalaan Renata. Mimpi yang indah. Kemarin, meskipun ia dan Kanya berfokus membicarakan Renata dan bagaimana Baskara harus bersikap terhadap masalah ini, namun dibeberapa kesempatan, ia dan Kanya mengobrol banyak soal kehidupan kuliah dan soal keluarga mereka secara general. Kanya yang mendengarkan dengan kesungguhan dan respon polosnya membuat Baskara terus ingin mengobrol tanpa henti, bahkan pria itu sesekali menggoda Kanya. Sayang, pembicaraan harus berakhir karena gadis itu harus makan malam dengan sang ibu. Meskipun kecewa, setidaknya Kanya sudah berjanji akan menemaninya membeli buku (yang entah kapan itu). Ada satu kalimat yang membuat Baskara terkesan, “Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa kasih tahu aku ya.” Baskara duduk di kasurnya sambil tersenyum kecil, pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Cahaya mentari sudah sepenuhnya masuk berpencar menghujani permukaan yang bisa dicapai. Kamar yang ditempati Baskara terletak di sayap timur rumah dan ukurannya besar. Karena terletak di pojok, jendela besar berbingkai hitam dipasang menyatu memenuhi setengah tembok timur dan barat. Luas kamar belum termasuk toilet di pojok kanan dan walk in closet di pojok kiri. Aksen warna gelap dominan membuat lampu gantung berwarna emas di atas kasurnya terasa tak tepat. Meski begitu, secara keseluruhan, kamar itu bisa dikatakan ‘estetik’. Menurut Baskara sendiri, ruang yang ia tempati terlalu lebar. Meski banyak menghabiskan waktu di sini, kamar yang luas membuatnya merasa sepi saat terbangun. Pria itu selalu membuka mata agak siang, antara pukul  delapan hingga sepuluh. Kadang, kebiasaan itu membuatnya  terlambat bahkan tak bisa ikut kelas. Setiap kali terbangun, sudah tidak ada suara para asisten rumah tangga yang bersih-bersih, baik di dalam rumah ataupun di luar. Pekerjaan mereka sudah selesai sebelum Baskara melek, bahkan mereka sudah membuka gorden tiap kamar. Sarapan selalu tersedia di ruang makan yang berada di belakang ruang tengah, tempat biasa Baskara menghabiskan waktu menghadap layar TV padahal matanya mengarah pada ponsel. Seringkali apa yang terhidang malah dimakan oleh para asisten rumah tangga, Karena satu-satunya yang selalu ada dirumah, Baskara, malah memilih duduk di kursi tukang bubur yang mangkal di perempatan kompleks setiap pagi. Pria itu kemudian mengambil ponselnya dan mengecek apakah Renata sudah membalas. Ia harus menelan kecewa karena tak ada satu notifikasi pun dari sahabatnya tersebut. Tapi tak apa, Baskara sudah bisa menguasai diri. Ia melempar ponsel ke pojok kasur. memakai sendal rumah dan berjalan menuju kamar mandi di pojok kamar untuk membersihkan diri. Sembari melepas baju, Baskara menatap cermin. Seperti kebiasaan sebelum membasuh diri, ia menatap perut yang kotak-kotak karena sering berolahraga. Meskipun memang bagian itu menarik perhatian wanita, tapi mata pria itu tertuju pada parut timbul dekat tulang selangka.  Terlihat bekas luka cukup lebar berada pada pinggang sebelah kiri. Bekas itu melintang secara horizontal, berukuran kurang lebih 10 cm dan berwarna coklat tua, pertanda bahwa parut tersebut sudah cukup lama bersarang di sana. Pria itu mengelus bekas tersebut, merasakan dengan telunjuk tekstur bekas jahitan yang lebih empuk dari bagian sekitar. Bukan sedih wajahnya malah terlihat cukup bangga karena memiliki bekas tak elok di sana. Tentulah Baskara bisa melakukan operasi plastik pada bekas luka tersebut bila Ia menginginkan, tapi tidak. Ia suka luka tersebut. Lukanya ia dapatkan saat berkelahi bertahun lalu. Lbekas yang sampai saat ini masih ia ingat karena tonjokkannya melayang sempurn tepat ke rahang  pria yang menurut Baskara tak pantas hidup. Penjahat yang melakukan kejahatan tak termaafkan.  Setelah selesai dengan  acara membasuh tubuh, Baskara memutuskan akan pergi nongkrong di gerobak Mang Emon, penjual bubur tadi, seperti rutinitas yang biasa ia lakukan. Mengenakan kaos hitam polos dan jin di atas lutut, Baskara melintasi ruang demi ruang dan halaman yang yang lebarnya hampir seukuran lapangan kompleks sebelah.  Rumah Baskara  berada di ujung Kompleks. Perumahan elit di pinggir kota yang penghuni bangunan-bangunannya adalah pengusaha ‘crazy rich’ seperti ayah Baskara. Hunian yang keluarga Raharja miliki merupakan rumah paling besar dan terlihat paling mewah di antara bangunan-bangunan lainnya. Tapi memang kenyataannya seperti itu, rumah itu merupakan hunian paling luas dan megah di sana. Ayah Baskara memutuskan untuk membeli enam slot tanah yang awalnya akan dipecah oleh developer perumahan, beserta tanah yang tadinya akan dibuat jalan. Pria yang bernama Bramantya Raharja tersebut, kemudian mendirikan sebuah bangunan  yang disusun bertahap, bertahun lamanya, hingga akhirnya voila! Jadilah rumah yang mirip kastil tersebut. Seluruh keluarga Raharja akhirnya tinggal di situ, termasuk kedua orang tua Bramantya (kakek-nenek Baskara) dan adiknya (paman Baskara) yang sakit-sakitan. Sumitro Raharja ayah dari Bramantya, meninggal duluan bahkan sebelum anak-anak Bramantya: Renaldy, Randu, dan Baskara lahir. Tak lama kemudian, sang ibu, Sania Sulistyawati, meninggal mengikuti jejak Sumitro. semua orang tahu penyebab kematian tersebut adalah karena patah hati ditinggal sang suami. Satu-satunya adik, Bromo Raharja, meninggal bertahun sesudahnya setelah pengobatan yang tak kunjung membuahkan hasil.  Meskipun rumah kembali ramai diisi oleh kelahiran anak-anak keturunan Bramantya, pada akhirnya burung-burung kecil tersebut meninggalkan sarang. Randu, anak kedua, adalah yang pertama memutuskan untuk membeli rumah sendiri setelah menikah dengan sang pacar yang hamil duluan. Kejadian ini membuat Bramantya dan sang istri, Aline, begitu kecewa, terutama Aline. Sang ibu langsung jatuh sakit dan hal tersebut menyebabkan perpecahan keluarga. Renaldi memutuskan untuk mandiri  setelah pertengkaran hebatnya dengan Baskara. Meski keduanya kini telah berbaikan, namun Renaldi atau Aldi, tetap pada pendirian untuk tinggal di Bali. Kakak pertama Baskara kini telah memiliki seorang anak. Kini hanya Baskara dan kedua orang tuanya yang menempati rumah raksasa itu. Meskipun Randu tinggal dekat dan sering mengunjungi, tapi tetap saja rumah seribu meter persegi tersebut tidak akan pernah sama lagi. Langkah-langkah besar membuat Baskara cepat sampai di depan gerbang, pun karena telah terbiasa, keringat tak mengucur dari tubuh pria itu. Dari balik gerbang dengan segera ujung matanya menangkap Gerakan Mang Emon dan gerobak coklatnya. Meskipun dari kejauhan tubuh mang emon terlihat kecil seperti semut, namun Baskara familiar dengan topi pancing berwarna beige yang selalu penjual bubur itu pakai. “Pagi Den Baskara, mau beli bubur?" Sapa pria tua berusia empat puluh tiga tahun tersebut. Baskara mengangguk dan duduk di salah satu kursi plastik berwarna biru yang tersedia. Ia dan Mang Emon bisa dibilang berteman sudah hampir tujuh tahunan. Gerobak Emon awalnya mangkal di komplek sebelah, dua ratus meter dari tempatnya saat ini. Pria tua itu sudah berjualan sejak Baskara masih kecil. Setelah Baskara tumbuh dewasa dan kebiasaannya mengkonsumsi makanan dari luar muncul, Emon menyepakati untuk pindah ke depan kompleks perumahan Baskara, karena pemuda itu memintanya. Tentu segala perizinan dengan satpam kompleks dan pejabat tingkat RT-RW, beserta t***k bengeknya diurus oleh Baskara, Emon hanya tinggal duduk manis dan menjajakan dagangan. Kedatangan Emon ke tempat baru juga membawa rezeki baru, buburnya jauh lebih laris dari sebelumnya karena perumahan Baskara terletak di pinggir jalan. Berbeda dengan perumahan sebelumnya yang agak menjorok ke belakang. karena itu Emon sangat berterima kasih kepada  Baskara, pelanggan sekaligus teman yang hadir  hampir tiap pagi. “Kok udah mau abis aja sih Mang?" kepala Baskara melongok ke dandang berisi bubur yang sisa di pinggir. Emon menghentikan kegiatan cuci mangkuk dan tersenyum. "Iya nih Den, Alhamdulillah! Tumben aja jam segini ada yang borong, kalo engga mah, saya masih mangkal sampe jam sepuluh nanti." Sahut pria tua itu.  Baskara mengangguk dan menunggu Emon menyiapkan bubur. Mulutnya mulai memamah makanan saat datang. Pria itu mengamati jalanan. Ia suka suasana pagi, lenggang dan secara garis besar menyenangkan karena sinar mentari belum menampakkan taring. Mang Emon menyalakan rokok dan mulai menghisap benda tersebut sambil menunggu pelanggan terakhir untuk menghabiskan dagangan.  “Den, mungkin semingguan besok saya nggak jualan dulu.” celetuk Emon. Pria itu berjongkok sambil menatap ember berisi air bekas cuci mangkuk. Baskara tak dapat melihat wajah empunya, hanya topi khas yang sudah pudar dan bernoda titik-titik cokelat yang ia bisa amati. “Kenapa mang?” menghentikan gerakan tangan, Baskara menatap Emon penasaran. Selama berjualan, Mang Emon hanya rehat ketika hari raya agama besar di Indonesia dan juga saat ada urusan di kampung. Karena sekarang bukan dekat hari raya, maka pasti ada masalah di kampung halaman Emon. “Saya kan pernah cerita tuh, Abah saya sakit dari lama. Sekarang, nggak tahu kenapa, kumat. Kata teteh saya, abah nggak mau dibawa ke rumah sakit. Makanya saya disuruh pulang, katanya suruh mbujuk.” Emong menghela nafas, kepalanya tengadah menatap Baskara. “Tapi saya nggak tahu apa bisa atau engga, soalnya abah saya keras kepala.” Baskara mengangguk mengerti. Beberapa kali Emon memang bercerita soal kampungnya di pinggiran Jawa Barat: soal istrinya yang hamil dan melahirkan anak kedua, anak pertamanya yang masuk SD, dan orang tuanya yang sering kali dapat masalah karena bertengkar dengan tetangga. Menurut Baskara, kehidupan Emon sangat menarik. Bila dibandingkan dirinya yang hanya gonta-ganti pacar dan jauh dari masalah karena keluarga Raharja berkuasa, masalah Emon dianggapnya lebih relevan.   “Berangkat kapan?” “Lusa mungkin. Saya udah pesen tiket bus sih, tapi dapetnya pagi. Jadi mungkin besok terakhir saya jualannya.” “Mamang udah punya uang ke kampung?” Baskara bertanya. Ia tahu kadang hasil jualan bubur tak mencukupi ongkos pulang. Beberapa kali Baskara meminjamkan uang yang selalu dikembalikan Emon meskipun nyicil. Kadang, pemuda itu tak mau menerima uang yang diberikan Emon, “Buat Mamang aja. Anggep hadiah nemenin saya ngobrol tiap hari.” begitu salah satu alasan Baskara tiap menolak. “Udah kok den. Jangan dipinjemin lagi atuh, kemarin aja saya belum lunas.” seru pria tua tersebut. “Yang kemarin anggep lunas aja mang. Buat jajan Atika,” jawab Baskara sambil senyum. Atika adalah nama anak pertama Emon. “Aduh Den. Lima ratus rebu mah kebanyakan buat jajan. Besok saya ganti.” Emon bersikeras.  “Alah mang, gausah!” jawab Baskara cepat. “Ini buburnya gratis aja, utang yang kemaren gak usah bayar. Oke?” Emon menggeleng tak percaya. Memang susah membujuk Baskara soal perkara utang piutang. Emon sendiri kadang tak enak karena Baskara sering memberinya pinjaman ketika pulang kampung mendadak. Dan tiap akan dibayar, Baskara selalu punya seribu satu alasan untuk tak menyentuh piutang. Tapi untung kekeras kepalaan Emon bisa meruntuhkan pertahanan tersebut, meski cuma kadang-kadang. “Tapi Den, nanti kalo saya enggak di sini, Aden Bas sarapan di mana? Kemaren kayaknya soto sebelah tutup permanen,” tanya Emon. Baskara diam, dahinya berkerut berpikir keras. Meskipun terbiasa jalan jauh, namun Baskara tetap tak mau menambah lima ratus meter lagi untuk sarapan di pangkalan gudeg yang menurutnya terlalu manis.  “Gampang lah itu mang. Nanti saya makan di rumah juga bisa.” “Oh iya! Den Bas kan orang kaya ya?” Emon tertawa malu. Saking seringnya Baskara ngobrol bersama, Emon hilang ingatan kalau pria itu tinggal di kawasan elite. “Lupa saya!” Keduanya tertawa lepas.  Setelah selesai mengobrol, Baskara kembali lagi ke rumah. ia memikirkan kemana dirinya harus sarapan selama seminggu kedepan. Tak ada kelas pagi yang membuatnya bisa berangkat dan bersantap makanan kantin di kampus. Biasanya ketika Mang Emon keluar kota, soto komplek sebelah jadi andalan, pilihan lain adalah makan di apartemen Renata. Tapi tentu pilihan kedua tak bisa digunakan lagi. Paling tidak untuk sementara ini. Tanpa sadar ia mengeluarkan ponsel dari kantung dan mulai mengetik pesan yang ditujukan pada  teman teleponnya kemarin sore, Kanya. ...  Kanya, aku boleh numpang sarapan di rumahmu enggak untuk seminggu ke depan?  … Send
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD