Via Suara

1724 Words
Kanya tak tahu apa yang merasuki pikirannya hingga ia, tanpa pikir dua kali, menerima permintaan Baskara untuk bersua via suara. Gadis ini kini terlihat telentang memikirkan apa yang barusan ia lakukan. Matanya menerawang, menatap langit-langit menghembuskan nafas panjang.  Setelah Baskara memberikannya email terakhir, menyatakan kalau dirinya sedang dalam keadaan yang kurang mengenakkan, gadis itu tanpa pikir panjang langsung meng-iyakan untuk memberi nomor telepon. Mungkin kasihan, mungkin tersanjung karena Baskara ingin menjadikannya tempat curhat, mungkin juga ia memang ingin menjalin pertemanan yang baik dengan Baskara. Huft, ia sendiri tak tahu motifnya. Kanya tahu dirinya gegabah, gadis itu bahkan belum bisa menata perasaan jika nanti dihadapkan pada Baskara. Tapi mau bagaimana, empatinya terlalu besar dan mengalahkan rasa malu dan kenyataan kalau mereka baru bertemu sekali. Ya, sekali. Bahkan bisa dikatakan itu hanya sekedar berpapasan. Mereka tak kenal-mengenal sebelum itu. Ia hanya gadis tak terlihat dan Baskara adalah pangeran kuda putih di kampus, dunia keduanya berbeda.  Gadis itu duduk, kepalanya pusing memikirkan kemungkinan kalau sebentar lagi Baskara menelpon. Ia sebetulnya sudah lelah setelah pulang dari berpacaran ria dengan Banyu di perpustakaan kota. Yah, memang bukan pacaran pada umumnya karena keduanya asyik dengan kegiatan masing-masing. Ia dengan bacaan di tangan, sedangkan Banyu serius mendengarkan audio soal TOEFL dari earphone dan mengerjakan. Tentu setelah itu mereka berkesempatan ngobrol kecil-kecilan di warung soto dekat perpus, tapi kadang Kanya merasa itu tak cukup.  Berkali-kali date mereka hanya seperti ini, mungkin Banyu merasa nyaman, Kanya pun begitu juga. Tapi kadang gadis itu ingin tantangan, sebuah aktivitas yang membuat dadanya bergejolak. Banyu sering tak mau diajak pergi jauh, entah ke pantai, mendaki gunung, atau sekadar bermain air di kolam renang umum. Pria itu terlalu fokus dengan studinya. Banyu juga lebih senang berada di rumah, menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Tentu Kanya tak bisa protes, ia adalah nomor sekian-sekian setelah keluarga dan studi dan entah apalagi.  Ketika pulang, seperti barusan, pikirannya sering kali berkelana dan berujar, ‘kalau saja tadi…’. Gadis itu mengandaikan seandainya tadi ia tiba-tiba menggenggam tangan Banyu, atau menjahilinya, atau apalah yang rasanya romantis dan membuat suasana jadi penuh debaran. Meskipun berpacaran, hal terjauh yang Banyu lakukan adalah mencium keningnya. Pria itu cukup kolot, bahkan sering kali Banyu tak mau menunjukkan hubungan di depan publik, padahal Kanya menginginkan hal tersebut. Ia merasa pengecut dan penakut karena tidak menginisiasi keintiman di antara dirinya dan Banyu. Saking tak romantisnya Banyu, ia berkali-kali berkata pada diri sendiri, ‘Kalau Banyu tidak romantis, maka ia akan jadi orang yang romantis untuk menutupi ketidak romantisan ini’.Kanya memang seorang wanita independen, tapi ia butuh kasih sayang juga.  Dosa tidak ya, kalau Kanya bilang ia lelah? Tidak selalu lelah, tapi sikap Banyu yang agak dingin terutama akhir-akhir ini membuatnya merasa, apa yang ia coba lakukan untuk membuat suasana jadi bertabur bunga, malah terasa nestapa. Berkali-kali ketika ia ingin bersandar di pundak Banyu, pria itu selalu berkata, “Apaan sih Nya. Diliatin orang.” Kalau dipikir makin dalam, kecut memang kehidupan percintaannya. ‘Mikir apa sih, Nyak! Banyu tuh lagi fokus sama beasiswa, kamu jangan nambah masalah deh!’  Gadis itu memukul kepala dengan telapak. Berkali-kali laksana burung pelatuk yang akan membuat sarang. Tidak sakit, tapi kulit dahinya memerah karena terus menerus kena hantam. Tubuhnya melonjak kaget saat suara dering tiba-tiba memenuhi ruang kamar. Impulsif, tangannya mengambil boneka terdekat dan memeluknya erat. “Baskara ya?” gumam Kanya perlahan. Ia melihat nomor tertera yang menampilkan digit-digit tak dikenal. Matanya memincing tajam. Jujur saja, sedari tadi tubuhnya agak gemetaran menunggu panggilan dari nomor antah berantah yang akan ia asumsikan sebagai nomor Baskara. Ia gugup, khawatir, sekaligus excited. Ia sudah berjanji pada diri sendiri kalau secanggung apapun keadaan nanti, Kanya akan menjadi pendengar yang baik. Teman yang ada saat teman lain butuh dan menawarkan bantuan jika memang diperlukan. Tapi lihat kini gadis itu. Ia malah meringkuk memeluk lutut dan boneka laksana sedang dikejar rentenir pinjaman online.  Meskipun sejak tadi ia sudah merapal kata kalau ia akan mengangkat panggilan dari Baskara, gadis itu tetap mendiamkan ponselnya berdering untuk beberapa saat. Tubuhnya seolah berada pada fase kaku, tak bisa bergerak. Kecemasan menggelayut di dalam pikirannya Bagaimana nanti kalau Misalnya Baskara menganggap Kanya terlalu ikut campur? atau bagaimana jika Kanya melakukan kesalahan dan membuatnya malu sendiri? atau... bagaimana jika perasaan berdebar tak karuan yang kemarin ia rasakan kembali lagi? ‘Tidak Kanya! Kamu sudah berjanji. Kamu akan jadi teman yang baik bukan? Kamu sudah menawarkan diri untuk jadi pendengar, jangan mundur.’  Agak gamang, jari-jarinya meraih kotak kecil berlogo S yang masih melantunkan nada tak berkesudahan. Menatap sebentar layar, ia menghembuskan nafas panjang lalu mengangkat... "Halo?" "Halo Kanya? " Deg! lagi-lagi jantungnya berdebar kencang. Ia menjauhkan ponsel, menata kembali perasaan yang melonjak-lonjak serasa ingin keluar dari tempat. Gadis it kembali menarik nafas dan dan melanjutkan pembicaraan. Suara Baskara terdengar jauh berbeda dengan saat ia terakhir kali mendengarnya. Nada bass yang menggema dalam gendang telinga, terdengar di ujung sambungan. "Halo Bas, apa kabar?" Gumam Kanya. Ia berharap Baskara tak mendengar apa yang ia katakan barusan karena suara Kanya lebih terdengar seperti bicara sendiri dibanding bicara dengan pria tersebut. Sepertinya Kanya perlu mengulang kalimat tanya barusan, “ Gimana kabar kamu?" “Masih kayak tadi.” Terdengar helaan nafas dari ujung sambungan. Kanya membayangkan seraut wajah yang yang sedang gundah. Sepertinya pria itu benar-benar butuh tempat cerita, tapi Kanya tak enak bertanya. Ia selalu diajarkan kalau tak baik bertanya soal masalah yang sedang dihadapi orang yang meskipun kita kenal. “Jangan memaksa kalau memang orang belum mau terbuka. Itu bukan hak kamu untuk mencari-cari,” begitu pesan ibunya. Ia tak ingin mengorek-ngorek jika Baskara memang belum ingin membicarakannya, Jadi ia akan menunggu dan berbasa-basi sampai pria itu mengatakan apa yang membuatnya tiba-tiba ingin bicara via suara dengan Kanya. "Kamu sudah makan? Atau minum?" Kali ini gadis itu sudah bisa menguasai diri Ia kini bertekad akan jadi tempat yang baik untuk Baskara mencurahkan hati dan juga ia akan menekan perasaan yang tak penting ini. "Belum nih. mungkin nanti setelah ini." "Bagus kalau begitu. Kamu mau masak sendiri atau mau order?" Tersadar sesuatu, Kanya menepuk jidat agak keras. Baru saja berkata, ia langsung ingat kalau stratanya dan Baskara sangat berbeda. Ia lupa kalau  pria itu punya banyak sekali pembantu yang akan membuatkan banyak makanan enak dalam sekejap. Tidak seperti dirinya yang harus memasak atau order delivery jika sang Ibu belum pulang. Suara kekehan terdengar dari seberang. Kanya menggaruk kepalanya tanda malu.  ‘Mungkin Baskara menganggap betapa norak dan miskinnya aku karena  harus masak sendiri,’ pikir gadis itu tersipu. "Aku biasanya makan di luar sih. Udah lama banget aku nggak makan di rumah. Aku nggak suka makan sendirian, berasa sepi banget soalnya.” Baskara menjawab dari seberang. Suara “Oh” lepas dari mulut Kanya. Ia menutup mulut dan kaget dengan reaksinya sendiri. Kembali ia memukul kepala pelan. “Kamu pasti selalu makan sama keluarga ya?" "Aku juga sering makan sendiri. Tapi aku biasanya masak atau order gufood kalau bunda belum pulang dari kerja. Tapi juga sering sih makan di luar. "Jawab Kanya. "Kita sama ya ternyata. Hari ini kamu mau nggak makan di luar sama aku?"Ajakan Baskara mengagetkan Kanya. Ia tak siap dengan pertanyaan ini. Matanya melotot terbingung-bingung harus menjawab apa. Hanya gumaman statis “eh…” yang terdengar dari mulutnya. “Kalau nggak mau nggak papa kok.” Kanya salah tingkah. Ia tak enak menolak ajakan Baskara karena pria itu sedang sedih. Dan kini ia malah menambah kesedihan Baskara dengan tak ingin makan bersama. "Maaf ya Bas, Hari ini aku sudah makan di luar. Perutku kenyang banget." diam-diam Kanya merasa lega karena bisa menjawab pertanyaan barusan meskipun agak sungkan juga. "Kalau gitu kapan-kapan boleh dong?" lagi-lagi Kanya harus menelan kekagetannya. Ia menjauhkan ponsel dari telinga dan memandangi nomor yang tertera dengan tatapan tak percaya. Apa-apaan barusan? Apakah Baskara sedang menggodanya? Dia flirting? Bukankah pria itu sedang sedih? Kenapa pembicaraannya jadi seperti ini?  "Eh… Boleh sih Bas. Nanti kamu ajak Renata dan aku ajak Sendy dan Lintang ya!" Kali ini Kanya mengapresiasi diri karena menjawab dengan diplomatis. Gadis itu bangga bisa menghindari entah apapun barusan (mungkin benar godaan) dengan kalimat yang baik dan ciamik. "Renata ya? " Ada jeda agak lama yang membuat tak nyaman. Gadis itu bertanya-tanya apakah ia barusan salah bicara. Apa Baskara tersinggung karena ajakan makan berduanya Kanya tolak? Tapi bahkan itupun bukan penolakan. Gadis itu menerima, tapi dengan anjuran dan peringatan bahwa ia tak ingin sendiri berduaan dengan Baskara dan membuat segalanya semakin canggung. Apa barusan ia menyentuh bahasan yang seharusnya ia hindari? "Sebenarnya, aku mau bicara sama kamu soal Renata." Kanya merasakan suara Baskara semakin berat. Ia bisa merasakan bahwa suasana pembicaraan ini semakin sedih dan gelap. Dalam otaknya, gadis itu berprasangka, ‘Apakah Baskara dan Renata bertengkar?’. Ia menunggu sampai Baskara menjelaskan lebih lanjut. Hanya suara nafas pelan keduanya beradu mengisi telepon. "Hari ini aku dan Renata bertengkar." Ah betul. Suara pria itu makin pelan. "Renata marah. Tapi aku nggak tahu apa masalahnya dan aku nggak bisa tanya."  Berhati-hati, Kanya mencoba bertanya, "Kenapa kamu nggak bisa tanya?" "Karena Renata sekarang di rumah sakit." Suara Kanya tercekat akibat kaget. Baru siang tadi Kanya bertemu Renata dan berkenalan. Ia kini malah mendengar kabar tak mengenakkan dari kenalan barunya itu. Memang hari ini mereka pertama kali bersapa ria, tapi Kanya bisa langsung bersimpati dengan kejadian yang menimpa Renata. Mungkin karena Kanya merasa bahwa visual Renata sangat bersahabat. "Kalau aku boleh tahu, Renata kenapa bisa masuk rumah sakit, Bas?" Kanya menyusun kalimat tanya dalam otak sebelum meluncur dari bibir agar Baskara tak merasa lebih gundah. "Aku bingung mau cerita." helaan nafas, lagi-lagi terdengar dari ujung sambungan. Kanya bisa merasakan kalau pria itu frustasi dan gadis itu ingin meredakan kesedihan Baskara, tapi apa yang bisa Kanya lakukan? Tidak ada. Kanyapun sedih juga memikirkan kondisi ini.  "Kalau aku ngasih tahu kamu ini, aku harap kamu jaga mulut ya, Nya. Rena cewek yang baik, dia sahabatku. Aku nggak ingin orang lain berpikiran jelek dan menganggap Renata buruk,” lanjut Baskara. Kanya mengangguk. Ia tak sadar kalau anggukannya tak bisa dilihat oleh sang penelpon. Jadi selama beberapa saat, hanya kesunyian yang mengisi obrolan itu. “Kan…?” “Eh, iya Bas.” gadis itu terkejut. Ia baru sadar kalau sedari tadi dirinya diam tak menjawab. “Aku janji. Maaf ya, tadi aku ngangguk, aku lupa kalau kita telponan. Hehe...” Suara tawa kecil meluncur dari bibir Baskara. Kanya pun ikut tertawa malu.  “Aku cerita sekarang ya.” “Iya. Aku mendengarkan.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD