Teman

1541 Words
“Kamu pulang dulu saja Baskara. Renata masih belum bisa dijenguk, masih belum stabil. Nanti tante kabari kalau sudah bisa menjenguk Rena ya.” *** Baskara termenung di sofa ruang tengah, pikirannya bergelayut menjelajah ingatan tadi sore di rumah sakit.  Sejak mengantar mobilnya ke bengkel dan pulang menggunakan taksi, ia duduk diam dan membuat semua pembantu rumah khawatir. Baskara masih tak mengerti mengapa permintaannya untuk masuk dan melihat Renata setidaknya sekali sebelum keluar rumah sakit harus ditolak. Maria hanya mengatakan kalau Renata belum stabil. Tapi pun tak stabil tak apa, ia hanya ingin tahu sahabat sekaligus ‘adiknya’ tersebut baik-baik saja atau tidak. Ia jelas-jelas mendengar kalau kedua orang tua Renata memanggil dokter karena gadis itu telah siuman, tapi kenapa tante Maria malah mengatakan Renata belum bangun. Eh, tapi memang ibu Renata tidak mengatakan secara langsung kalau Renata belum sadar. Tapi rasanya aneh sekali kalau ia tidak diperbolehkan masuk ke dalam menjenguk Renata. ‘Apa Renata tak mau menemuinya?’ rasa sedih mendera pria itu. Dengan kasar ia mengacak-acak rambut. Lagi-lagi nafas panjang berhembus dari hidung bangirnya. Disatu sisi ia merasa lega karena ada kemungkinan Renata telah siuman, di sisi lain ia tak mengerti dan menjadi merana karena tak dapat memastikan kondisi sahabatnya dengan mata kepala sendiri. Dengan lelah, kepalanya disandarkan ke belakang. Ia merasa kehilangan banyak hal saat Renata tak ada. Ia kehilangan orang yang ia anggap keluaga sendiri, sekaligus satu-satunya teman dan sahabat yang mau mendengarkan keluh kesah dan cerita-cerita bajingannya. Layar kecil di genggamannya masih menghitam, tak menunjukkan pesan yang ia kirim pada Renata telah berbalas. Tapi memangnya pasien ICU boleh membawa handphone ke sana? Ia tahu bahwa sahabatnya itu tak mungkin membalas mengingat kondisi yang saat ini terjadi, tapi bagaimanapun Baskara tak berhenti berharap kalua entah dengan kejadian apa, Renata bisa membuka handphone dan paling tidak membaca chat w******p. Ponselnya terasa sepi meskipun pesan dari grup, dari adik tingkat, atau siapapun belum ia baca. Biasanya gadis itu yang selalu meramaikan dengan kisah keseharian yang aneh (kata Renata sendiri sih begitu). Seperti misalnya tukang siomay yang ganti dagangan atau kucing tetangga apartemennya yang nyasar ke atap. Kadang Baskara jengkel karena Renata selalu mengganggunya dengan cerita-cerita yang menurut Baskara tak penting amat, tapi ternyata cerita itu yang Baskara rindukan dari si cerewet Rena.  “Mas Bas nggak ke atas?” suara parau wanita paruh baya menyadarkan Baskara dari lamunan. Dengan sigap pria itu menegakkan badan. Ia agak malu karena terlalu lama duduk dan termenung sendirian di ruang tengah, padahal ini rumahnya sendiri. “Eh, Iya, Bi Min. Nanti Bas ke atas,” sahutnya sambil memaksakan tersenyum. Wanita yang ia sapa Bi Min bernama asli Suminah. Pembantu paling tua dan paling lama hidup bersama keluarganya, bahkan Bi Min sudah dianggap salah satu anggota keluarga Raharja, maka itu meski telah renta, wanita itu tak pernah dirumahkan. Bagaimana mau dirumahkan? Suminah tak punya keluarga di kampung, sebatang kara, dan mengurusi keluarga Raharja merupakan pekerjaan yang ia cintai. Jadi, semua, tanpa tertulis, sepakat bahwa Minah akan tinggal di rumah Raharja sampai ajal menjemput.  Wanita tua itu sendiri ada bahkan sebelum Baskara lahir. Ia ikut memandikan, menyuapi, dan menemani Baskara kecil bermain. Maka itu Suminah tahu kalau tuan mudanya sedang dilanda rasa galau, entah sebabnya apa. “Tuan, kalau misal mau, nanti saya suruh Erni bawa teh hangat. Itu bagus untuk menenangkan pikiran.” Suminah tersenyum tenang. Dengan agak terkejut, Baskara menatap kepala pelayan keluarga ini. Pria itu kaget karena Suminah tahu dirinya galau atau kata lainnya banyak pikiran. Ya memang kelihatan sih… hanya saja pemilihan kata pembantu itu menyentuh hati Baskara. Ia tak langsung mengatakan kalau Baskara sedang gundah, tapi ia menawarkan bantuan lain dan menunjukkan empatinya terhadap masalah apapun yang Baskara miliki. “Boleh… makasih ya, bi. Baskara mandi dulu.” tersenyum, pria itu menaiki tangga.   Meski gamang, kaki itu menuju arah kamar. Menutup pintu, tubuhnya entah mengapa langsung merasa rileks ketika menyentuh kasur. Memang tempat tidur adalah hal paling ia butuhkan saat ini. Pria itu sama sekali tak menyadari betapa lelah badan yang ia bawa ke sana-ke mari hari ini ditambah pikiran-pikiran yang membuatnya terus terjaga.  Belum sempat apa-apa, mata Baskara sudah terasa berat. Pria itu tidur tanpa mengganti jeans. *** Terengah-engah, nafas Baskara memburu ketika membuka mata. Pria itu berpeluh dalam tidur, seperti telah mengikuti lomba lari. Terduduk, lelaki itu mengusap wajah dengan kasar. Besarnya lampu di kamar tersebut tidak membuat ruangan terasa terang. Kamarnya serasa menggelap ketika kesadaran penuh seutuhnya. Apa sebelumnya memang kamarnya segelap ini? Kenapa rasanya kamar menjadi tempat yang menyesakkan? Ia kan minta Bi Minah mengganti lampu dan mengecek AC nanti. Dengan gusar Ia membuka selimut, tadi Bi Min sempat masuk kamar dan menyelimuti pria itu saat meringkuk lelap. Matanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul kurang lebih sama saat ia memejam. Bukan merasa segar, lelah malah mendera setelah mengalami tidur yang hanya lima belas menit saja. Singkat memang, tapi betul-betul terasa panjang. Mimpi yang barusan ia alami seolah menghabiskan delapan jam full time istirahat dalam sehari ini. ‘Renata.’ Nama itu berlari-lari bersamaan dengan rasa kalut yang makin mendera dipikirannya. Sahabatnya muncul dalam bung tidur dengan tubuh terakhir ia lihat, luka-luka, patah kaki dan tangan, memangis memanggilnya. Namun tiap Baskara mendekat, gadis itu malah terasa semakin menjauh. Pada akhirnya, pria itu terbangun karena Renata menghilang di balik kabut. Mungkin… mimpi tadi adalah manifestasi dari perasaan campur aduk Baskara.  Kembali kebingungan melanda. Baskara tak tahu harus bagaimana, tak tahu apa salahnya sampai Renata semarah itu dan melompat dari mobil. Tidak ada seorangpun yang menenangkannya, lebih lagi ia tidak mendapat closure apa-apa. Ia seperti monyet yang tersesat di tengah belantara, sendirian, kehilangan kawanan, dan kesepian tak berarah. Ia rapuh dan takut. Lebih lagi, apapun yang ia rasakan sekarang seolah tak perlu jawaban, karena apa yang terjadi sudah terjadi, Renata sudah kecelakaan dan closure apapun yang ia dapatkan taka akan menguba kenyataan tersebut. Tangannya mencari ponsel di kasur yang ia duduki dan lagi, menelan kecewa karena tak ada satupun pesan dari Renata. Matanya melirik sebuah email baru.  Ah, dari Kanya. Sejujurnya Baskara malas membalas. Meskipun ia tertarik pada Kanya, perasaannya yang kacau balau karena kecelakaan Renata membuat ia tak lagi bernafsu untuk mengejar gadis tersebut. Kanya baginya cuma sekedar pengisi waktu luang seperti gadis lain yang sebelum-sebelumnya, beda dengan Renata yang merupakan sahabat baik. Tapi Baskara butuh pengalihan, entah apapun itu, agar ia bisa lupa apa dengan rasa sesal yang menghantui. jadi pria itu tetap membuka email. … From: Kanayakanya123@gmail.com Sama-sama Baskara. Senang rasanya bisa membantu teman (eh, kita udah temenan belum sih? ehhe). Semoga adik sepupu kamu suka ya! Kalau kamu sudah kasih kadonya ke dia, kasih tahu aku dong responnya.  Jujur aja, aku kaget juga kamu suka baca buku hehehe. Aku pikir kamu bukan tipikal yang suka baca novel gitu loh. Apalagi Murakami. Ya sebenernya dia emang terkenal, tapi kayak...wow. Buku dia tebel-tebel, I don’t know for sure how you keep up with reading and doing organisation things at the same time. Kamu soalnya kelihatan kayak anak event banget. Keren sih kalau kamu masih menyempatkan baca buku disela kesibukan. Oh ya, buku Murakami apa yang paling kamu suka? Aku suka sama Norwegian Woods hehe. Kutu buku emang konotasinya agak negatif sih. Kalau gitu aku ikut saran kamu soal penggunaan kata ‘suka baca’. Aku ngusulin juga pake kata ‘hobi baca’. Kayaknya juga nggak merendahkan, bukan? Lastly, terima kasih atas pujiannya ya. Nggak nyangka ada yang nganggep orang yang ‘suka baca’ tuh manis. Aku manis dong? Hohoho… … Secercah cahaya kecil seolah menelusup ke ruang tidur Baskara yang tadi ia rasa gelap. Kamar ini tidak terlalu menyesakkan lagi, ia bisa bernafas lega setidaknya untuk sesaat. Memang Baskara belum sepenuhnya lepas dari campur aduk yang ia rasakan,  namun senyum tulus terukir di wajah pria itu pertanda bahwa setidaknya ada harapan untuk kembali ke state yang tenang. Meskipun hanya sekedar teks, Baskara membacanya dengan tone yang ceria. Tulisan itu seolah bernada dan melagu dengan yang cerah dan polos. Email dari Kanya menjadi oase di tengah padang pasir yang sedang ia lewati. Penyelamat saat rasanya ia tenggelam dalam sesal berlarut-larut. Entah apa yang merasuki pria itu, tiba-tiba saja jari-jarinya bergegas membalas...  … Hai Kanya, aku mungkin nggak bisa membalas pertanyaan-pertanyaanmu tadi karena aku sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ada suatu hal yang membuatku pusing dan nggak ada tempat cerita. Sejujurnya Kan, aku butuh cerita. Kalau misal boleh, apakah aku bisa nelpon kamu? Aku belum punya nomormu Jadi mungkin kamu bisa mengirimkannya. Kalau tidak mau juga tidak apa, Aku nggak maksa. Aku tahu ini tiba-tiba dan kita belum begitu kenal, jadi aku paham. Terima kasih. … Dengan cepat email itu meluncur. Tindakan impulsif yang barusan Baskara lakukan secara cepat langsung membuatnya merasa ingin menarik pesan. Tapi tidak bisa. Email itu tetap diteruskan pada Kanya. Pria itu juga tak tahu kenapa ia memutuskan ingin bercerita pada gadis yang tak begitu ia kenal. Mungkin karena rasanya kepalanya mau meledak jika tak dikeluarkan isinya. Atau mungkin hatinya akan mati perlahan jika terus-menerus tak menyuarakan isinya. Baskara merasa tindakannya cukup aneh tapi ternyata ada yang lebih aneh. Kanya menjawab. Hanya selang beberapa menit, padahal biasanya email Baskara dibalas berjam-jam setelahnya. Gadis itu mereply. … Tentu Bas, jangan merasa sendiri ya. Kamu bisa cerita ke aku. Ini nomorku 0895xxxxxxxx ... Pesan itu membuat Baskara tergugu sejenak. ‘Aku masih punya teman selain Renata?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD