Penyesalan

1688 Words
Dalam lorong putih itu, Baskara duduk terdiam di salah satu bangku panjang. Tatapannya kosong, lemas, dan seolah tubuhnya hanyalah cangkang kosong tanpa isi. Beberapa bercak merah tak kentara tercetak di kemeja hitamnya, meninggalkan sisa kering yang sulit terterkuk. Bau anyir sudah berkurang, namun tentu pemakainya tetap dapat menciumnya. Seberang ruangan, terbatasi oleh pintu yang tertutup rapat, Renata terbaring lemah. Matanya masih terpejam dan tak ada tanda kalau dalam waktu dekat gadis ini akan terbangun. Ia seperti putrid tidur, bedanya bercak merah terpampang jelas di jeans yang sobek. Bau khas rumah sakit menyeruak pada tiap-tiap sudut ruangan, meninggalkan kesan kalau tempat ini dipel setiap saat. Baskara dan Renata pernah bercakap menyeletuk kenapa rumah sakit baunya selalu seperti wipol, seperti pembersih kamar mandi, seperti obat, seperti disinfektan, seperti bau ‘sehat sekali’ yang bukannya membuat nyaman, malah membuat gamang masuk ke tempat itu. Padahal betapa banyaknya hal-hal mengerikan di sana, darah, nanah, muntahan, feses, atau apalah yang tak menyenangkan. “Mungkin supaya bau ga enak atau apalah ga kecium sama pasien, biar mereka ngerasa kalau di tempat ini siapapun, seberat apapun penyakitnya, bisa beneran sembuh.” Celetuk Renata. “Kalo gitu malah bikin false sense of security (aman yang palsu) dong.” Pria itu menjawab dengan menyelidik. “Kan nggak mesti pergi ke sini, kita bakal sembuh.” Keduanya saat itu mengunjungi salah satu teman yang dirawat karena usus buntu. “Iya sih… tapi kalo gitu jadinya, aku mikir bau rumah sakit tuh kayak semacam kata-kata ‘toxic positivy’ ya.  Jadi semacam, engga mesti kamu bakal sembuh di sini, tapi karena baunya yang ‘kayak sehat banget’ jadi semua orang yang dateng bakal sehat lagi.” “Engga gitu juga sih, tapi analogimu lumayan juga.” Keduanya tertawa. Percakapan itu rasanya sudah lama sekali, namun betapa ingat Baskara layaknya mereka baru kemarin bicara. Ia tak merasa keamanan yang seperti mereka katakan saat itu, bau ini malah membuatnya makin tegang. ‘Apa memang jangan-jangan aroma rumah sakit sengaja dibuat seperti ini agar rasa takut makin menjadi?’  Dalam kediamannya, suasana ramai tiba-tiba menyeruak. Kedua orang tua Renata, Landung dan Maria, tergopoh-gopoh menuju kea rah pria itu. Landung merupakan pengusaha di bidang pengolahan daging yang telah berkecimpung kurang lebih dua puluh lima tahun. Meskipun cukup keras pada dua anak lelakinya, ia membedakan perlakuannya pada Renata. Pria itu menyayangi putri semata wayang dan meskipun sering menghukum Renata karena kenakalan gadis itu, Landung pada akhirnya selalu luluh karena ia tak bisa marah lama-lama. Sementara Maria adalah ibu rumah tangga  dan sosialita yang juga memanjakan Renata. Ia selalu melindungi putrinya dan memanjakannya saat sang ayah membuat putrinya membayar kesalahan. Keduanya memang memiliki caranya untuk menyayangi Renata, tapi secara garis besar kasih sayang itu bisa terlihat jelas melalui tindakan Renata yang kadang layaknya anak kecil. “Renata di mana, Bas?” tanya Landung. Pria itu sudah lama mengalami kepincangan akibat asam urat sehingga ia segera meminta anak pertamanya untuk menggantikannya diperusahaan setelah nanti lulus. Ia tak akan menyusahkan diri pergi keluar rumah jika tak penting, oleh karenanya usaha Landung untuk berlari dari parkiran rumah sakit hingga ruang Renata di rawat merupakan sesuatu yang butuh kerja ekstra. Baskara berdiri dan menunjuk ruangan tempat Renata di rawat. Segera ibu Renata mencoba membuka ruangan yang terkunci tersebut. “Tante, tadi dokter bilang Renata harus operasi karena kaki kanannya patah. Saya sudah tanda tangan sebagai walinya. Maaf om, tante.” Kata Baskara. Wajah kuyu itu berusaha tegar, ia tahu ada kemungkinan pasangan di depannya kan menyalahkan karena gadis kesayangan keduanya masuk ke rumah sakit. Namun wajah suami istri itu seolah memahami. “Kenapa Renata bisa sampai ke sini Bas?” tanya Landung dengan nafas panjang sebelumnya. Ia tahu percuma menyalahkan Baskara, karena jikalau terjadi laka mobil, maka keduanya pasti sama-sama terluka, setidaknya aka nada bekas yang dimiliki Baskara. Tapi tidak, selain wajah pucat Baskara, Landung tidak melihat ada yang salah dari pris di depannya. Maka itu Landung menyimpulkan bahwa Renata sendirilah yang melakukan sesuatu yang membuat diri gadis itu terbaring di meja operasi. Baskara terdiam. Ia tak mau Renata dimarahi oleh kedua orang tuanya saat bangun nanti. Tapi jika ia tak mengatakan alasannya pada Landung maupun Maria, maka selamanya dia akan merasa bersalah. “Saya juga bingung om, tadi Renata marah tanpa alasan. Saya pikir karena dia sebal menyetir di jalanan yang ramai. Tapi kayaknya bukan. Baskara minta maaf om karena Bas enggak bisa jaga Renata.” Pria itu menunduk penuh penyesalan. “Renata tadi lompat dari mobil waktu Bas nyetir.” Suara tercekat kedua pasangan itu terdengr jelas. Maria langsung menangis dan terduduk di bangku sebelah Baskara. Wanita itu tahu bahwa anak gadisnya memang sering melakukan sesuatu yang ektrim saat marah. Tapi ia tak menyangka putrinya akan terjun dari mobil yang melaju, bagaimana jika ada truk lewat tadi? Ia bisa kehilangan buah hatinya! Maria sudah pasti memarahi Renata andai gadis itu tak celaka dengan parah, tapi kini ia hanya bisa menangis memohon pada tuhan agar putrinya selamat. Baskarapun ikut menitikkan air mata. Gadis yang sudah seperti adiknya itu kini tak sadarkan diri setelah di operasi dan ia yang secara tidak langsung berkontribusi membaringkan adiknya itu di dalam ruang penuh bau yang mereka berdua tak sukai. “Maaf om,” Baskara mengulang ucapan. Landung masih terus terdiam. Ia tahu Renata pasti marah karena ada sesuatu aktifitas yang mengganggunya saat perjalanan. Ia mencari jawaban, namun tak menemukan hal lain selain pemikiran bahwa Renata kesal atau marah pada Baskara dan Baskara tak menyadari hal itu. Dalam otaknya berputar pertanyaan mengapa Renata bisa jadi seperti ini. Ia tahu bahwa anak gadisnya menyukai Baskara dan alasan itulah Landung membolehkan Renata memiliki apartemen yang jauh dari rumah, tapi ia tak tahu betapa besar pengaruh Baskara hingga gadis kecilnya berbuat hal nekat. Apa ia harus menjauhkan Renata dari Baskara? “Apa… Renata sudah dioperasi?” tanya lelaki tua itu perlahan. Dengan layu Baskara mengangguk. Tatapannya masih si arahkan ke bawah. “Dokter bilang operasinya berjalan baik. Luka parahnya hanya di bagian kaki dan jidat, selebihnya memar. Tapi dokter belum memperbolehkan untuk masuk.” Suasana hening lagi menyelimuti. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. “Wali atas nama pasien Renata.” Suster berbaju pink memanggil. Ia menatap tiga orang di depannya dengan tanda tanya. “Iya dok, saya.” Maria menjawab dengan segera. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu berjalan mendekat dengan segera. “Bu Renata akan kami pindahkan ke ICU. Bisa dijenguk tapi hanya boleh dua orang ya, bu.” Suster itu menjelaskan. Dengan segera Maria mengangguk. Suster itu pergi memanggil beberapa suster lain dan masuk ke ruangan. Tak lama, terlihat masih menutup mata, Renata dipindahkan bersama ranjangnya ke ruangan ICU yang terletak tak jauh dari situ. Ketiga manusia yang menunggu itu otomatis melangkahkan kaki menyusul di belakang. Sang ibu menyamai samping ranjang sambil menatap putrinya. Air mata yang tadi sudah cukup kering kembali mengucur deras. Betapa tak teriris jika anak putri yang telah ditunggu terlihat seperti cangkang kosong yang tak berdaya. “Maaf bu, smpai sini dulu ya. Silahkan pakai gown di sebelah sana sebelum masuk.” Suster itu menunjuk ruangan kecil di samping ICU di mana beberpa gaun rumah sakit tercantol. “Baskara tunggu sini aja om, tante.” Sadar diri, pria itu membantu kedua pasangan tua itu memakai gaun operasi. Segera, Landung dan Maria memasuki ICU. Meninggalkan Baskra yang lagi-lagi harus menelan penyesalan di luar ruangan.  *** Perlahan mata Renata terbuka. Pening, buram, samar diantara dengung, ia mendengar bunyi tak familiar di sekitarnya. Monitor dengan suara teratur dan hening tak enak yang menyesakkan. Hidungnya bekerja membaui aroma yang ia akrabi dari toilet SMA kala dibersihkan pak bon. Badannya terasa berat ketika ia ingin menggerakkan anggota tubuh terringan sekalipun. Butuh waktu ekstra untuk membuka kelopak yang rasanya selalu ingin menutup. Ada sesuatu yang menindih jarinya, tangan lain yang rasanya ia Kenal. Ia ingin menyingkirkan, tapi tenaga yang ia miliki menguap entah kemana. Suara disekitarnya bertambah lagi, kali ini cukup keras dan familiar. Suara ibunya mendominasi. ‘Sedang apa Mama di sini?’ dengan keras gadis itu mengingat-ingat apa yang terjadi. Mengapa ibunya terdengar khawatir? Suara ayahnya juga menyusul memanggil-manggil dirinya. ‘Papa?’ Sepasang tangan tiba-tiba menyentuh tubuhnya, meninggalkan jejak tak nyaman karena betapa tidak sukanya Renata disentuh tanpa persetujuan. Tangan itu berpindah dari nadi di tangan, nadi di leher, nafas, dan terakhir, ia membuka paksa kelopak mata Renata. Terang, terlalu terang, cahaya menyeruak ke dalam mata Renata. Retinanya beringsut ingin menjauhi sumber cahaya yang menyakitkan itu. Ia ingin sekali mengerjap lagi tapi tak bisa. Lagi-lagi gadis itu merasa layaknya boneka tanpa nyawa. Renata haus dan ia ingin mengatakan hal tersebut kepada kedua orangtuanya. namun yang keluar hanya gumaman tak jelas layaknya bayi yang belum bisa bicara. Ia masih bingung hingga saat ini tubuhnya terbaring di mana. Otaknya memutar, berusaha mengingat kejadian yang menyebabkan kaki dan tangan seolah lumpuh tak lagi bisa digerakkan. Perlahan seiring kesadarannya yang makin kuat, sekilas gambaran membuatnya tersadar, kenangan beberapa jam silam. Alasan mengapa ia harus berakhir di ranjang keras ini. Baskara. Renata ingat kemarahan yang menguasai dirinya, membuat hilang kendali, dan membuat Baskara kebingungan. Ia juga ingat telah melompat dari mobil, sesuatu yang langsung ia sesali begitu memori membanjiri. Betapa khawatirnya dan bersalahnya pria itu nanti saat bertemu. Di mana Baskara sekarang? Apa pria itu marah karena Renata bertindak nekat? Apa sekarang Baskara membencinya? Tak terasa air mata menetes dari pelupuk mata gadis itu. Ia ingin meraung, tapi tak sanggup. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah mengalirkan kesedihannya sambil berbaring terlentang. Renata merindukan Baskara, ia ingin mengucap maaf. Tapi di saat yang sama gadis itu malu dan takut. Malu karena tindakannya dan takut jika benar… Baskara membencinya. Manusia-manusia di sekitar Renata pun kebingungan. Mereka tak mengerti kenapa gadis dengan gips di kanannya harus menangis. Dengan terbata-bata, Renata berusaha mengucapkan  nama Baskara, berkali-kali, meskipun tenggorokannya serasa terbakar karena terlalu kering. “Iya sayang, jangan menangis. Mamah akan panggilkan Baskara ke sini." Segera, Maria berniat pergi menukar tempatnya dengan pria yang anak gadisnya inginkan. Entah kekuatan dari mana, tangan Renata menggenggam ibunya erat. Tersentak, gadis itu menggeleng sambil terus terisak tanpa suara.  “N-nggak... mau.” Setelah mengucapkannya, kesadaran Renata hilang lagi. Ia jatuh tidur dan membayangkan Pujaan hatinya datang dan mengelusnya mengatakan bahwa semua baik-baik saja. ‘Jangan benci aku…’ 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD