The Accident

2121 Words
… Makasih ya Kanya atas rekomendasinya. Hari ini juga aku akan beli buku untuk adikku!! Btw, ternyata kita samaan sama dong. Aku juga suka Murakami. Kok kita bisa samaan gini ya hehe? Oh ya, kalau kamu ada waktu, apakah kamu mau hunting buku sama aku? Kalau ada waktu sih… aku nggak maksa lho ini wkwkwk. Aku butuh rekomendasi nih soalnya akhir-akhir ini aku gabut. Menurutku orang yang suka baca buku tuh lucu dan manis gitu. Karena mereka bisa fokus banget masuk dalam dunia yang disuguhkan pengarang. Tapi kayaknya kalau pakai kata ‘kutu buku’ kesannya merendahkan. Mending kita ganti katanya jadi ‘suka baca’, gimana? … Baskara tersenyum sendiri membaca balasannya pada Kanya. selama ini ia jarang mengetik panjang-panjang ketika membalas pesan, tapi kini, lihatlah pria itu. Bibirnya tertarik ke atas hanya karena membaca tulisannya sendiri pada badan email. Total sudah sepuluh kali dirinya menengok ulang ketik jawaban yang ia buat, dan setiap melihatnya, perasaan senang membuncah. Tentu gadis di sampingnya menyadari hal tersebut. Renata yang sedari tadi menyetir sesekali memandangi Baskara yang secara repetitif menatap layar kotak dalam genggamannya. Sekelebat dirinya tahu Baskara sedang memandangi apa dan tentu itu membuatnya tak suka. Baskara hampir selalu menghabiskan waktunya dengan mengajak bicara ketika sedang menyupir atau disupiri, alasannya selalu sama, agar tak ngantuk. Apalagi jika ia sedang bersama Renata, obrolan mereka rasanya tak habis dan bahkan pada seratus persen waktu perjalanan, laki-laki itu akan menghabiskan dengan topik-topik hangat yang membuat Renata terbahak di kursi. Maka itu, kekesalannya atas benda yang katanya pintar itu sangat beralasan, rasanya ponsel seukuran dompet itu minta dibanting ke dasbor hingga berkeping. Yah, mungkin tak bisa berkeping juga, tapi asalkan nama Kanya bisa menghilang dari kontak Baskara dan pria itu tak lagi hanya memandang ponsel penuh harap, Renata akan merasa cukup. Jalanan macet. Mobil dan motor saling selip mendahului dan memadati ruang-ruang di jalan yang tersisa. Berkali bunyi klakson, yang tak lagi mengagetkan karena seringnya digunakan, terdengar bersama u*****n serta makian. Tidak ada yang mau mengalah, sekecil apapun sudutnya, kalau terlihat bisa lewat, maka beloklah kendara besi itu memadati. Ketidaksabaran dari pengendara ini dibumbui dengan udara panas dan polusi yang merayu-rayu, lengkap sudah suasana menyebalkan ini. Perjalanan ke toko buku terbesar di wilayah ini memang harus melewati titik-titik padat merayap yang bisa menghabiskan waktu percuma. Tahu betul gadis itu karena rumah orang tuanya terletak di jantung kota, yang meskipun kompleks perumahannya rindang nan tenang, namun di sekeliling ramai lalu lintas tidak pernah padam. Ya seperti saat ini. Maka itu saat tiba waktunya ia berkuliah, ia memilih mencari apartemen di dekat kampus yang jauh dari riuh rendah bising knalpot yang merayap di jalan-jalan. Dan tentu, dekat dengan rumah Baskara. Renata tak tahu apakah keputusannya ikut dengan Baskara ke jantung kota sudah tepat atau tidak. Bukankah dengan menemani pria ini, ia juga turut berpartisipasi mendekatkan pujaannya pada gadis yang ia tak sukai? Renata mempertanyakan diri. Sesuka-sukanya ia pada Baskara, memangnya dia tak punya batasan lagi kah? Kesal dan amarah menggelayuti d**a secara tiba-tiba. Meskipun kendara ini berpendingin, namun tubuh Renata masih terasa panas karena otak dan batinnya mendidih tak karuan. Perasaan itu kini ia lampiaskan pada klakson di tengah kemudi dan pengendara lain. Tak tanggung, pejalan kaki yang menyebrang, motor yang menyalip, maupun kendara yang dirasa terlalu lambat ia peringatkan berkali. Terkaget, beberapa pengendara marah-marah dan memukul atau menendang bodi samping. Renata tak peduli. Baskara bukannya tak sadar gadis di sebelahnya sedang kesal. Yang pria itu tak ketahui adalah alasan mengapa Renata harus marah-marah kemudian melampiaskan pada orang-orang jalanan yang bahkan mereka tak kenal secara tiba-tiba. ‘Mungkin Renata kesal harus melewati jalanan ini,’ begitu pikirnya. Meski awalnya Baskara tak mengambil pusing dengan kelakuan barusan, tapi lama-lama tindakan Renata yang irasional itu membuatnya ikut merengut. Pria itu merasa terganggu dengan klakson yang berbunyi tiap semenit sekali. ‘Gadis ini kenapa sih?’ “Kamu kenapa sih Ren?” akhirnya pria itu buka suara. Matanya terfokus pada sang kemudi yang masih diam seribu bahasa sambil memandang ke depan dengan sinis. Beberapa menit berlalu dan Renata masih tak menjawab, ia masih terus membunyikan klakson untuk pengguna jalan tiap semenit sekali. Gadis itu bukannya tak tahu bahwa pria sampingnya tak henti menancapkan tatapan tajam bak belati dan meminta Renata menghentikan tindakan urakannya. Tapi persetanlah! Memang siapa Baskara bisa menyuruhnya seenak jidat? Jangan mentang-mentang karena gadis itu menyukainya, ia jadi bisa bersikap seolah Renata hanya sekedar penyetir tanpa perlu dipedulikan. Pria itu tak mengindahkan perasaan Rena meskipun sejak di kampus gadis itu telah menunjukkan ketidak sukaan terhadap Kanya. Opini Renata seolah dibanting dan dirobek saat Baskara tetap melanjutkan pendekatan, pun bukankah Baskara tahu betapa tidak sukanya Renata ketika harus dihadapkan pada jalanan utama kota, tapi tetap, pria itu memintanya ikut bahkan tak menawarkan menggantikan Renata untuk menyupir kala gadis itu duduk langsung di kemudi. Renata sadar kadang ia sering jadi bodoh demi membahagiakan Baskara, tapi Baskara tidak pernah membalas dengan perbuatan yang sama. Rasa ragu apakah pujaannya akan menjadikan Renata sebagai pelabuhan terakhir sering menghampiri, tapi terus ditepis karena ia sangat mencintai pria itu. Ya cinta, apalagi memang yang membuatnya jadi i***t yang terus bersabar dengan laku lelaki main perasaan seperti Baskara di sebelah. Pedalnya ia jejak, mobil melaju makin kencang di jalan yang kali ini sepi. Meskipun kendara masih ramai, namun lebar aspal yang luas memungkinkan Renata tancap gas dengan leluasa. Kesempatan ini jadi ajang berkebut sambil terus memencet bagian tengah kemudi tiap merasa lajunya terhambat. “Renata, kamu kenapa sih?” tanya Baskara naik satu oktaf saat merasa keselamatannya dimainkan. Renata masih diam seribu bahasa. Gadis itu melirik ke samping. Kali ini Baskara telah mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Renata dan ia tahu itu. Tapi tak juga ego maupun rasa kesalnya turun, malah semakin menjadi. Ia merasa diabaikan dan hanya dipedulikan saat Baskara merasa perlu. Tapi bukankah selama ini memang begini? Baskara memang selalu meninggalkan Renata bersenang-senang dengan orang baru dan memanggil Renata kembali ketika ia sudah selesai atau sudah bosan. Jadi selama ini Renata apa? Apa dia cuma seperti gadis lainnya? Gadis itu sedih ketika memikirkan ini. Meskipun ia tahu bahwa kemungkinan Baskara akan mencampakkan Kanya pada akhirnya, tapi pemikiran bahwa ia juga jadi tempat sampah curhatan Baskara menghantam seperti palu godam. Matanya berair, tapi ia tak ingin menangis. Ia tak ingin terlihat cengeng di depan Baskara. Ah, lihat, bahkan saat ini ia masih memikirkan imagenya di depan pria itu. “Rena, berhenti!” terkesiap, gadis itu menatap lelaki yang kali ini sudah menunjukkan amarah secara eksplisit. Bukannya berhenti, gadis itu malah menambah kecepatan mobil. Gadis itu menatap jalanan penuh dendam. Ia bukan wanita yang bisa disuruh seenaknya! Dengan hati berdebar penuh cemas, kali ini Baskara bergantian menatap sang supir dan bentang jalan yang ia lewati. Pria itu takut kalau ia akan mengalami musibah fatal dengan wanita di sebelahnya. Ia tak pernah begitu religius sehingga kapan saja akan dijemput, ia merasa akan siap. Tapi ternyata pemikirannya agak salah, ia tetap merasa belum mau pergi cepat ke atas sana. Kecepatan seperti ini di keadaan jalan yang tak terlalu sepi bisa menyebabkan nyawanya melayang, begitu pula nyawa Renata. Meski jarang melewati wilayah ini, ia ingat betul di depan jalanan menyempit, kalau tetap berkendara dengan ngebut seperti ini, mereka bisa celaka. Ia hanya bisa berdoa pasrah setelah beberapa kali memperingatkan juru kemudi yang masih terbawa emosi. “Renata, jalannya menyempit. Kurangi kecepatan!” seru Baskara ketika melihat rambu. Palang kuning dengan gambar jalanan melengkok lebih kecil dikedua sisi membuat pria itu semakin panik. Dan terbukti. Mereka menabrak bemper belakang mobil sedan hitam di depan. Tabrakan itu tak terlalu besar. Meski Renata kalap, namun begitu Baskara memberitahunya jalanan menyempit, gadis itu langsung memelankan kecepatan dan mengerem agak keras. Sayang, mereka masih tetap menyentuh bagian belakang mobil di depannya. Tangan Rena mencengkram kemudi, bukan marah tapi takut. Plat kendara di depannya membuat gadis itu begidik ngeri mengetahui bahaya yang mengancam dirinya. TNI! “HEH, KELUAR KALIAN!” Gedoran di sisi jendela Renata membuat gadis itu hampir melonjak saking kagetnya. Pria dengan potongan hampir gundul dan mata marah membuatnya bergetar hingga rasanya ingin tenggelam saja ke dalam bumi. Gadis itu masih terpaku di dalam mobilnya dan tak bergerak. Ia memikirkan langkah apa yang harus dilakukan. Menelpon sang ayah akan membuat mobilnya di sita dan ia terpaksa menggunakan supir yang selalu on time menjemputnya. Bagaimana ia bisa jalan dengan Baskara kalau begitu? Kalau menelpon ibunya, ia juga akan  dimarahi tapi tak akan separah ayah. Tapipun ibunya mungkin tak bisa berbuat banyak karena pengeluaran beliau selalu dicek sang ayah. Jika ibu menebusnya dan mengganti kerugian lalu sang ayah tahu, mampus jugalah ia. Kedua kakak lelaki Renata masih di US menyelesaikan studi. Ia harus bagaimana? Tanpa gadis itu sadari, sedari tadi, Baskara sudah turun dari mobil. Pria itu menenangkan pengendara yang mereka tabrak dan meminta maaf. Pria itu harus menerima banyak complain sampai cacian karena bemper mobil yang tak lebih mahal dari mobilnya copot sebelah. Segera, setelah bernegosiasi mengenai perbaikan sedan dan juga negosiasi agar tak melibatkan polisi dalam hal ini, Baskara menelpon kenalannya yang merupakan montir. Pria itu benar tahu banyak orang dari beragam kalangan. Sambil meminta yang ditabraknya menunggu, pria itu kembali ke mobil. “Rena, kamu pindah.” Baskara menepuk singkat pundak gadis itu setelah ia membuka pintu sisi kemudi. Tadinya Baskara akan marah, namun tak jadi melihat tatapan Renata yang kosong. Ia tak bisa memarahinya, paling tidak untuk sekarang. Seperti program auto pilot, Renata keluar dan pindah ke samping. Matanya masih kosong menerawang karena syok. Beberapa pengendara yang tadi diklaksonnya berhenti dan menatap sinis saat gadis itu ketika keluar dan seolah berkata, ‘oh… itu toh supirnya. Sukurin nabrak!’ Dengan cekatan Baskara meminggirkan mobil yang menjadi sumber macet sementara. ia menyandarkan bahunya sebentar sambil menghela nafas panjang. Keluar, ia menatap bemper mobilnya yang juga melengkung ke dalam. “Kalau sampai kena bagian AC, bisa mahal,” pikir pria itu. Ia kemudian mengajak pria yang ia tabrak, Dimas, anggota TNI yang beberapa tahun lebih tua darinya mengobrol. Dari obrolan yang melunak itu, Baskara tahu kalau mobil Dimas baru selesai diservis dan biasanya dipinjamkan pada adik iparnya yang bekerja sebagai supir taksi online untuk narik, ini menambah rasa bersalah Baskara. Setelah teman Baskara, Bimo, datang dan memberi estimasi perbaikan, Dimas dan Baskara saling bertukar alamat dan nomor telpon. Mobil itu dibawa Bimo ke bengkel, sementara Dimas, Baskara pesankan taksi online. Setelah semua beres, ia kembali ke mobil. Kali ini ia menatap Renata yang sudah sadar dari kagetnya. Gadis itu menatap Baskara dengan layu seolah ingin minta maaf, meskipun begitu, ia tak bicara apa-apa. “Kita pulang aja,” pelan, Baskara memberi tahu. Mobil ia jalankan dengan kecepatan yang normal. Sepi. Tak ada yang berani buka suara. Baskara sebenarnya sudah siap untuk bertanya perihal kenapa Renata begitu urakan selama perjalanan tadi, tapi gadis di sebelahnya terus memandangi jendela menopang dagu. Mungkin Renata sedang merefleksikan kesalahannya? “Bas, aku nggak pengen kamu ndeketin Kanya,” bisik Renata pelan. Ia telah memberanikan diri sejak tadi, menimbang apa akibatnya jika ia berkata seperti ini, ia sudah memantabkan diri akan meminta Baskara menjauhi Kanya. dalam imajinasinya, Renata akan mengatakan hal tersebut dengan lantang sambil menatap mata pujaannya dengan berani dan dengan penjelasan yang akan membuat tindakan kebut berujung benjut tadi benar, tapi ternyata yang keluar dari bibirnya hanya cicitan kecil. Menolehpun ia tak sanggup. Baskara mendengarkan itu semua tapi ia memutuskan tak menjawab. Mobil tetap hening, hanya suara AC yang mendengung rendah jadi jawaban. Renata sedang dalam kondisi tak prima dan stabil, pun pembicaraan ini Cuma akan berakhir dengan pertengkaran, jadi diam adalah pilihan terbaik untuk Bskara. Sayang itu tak berlaku bagi Renata. Diamnya pria itu jadi alasan untuknya kembali emosi. Ia tak bisa memilih antara marah karena Baskara tak mengabulkan keinginannya atau karena Baskara hanya diam saja karena menganggap permintaannya tak penting amat untuk ditanggapi. ‘Kenapa harus diam? Jawab apa kek! b******k!’ Renata kembali memanas. “Turunin aku!” Gadis itu membalik badan menghadap si pengemudi dengan wajah marah dan mata berkaca-kaca. Perlu beberapa detik sampai Baskara mencerna dan memastikan ulang. “Hah?” ia menoleh ke samping sebentar dan melihat Renata sudah melepaskan sabuk pengamannya. Gerakan tubuhnya terburu-buru sehingga ia kesulitan membuka pada awalnya. “Turunin aku sekarang!” tuntut Renata lagi, kali ini dengan teriakan. “Renata!” “Berhenti atau aku lompat dari mobil!” “Renata jangan gila kamu!” “AKU BILANG BERHENTI!” “Kita bicara di apart kamu. Kamu…” Suara bedebam dan angin yang tiba menyeruak masuk membuat Baskara mengerem mendadak. Ia tak sadar kalau gadis di sebelahnya sudah membuka kunci mobil sedari tadi dan dilanjutkan dengan membuka pintu. Otaknya berusha memproses apa yang barusan terjadi, sampai tiba-tiba teriakan dan suara manusia terdengar dari belakang mobilnya. “RENATA!” Sebelum ia sadar, kakinya sudah melangkah pada badan yang tergeletak di jalan bersimbah darah. Tangannya mengangkat tubuh ringkih Renata. “Kumohon bangunlah.” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD