yang Tersakiti

2312 Words
Lagi-lagi kelas Banyu belum selesai, Kanya harus menunggu sampai kelas kekasihnya bubar. Ia sebenarnya ingin melambaikan tangan pada Banyu agar pria itu menyadari kehadiran Kanya yang sedang menunggu di sebelah jendela, tapi tak jadi mengingat kejadian beberapa hari lalu yang membuatnya malu di depan banyak teman seangkatan. Gadis itu memperhatikan betapa seriusnya Banyu mendengarkan penjelasan dari dosen. Memang jika pria itu sudah fokus pada sesuatu, ia jadi tidak terlalu peka pada sekitarnya, termasuk Kanya. Terkadang, Kanya merasa bahwa Banyu memang sengaja mengabaikannya. Terutama akhir-akhir ini ketika Banyu sedang fokus-fokusnya meraih beasiswa yang diimpikan. Sembari menunggu, Kanya membuka ponsel. Ia teringat pada email Baskara yang belum ia balas semalam penuh. Gadis itu memutuskan akan menuliskan balasannya saat ini juga. Toh, sepertinya kelas Banyu masih berjalan agak lama dan mungkin masih ada sepuluh sampai dua puluh menit sampai kelas dibubarkan. … ‘Halo Baskara, Menurutku karya Haruki Murakami bisa kamu jadikan sebagai kado. Dia penulis yang cukup beken dan karyanya memang cukup dark. Kalau adikmu suka genre itu, dia pasti lumayan tahu karya Murakami. Aku menyarankan bukunya ‘Colorless Tsukuru’ kalau adikmu belum punya. Oh ya, kalau misal adikmu fasih berbahasa Inggris, sebaiknya kamu belikan yang versi inggris saja. Menurutku versi itu jauh lebih bagus disbanding terjemahan bahasa Indonesianya. Aku juga suka karya Murakami sih. Dia termasuk penulis favoritku. Kalau kamu suka buku apa? Atau penulisnya mungkin? Soal email, aku juga baru ingat kalau data email kita dibagikan di grup LINE ya? Hehehe, aku sungguh lupa soalnya aku nggak pakai LINE. Oh ya, terima kasih karena kamu berniat memakai rekomendasiku, aku sebenarnya enggak merasa cukup oke dalam hal merekomendasikan buku atau sesuatu ke orang lain, tapi yah… kalau kamu melihat aku sebagai orang yang tahu banyak soal buku, berarti aku memang terlihat kutu buku sekali ya! Hehehe … Kanya menatap ketikannya. Tidak terlalu panjang bukan? Ia tidak terlihat desperate mencari teman ngobrol bukan? Kanya merengut sambil menimbang-nimbang kata yang harus ia kurangi. Cukup lama gadis itu menatap layar ponsel sambil ketik-hapus-tulis berulang-ulang. “Lagi ngapain? Serius banget.” Tanpa gadis itu sadari, pria yang sedari tadi tengah ia tunggu telah datang. Kelas sudah bubar sejak sepuluh menit yang lalu, dan seperti biasanya, Banyu termasuk mahasiswa yang keluar paling terakhir. Pria itu mengenakan jeans dengan atasan kemeja biru polos. Dua kancing teratas sengaja tidak ditautkan agar tak menimbulkan kesan terlalu serius. Sebelum bertemu Kanya, Banyu selalu mengancingkan semuanya, membuat diri sendri terlihat cupu. Sejak berpacaran dengan gadis itu, Kanya membuat kedua kancing teratasnya terbuka, sebuah kebiasaan baru yang Banyu pertahankan hingga kini.    Mata Kanya melebar, entah mengapa rasanya seperti sedang tertangkap basah. Gadis itu bingung harus menjawab apa. Otaknya terasa me-loading jawaban yang tak kunjung terucap dari bibir. Jantungnya mencelos. ‘Memang apa salahnya mengemail Baskara? Kenapa ia merasa aneh seperti ini?’ pikir Kanya dalam diamnya. Meskipun agak lama, namun Kanya akhirnya mampu menguasai diri. “Eh, ini ada email dari Baskara. Dia nanya soal rekomendasi buku.” Jawab Kanya kelabakan, ia tak pandai mengelak di depan Banyu, jadi ia menceritakan semua yang ia alami.  “Kamu mau baca?” Kalimat terakhir itu rasanya seperti kalimat terbodoh yang meluncur dari mulutnya. Ia mengumpati diri dalam hati, berharap Banyu tidak menyadari betapa canggungnya diriny saat ini. Gadis itu menyodorkan ponselnya pada Banyu, kedua tangannya maju seperti anak kecil yang ketahuan mencuri dan ingin mengembalikan barang yang ia ambil. Telapaknya terasa licin karena mulai berkeringat. Kenapa ia jadi merasa gugup? “Baskara yang mana? Kakak tingkat itu?” tanya Banyu cepat. Pria itu menyadari ada yang aneh dari perilaku Kanya. Rasanya gadis itu seperti ingin menyembunyikan sesuatu tapi tidak bisa. Banyu tahu karena Kanya tidak pandai berbohong, gadis itu akan kelabakan dan berusaha mencari topic pembicaraan lain jika otaknya berhasil merespon, tapi jika tidak, maka seperti tadi. Kanya akan terdiam seribu bahasa selama beberapa detik dan menatap kosong seolah nyawanya pergi dari tubuh. Banyu melihat ponsel yang pacarnya sodorkan. Layarnya masih menyala, memperlihatkan aplikasi sss yang yang terpampang di depan. Sebuah alamat email menunjukkan kepada siapa surat elektronik itu akan dikirimkan. Ya, memang Baskara. Baskara Raharja, teman satu SMAnya. Ia dan Baskara seharusnya satu angkatan, namun Banyu memilih masuk pada tahun berikutnya, tahun setelah Baskara. Meskipun pintar, Banyu mengambil gap year karena ingin membantu usaha ayahnya yang saat itu sedang dilanda kesulitan. Tak ia sangka, saat ini dirinya kembali dipertemukan dengan Baskara di kampus yang sama. Ia memang tidak putus pertemanan dengan Baskara, namun banyak hal yang membuat mereka terasa jauh, saling sapa pun rasanya jadi aneh. Oleh karena itu, Banyu berlagak saling tak kenal dengan Baskara. Meskipun ingin melihat isinya namun Banyu memutuskan untuk tidak mengambil maupun membaca lebih lanjut email yang sedang ditulis oleh Kanya. Ia memutuskan untuk percaya sepenuhnya pada gadis tersebut. Ia tak perlu mempertanyakan kesetiaan Kanya, toh, Banyu yakin Kanya tahu bagaimana sifat Baskara yang suka mempermainkan wanita.   "Eh, iya,  Baskara yang kakak tingkat itu hehehe. Dia tiba-tiba minta rekomendasi novel buat kado adik sepupunya." jawab Kanya. Gadis itu berusaha terlihat tenang, tapi gagal. Ia malah terlihat seperti kancil yang ketahuan mencuri timun, gagap, padahal sejak tadi reaksi Banyu biasa saja.  "Nggak usah, aku percaya kok." jawab Banyu mengembalikan tangan Kanya ke tempatnya. Pria itu duduk di samping Kanya, matanya lurus menatap manik sang gadis yang sayu.  "Kamu nggak salah apa-apa. Aku nggak marah kok kalau kamu bicara sama Baskara. Kmu nggak selingkuh kok." Banyu mengusap rambut Kanya dengan lembut, Ia tahu apa yang sedang gadisnya pikirkan. Kanya mungkin merasa bersalah karena ia sama sekali tidak bercerita kepada Banyu soal email Baskara, dan itu membuatnya terlihat seperti sedang main serong di belakang Banyu. Banyu menyadari kalau ia tidak bisa mencegah Kanya bicara pada siapapun, itu hak Kanya, privasi gadis itu. Meskipun ada setitik cemburu, ia selalu menepisnya, kali inipun begitu. Banyu juga tidak ingin memikirkan hal-hal buruk tentang Baskara, meskipun hubungan mereka sudah seperti alien dan manusia bumi, namun Baskara pernah menjadi teman di masa SMAnya yang baik. Banyu tahu ada kemungkinan Baskara sedang mendekati Kanya, tapi dia tidak ingin menduga-duga sesuatu yang tidak baik. Lebih baik energinya difokuskan untuk memanjakan Kanya, membuat gadis itu jadi gadis paling bahagia sedunia.  "Jadi pergi?" tanya Banyu. Hari ini mereka menjadwalkan pergi ke perpustakaan kota. Keduanya memang rutin meminjam buku maupun nongkrong di sana. Selain ada wi-fi dan colokan, ada pula sofa nyaman yang membuat betah, Dan bila lapar, ada penjual soto enak di dekat situ. Kanya menatap Banyu tidak percaya, matanya berbinar-binar seperti hampir menangis. Ia hingga kini masih merasa bersalah –karena seperti yang Banyu jelaskan, ia berhubungan dengan Baskara, pria paling playboy di kampus, tanpa memberi tahu Banyu. Gadis itu memang kurang peka pada banyak hal, termasuk perasaan yang ia alami. Kanya kadang merasa Banyu jauh lebih mengerti kepribadiannya dibanding dirinya sendiri. Memang agak menyedihkan. Setelah Banyu mengatakan kalimat-kalimat tadi, Kanya merasa beban di pundaknya terangkat. Lelaki ini ini memang baik hati, Banyu jarang sekali memarahinya, sekalipun marah, Banyu hanya marah sekejap. Pria itupun biasanya marah ketika Kanya mengganggu kenyamanan umum, seperti beberapa hari yang lalu saat Banyu sedang kelas mislnya. Tapi… kadang Kanya merasa bahwa Banyu tak pernah benar-benar sayang padanya. Ini karena Banyu tak pernah cemburu pada pria-pria yang mendekati Kanya, seperti saat ini. bukannya Banyu harusnya curiga atau apalah jika Baskara –pria paling tampan sekaligus playboy di kampus, tiba-tiba tanpa angin dan hujan, meminta rekomendasi buku pada Kanya yang cuma mahasiswi biasa? Entah karena Banyu begitu percaya pada gadis itu atau memang karena pria itu tidak peduli, tapi rasanya seperti Kanya yang jatuh cinta sendirian. Ia yang kadang cemburu jika ada gadis yang mendekati Banyu, padahal kemungkinan besar seseorang bicara pada Banyu karena ingin meminta bantuan. Ah, tapi Kanya tidak ingin pikiran buruk mempengaruhi otak. Saat ini ia lebih memilih yakin kalau Banyu memang mempercayainya seratus persen sehingga pria itu tidak pernah marah jika ia berbalas pesan dengan lawan jenis manapun. "Iya dong, jadi!" Senyuman mengembang, tangan Kanya dilingkarkan pada lengan Banyu. Melangkah bersama, keduanya berjalan pergi menuju parkiran, memakai helm, dan tancap gas menuju tujuan.  *** “Kanya kok baru balas sih,” berdecih, Baskara menyingkirkan es teh dihadapan, tanda kesal. Ia menatap lagi pesan yang baru sampai pada email miliknya. Rasanya seluruh mood makannya hari ini hilang karena sedari pagi menunggu. Pria itu memang tidak terbiasa sarapan. Ia memulai aktivitas memamahnya di kantin kampus atau warung-warung terdekat. Meskipun di rumah ada belasan pembantu yang siap menghidangkan makanan mahal, rasanya tidak sama dengan duduk dan bersantap di kursi kayu berteman keramaian dan obrolan manusia lainnya. Tapi kini, bahkan bakso kantin kesukaan Bas tak dapat mengidupkan selera makannya. Menyebalkan! “Babas!” pria itu menengok sumber suara yang jelas ia tahu siapa, Renata. Sekarang  rasanya ia sama sekali tidak mood bertemu siapa-siapa, termasuk Renata. Meski begitu, ia tetap harus menyambut gadis itu dengan baik. Ia tak mau karena moodnya hancur, mood renata juga ikut hancur karenanya. “Hai Ren.” Lambai Baskara. Dengan cepat, gadis itu langsung duduk dihadapannya, menatap Baskara dengan manik yang tak dapat dijelaskan. “Mood kamu lagi jelek ya?” tembak langsung, Renata bicara apa adanya. Bertahun mengenal Baskara, gadis itu tahu benar bagaimana mimik yang ditunjukkan pria itu ketika sedang mengalami hari yang buruk. Baskara memang tidak secara eksplisit menampilkannya, namun sekelebat saja, secuplik saja perubahan ekspresi Baskara entah dari senang jadi sedih, atau kesal ke marah,  bisa Renata ketahui. Memang dirinya bukanlah peramal atau tukang baca mikro ekspresi di tv-tv, tapi kalau soal Baskara, Renata tahu detail-detailnya. “Tau aja sih Ren.” “Kenapa? Aku mungkin bisa bantu.” “Nggak papa kok, it’s fine.” “Jangan gitu dong. Aku kan dari lama kenal kamu, kok kamu masih nggak mau cerita sih?” Baskara menatap gadis di depannya lamat-lamat. Wajah Renata memang menunjukkan keseriusan untuk mendengar sampai terlihat lucu karena bibir gadis itu memanyun. Mengambil nafas dalam, Baskara membenarkan posisi duduknya agar lebih tegap. “Menurut kamu aku kurang apa?” tanya Baskara. Pria itu seolah ingin Renata melihat betul-betul seluruh dirinya yang sedang ia paparkan di hadapan mata. “Kamu kurang… setia?” Renata terkekeh sementara Baskara tersenyum kecut. “Kalau itu sih aku tahu, Ren.” “Kalau gitu, selain itu sih nggak ada menurutku.” Renata ganti menatap dalam pria di hadapannya. “You are perfect.” Baskara tertawa kecil mendengar ujaran Renata, gadis itu memang jago membuat moodnya naik. “Kalau gitu, menurut kamu ngobrol sama aku ngebosenin nggak?” “Engga dong! Kalau ngebosenin sih aku nggak bakal nempel terus ke kamu dari dulu kan?” Renata menyandarkan dirinya ke belakang. Tangannya bersidekap seolah menunjukkan kebanggaan atas loyalitasnya menyukai Baskara sejak dahulu. “Terus kira-kira kenapa ya, kok Kanya balesnya lama?” kali ini alis Baskara bertaut, kekesalan menghampirinya lagi. Ia benci penolakan dan sudah lama sekali sejak ada yang menolak dirinya plus pesonanya itu, oleh karenanya terasa menyakitkan ketika ia mengalami tanda ‘stop’ dari orang lain. Renata menatap Baskara seolah tak percaya. Pria ini bad mood karena Kanya? Gadis yang baru saja ia temui? Yang sengaja ia tabrak tadi? Gadis yang bahkan tak sampai setengah dari dirinya? Rasa kesal Renata tiba-tiba saja menaik, tapi ia tak ingin menampakkannya pada sang pujaan hati. Ia harus tetap tenang dan membimbing Baskara keluar dari jerat Kanya. ‘Calm Renata, calm. Don’t lose yourself!’ mantra itu ia ulang dalam batin. “Mungkin dia memang enggak tertarik sama kamu Bas. Dia kan sudah ada Banyu,” ujar Renata. Ia tersenyum meskipun hatinya mengumpat tak henti. “Udahlah, stop aja ndeketin Kanya. Masih banyak cewek kampus yang lebih cakep dari dia kok.” “Sialan, jadi makin pengen aku ngedeketin Kanya.” Baskara menggelengkan kepala ringan. Ia kembali memikirkan Kanya yang seperti anak anjing. ‘Duh, kenapa rencananya malah berbalik seperti ini?’ Renata makin mengumpat banyak-banyak. “Menurutmu bakal berapa lama sampai Kanya bisa jatuh ke pelukanku? Aku sih tiga hari.” Baskara menantang. Sudah jadi kebiasaan antara keduanya untuk bertaruh berapa lama seorang gadis jatuh hati pada Baskara. Tentu Renata tak masalah dengan hal ini, terkecuali sekarang. Gadis bernama Kanya itu tidak ia sukai, ia tak ingin Kanya dekat-dekat dengan calon pasangannya ini. “Lama. Mungkin seminggu.” Ketus, Renata menjawab. Hal ini membuat Baskara agak kaget, tak biasanya Renata kesal karena Baskara mendekati wanita. Renata biasanya ikut senang dan malah memberi saran. “Kok marah?” tanya Baskara menggoda. Ia tak tahu kenapa Rena harus marah, tapi untuk sekarang ia ingin menenangkan gadis dihadapannya. “Nggak marah.” Renata memutar bola matanya ke atas. Ia kehilangan ketenangan dan kesabaran, padahal biasanya gadis itu bisa mengatur diri di depan Baskara. “Aku cuma kesel karena kamu badmood gara-gara ginian.” Kali ini Renata mengklarifikasi. “Kalau kamu ndeketin dia, jangan pakai perasaan. Aku nggak suka suasananya hancur cuma karena unknown girl gak penting kayak Kanya.” Kali ini Renata mengeluarkan uneg-uneg meskipun hanya sebagian. Ia tak bisa mencegah Baskara untuk mendekati Kanya, tapi setidaknya Renata bisa mewanti-wanti pujaannya agar tak main hati dengan gadis itu. Untuk sekarang, rasanya hal ini adalah hal terbaik. “Oke deeeeh. Jangan marah dong princess.” Kali ini telunjuk Baskara bersarang di dagu lancip Renata. Ia menoel-noel gadis itu hingga keduanya tertawa. Suasanya keduanya cair, kali ini Baskara tanpa ragu menyantap daging bulat-bulat dihadapannya sementara Renata menghabiskan jus yang ia pesan.  “Oh ya, hari ini mau temenin aku nggak Ren?” “Kemana?” “Ke toko buku.” “Hah?” Renata tersedak dan terbatuk kecil. Mulutnya ia tutupi tangan agar tak kelihatan jorok. Jujur saja Renata kaget karena jarang sekali Baskara mengajak ke tempat penuh ilmu seperti itu. “Mau ngapain ke sana?” “Nyari buku Mura… Mura… aku lupa namanya penulisnya siapa.” Sahut Baskara. “Biasalah… property buat ndeketin cewek.” “Kanya lagi ya?” Baskara tertawa kecil sedangkan Renata menatap malas. “Ah, lupa bales emailnya!” Fokus, Baskara menulis balasan untuk Kanya, meninggalkan Renata dan sumpah serapah yang tercetak di wajah. ‘Ah… aku makin benci Kanya!’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD