Sinar matahari yang cerah menelusup masuk ke dalam kamar, membangunkan sang pemilik ruangan dari tidurnya yang pulas. Hari ini udaranya tidak terlalu dingin padahal beberapa hari kebelakang, hawa di kota sangatlah tidak bersahabat, terutama di pagi hari. Kanya, pemilik kamar, seringkali merasa kedinginan ketika bangun tidur, tapi hari ini tidak, hangat. Kanya suka kesejukan seperti ini. Meski gamang, matanya membuka dengan perlahan, menyerap semua energy sebanyak mungkin dari sang tata surya. Burung berkicauan dan udara segar menerpanya kala jendela di buka. Suasana ini membuat hati riang gembira.
Seperti kebiasaan pada hari-hari sebelumnya, setelah membuka gorden dan jendela yang tepat berada di samping kasur. Gadis itu langsung beranjak menuju cermin dan duduk di depannya. Cermin itu seukuran tubuhnya, bahkan lebih besar. Ia belum pernah mengukur tapi lihatla betapa banyak barang di ruangan ini yang dapat cermin ini pantulkan. Gadis itu selalu takub dengan cermin ini, ya… cermin buatan ayahnya. Meskipun kelihatan jadul dengan aksen bunga-bunga matahari yang terukir di sisi-sisinya, ia tetap menyayangi cermin itu dan menggunakannya di kamar meskipun di lemarinya juga sudah terpasang. Dengan teliti ia melihat apakah ada jerawat baru yang muncul atau bagaimana kondisi kulitnya dan wajahnya ketika bangun tidur. Selain itu, ia juga mengucap mantra yang setiap hari ia ulang untuk menambah kepercayaan diri
"Kamu cantik, kamu berharga, kamu pantas."
Dia menepuk pipinya pelan menanamkan mantra tersebut ke dalam diri. Rasanya jauh lebih nyaman ketika ia selesai melakukan ini, mungkin itu hanya sugesti. Tapi toh, asal bisa menambah kepercayaan dirinya, ia tidak keberatan melakukan sugesti ini seumur hidupnya.
Rambutnya ia sisir dengan tangan agar lebih rapi, tapi percuma, rambut singa bangun tidurnya hanya mempan dirapihkan dengan sisir. Tapi ia malas mengambilnya. Sambil berkacak pinggang, gadis itu bergaya layaknya model, layaknya anak kecil, ia mencoba catwalk yang pada akhirnya hanya membuat tawa dirinya saja. Tubuhnya yang boncel memang tidak diciptakan untuk jalan di karpet merah. Setelah selesai dengan aktifitas halu-nya, sejurus kemudian, ia kembali tiduran di kasur. Meskipun ia tadi telah berdiri dari tempat tidur, namun mantra kasur memang lebih ampuh dari apapun di dunia, ah, kecuali tentu panggilan bundanya. Ia kembali ke peraduan empuknya busa dan memainkan HP untuk beberapa saat hingga nantinya tiba pukul tujuh.
Pada jam tersebut, Kanya akan mengerjakan tugas-tugas rumah. Sejak kecil keluarganya tak pernah memakai pembantu, ia terbiasa membersihkan kamar sendiri, lalu sang bundapun mengajarkannya cara menyapu dan mengepel, mencuci piring, mencuci baju, memasak, pokoknya semua pekerjaan basic yang manusia harus lakukan. Tugas Kanya yang utama hanya menyapu dan mengepel rumah, serta mencuci baju dan piring miliknya sendiri. Urusan memasak dan mengurus halaman adalah tugas ibunya. Terkadang yang keduanya bertukar tugas apabila salah satunya sedang sakit atau saat sedang malas mengerjakan (yang ini Kanya paling sering melakukan). Pukul tujuh memang tergolong siang, namun sang Ibu tidak mempermasalahkan karena pekerjaan rumah Kanya bisa dilakukan belakangan, pun ibunya tidak pernah memaksa Kanya untuk melakukan semua itu, Kanya sendiri yang membagi tugas sejak ia mulai belajar tanggung jawab. Sebelumnya Kanya terbiasa melakukan pekerjaan rumah pukul lima, ini ia lakukan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sampai sebelum masuk kuliah. Ini karena jam tujuh, seperti sekolah negeri pada umumnya, ia sudah harus masuk sekolah. Saat kuliah jadwal yang dimiliki Kanya bisa berganti sehingga dengan izin ibunya, Kanya melakukan pekerjaan rumah lebih siang.
Semalam setelah membalas email Baskara ia memang tidak langsung tertidur. Ia masih terus berbalas pesan dengan Banyu, sang kekasih. Di sela-sela mengobrol dengan Banyu lewat chat, Kanya mendapat notifikasi kalau Baskara sudah membalas kembali email-nya, tapi ia tak mau segera membalas karena: 1. Ia sedang asyik mengobrol dengan sang pacar, dan 2. ia tak mau terlihat seperti ‘ingin’ didekati oleh pria tersebut. Maka itu, semalam Kanya memutuskankan untuk membalas email Baskara besok siang alias siang ini.
"Kanya, Ayo sarapan dahulu! " Teriakan bunda memenuhi telinga Kanya. ia tidak sadar bila ini mendekati pukul tujuh. Bergegas, gadis itu beranjak dari kasur dan keluar kamar. langkah kakinya ringan menuju ke dapur. Bau nasi goreng ayam kesukaan menguar di udara. Ia memang menyukai nasi goreng buatan ibunya, bisa dibilang Ia adalah fans nasi goreng tersebut. Rasanya yang renyah namun lembut ketika masuuk ke mulut. Di tambah toping ayam yang nikmat membuatnya meneguk saliva. Dengan segera, ia mengambil piring dari rak ketika sampai di dapur. Tangannya lincah menyendok nasi yang tersaji di wajan.
Bunda masih menyiapkan kopi untuk dirinya sendiri, sebuah rutinitas yang ia lakukan sejak muda. Bahkan sebelum kafe-kafe beragam tema merebak di kota ini. Bibir bunda tertarik ke ata saat melihat Kanya. anak gadis satu-satunya yang dengan mata berbinar mengambil nasi goreng yang telah ia buat. Dengan lahap, Kanya menyuapi mulutnya. Hari ini rasanya akan jadi special, se-spesial nasi goreng buatan ibunya.
"Seperti biasa, masakan bunda enak banget," ujar Kanya sambil menyodorkan sesuap nasi ke mulut. Sang bunda hanya tersenyum membalasnya, keduanya makan dalam diam.
“Kamu nanti berangkat sama Lintang dan Sendy?” ibunya bertanya kala mereka selesai makan.
Gadis itu mengangguk pelan. “Iya bun, mungkin jam sembilan. Nanti kita ada mata kuliah etika profesi yang bunda bilang keren itu loh!”
Pagi hari memang jadi ajang bercerita antara Kanya dan ibunya. Di temani sarapan yang menunya beganti tiap hari, biasanya Kanya membagi pengalaman-pengalamannya maupun kegiatan yang hari ini akan ia lakukan hari ini bersama sang bunda, begitupula sebaliknya. Ibunya akan bercerita bermacam hal soal masa lalunya. Bunda selalu pergi ke butik pada pukul sembilan dan terlalu lelah untuk berbagi cerita setelah bekerja seharian. Maka itu, pagi hari adalah waktu yang tepat membicarakan segalanya.
“Oh ya, Kanya kenapa semalam keliatan bingung?” tanya bunda. Wajahnya terlihat khawatir. Ada jeda yang sebentar di sana karena tentu saja gadis itu kaget. Ia tidak menduga kalau bunda akan menanyainya lagi.
“Eh, nggak papa kok bun,” jawab Kanya. Ia berusaha menutupi kekagetannya atas pertanyaan bunda. Tentu sang ibu tahu, namun ia tidak akan memaksa putrinya bercerita apabila tak mau, jadi sebagai balasannya ibunya hanya berkata oh cukup panjang.
“Bunda tau nggak kalau di deket kampus ada kedai es krm yang enak! Kapan-kapan kita berdua ke sana yuk!” gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Bunda tertawa, dari dulu putrinya tak berubah. Selalu menghindar bila tidak mau dikonfrontasi sesuatu, mengalihkan pembicaraan supaya lawan bicaranya lupa topic sebelumnya. Bunda mengerti dan mengikuti alur bicara Kanya.
“Kanya kalau ada apa-apa selalu bisa cerita ya sama bunda.” tersenyum, sang ibu mengakhiri pembicaraan. Ia membereskan piringnya dan bersiap berangkat kerja. Butik lumayan jauh dari sini dan jalan kemungkinan akan macet, bunda memang selalu tepat waktu. Lebih baik kecepetan daripada terlambat, begitu prinsip beliau.
Kanya pun mengangguk cepat.
***
Sambil berlari Kanya menyusuri lorong gedung kampus. Ia berniat menemui Banyu seusai kuliah. Langkah kakinya yang kecil terlihat ringan dan cepat. Tak lupa sesekali ia melambai pada beberapa orang yang ia kenali, senyumnya tidak berhenti ia tebarkan pada setiap orang yang ia lewati.
Kanya boleh saja minder dengan penampilan fisiknya, namun semua orang menganggap Kanya sebenarnya cantik. Ia memiliki mata yang indah dan besar, bibir kecil yang merah alami, dan senyum yang menawan seolah-olah musim semi sedang menyapa mereka. Hampir semua orang menyukai Kanya, hanya dengan melihatnya saja dapat membuat orang lain merasa ikut senang karena ia tersenyum. Sayang gadis itu tidak melihat keistimewaan tersebut dalam dirinya.
Hari ini Kanya memutuskan untuk lewat tangga, sekalian diet begitu pikirnya. Satu persatu tangga ia naiki, ditengah-tengah Kanya teringat bahwa ia belum mengabari kedua sahabatnya bahwa ia tidak akan pulang bersama mereka berdua hari ini dikarenakan ia akan pulang bersama Banyu. Segera sambil terus menaiki tangga, tangannya merogoh kantong dalam tote bag. Tas itu berisi bermacam-macam hal sehingga Kanya kesulitan mengambil ponselnya. Kunci, botol parfum, lipstick, dan kabel saling berlilitan satu sama lain hingga Kanya kesulitan menemukan kotak ajaib tersebut. Hp-nya pasti ada di dalam sini ini tapi kenapa tidak ketemu-temu?
Tiba-tiba sesuatu menghantam bahunya dari arah depan dengan cukup keras, ia hampir jatuh ke belakang jikalau tote bagnya tidak dipegang erat-erat oleh sang penabrak. Dengan segera ia berusaha menyeimbangkan badan, dan mencari keseimbangan agar bisa berdiri tegap. Kaki kanannya akhirnya bisa menapak pada satu anak tangga di bawahnya.
Matanya menatap sang penabrak. Seorang gadis dengan rambut panjang bergelombang yang amat cantik dengan mata coklat terang, dan hidung sempurna berdiri di hadapannya. Tentu saja siapa lagi kalau bukan Renata.
Kanya terperangah karena kecantikan dari gadis tersebut. Siapa memang yang tidak kenal Renata? Ia merupakan gadis paling cantik di kampus, paling kaya, dan paling diidolakan. Ya, dia memang salah satu mahasiswa populer. Selain itu gadis tersebut populer karena kedekatannya dengan Baskara, tidak ada yang tahu hubungan Renata dengan Baskara, namun rasanya keduanya cocok bila dikatakan sebagai pasangan kekasih. Pangeran dan putri.
‘Sayang pangerannya playboy,’ pikir Kanya. Segera, Kanya tersadar.
"Maaf-maaf, aku tadi nggak lihat jalan." Kanya meminta maaf pada gadis di depannya tersebut. Wajahnya terlihat bersalah, tangannya menangkup seolah memohon ampun. Siapapun yang melihatnya akan merasa bahwa Renata sedang membully Kanya, atau kalau yang tahu kejadiannya, akan merasa bahwa gadis itu berlebihan, tapi begitulah Kanya. Caranya minta maaf memang seperti itu, menangkupkan tangan sambil meminta maaf seolah-olah sedang berdoa pada Buddha.
“Iya nggak papa, kamu juga nggak apa apa?" tersenyum manis Renata menatap gadis di depannya.
"Iya aku nggak apa-apa. Tadi terima kasih ya, kalau bukan karena kamu mungkin aku udah jatuh."
Kali ini tangan Kanya telah turun, tapi wajahnya masih tetap rasa bersalah. Sebenarnya, Kanya tidak menyangka bahwa ada hari di mana ia bisa bicara dengan "dewi" angkatannya. Bagaimana bukan dewi, lihatlah wujud gadis di depan Kanya. dan ternyata buka hanya cantik, ia juga baik. Kanya takjub karena kebaikan hati Renata, bukan hanya Renata memaafkannya karena telah sembrono menabrak dan hampir mencelakai diri sendiri (Bahkan mungkin mencelakai Renata juga) namun Renata juga telah menolongnya agar dia tidak terjatuh dan menjauhkannya dari kemungkinan masuk rumah sakit.
‘Pantas memang panggilan dewi untuk Renata,’ pikir Kanya.
"Nama kamu siapa?" Tanya Renata sambil masih tersenyum ia mengulurkan tangan.
"Nama aku Kanya." Dengan senang hati Kanya menyambut uluran tangan Renata. Tangan Renata halus, mungkin inilah hasil dari perawatan berjuta-juta orang kaya pikir Kanya. "Oh ya ya, kamu Renata kan?"
"Kok kamu tahu?"
"Semua orang juga tahu. Siapa sih yang nggak tahu Renata.” Sebenarnya Kanya berniat bercanda (meskipun memang benar siapa yang tak mengenal Renata), tapi rasanya kalimat barusan lebih tepat diucapkan oleh pria tukang gombal dibanding orang yang ingin berteman. Mungkin inilah rasanya jadi orang paling konyol dan bodoh sedunia begitu pikir Kanya. Gadis itu meringis.
Renata tertawa kecil, "Wah kamu lucu deh. Lain kali kita ngobrol lagi, ya! Aku ada kelas lagi jadi aku harus pergi. Sampai jumpa lagi Kanya."
Wajah Kanya tersipu malu karena dipuji, ia melambaikan tangan sebagai balasan dari lambaian tangan Renata. ‘Bahkan Melambaikan tangan saja cantik,’ cicit Kanya dalam hati.
Setelah tersadar, Gadis itu buru-buru mencari ponselnya dan meneruskan menuju ruang kelas Banyu.
Tanpa disadari, gadis yang tadi melambaikan dan mengucap perpisahan pada Kanya berbalik menatap punggung Kanya yang lambat laun menghilang berbelok menaiki tangga yang lebih tinggi. Renata bersandar pada trail tangga. Bibirnya menyungging sebelah, matanya memicing menatap tak suka.
“Jadi itu yang namanya Kanya,” ia mendengus, lalu mengelap tangannya segera dan membasuh dengan hand sanitizer seolah-olah ada kuman berbahaya yang baru saja ia sentuh.
Ia tertawa kecil karena tersadar Betapa bodohnya dia sempat merasa "cemburu" kemarin-marin. Buat apa berkompetisi dengan orang yang bahkan tidak tahu bahwa tadi Renata sengaja menabrak dengan keras.
Renata sebenarnya berencana mendorongkan Kanya, bukan sekedar menabrak saja. Seandainya saja Kanya tidak reflek menarik cardigan yang dipakai oleh Renata, Renata juga tidak akan reflek menarik tote bag menjijikan milik Kanya alih-alih mendorongnya. Cardigan ini terlalu mahal untuk dirobek gadis seperti Kanya.
Tapi toh ini malah bagus, Renata jadi tahu bahwa Gadis itu tumpul. Kanya nya tidak punya alarm tanda bahaya dalam kepalanya yang kecil itu. Dan sekarang gadis itu malah menganggapnya teman baik, bagus bukan? Dengan begini rencananya untuk menjauhkan Kanya dari Baskara akan berlangsung jauh lebih mudah. Menyenangkan sekali, hari ini memang hari yang baik. Ia bisa bersantai untuk saat ini.
Senyum Renata tersungging kembali. Dengan santai ia melangkah turun ke bawah.
“Ah, tadi Babas kelas apa ya?"