Kutunggu Balasanmu

2439 Words
Gadis berambut lurus itu terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya. Wajahnya tertekuk, dahinya berkerut, mulutnya komat-kamit mengucapkan, ‘balas tidak ya?’. Piyama pink yang dipakainya terlihat berayun seiring dengan gerakan tubuh. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas, Namun tidak ada tanda-tanda gadis tersebut akan tertidur. Ia malah asyik dengan pikiran dan langkah kakinya, ia bahkan lupa menutup jendela dan tidak sadar betapa dingin suhu kamar yang ia tempati saat ini. Kamar itu berukuran empat kali empat dengan aksen kayu yang memenuhi ruangan. Kuning, warna kesukaan gadis itu, jadi pemadunya. Gorden kuning, taplak kuning, boneka kuning, dan lainnya. Campuran warna itu memunculkan kesan nyaman dan hangat bagi penghuninya yang hanya seorang, Kanya.  Ruangan ini sebelumnya dipakai oleh sang ayah sebagai tempat kerja. Sayang sejak sepuluh tahun yang lalu, ayahnya telah tiada dipanggil duluan oleh Yang Maha Kuasa. Setelah duka mendalam bertahun-tahun, Bunda kemudian memutuskan bahwa ruangan itu lebih baik dipakai Kanya. Hal ini menurut bunda merupakan simbolisasi bahwa duka mereka harus diakhiri, bahwa meskipun keduanya kehilangan (hingga saat ini), mereka akan bangkit dan terus hidup dan berjuang. Barang-barang peninggalan ayahnya kemudian dipindah  ke ruang belakang tempat sebelumnya kamar Kanya berada. Dengan sedikit renovasi, kamar itu kini menjadi ruangan kesukaan Kanya di rumah ini. Sesekali ketika lelah mondar-mandir, Kanya duduk dan memeluk erat bantal bebek seukuran raksasa miliknya. Ia menenggelamkan wajah sambil berharap pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut di pikirannya menghilang. Sedari tadi ia memang terus-menerus memikirkan hal yang menurut dirinya sendiri tidak penting. Ya, Ia sedang  memikirkan Baskara. Sudah dua jam lamanya ia terus terbentur tembok yang sama. Pertanyaan yang tak bisa dijawab, namun juga tak bisa ia tanyakan karena ia terlalu malu. ‘Apa betul Baskara sedang mendekatinya? Apa yang harus dia balas? Bagaimana jika pertanyaannya adalah pertanyaan tulus dan ia benar-benar mencari buku untuk sepupunya? Tapi bagaimana jika tidak? Dan pertanyaan terpenting, bagaimana caranya dia mengetahui email milik Kanya?’ Kembali, Kanya mondar-mandir dan mengacak rambut dengan kasar. Dari tadi rambutnya sudah tidak teratur karena ia terus  mengobrak-abrik ketika kepalanya terasa hampir pecah. Harusnya ia tak perlu memikirkan hal ini secara mendalam Ia hanya tidak menjawab pertanyaan Baskara atau mungkin… menjawab saja dengan sekenanya. Ada beragam opsi yang bisa ia lakukan dan sudah ia pikir akan lakukan sejak di kedai es krim siang tadi, tapi mengapa ia malah kebingungan ketika sampai di rumah? Akhhh!!! Tiba-tiba sebuah ketukan mengagetkan gadis tersebut. dengan gontai ia membuka pintu, wajah sang Bunda terlihat di baliknya. Di tangan bunda, terdapat nampan berisi segelas s**u dengan beberapa kue kesukaan kanya. "Dari tadi Bunda dengar kamu mondar-mandir di kamar, ini lebih baik kamu makan dulu supaya bisa tidur cepat,” tangan bunda menyerahkan bawaannya sambil tersenyum lembut. Ternyata dari tadi bundanya mendengarkan kalau ia sedang bolak-balik di kamar, dan betapa tak enaknya Kanya karena sang bunda harus bangun menyiapkan makanan untuknya agar ia cepat pergi ke pulau kapuk. Semenjak sang ayah tiada, bunda memang jadi lebih protektif terhadap Kanya. ia menyediakan apa yang Kanya inginkan bahkan sebelum gadis itu meminta. Ia merasa malu karena merasa selalu membuat bundanya kesusahan, padahal sang bunda harus banting tulang seharian ini untuk mencukupi kebutuhan mereka. Uang pensiunan ayah memang cukup untuk kehidupan sehari-hari, namun biaya untuk bersekolah Kanya cukup besar. Apalagi ia memilih universitas swasta. Kadang, gadis itu merasa menyesal memilih kampusnya. Meskipun itu kampus terbaik di kotanya, namun biaya yang mahal membuat bunda kadang harus lembur di butik untuk mencukupi kebutuhan. Bundanya beruntung karena dengan kemampuan menjahitnya, ia diterima bekerja di butik meskipun dengan usia yang tak lagi muda. Sang pemilik butik pun juga memahami kondisi bunda dan terkadang menambahkan gaji bunda jika performanya bagus. Kanya merasa seharusnya ia tidak mengganggu istirahat wanita paling penting dalam hidupnya. Gadis itupun Mengangguk lesu. "Bunda tidak tahu kamu sedang ada masalah apa, tapi kamu selalu bisa cerita. jangan dipendam ya, sayang," ujar bunda sambil mengelus rambut Kanya dan merapikannya. “Iya, bun. Bunda tidur lagi ya. Kanya tadi cuma pusing mikir tugas kok, hehe.” Ia tahu berbohong ada orang tua tak baik, namun ia tak mau bercerita soal hal tidak penting seperti pria bernama Baskara itu pada sang bunda. “Nanti jangan lupa piringnya ditaruh di dapur ya!” sang bunda kemudian melangkah pergi.  Setelah memastikan bundanya masuk kamar, gadis itu menutup pintu. Dia menaruh apa yang diberikan di nakas samping kasur. Tidak mau membangunkan bundanya lagi, ia kemudian duduk di pinggir kasur. Kakinya mengayun, pikirannya kembali berkelana memikirkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Memang apa spesialnya Baskara hingga ia harus memikirkannya sebegitu lama? Ah, sudahlah! Kanya menenggelamkan kepala dalam bantal. Ia memutuskan bahwa bagaimanapun ia akan menjawab. Ini bukan berarti bahwa Kanya mau didekati oleh Baskara, tapi gadis itu hanya ingin bersikap baik dan dan tidak ingin memberikan citra buruk kepada kakak tingkat. Tapi, balasan apa yang tepat untuk pria tersebut? Lebih lanjut, ia harus mengetahui bagaimana Baskara mendapatkan emailnya.  Getaran ponsel terasa dari saku kiri pakaian Kanya. Ada sebuah pesan baru. Banyu! Tergesa, gadis itu buru-buru membukanya.  … Halo, Kanya. Aku baru selesai belajar untuk try out IELTS besok. Maaf karena tidak membalas pesan kamu lebih cepat. Kalau kamu sudah tidur, semoga mimpi indah ya. Banyu … Kanya tersenyum senang, hatinya berbunga mendapat pesan Banyu. Akhirnya sang kekasih membalas chat yang sudah ia kirimkan sejak sore lalu, tepatnya pukul 5. Memang enam jam adalah waktu yang lama, tapi mau bagaimana? Ia tahu bahwa Banyu selalu telat membalas pesan-pesannya karena harus belajar, sungguhan belajar. Kanya tahu Banyu setia, jadi Kanyapun juga akan setia menunggu pria itu. Dan ia tidak keberatan. dia tidak mau jadi pacar yang mengekang, ia ingin mendukung banyu secara penuh meraih mimpinya. Maniknya membaca ulang pesan tersebut, menganalisa, lalu terkikik kesenangan. Banyu selalu membubuhkan namanya di akhir pesan. Lucu memang bila mengingat Kanya dan Banyu sudah menyimpan kontak masing-masing. Gadis itu menamai Banyu dengan sebutan ‘air kesayangan’ (Banyu dalam bahasa jawa berarti air) dan Banyu menamai Kanya dengan sebutan ‘Kanaya Hukum 17’, pria itu memang tidak romantic, tapi tak apa, Kanya tetap suka. Setelah puas, dengan cepat Kanya membalas, …  Hai sayang, jangan lupa makan, jangan sampai sakit juga! Kalau butuh apa-apa, kasih tahu aku. Aku kangen, hehehe … Ia tak tahu kapan Banyu akan membalas lagi, bisa setelah ini atau keesokan harinya. Tak masalah, toh besok ia dan Banyu akan bertemu lagi. Mereka bisa bicara langsung tanpa perantara internet. Rasa senang itu hanya bertahan selama kurang lebih dari 5 menit karena tak sengaja jarinya membuka tab email. Secara otomatik ia membuang ponselnya ke pojok kasur seolah takut akan muncul Baskara dari dalam sana. Gadis itu kembali berkutat pada pikiran mengenai Baskara. Apa yang harus ia balas ya? Sebaiknya memang harus dibalas secara netral. Tapi apa? Ia mengambil ponselnya dan duduk di kasur. Dengan erat tangannya memegang ponsel, ia kemudian menuliskan sebuah balasan…  *** Dalam kamar yang luas, langkah kaki Baskara terdengar memenuhi sudut-sudut ruang. Ia mondar-mandir menantikan balasan dari gadis yang sejak 12 jam lalu ia berikan pesan melalui email. Targetnya, Kanya. Ia tak tahu apa yang membuat gadis itu  begitu lama membalas pesan darinya. Apakah Kanya sama sekali tidak tertarik dengan pria itu makanya sampai saat ini gadis itu belum membalas pesan Baskara? Bagaimana mungkin ada yang tahan dengan pesonanya? Um, mungkin kecuali Lintang. Tapi tetap saja! Harusnya Kanya ada sopan santun, setidaknya membalas singkat atau apalah. Meninggalkan pria itu tanpa tanda apa-apa bukankah tidak sopan? Apalagi Baskara kakak tingkat. Pria itu kembali mengacak rambutnya yang setengah kering. Saking frustasinya, setengah jam yang lalu Baskara memutuskan untuk mandi dengan air dingin. Baru kali ini ia merasa ditolak, mungkin pesonanya sedang luntur atau malah tidak mempan pada gadis ini. Mungkinkah Lintang sudah meracuni pikiran Kanya dengan kisah-kisah buruk tentang Baskara sehingga Kanya menghindarinya? setengah jam lagi hampir tengah malam dan ia sama sekali belum mendapatkan teks apa-apa. Matanya belum mengantuk bahkan semakin menyala karena merasa gusar. ‘Apa aku harus menyerah saja?’ pria itu tertawa pelan. Baru kali ini ia merasa ingin menyerah ditengah-tengah. Sebelumnya, sesulit apapun rintangan untuk mendekati targetnya, ia bahkan tidak gentar. Hanya gadis ini yang membuatnya pusing. Pria itu sudah hampir menyerah, sampai kemudian hp-nya bergetar. Dengan malas ia membuka kunci ponselnya. ‘Jangan-jangan chat dari Renata lagi?’ pikirnya. Bukan berarti ia tak suka Renata mengirimkan pesan padanya, tapi ia sedang menunggu Kanya. Tentu ia dengan senang hati akan membalas Renata, tapi saat ini, itu bukan prioritasnya. Baskara juga tidak tahu kenapa rasanya ia sangat tertarik bahkan ingin memiliki Kanya, paling tidak ia ingin ‘mencoba’ berhubungan dengan gadis itu. Tentu bukan secara seksual, lebih pada hubungan yang romantis. Baskara tertawa lagi, ia merasa dirinya seperti anak SMA. Sudah lama ia tidak merasa seperti ini. Sayang, bahkan emailnya belum dibalas. Sebaiknya memang tidak menaruh harapan tinggi. Dengan ogah-ogahan ia membuka ponsel, hatinya rasanya melonjak ketika mendapati siapa yang mengirimnya email. Kanya! Ia mengepalkan tangan ke udara dan berteriak, “Yes!” Dengan cepat, matanya bergerak membaca, … From: KanayaKanya123@gmail.com Halo, Baskara Aku panggil nama langsung aja nggak papa kan ya? Oh iya pertama-tama aku pengen tahu dulu nih genre kesukaan Adik kamu apa? dan umurnya berapa? Aku nggak terlalu punya banyak referensi buku untuk anak kecil, tapi untuk remaja, ada beberapa yang bisa aku sarankan. Oh ya, kamu dapat emailku dari mana? Kanya … Dengan perasaan membuncah Baskara berniat langsung menjawab, namun kemudian dia tersadar untuk tidak segera membalas. Akan jauh lebih baik dan menarik apabila dia melakukan  tarik ulur  seperti biasanya. Seperti yang ia biasa lakukan pada targetnya. Mungkin 1 jam atau 2 jam… atau mungkin besok pagi? Pria itu tersenyum sendiri. Baskara masih berpikir. Ia tak mau terlihat desperate menunggu balasan gadis itu. Setelah pertimbangan mendalam yang cukup singkat. Ia pun memutuskan akan menunggu dua jam dari waktunya sekarang. Bibirnya tak henti-henti tertarik ke atas menunjukkan betapa senangnya Baskara. Untuk menghabiskan waktu itu, pria itu memutuskan untuk pergi ke ruang bawah sambil menonton televisi, tak lupa ponselnya ia bawa. Sembari bersenandung kecil, ia menuruni tangga rumahnya. Ruang keluarga terletak tepat di jantung rumah, ini memang ditujukan supaya penghuninya bisa saling bertemu dan berkumpul. Tapi entah sejak kapan, ruang itu hanya dipakai Baskara. Rumah ini luas, furniture serba warna emas berpadu putih terpasang rapi. kedua orang tuanya memang menyukai warna tersebut, kata mereka itu perlambang pertunjukkan kemakmuran keluarga Raharja. Meskipun merasa geli, tentu Baskara tidak bisa menolak ataupun berkata apa-apa. Ia merasa bahwa warna emas terlalu berlebihan, tapi toh, ini rumah orang tuanya, mereka yang punya suara mengenai seperti apa rumah ini harus terlihat. Baskara menyalakan satu-satunya perabot mencolok yang berwarna hitam. Sebuah televisi yang entah berapa inch, tapi jelas lebih besar dari televisi pada umumnya, terpajang di ruang tengah. Warna lain memang jarang terlihat di ruang komunal rumah ini. Selain televisi, ada beberapa oleh-oleh yang dibawakan oleh kolega ayahnya yang terpajang di lemari kaca (yang tentu berwarna putih emas pula). Kesepian memang sudah menjadi hal lumrah bagi Baskara, ayah dan ibunya selalu pergi entah untuk berbisnis ataupun berwisata. Meskipun sesekali ia diajak oleh keduanya untuk ikut pergi, namun Baskara selalu menolak. Ia tidak terlalu suka pergi dengan sang Ibu ataupun sang ayah. Sang ibu selalu menjadikan Baskara troli belanjaannya ketika sedang berlibur. Ibunya memang hobi belanja, terutama jika sedang berlibur keluar negeri. Entah berapa baju teronggok tidak berguna yang ibunya miliki di kloset kamar atau berapa pasang sepatu mahal yang tidak pernah dicoba setelah sang ibu beli. Sedangkan sang ayah lebih banyak bepergian untuk berbisnis. Ia tidak suka duduk bersama orang-orang tua dan membicarakan soal perekonomian perusahaan ataupun perekonomian negara. obrolan yang membosankan! Maka dari itu, ia lebih memilih untuk bepergian sendirian atau bersama teman-temannya, tentu tidak sering. Meskipun ekstrovert, humble, dan friendly, namun Baskara merasa tidak terlalu suka pergi terlalu jauh dan lebih suka berdiam di kamar atau di rumah. Yah, meskipun harus berteman kesepian.  Tak apa, setelah seharian Ia terus menyapa orang orang, beramah-tamah, atau tersenyum menggoda gadis-gadis, ia lebih suka menghabiskan waktunya seorang diri dengan berjam-jam tidur atau melamun menatap langit-langit. Seperti biasa, tidak ada acara yang menarik menurut Baskara. Semua acara di TV diisi dengan ‘lelucon’ orang-orang yang saling menghina fisik atau berita-berita yang sama sekali Baskara tidak merasa relevan terhadapnya. Ia merasa bosan, apa sebaiknya saat ini saja ia membalas Kanya? Tapi ini belum dua jam, baru juga tiga puluh menit lewat! Ah, persetan. Sekarang saja! Eh, tunggu… ia lupa sesuatu. Ia bohong soal adik sepupu, ia tidak punya adik sepupu. Yah, pada dasarnya semua isi emailnya memang bohong sih. ia kan hanya ingin mendekati Kanya. jadi sekarang Baskara harus memutar otak. Alasan apa ya yang harus dia karang? Bas memang tidak memiliki adik sepupu, ia hanya punya kakak sepupu. Kedua orang tuanya adalah anak bungsu dari masing-masing keluarga, sedangkan Ia juga anak bungsu dari semua sepupu maupun dua saudara kandungnya.  Renaldi Aji Raharja dan Randu Aji Raharja, kakak laki-lakinya yang sama-sama sudah menikah. Hubungannya dengan kedua kakaknya memang kurang baik. Ada beberapa kejadian yang membuat ia bertengkar dengan saudaranya tersebut. Terutama Renaldi. Dua kakak Baskara tidak lagi tinggal bersama kedua orang tua Baskara, mereka pun sudah mewarisi anak perusahaan milik ayahnya, suatu saat Baskara pun akan begitu. Akan tetapi Baskara merasa tidak terlalu tertarik. Ia selalu memimpikan kehidupan yang bebas, bukan kehidupan di kantor, yang harus duduk seharian, dan kemudian karena terlalu lelah untuk pergi kemana-mana pada akhirnya hanya kasur lah yang jadi teman. Tentu ia belum menyampaikan Keresahan ini pada ayahnya, bisa-bisa ia dikeluarkan dari kartu keluarga. Ia tak mau lagi mengulang kesalahan yang ia perbuat bertahun-tahun silam. Kesalahan yang membuatnya hampir dikeluarkan dari pewaris keluarga Raharja. Meskipun ia tidak terlalu suka dengan keluarga ini, namun ia tidak ingin kehilangan fasilitas yang dimiliki keluarga Raharja. Jadi sebisa mungkin ia berusaha jadi anak yang baik di mata kedua orang tuanya. …  Adikku sepertinya menyukai buku-buku novel. Jadi aku berencana membelikannya buku yang seperti itu. Untuk genre sendiri, aku tidak tahu, tapi mungkin ia lebih menyukai genre yang dark. Apakah kamu ada saran? Oh iya, kamu suka novel yang seperti apa? Aku mendapatkan emailmu dari grup lintas angkatan. Tidak masalah kan? … Setelah membacanya berulang kali dan memastikan tidak ada kata-kata yang mencurigakan, Baskara memutuskan untuk mengirimnya. Baskara memang beruntung karena setelah pembicaraannya dengan  Lintang, ia teringat bahwa ada daftar alamat email setiap mahasiswa fakultas yang dicatat di grup LINE lintas angkatan. Tiap tahunnya, mahasiswa baru yang bergabung di fakultas hukum harus mengisi form berisi nama dan alamat email yang akan dibagikan di lini masa: i********: dan grup line, fakultas. Tradisi ini aneh memang. Mengapa alamat email perlu dituliskan atau bahkan dibagikan ke orang-orang lintas angkatan yang tak saling kenal? Siapa pula orang yang mengusulkannya? Tapi saat ini, Baskara bersyukur. Kalau bukan karena tradisi aneh ini, ia tak ada jalan mendekati Kanya. Siapapun yang meng-idekan hal ini, terima kasih! Yah, paling tidak sekarang ia selangkah lebih dekat dengan Kanyanya. Kini ia bisa tidur dengan tenang.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD