Sebuah Lelucon yang tak Lucu

1502 Words
Sendy  selalu diajarkan untuk tidak pernah memukul wanita oleh orang tuanya. Tapi saat ini Betapa inginnya dia menaruhkan kepalan tangannya pada bagian tubuh Lintang.  Sudah beberapa menit berlalu sejak Lintang mengatakan bahwa ia dan Baskara sama saja. Hal itu membuatnya marah besar, betapa tidak? Bagaimana mungkin iya disamakan dengan Playboy kampus tersebut? Ia rasanya ingin memberi lakban pada mulut Lintang.  Hawa sekitar keduanya menjadi dingin meskipun suasana kantin masih panas. Lintang dan Sendy masih saling tatap dan tak mau mengalihkan pandangan. Argumen tadi seolah membeku berubah jadi lomba tatap mata paling lama, yang mengalihkan maniknya duluan akan kalah. “Haiiii!” suara ceria seorang gadis yang Lintang dan Sendy kenal menginterupsi. Kanya datang dengan wajah berserinya sambil menenteng tote bag berisi beberapa buku yang ia pinjam lebih dahulu dari perpustakaan kampus. Hari ini ia rambutnya masih sama dikuncir, wajah tanpa riasan berlebih itu tampak riang tiada beban, tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan kedua sahabatnya. Hari ini  Kanya  memang tidak berangkat bersama mereka berdua. Ia harus mengantar ibunya pergi ke dokter, tentu ia sudah bicara pada kedua sahabatnya. Seharian ini ia baru bertemu mereka sekarang, namun begitu bertemu ia harus dihadapkan dengan wajah-wajah tertekuk.  “Kok kalian merengut sih?” tanya Kanya sembari duduk di depan keduanya. Gadis itu menatap Lintang dan Sendy yang saling memalingkan wajah, dari jauh sebenarnya ia telah menyadari ada yang aneh dari dua orang ini. Tapi Kanya sudah terbiasa menghadapi Lintang dan Sendy, jadi ia tidak terlalu kaget lagi pada kondisi tidak menyenangkan seperti ini. Pasti mereka sedang mendebatkan sesuatu. Dua-duanya masih terdiam, tidak ada satu patah kata yang keluar. Hanya gestur-gestur saling lirik seolah menunggu salah satu dari mereka membuka mulut. Kediaman ini menyisakan Kanya yang masih bertanya-tanya dalam hati. Lintang bersidekap dambil memutar matanya, sedangkan Sendy pura-pura mencari cermin dan sisir di tas. “Yaudah deh, aku mau baca buku aja kalau gitu.” Baru setengah mengeluarkan buku dari tas, tiba-tiba Lintang membuka mulut. “Kalo ada orang yang nge-stalkerin kamu, kamu bakal bersikap kayak gimana Nyak?” tanya Lintang memecah keheningan. Matanya memincing menatap Sendy, yang ditatap melengos keras, sengaja agar Lintang tahu betapa kesalnya Sendy pada gadis tersebut. “Aku?” Kanya menunjuk dirinya sendiri, kemudian berpikir. “Kalau aku jelas nggak suka. Aku sebisa mungkin menghindari orang ini sih.” “Seganteng dan secemerlang apapun orang tersebut kan, Nyak?” sahut Lintang, bibirnya tertarik ke atas seolah memamerkan kalau ia sudah memenangkan kompetisi. “Iya dong. Aku nggak suka privasiku dilanggar.” “Tapi, kamu nggak akan mengancam orang lain yang berkaitan sama stalkermu kan Nyak? Misalnya ngelaporin pegawai kampus ke rektorat.” Sahut Sendy tak terima. “Kamu bakal ngancem orangnya langsung kan? Lapor orang tua dulu kan?” Ia menatap Kanya penuh pengharapan. “ Hehehe… iya sih, kalian kan tahu aku nggak terlalu suka ngancem orang. Aku juga males kalo lapor orang tua sih Sen, paling juga engga aku gubris.” Dengan bertanya-tanya Kanya bergantian menatap Sendy dan Lintang. sebenarnya mereka ini sedang membicarakan apa sih? Keduanya saling melotot tak mau kalah. Gadis itu bingung harus bersikap seperti apa karena ia pun tak tahu apa yang sedang diributkan oleh dua sahabatnya. Yang ia tahu, ia harus bersikap netral agar perdebatan ini segera berakhir. Tapi memangnya akan segera berakhir? Dua-duanya masih melemparkan tatapan sengit pada satu sama lain. Jika diibaratkan, Kanya menganggap ini pertarungan antara singa dan macan tutul. Tentu saja Lintang singa, ia lebih mirip raja hutan, penguasa seluruh hewan. Dan Sendy macan tutul nya. Sama ganas tapi kelakuannya lebih dekat dengan kucing. “Kita makan es krim aja yuk! Panas banget ya hari ini, mending makan es!” Kanya berdiri, ia tahu perdebatan ini kemungkinan tak ada ujung, jadi lebih baik ia membantu mereka melupakan apa yang sedang didebatkan. Jujur saja, baru kali ini Kanya merasa pertengkaran dua sahabatnya ini tidak akan terselesaikan (dengan mudah). Dengan cepat, ia menggandeng tangan kedua sahabatnya, tasnya ia sampirkan pada lengan. Melengos, Sendy berdiri, tapi Lintang tetap duduk. Mata Lintang menatap Sendy sinis, ia masih belum rela untuk melepaskan amarahnya. Suasana makin jadi canggung. “Kita semua udah dewasa, aku yakin nggak adil rasanya kalau Kanya nggak tahu apa masalah yang kita perdebatkan karena itu menyangkut dirinya.” Menyilangkan kaki, Lintang menatap Sendy tajam. Sedangkan pria itu diam dan tidak bersuara, sejurus kemudian ia ikut duduk kembali bersama Lintang, menandakan persetujuannya dengan pernyataan barusan. Mau tak mau, Kanya ikut duduk kembali di depan mereka. Lintang dan Sandy saling berpandangan, mereka bicara dengan mata. Saling meminta izin satu sama lain dan berdiskusi mengenai siapa yang perlu bicara duluan untuk memberitahu Kanya. “Kan… kamu kenal Baskara kan?” Lintang buka suara.  Kanya mengangguk pelan. Ia tak mengerti kenapa kedua sahabatnya tiba-tiba menyangkut pautkan dengan Baskara. Apa mereka tadi bertengkar karena Baskara? Gadis itu tahu Lintang memang tidak terlalu suka dengan Baskara dan Lintang juga sering bercerita (dan berdebat) pada Sendy tentang betapa brengseknya pria semacam Baskara itu. Tapi… tidak pernah mereka bertengkar hanya karena membicarakan playboy fakultas tersebut. Kebanyakan pertengkaran mereka soal mempresepsikan kehidupan atau tentang bagaimana mereka melihat diri masing-masing, pun Kanya bukan menganggap itu pertengkaran, lebih pada diskusi alot yang sekadar adu mulut sehat. Memang ada apa hingga hubungan Lintang dan Sendy menegang seperti ini? “Dia mau ndeketin kamu.” Deg! Ada jeda panjang. Suasana masih tegang sampai Kanya akhirnya meledakkan tawa. “HAHAHAHA.” Sendy dan Lintang saling pandang, mereka tidak mengerti kenapa gadis itu malah tertawa mendengar hal ini. Suasana mencair seiring dengan tawa Kanya yang makin keras, namun cairnya suasana itu malah menyebabkan kebingungan. Apanya yang lucu? Tawa Kanya terdengar memenuhi kantin, banyak orang memperhatikan gadis itu. Tapi Kanya tak peduli, ia terus tertawa, terbahak, hingga perutnya sakit dan matanya berair. Baskara? Seorang Baskara?! Pernyataan pria paling tampan di fakultas ini tertarik pada dirinya saja adalah sebuah lelucon, apalagi hingga suka, rasanya tak mungkin hal itu terjadi. Kanya tahu bahwa gadis biasa sepertinya tidak akan masuk radar target dari Baskara. Pun interaksinya dengan pria tersebut sangat minim: ia jarang berpapasan dan baru beberapa hari yang lalu ia bicara untuk pertama kalinya. Bagaimana mungkin pria itu bisa suka? Ada-ada saja.  “Kalian bercanda ya? Nggak mungkinlah!” ujar Kanya setelah mengakhiri tawa. Perutnya masih terasa sakit akibat guyonan dua orang dihadapannya. Sendy dan Lintang berpandangan lagi, kemudian mereka berdua menatap Kanya bersamaan. “Nyak, kita engga bercanda.” “Iya Nyak, tadi Bas minta jadwalmu ke kantor, ada kemungkinan dia mau nemuin kamu setelah atau sebelum kelas dimulai. Kemungkinan besar dia mau melancarkan taktiknya.” Kanya sejujurnya ingin tertawa lagi jika tidak melihat betapa seriusnya wajah Lintang dan Sendy memandanginya. Ia tahu apa yang dimaksud Lintang dengan ‘taktik’ Baskara, Lintang pernah bahkan sering membicarakan mengenai bagaimana Baskara mendekati tiap-tiap wanita di kampus. Tapi, Kanya masih menganggap ini tak serius karena… seorang Baskara Adi Raharja, Baskara! Pria itu terlalu tinggi untuk melongok ke bawah dan menyadari kehadirannya. Aduh, tidak mungkin! HP Kanya bergetar, sebuah email masuk. “Hehe… bentar ya. Ada email, kayaknya penting.” Mengusap air mata, ia membuka ponselnya yang terkunci. … Sender: baskaradr00@gmail.com Subject: Hi! Halo Kanya, ini Baskara. Aku denger kamu suka baca buku ya? Apa aku boleh minta rekomendasi buku? Aku sedang cari hadiah ulang tahun untuk adik sepupuku. Kalau kamu berkenan, bisakah kamu merekomendasikan sesuatu yang kemungkinan adikku suka? Thanks in advance. Bas … Dada Kanya mencelos, rasanya jantungnya turun ke perut. Ia tak tahu harus berkata apa karena rasanya seperti mimpi bahwa ada orang yang meminta rekomendasi buku darinya. Wow, seperti sebuah kehormatan. Kakak tingkat pula, terlebih… itu Baskara, yang barusan Lintang dan Sendy kata sedang berusaha mendekati Kanya. Kanya akui sekarang, memang Baskara tak main-main jika sedang mengincar wanita. Tapi sejurus kemudian Kanya menyadari sesuatu, jantungnya berdebar kencang. Lagi. Perasaan apa ini? Kenapa terulang terus saat Baskara mendekat? “Kanya, hello? Back to earth!” Sendy menjentikkan jari di depan wajah Kanya, dengan terkejut Kanya menyembunyikan ponselnya. “Dari siapa Nya?” tanya Lintang. “Biasa… dari s****e hehe,” Kanya tersenyum menatap dua sahabatnya. Ia tak tahu kenapa ia langsung berbohong. Tapi bukankah tadi Sendy dan Lintang sedang mendebatkan pria yang barusan mengirimkan email padanya? Ia tak mau teman-temannya semakin larut pada masalah tidak penting seperti ini. Jadi memang lebih baik bila ia tak memberi tahu mereka dahulu. Lintang dan Sendy tahu Kanya sedang berbohong dan ada yang berusaha gadis itu sembunyikan, ini terbukti dari air muka Kanya yang langsung berubah saat membaca email tersebut. Tapi keduanya memutuskan untuk tidak memaksa, karena mereka tahu Kanya akan memberitahu mereka jika ia sudah siap. Entah kapan, tapi keduanya yakin dalam hati masing-masing kalau gadis itu akan memberitahu mereka berdua.  “Eh, ayo makan es krim. Debatnya dilanjut di sana aja ya!” tergesa, Kanya menarik kedua sahabatnya pergi dari kantin sambil tersenyum riang. Ia tahu bahwa ia sedang menutupi kegundahan dan rasa penasaran pada perasaannya sendiri. Tapi untuk sekarang, ia harus kabur dari apapun ini, berdebar yang tidak perlu, rasa tersanjung, dan entah apalagi. Mungkin dengan makan es krim, suasana hatinya akan netral kembali.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD