Pertikaian Dua Sahabat

1366 Words
“Kamu nggak bisa gitu dong Tang. Kamu bisa bicara baik-baik. Nggak perlu ngancem gitu.” “Itu nggak baik menurut kamu? Dia stalker Sen. Gimana bisa kamu biarin orang kayak gitu ngedeketin sahabatmu?” Perdebatan ini sudah berlangsung kurang lebih satu jam. Gadis berambut bob itu mengerenyit tidak suka. Sedangkan pria dihadapannya berusaha tidak menunjukkan kekesalannya. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah dengan pandangan masing-masing. Dan terus saling mengeluarkan agrumen hingga rasanya mulut mengering dibuatnya. “Bukan nggak baik, tapi kamu kan bisa nanya alasannya dulu.” “Emang apalagi kalo bukan mau ngejadiin Kanya ‘koleksi’nya?” “Koleksi? Apaan sih Tang, seolah kamu bilang semua cewek yang dideketin Baskara kayak boneka.” “Lah, emang bukan?” “Ya bukan dong! Jahat banget mulut kamu ngatain orang yang jadi korban Baskara kayak gitu!" "Lah, tuh kamu tau mereka korban. Terus kamu masih mau Kanya juga jadi korban?" "Bukan gitu maksudku. Dan lagian ya, siapa tahu ternyata kali ini beda?” “Apanya yang beda? Kamu jangan pura-pura bodoh deh. Jelas-jelas kamu tahu Baskara orang kayak apa!” kali ini nada Lintang naik lagi. Ia menatap lawan bicaranya, Sendy, dengan gusar. Sendy sudah seringkali membuatnya sebal, namun baru kali ini gadis bermata hitam itu merasa marah. Setelah pertemuan mereka dengan Baskara satu setengah jam yang lalu, Sendy langsung menanyakan kepada Lintang perihal kenapa Baskara terlihat terburu-buru tanpa menjelaskan apapun. Tanpa ditutupi, Lintang menjabarkan semua permasalahannya, runtut dan rapi, ia juga mengeluarkan pendapat mengenai betapa brengseknya Baskara karena bersikap selayaknya stalker untuk mendapatkan wanita. Tentu itu tidak salah, ia tahu bahwa Sendy akan sepakat dengannya karena Sendy lumayan akrab dengan Baskara dan tahu borok-borok pria b******k itu. Satu-satunya kesalahan Lintang adalah mengatakan bahwa sebaiknya Sendy tidak perlu lagi berteman dengan si playboy dan juga berujar apabila Sendy masih berteman dengan Baskara, maka ia (Sendy) secara tidak langsung sudah mewajarkan tindakan mengerikan itu terhadap wanita di sekitarnya. Biasanya Sendy akan diam dengan semua kata-kata tajam Lintang, pria itu sudah tahu betapa unfiltered-nya mulut gadis tersebut, tapi… ia paling benci didekte. Ia tidak suka orang lain menentukan hidupnya harus seperti apa dan bagaimana, ini termasuk dalam hal berteman. Sendy sendiri merasa bahwa pertemanannya dengan Baskara cukup wajar, ia hanya bicara dengan Baskara seperlunya seperti pada saat mereka ikut event bersama atau saat berpapasan di jalan. Selain dari itu, ia menjaga jarak karena ia tahu bahwa Baskara memang kurang baik. Ia playboy, b******k, dan suka bermain wanita, namun ia tak akan ikut campur karena toh, itu jalan hidup yang dipilih Baskara. Namun selain hal-hal tadi, sebenarnya karakter Baskara hampir tanpa cela. Ia pintar, ramah, royal, dan entah hal-hal baik apalagi yang bisa Sendy sebutkan. Tapi tentu, ia tidak mewajarkan apalagi membolehkan tindakan Baskara yang seperti binatang tersebut. Maka itu, ia sangat marah ketika Lintang mengatakan hal-hal tersebut. Seolah ia seperti kerbau yang harus dicucuk hidungnya, yang tidak punya pendirian, dan Sendy merasa dituduh dan dihakimi oleh sahabatnya sendiri. Padahal hampir setiap hari mereka berdua jalan bersama, tak tahukah Lintang mengenai jalan pikiran Sendy? “Aku nggak peduli Sen, menurutku tindakan yang aku lakuin tadi udah bener. Sesekali laki-laki b******k kayak gitu harus dikasih pelajaran.” Lintang memberikan ultimatumnya. Menurut Lintang apa yang telah dilakukannya pada Baskara masih masuk dalam batas wajar karena selama ini peringatan apapun dari orang lain tak akan mempan. Pria itu tidak perlu diberikan rasa kasihan, memangnya dia pernah kasihan dengan wanita-wanita yang ia permainkan? Dasar penjahat kelamin! Baskara punya memang punya segudang musuh karena kelakuan b***t nya ini. Pria itu sudah terlalu sering dikutuk, dihujat, bahkan diancam. Sayangnya semua ancaman itu tidak Baskara indahkan. Ia bahkan sering kali mengancam balik rival-rival cintanya. Kenapa? Tentu karena Baskara memiliki banyak sumber daya: uang dan kekuasaan yang membuat pria itu tak gentar dengan segala ultimatum yang dilontarkan lawan bicaranya. Itu pulalah yang membuat Lintang kesal, seolah Baskara invincible, tak tersentuh.  Lintang juga awalnya tidak yakin apakah ancamannya akan berhasil atau beralih jadi bumerang, itu adalah tindakan impulsif, jadi gadis itu tidak berharap banyak apakah Baskara akan mengindahkan perkataannya atau tidak. Ternyata ancamannya lumayan jitu juga. Sebagai wanita dan lebih-lebih sebagai manusia, menurut Lintang apa yang dilakukan Baskara adalah tindakan kejam, bahkan biadab. Ia memainkan perasaan orang, merusak hubungan orang, lebih lagi ia berusaha cuci tangan dan berakting seolah bukan pria itu yang membuat kekacauan. Sejak perjumpaan mereka sewaktu ospek, ia sudah memperhatikan gelagat Baskara yang menargetkan mahasiswi baru untuk didekati. Polanya selalu sama: amati, dekati, pacari (beberapa ada yang tidak sampai pada tahap ini), tinggalkan, dan cari lagi. Selalu seperti itu. Dalam sebulan, Baskara pernah memacari 4 orang. Ia memang tidak pernah menduakan targetnya, hanya satu orang dalam satu waktu. Tapi itu sama saja! Apakah wanita hanya sebatas rokok yang bila sudah habis rasa penasaran Baskara, lalu pria itu bisa buang begitu saja? Apa Baskara menganggap wanita layaknya Barbie yang hanya dimainkan saat ia ingin dan beralih pada yang baru saat sudah bosan? Ia benci itu. Hal kedua yang ia benci dari Baskara adalah seberapapun brengseknya pria itu terhadap para wanita, tidak ada konsekuensi sama sekali yang pernah Baskara terima. Ya, lagi-lagi invincible. Maksud Lintang, bagaimana mungkin pria itu masih bisa berjalan-jalan di kampus dengan tenang setelah apa yang ia lakukan pada orang lain? Bagaimana bisa semua orang masih mau berteman dengan pria macam itu,bahkan Sendy? Pun wanita-wanita masih mengejar Baskara setelah ditinggalkan! Ia tahu Baskara memang tampan, alasan itu pula yang membuat Lintang awalnya memperhatikan pria tersebut. Ia tahu bahwa keluarga Baskara merupakan keluarga kaya dan pendonor tetap di kampus. Namun kedua alasan tersebut seharusnya tidak menjadikan perbuatan pria itu ditolerir. Meskipun tidak terlalu akrab dengan teman-teman kampus, namun Lintang sudah sering melihat banyak wanita yang menangis di sudut-sudut bangunan fakultas hanya karena ditinggalkan Baskara. Tentu ia tidak bisa menyalahkan Baskara sepenuhnya, karena betapapun hebatnya manipulasi pria itu, it takes two tango. Kejadian itu bisa dicegah bila para wanita ‘mantan-mantan’ Baskara tidak memberikan celah bagi pria itu masuk. Dan sekarang Baskara mau mendekati Kanya? Apa Sendy sebuta itu hingga tidak bisa melihat bahwa hal tersebut tidak ada baik-baiknya? Bagaimana mungkin ia bisa tinggal diam dan tenang mengetahui pria seperti itu punya kemungkinan akan menghancurkan hidup Kanya? Lintang tidak begitu yakin sebenarnya kalau Kanya mau didekati bahkan sampai jatuh ke pelukan Baskara, toh Kanya sudah memiliki Banyu. Tapi seandainya Kanya tiba-tiba membuka hatinya untuk Baskara… Lintang tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya kehidupan Kanya setelah ini. Jadi, mencegah lebih baik dari pada mengobati. “Kamu bisa memilih cara yang lebih baik, atau paling nggak pakai pilihan kalimat yang lebih baik. Aku juga nggak setuju kalau Baskara mau deketin Kanya, tapi kita nggak bisa mencegah keinginan orang. Ya itu nanti kan terserah Kanya mau atau enggak Tang!” ikut emosi Sendy menaikkan nadanya satu oktaf. Ia tak mau kalah. Seberapapun sebalnya Sendy pada Baskara, ia tak bisa menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menghalangi pria tersebut. Menurutnya setiap orang berhak diberikan kesempatan menyuarakan keinginannya, sekalipun itu tidak ia sukai. Baskara punya hak untuk mendekati Kanya, dan sekalipun Kanya sudah memiliki pasangan, dia tetap harus diberikan kesempatan berkompetisi. Kalaupun harus ditolak, maka itu bukan tugas Lintang maupun dirinya untuk menghentikan Baskara. Kanyalah yang punya tugas tersebut, tugas untuk menendang Baskara dari hidupnya. Dalam beberapa hal, ia dan Lintang bisa tidak sepakat, namun baru kali ini Sendy merasa bahwa tindakan Lintang kelewat batas. Ia bukan hanya mengancam Baskara, tapi ia juga mengancam melaporkan dua pegawai kampus ke rektorat. Tentu Sendy menyadari bahwa apa yang dilakukan kedua pegawai tersebut salah, bisa dibilang masuk ranah nepotisme. Tapi lagi-lagi Sendy berpikiran bahwa kehidupan kampus tidaklah sekaku itu, tidak semuanya bisa dinilai hitam dan putih. Baskara mendapatkan kemudahan-kemudahan itu karena ia akrab dengan banyak orang, termasuk para pegawai di kampus. Beberapa mahasiswa lain yang akrab dengan para petugas kampus juga mendapat beberapa ‘keistimewaan’, jadi bukan hanya Baskara. Tindakan Lintang ini bisa berimbas dengan pemutusan kontrak kerja Mas Rahmad dan Bu Meri. Secara general, Baskara juga tidak keberatan dimintai tolong, mentraktir, dan lainnya. Kualitas inilah yang dilihat Sendy dari Baskara. Seandainya Baskara bukanlah playboy cap badak, tentunya sempurnalah luar-dalam pria tersebut. “Terserah kamu Sen, tapi aku tetap pada pendirianku!” “Wah sama dong kalo gitu! Aku juga tetap pada pendirianku!” “Sama aja kamu dan Baskara!” “APA?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD