‘Sialan!’
Entah ketidak beruntungan apalagi yang akan menimpanya hari ini, sudah harus berdebat dengan pak Anto, kali ini Baskara harus berhadapan dengan Lintang yang sedang menikmati makanannya di sebelah Sendy. Ia sama sekali lupa menanyakan apakah Lintang sedang bersamanya atau tidak.
Ia tak pernah bisa akrab dengan Lintang padahal hampir semua orang yang pernah ia ajak bicara bisa dengan luwes menyesuaikan diri. Berbeda dengan gadis dingin satu itu, beberapa kali bertemu dalam satu event, ia dan Lintang masih tak menemukan titik tengah di mana Baskara bisa merasa nyaman. Keduanya sesedikit mungkin melakukan interaksi, sekedar sapa, dan membicarakan kepentingan tanpa basa-basi. Baskara tidak membencinya, namun juga tidak menyukainya. Bagi Baskara, gadis itu terlalu pintar, terlalu rajin, dan terlalu… kaku? Jika harus digambarkan bagaimana perasaan Bas ketika bicara dengan Lintang, takut dan hormat mungkin adalah kata yang paling mendekati.
Sudah kepalang basah, Sendy dan Lintang sudah memperhatikannya berdiri seperti tiang di kantin. Mau tak mau ia harus melambaikan tangan dan bergabung. Mata Lintang seolah mengulitinya ketika Bas mendekat, ia seolah mengatakan “MAU APA KAU?”. Meskipun merasa kurang diterima, Bas tetap dengan sikap tenangnya.
“Hey bro!” Bas mengambil tempat duduk tepat di depan Sandy dan Lintang yang duduk bersebelahan. “ Pesen apa?”
“Aku pesen affogato, Lintang pesen vietnam drip. Kamu mau pesen? Aku sekalian mau ke ATM, kalo mau aku pesenin.”
LAH, Sendy mau meninggalkan Bas dengan makhluk dingin ini? Meski jarak ATM tidak terlalu jauh dari kantin kampus, tapi keadaan tentu tak akan menyenangkan. Bagaimana nanti Bas harus menghadapi Lintang? ia tidak mau ditinggal sendirian dengan wanita ini .
“Aku pesen sendiri aja gapapa. Nanti ngerepotin,” Bas beralasan. Ia tersenyum menyembunyikan rasa tidak nyaman.
“Eh, nggak papa loh. Sekalian aja.”
Sialan! Alasan apa lagi yang harus ia pakai?
“Nanti duit nya gimana? Aku lagi nggak ada cash. Aku mau pakai debit kok Sen.”
“Nggak apa Bas, aku pernah hutang sama kamu waktu kita jalan ke mall kan? Minggu lalu itu loh.”
Double sial, ia kini tak punya alasan lain lagi.
“Hmm, iced americano deh,” Bas tersenyum terpaksa. Dengan langkah gemulai, Sendy meninggalkan dua manusia canggung tersebut.
Tempat ini terlihat cukup lengang, hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati makanan. Mungkin ini karena hari jumat, tidak semua mahasiswa mau mengambil mata kuliah di dekat akhir pekan. Dibandingkan menambah keramaian dengan bicara, Bas lebih memilih sibuk dengan pikirannya sendiri. Bas memutar otak bagaimana caranya ia bisa menanyakan jadwal Kanya tanpa terlihat bahwa ia sedang mengejar gadis tersebut. Tangannya mengetuk-ngetuk meja, sembari kakinya bergerak-gerak membuat meja juga ikut bergetar.
“Kenapa sih kok kelihatannya gugup?” ujar Lintang tiba-tiba. “Gausah gugup. Aku udah tau kok maksudmu manggil Sendy.” Lintang menghentikan pergerakan Baskara. Pria itu tergagap karena diajak bicara, dan bukan sekedar diajak bicara, ia seolah dihakimi padahal ia belum melakukan apapun. Lintang tahu dari mana? Apa Lintang bisa membaca pikiran? Apa dia hanya pura-pura tahu?
Sebenarnya Lintang sama sekali belum tahu maksud Baskara tiba-tiba mengirim pesan WA pada Sendy dan mengajaknya bertemu mendadak. Hubungan Baskara dan Sendy memang cukup dekat, tapi pertemanan tersebut hanya sebatas pertemanan karena ada event kampus yang harus mereka garap bersama. Meskipun salingsapa, namun mereka tidak sedekat itu hingga bisa nongkrong bersama. Alasan itulah yang membuat Lintang merasa ada sesuatu yang aneh dan itu dikonfirmasi dengan gerak-gerik Baskara yang mencurigakan. Bas terkesan seperti orang cemas di mata Lintang. ‘Mungkin dia punya niat jelek atau mau meminta hal-hal aneh? Maka dari itu ia memanggil Sendy tiba-tiba?’ Lintang menduga.
Memang sedari tadi Lintang sudah memperhatikan tindakan aneh Bas. Bukan aneh juga sebenarnya, tapi mengganggu. Meja yang mereka tempati jadi tidak nyaman untuk digunakan. Lintang tidak bisa mengerjakan tugas dan ia juga tidak bisa mengabaikan ketidaknyamanannya atas gerakan-gerakan aneh Baskara. Lintang akhirnya memutuskan untuk menguji dugaan kalau Baskara berniat aneh-aneh dengan bertanya pertanyaan yang ambigu.
“H-hah? Maksudnya apaan sih?” Baskara berpura-pura tidak tahu. Ia tahu ini akting terburuknya selama hidup. Biasanya ia bisa menjawab dan menghindari pertanyaan jebakan seperti ini dengan mudah, tapi otaknya membeku. Ia gagap menjawab dan sudah pasti mengisyaratkan keanehan.
“Aku pikir kita semua sudah dewasa untuk bisa mengutarakan keinginan tanpa harus kode-kodean dahulu.” Ujar Lintang sambil menyilangkan kaki. Ia sebenarnya ingin menyudahi pertanyaannya jika Baskara tidak menjawab dengan gagap. Ia kini yakin ada yang berusaha Baskara sembunyikan darinya. Kenapa ia tidak boleh tahu? Padahal jelas ia datang bersama Sendy, jadi cepat atau lambat pasti ia akan mengetahui juga apa yang nantinya mereka bicarakan. Kalau begitu apa yang ingin mereka bicarakan adalah hal pribadi bukan tentang event atau organisasi seperti dugaan awal Sendy saat ia dihubungi? Kenapa Bas tidak bisa terus terang saja?
“Kamu ngomong apa sih Tang? Jelas-jelas aku mau ketemu Sendy karena ada urusan.”
Kali ini Baskara berusaha mengelak, ia mulai menguasai diri meskipun belum sepenuhnya.
“Urusan, ya? Penting ya sampai harus ketemu? Nggak bisa lewat WA atau telpon?”
“Bisa sih, aku cuma kangen aja ngobrol sama Sendy. Akhir-akhir ini kita nggak ada event bareng, jadi sekalian aja ketemu.” Senyum Bas. Ia merasa akan menang. Situasi pasif-agresif ini membuatnya ingin kabur segera, tapi ego tetap menahan pria ini duduk dan meladeni. Sampai akhir, sampai keluar pemenangnya.
“Bas!” tiba-tiba seorang yang Bas kenal menyapanya dari jauh. Meskipun wajahnya tidak terlihat jelas, namun dari baju yang ia kenakan, flanel kotak disertai kaos, Baskara mengenali siapa itu. Edi, adik tingkatnya yang cukup terkenal. Baskara ingin menyapa balik, tapi Edi sudah berlari kecil sambil melambaikan kertas putih.
“Akhirnya ketemu!” sembari tersenyum dan mengatur nafas, Edi menyerahkan kertas berisi table-tabel yang membuat Baskara mengrinyit. Jangan-jangan… “Ini tadi titipan dari Mas Rahmad, katanya kamu butuh jadwal Realisa Kanaya kan? Beliau tadi denger dari Bu Meri kalau kamu berantem sama Pak Anto soal ini. Jadi Mas Rahmad nyuruh aku ngeprint buatmu. Oiya… Mas Rahmad tadi lagi ke rektorat, jadi digantikan Pak Anto, dia bilang sorry.”
Mampus sudah. Ia tidak bisa menebak ekspresi Lintang karena ia terlalu malu untuk menatap wajah gadis di depannya tersebut. Dengan canggung Baskara mengucap terima kasih. Edipun berlalu.
Baskara berdehem berusaha melancarkan ludah yang tercekat di tenggorokan. Kini, tinggal mereka berdua lagi. m emberanikan diri, Baskara menatap gadis di depannya. Wajahnya tidak tertebak, tetap datar, dan tenang, seolah tidak terjadi apapun. Tapi matanya, mata Lintang seolah jijik melihatnya.
Sudah tidak ada jalan mundur, jadi akan lebih baik jika konfrontasinya dilakukan sekarang. Sendy juga sedang tidak ada sehingga akan lebih mudah melawan argumen satu orang dibanding dua.
“Aku mau deketin Kanya,” Baskara berujar pasti. Ia tak tahu dari mana datangnya suara tegas ini. ia pikir suaranya akan menciut lagi menjawab Lintang, ternyata tidak. Ia takjub karena bisa juga ia menanggapi introgasi Lintang.
“Oh…” Lintang tersenyum simpul. “Jadi kamu manggil Sendy tuh mau tau jadwal kuliah Kanya. Kenapa? Supaya kalian kelihatan selalu bertemu tanpa sengaja? Nggak mau sekalian minta WA aja?”
Skakmat!
Pertanyaan yang Lintang ajukan lebih terdengar seperti retorika. Nada yang sinis dan dingin. Tapi lebih mencengangkan lagi adalah bagaimana gadis ini bisa tahu rencananya dengan detail.
“Bas, kalau kamu pikir semua cewek bodoh dan terpikat sama pesonamu yang nol besar itu, kamu salah. Aku tahu polamu, aku tahu taktikmu,” alis Lintang naik sebelah.”Dan harusnya kamu tahu jawabanku kan?”
“Nggak, aku nggak tahu jawabanmu. Lagi pula kata-kataku tadi bukan pertanyaan, tapi pernyataan” Entah kenapa, Bas masih belum mau menyerah beradu argumen dengan Lintang. Matanya menantang untuk terlibat pertikaian mulut lebih lanjut. Sekarang ia tidak perlu bersopan-sopan lagi dengan gadis ini, toh ia sudah tahu semuanya.
“Kamu bodoh ya?” tawa kecil Lintang terdengar. “Sudah stalker, bodoh pula. Pick a struggle, dude.”
Berdiri, tangan Lintang menyambar kertas jadwal Kanya. “Ini aku ambil. Jangan minta salinan atau…”
“Atau apa?”
Meremas kertas itu, Lintang memasukkannya dalam kantung jaket. “Aku laporin Mas Rahmad ke rektorat atas dasar pembocoran identitas dan penyalahgunaan jabatan.” Ia tersenyum menang.
SIAL!
Sebrengsek-brengseknya Baskara, ia tak pernah mau menjadi penyebab orang kehilangan pekerjaannya. Ia juga tahu Mas Rahmad baru saja berkeluarga, jadi ia akan sangat merasa bersalah jika sampai Lintang mengadukan pegawai satu itu ke kampus.
Rasanya ia ingin mengajak Lintang saling hajar di tengah lapangan, tapi tidak… harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan tindakan rendahan seperti main tangan. Wajah pria itu kini memerah seperti udang rebus. Tak bisa dipungkiri, baru kali ini ia kalah telak dalam adu mulut. Selain malu, ancaman Lintang juga membuat darahnya mendidih.
Tepat setelahnya, Sendy datang dengan wajah sumringah, tak tahu bahwa sedang ada perang dingin yang terjadi di meja tersebut.
“Minumannya belum datang ya?” tanyanya sambil mengambil tempat. “Mau ngomong apa Bas?”
Baskara tersenyum simpul. “Nggak Sen, pertanyaanku dah dijawab Lintang. By the way, aku terburu-buru, minumnya buat kamu aja.”
Berdiri, Baskara angkat kaki dari meja tersebut. Baru beberapa langkah, suara Lintang terdengar pasti dan bergema di telinganya. Apa yang gadis itu katakana setelahnya membuat Bas ingin mengamuk dan marah saat ini juga.
“Oiya Bas… titip salam juga buat Bu Meri. Dia juga termasuk kan?”
SIALAN!
Baskara tertawa pelan sambil berjalan tanpa berhenti menuju parkiran.
Suatu saat ia akan memberi pelajaran gadis bermulut tajam itu. Tapi untuk sekarang, ia harus fokus pada tujuannya. Kanaya Realisa. Siapa tahu nanti, ia juga bisa membalas dendam lewat sana. Ya… siapa tahu bukan?
Baskara tersenyum licik.