Panas siang ini meyayat-yayat, orang-orang beramai-ramai menghindari terkena cahaya layaknya vampir. Bayang-bayang gedung menjadi tempat berteduh dari sinar yang seperti punya kekuatan menembus kulit. Keluhan dari mulut-mulut tidak berhenti terdengar dari mana-mana. Diantara orang-orang tersebut, seorang lelaki berambut legam tengah terduduk di pinggir taman. Ialah Baskara.
Jangan dikira karena namanya taman, maka akan banyak pohon rindang yang menaungi sana-sini. Julukan itu tak berarti karena taman yang dimaksud hanyalah rumput yang tumbuh dilahan luas dengan beberapa bangku di antaranya. Bangku-bangku itu terbuat dari besi dan bewarna hitam, kombinasi tepat yang membuat panas semakin menyerap. Tidak ada kanopi untuk melindungi siapapun yang duduk, sepertinya orang yang mendesain bangku-bangku ini memang sengaja ingin memberikan tema panggangan.
Manik Baskara terlihat fokus pada bacaan yang ia genggam, sedangkan tubuhnya ia sandarkan ke bangku yang tengah didudukinya. Dari jauh, ia terlihat seperti patung yunani yang sengaja ditempatkan di sana, satu-satunya oase yang menyegarkan ditengah kehijauan yan terasa gersang. Dan bukannya gosong, kulit pria itu malah semakin terlihat bercahaya, berkilau, seolah memang ia diciptakan untuk memantulkan kembali cahaya. Orang-orang melongok dua kali untuk memastikan apakah yang tengah membaca buku itu manusia ataukah dewa.
Bukan tanpa tujuan Baskara cuma-cuma membakar kulitnya di tengah terik matahari, ia memang sedang mencari perhatian orang-orang. Baskara sangat tahu keberadaannya akan membuat manusia-manusia berhenti dan memperhatikannya, ia ingin para mahasiswa fakultas, kalau bisa seluruh kampus, tahu kalau ia sedang membaca buku. B-U-K-U.
Buku bukanlah musuh pria itu, tapi juga bukan sesuatu yang ia sukai. Ia hanya membaca jika memang dibutuhkan, tapi saat ini, ia tidak benar-benar membaca. Baskara sebenarnya hanya pura-pura, ia bahkan tak tahu tulisan macam apa yang ia pegang, namun yang jelas buku akan membuatnya terlihat rajin dan pintar bukan? Ya, ia ingin terlihat seperti itu. Alasannya?
Tentu saja untuk mendekati target barunya, Kanya.
Sama seperti sebelum-sebelumnya, untuk mendekati seorang gadis, hal pertama yang Baskara lakukan adalah mencari tahu kesukaan atau hal-hal yang bisa menyambungkan obrolan dengan targetnya. Entah hobi, band favorit, atau kegiatan yang terakhir gadis itu lakukan sehingga Bas bisa menciptakan kesan bahwa ‘semesta’ mempertemukan mereka melalui hal-hal yang ‘target’nya sukai. Setelah penelitian kecil yang ia lakukan ke teman-teman satu jurusan (tentu saja mengenai Kanya), ia pun tahu bahwa Kanya merupakan gadis yang suka meminjam buku ke perpustakaan, novel terutama. Info lain yang ia dapatkan adalah gadis itu punya kebiasaan minum teh di sore hari dan harus dilakukannya setiap hari, gadis itu juga tidak menyukai kopi. Kanya pun takut bahkan benci pada ayam hidup, tapi menyukai semua hidangan dengan bahan utama ayam. Setidak-tidaknya itulah informasi yang bisa didapatkan.
Langkah kedua adalah membuat citra, yap… yang saat ini sedang ia lakukan. Ia tahu bahwa bukan hanya Kanya yang harus ditaklukan, ia juga harus melewati dua sahabat gadis itu, Sendy dan Lintang. Ia sudah cukup kenal dengan Sendy, namun Lintang? Gadis yang kelewat pintar itu tentu akan menjadi rintangan Bas untuk mendapatkan Kanya. Ia dan Lintang tidak pernah satu frekuensi, entah bagaimana makhluk satu itu bisa membuatnya kaku dan keki pada tiap-tiap pertemuan. Ia tidak tahu apakah dengan mencitrakan dirinya suka membaca buku akan membuat Lintang ikut terkesan. Tapi masa bodoh, itu bisa dipikirkan nanti.
Satu rintangan lagi yang harus ia lewati adalah Banyu.
Ia dan Banyu memang cukup akrab di SMA dahulu, bukan hanya akrab, beberapa orang bahkan menganggap keduanya bersahabat. Keduanya memang kompatibel, Banyu yang lebih banyak diam dan Baskara yang lebih sering bercerita. Mereka layaknya yin dan yang, keseimbangan itu membuat hubungan pertemanan keduanya lancar sepanjang SMA. Sayang sekali bahwa pacar Kanya saat ini adalah Banyu, karena Bas sama sekali tidak peduli dengan hal tersebut. Selain karena Banyu dan Bas sudah lama tidak berkomunikasi, betul-betul tidak berkomunikasi dalam hal apapun, Bas juga memang tidak pernah ambil pusing dengan relasi-relasi rusak yang dirinya sebabkan. Yang penting... ia puas.
Ah, sudah setengah jam ia berpanas-panasan dan berakting, kini ia merasa sudah cukup. Saatnya ia melakukan penelitian kecilnya lagi. Segera, ia mengemasi barang dan memasang jaket. Keringatnya sudah seperti bulir jagung yang terus menetes. Bukannya jijik, beberapa wanita lalu-lalang malah membayangkan skenario aneh-aneh dalam kepala masing-masing. Berandai kapan mereka bisa jadi ‘target’ Baskara selanjutnya, atau bagi sebagian lainnya yang sudah pernah menjadi ‘target’ Baskara, mengimpikan kapan ia dan Bas bisa kembali bersama.
--
“Duh pak! Saya kan cuma tanya jadwal orang, masa nggak bisa dicari kan?”
“Gak bisa mas. Saya sudah bilang kalau mau cari datanya, mas harus kasih NIM. Kalau nama doang, mana saya bisa!”
“Orang kemarin bisa kok! Pakai nama lengkap bisa pak, ini lho… Realisa Kanaya.”
“Nggak bisa mas. Ga ada NIM, gak bisa!”
“Ah, bapak gimana sih!”
“Ya masnya juga gimana dah!”
Dengan wajah sama-sama tertekuk, kedua pria itu saling memandang kesal. Dengan dongkol, pria yang jauh lebih muda dari pria paruh baya yang sedang duduk di belakang komputer tersebut, mundur.
Kepala Baskara rasanya mendidih meskipun ruangan tersebut memiliki tiga pendingin. Sejak 20 menit yang lalu pria itu sudah memohon-mohon (dan memaksa) untuk dicarikan jadwal kuliah Kanya oleh pegawai administrasi fakultasnya. Tentu ini bukan kali pertama Baskara melakukannya, sudah berulang Baskara meminta. Kadang ia berhasil, kadang tidak. Peluang suksesnya sangat tergantung dengan petugas mana yang sedang berjaga. Ia paling akrab dengan Rahmad, salah satu pegawai muda yang sering ia traktir makan. Namun, kali ini ia mendapatkan Pak Anto, petugas paling tua, paling kolot, dan paling gaptek di fakultas hukum.
Ia harusnya mengabarkan mas Rahmad via WA dahulu, tapi sudah terlanjur Baskara datang ke administrasi, jadi sebaiknya sekalian saja mencoba peruntungannya. Ternyata memang tidak bisa. Sakit kepala Baskara dibuatnya.
Ia masih berdiri mencari cara supaya Pak Anto atau siapapun mau memberinya akses. Matanya berkeliling menatap para pegawai administrasi kampus sampai matanya bertemu wanita paruh baya yang juga ia akrabi, Bu Meri. Dengan isyarat mata, wanita itu menyuruhnya keluar dahulu. “Nanti saya carikan,” lanjutnya. Dengan hati yang kesal, ia keluar dari ruang administrasi. Ia tahu Bu Meri adalah orang yang baik, sayangnya beliau tidak bisa diandalkan untuk hal ini. Wanita itu sama kolotnya dengan orang tua yang tadi ia ajak berdebat.
Sekarang harus bagaimana ia bisa bertemu Kanya? Ia malas kalau harus mencari tahu lagi dari orang-orang soal jadwal Kanya. Ia akan terlihat seperti stalker, dan meskipun pria itu juga menyadari tindakannya memang mirip pengintai, Bas tak mau dicap seperti itu. Ia juga tak mau menunggu hampir seminggu lagi untuk dapat berjumpa dengan Kanya, hanya Rabu-pukul-sepuluh-di-gedung-B yang ia tahu, itu adalah hari perjumpaan pertamanya dengan Kanya. Atau… haruskah ia nongkrong di kantin 12 jam sehari? Tidak mungkin. Baskara segera menepis pemikiran tersebut.
Sembari terduduk Baskara memutar otak. Cara apa yang paling ampuh agar ia dan Kanya bisa bertemu dan bercengkrama tanpa harus ia berpapasan dengan Banyu ataupun dua sahabat Kanya?
Eh, tunggu... dua sahabat Kanya?
Lintang dan Sendy!
Sendy!
Bukankah kata orang-orang mereka selalu terlihat berangkat bersama? Itu artinya banyak jadwal kuliah Sendy yang sama dengan Kanya. Bahkan hampir mungkin jadwal mereka berdua sama semua. Tentu Baskara tidak akan mengharapkan bantuan dari Lintang. ia tahu bahwa bahkan sebelum diperbolehkan bertanya, ia akan dihakimi duluan. Apalagi jika Lintang tahu maksud Baskara ingin mendekati Kanya, bisa dibabat habis-habisan dia. Baskara tidak takut dengan Lintang, namun sebaiknya memang ia menghindari gadis dingin tersebut.
Segera, Baskara menghubungi Sendy, mencari tahu di mana pria itu berada.
‘Sen, ini Baskara. Ada di mana?’
Sambil berpuas hati, Baskara menuju kantin. Ia tertawa menang dalam hati karena meskipun ia tak mendapat jadwal Kanya dari pak Anto, ia menemukan cara lain mendekati Kanya.
Tak berapa lama, HP Baskara bergetar.
‘Di kantin Bas, ada apa nih?’
Keduanya memiliki hubungan cukup akrab. Meskipun beda angkatan, keduanya pernah satu event dan organisasi. Jadi, tidak perlu ada embel-embel mas, kak, atau lainnya ketika keduanya saling bicara.
‘Ada yang mau kutanya’
‘Ga bisa nanya di chat aja?’
‘Ga enak kalo chat. Penting nih soalnya.’
Berdebar, Baskara menunggu balasan Sendy.
‘Okay deh, aku di depan Kopi Roso ya.’
‘Sip, otw.’
Setengah berlari, Baskara menuju kantin tanpa beban. Ia membayangkan percakapannya nanti dengan Sendy yang kemungkinan akan memberikan hasil yang ia inginkan. Memang benar kata pepatah, ada seribu jalan menuju Roma.
Ya. Memang ada seribu jalan menuju Roma, tapi yang Baskara lupa, tidak semua jalan tersebut bisa ia lewati.