Konfrontasi Kanya

1530 Words
Sudah beberapa hari ini Banyu tak menghubungi Kanya. Pria itu mungkin marah besar karena Kanya malah pergi saat ia datang ke kampus ingin menjemput. Beberapa kali juga Kanya datang ke kelas Banyu, baik itu sebelum mata kuliah atau sesudahnya. Banyu betulan menghindar. Jika ia melihat Kanya di depan kelas sebelum mata kuliah, ia akan kabur dan menghindari gadis itu atau membolos. Pun saat selesai, pria itu dengan secepat kilat menghilang atau pura-pura tak melihat tubuh kecil Kanya yang duduk menunggu kehadirannya.  Baskara yang sekiranya akan membantu, ternyata juga tak mendapatkan hasil. Pria itu menelpon Banyu, berusaha menjelaskan. Namun hanya nada sambung terus yang ia dengar. Terkait Baskara, mereka berdua sepakat tetap melanjutkan agenda sarapan bersama. Meskipun Baskara mengatakan tak perlu memaksakan untuk mengikuti permintaannya dan sudah bersedia mencari makan di tempat lain, Kanya memutuskan kalau sudah berjanji, gadis itu akan menepatinya. Jadi, selama dua hari terakhir, Kanya, bunda, dan Baskara tetap bersama-sama bersantap. Sesekali Kanya menceritakan keresahannya mengenai Banyu kepada Baskara ketika sang ibu sudah pergi bekerja. Baskara kadang mendengarkan dan sesekali ia memberikan pendapatnya, Kanya tahu bahwa mereka berdua sudah merasa nyaman dengan kehadiran satu sama lain, gadis itu tak lagi canggung atau kikuk. Namun, ia dan Baskara hanya sebatas itu, kedekatan yang layaknya teman atau sahabat. Kanya merasa, Baskara pun berpikiran demikian. Tapi tetap, ia tak bisa memastikan. Keheningan Banyu yang terlalu lama, amarah yang tak terlalu jelas apa sebabnya, dan tindakannya yang menghindar terlalu lama, membuat Kanya agak panik. Ini bukan Banyu banget. Mengapa pria itu sebegitu harus menghindarinya? Apa Lintang dan Sendy mengatakan sesuatu yang tak baik pada Banyu di hari itu –saat ia menjenguk Renata? Jujur saja ia ingin menanyai dua sahabatnya. Tapi sama seperti Banyu, dua manusia itu juga menghindar dengan caranya masing-masing. Melalui papan pengumuman, Kanya tahu kalau Lintang sedang ikut kompetisi debat di luar negeri, tepatnya Malaysia. Pengumuman itu sepertinya baru saja dipasang sehari setelah ia dan Lintang bertengkar. Lintang pergi tanpa pamit, padahal biasanya Kanya dan Sendy yang akan mengantar keberangkatan di bandara. Sendy bilang ia mengantar Lintang ke bandara, namun tak menjelaskan lebih lanjut dan malah bertanya soal apakah Kanya sudah mengerjakan makalah untuk mata kuliah Hukum Agraria. Ya, itu salah satu cara pria itu menghindari topic ini. Pria itu bungkam. Memang Sendy masih jadi Sendy yang biasanya, ia menjemput Kanya ke kampus, ikut kelas, makan di kantin bersama sambil tertawa. Tapi Sendy menghindari pembahasan tentang hari itu. Setiap ditanya, Sendy akan langsung mengalihkan obrolan atau diam pura-pura tak mendengar. Membuat Kanya seolah bicara pada hantu. Jengah, hari ini Kanya memutuskan akan mengkronfontasi Sendy. Apapun yang terjadi, sahabatnya itu harus bicara soal mengapa semua orang di sekitar Kanya menghindar. Kanya harus tahu alasan mengapa Lintang pergi tanpa pamit, mengapa Lintang tak menjawab pesannya selama di Malaysia, dan apa yang mereka katakan pada Banyu hari itu. Kanya harus tahu mengapa Banyu tak mau bertemu. Duduk di kantin, Sendy seperti biasa tersenyum dan menanyai Kanya ingin makan apa. Meskipun kelihatan tak ada yang berubah, tapi jelas bagi Kanya kalau pria di depannya ini menyembunyikan sesuatu melalui matanya. Kanya tak memesan apapun dan diam melihat gerak-gerik Sendy mulai dari pergi memesan sampai kembali ke meja kemudian memainkan ponsel. “Kanya kenapa sih?” tanya Sendy saat menyadari gadis di depannya memincinkan mata sambil menatap. Pria itu tak menaruh kotak kecilnya, seperti bersiap akan pura-pura tak mendengar karena sedang sibuk dengan ponsel jika lagi-lagi Kanya memulai topik itu. “Kalau aku salah, aku minta maaf.” Ujar Kanya lugas. “Tapi kesalahan aku hari itu nggak membenarkan juga tindakan Lintang dan Banyu mengindari aku sebegininya.” Agak terkejut, seperti biasa, Sendy langsung menghindari tatapan. Ia pura-pura mengetik dan seperti ekspektasi Kanya, melihat layar dan tak mengindahkan gadis yang menunggu jawaban tersebut. Menyadari masih ditatap, pria itu sengaja mengarahkan maniknya ke tempat lain. Jika sedang tak nyaman, Sendy punya kebiasaan menggaruk kuku jempolnya dengan kuku telunjuk, seperti yang saat ini dia lakukan. Jelas sekali Sendy akan melakukannya lagi, mengubah topik dan sengaja tak menjawab. “Ya ampun, Nya! Lupa aku pesen pangsit basah, bentar ya!” Seru Sendy tiba-tiba. Pria itu segera berdiri dan akan melangkah sebelum Kanya mencegah. Tapi terlambat, tangannya sudah ditarik Kanya unduk duduk kembali saling berhadapan dengan mata yang setengah kesal, setengah memohon tersebut. “Sen, please…” suara Kanya melembut, terdengar seperti orang yang putus asa dan memohon agar diampuni. “Aku mau ngomong lagi sama Lintang dan Banyu.” Dengan berkaca-kaca, Kanya menggenggam tangan Sendy yang besar karena lemak tersebut. Diam, Sendy belum menjawab apapun selain menatap ke bawah dan merenung. “Kenapa kalian gini? Aku emang salah karena aku nggak bilang soal aku jalan sama Baskara. Tapi beneran, aku nggak ngerti kenapa kalian semarah ini…” “Aku bukannya nggak mau jawab, Nya.” Ucap Sendy. “Tapi kita diskusiin ini sama Lintang gimana? Dia besok pulang dari Malaysia.” Keduanya saling tatap, seolah saling bernegosiasi dengan melalui mata. Tentu Sendy yang lembut kalah, ia menunduk memutar otak, mencari titik tengah, mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. “Kenapa harus sama Lintang? Kemarin aja dia nggak mau ngasih tahu kalau pergi ke luar negeri.” Ujar Kanya emosi. Jujur saja, Kanya kecewa. Beberapa tahun bersahabat, bahkan sejak orientasi kampus, Lintang kini meninggalkan Kanya dan tak berkabar. Kepergian tanpa pamit Lintang memberikan Kanya tanda kalau dirinya tak dibutuhkan sahabatnya itu. Sendy menghela nafas berat. “Bukan nggak mau ngasih tahu, kemarin Lintang tiba-tiba disuruh ke Malay nggantiin anak Isipol buat lomba.” Sendy menatap Kanya serius. “Sebenernya kemarin kami nelpon kamu juga karena itu. Hari itu Lintang langsung cabut, dia mau ngasih tahu tapi nggak jadi karena tiba-tiba Baskara yang bicara.” Kanya diam dan berusaha mencerna apa yang barusan Sendy katakan. Lintang mau memberi tahunya? Berarti Lintang tidak marah? “Lintang marah,” ujar Sendy seolah tahu isi pikiran Kanya. “Lintang marah banget karena Baskara yang jawab. Lebih marah lagi karena kamu udah dikasih tahu jangan deket-deket laki kayak gitu, tapi masih nggak ndengerin.” Kanya tertunduk menatap meja dengan pikiran yang berkecamuk. Gadis itu terdiam penuh penyesalan mengapa waktu itu tubuhnya tak bertindak cepat untuk mengambil ponsel dari Baskara. Pun ia menyesal karena tak bercerita sejak awal pada sahabatnya soal kedekatan Kanya dengan Baskara yang tiba-tiba. “Jujur aja akupun kecewa karena sama kamu. Di hari itu banyak banget yang messed up. Dan bukannya langsung ngeclearin semuanya, kamu malah minta Baskara buat jadi juru bicara kamu.” “Aku nggak minta Baskara. Dia yang…” “Mau kamu nggak minta atau gimanapun, yang aku dan Lintang pahami adalah kamu cuma diam dan nggak ngasih penjelasan apapun. Kami harus dengan semuanya dari orang lain.” Nada kecewa dalam intonasi suara Sendy begitu kentara. Pria itu berusaha menahan agar dirinya tak menaikkan nada ketika bicara dengan Kanya. Sendy tahu kalau Kanya tak bisa diberitahu lewat teriakan dan emosi karena gadis itu hanya akan menangis dan membeku. Sendy tahu bahwa Kanya punya sebuah rahasia, sebuah trauma yang membuat gadis itu menjadi takut saat mendengar bentakan. Maka itu Sendy selalu berhati-hati saat bertengkar dengan Kanya, berbeda dengan Lintang yang tetap keras meskipun tahu kenyataan tersebut. “Maaf ya Sen…” Kanya hampir menitikkan air mata mendengar sahabat di depannya terlihat begitu kecewa pada dirinya. Ia tahu dirinya salah tapi masih ada satu hal yang menyangkut dan tak bisa ia simpulkan dari penjelasan Sendy barusan. “Nggak usah minta maaf sama aku, aku udah maafin.” Kali ini tangan Sendy mengelus punggung tangan Kanya. Sekecewa apapun, Sendy tetap tak bisa marah terlalu lama. “Kamu minta maaf sama Lintang besok. Dia juga pasti maafin kamu. Tapi kamu jangan nangis ya, kamu tahu kan Lintang ga suka air mata?” Kanya mengangguk pasti. Gadis itu menyeka ujung mata yang hampir melelehkan air. Ia berpindah tempat ke sebelah Sendy dan memeluk sahabatnya erat. “Tapi… kalian ngasih tahu apa ke Banyu kok dia nggak mau ketemu aku?” tiba-tiba Kanya bertanya setelah melepas tangan. Sendy terdiam cukup lama. Ia mengingat-ingat apa saja yang sudah mereka bicarakan saat memberi tahu Banyu kalau Kanya sudah ditemukan. Memang, ia dan Lintang dengan sedikit berbohong, berkata kalau saat itu sudah bersama-sama Kanya menuju rumah. Sendy terpaksa bilang kalau Kanya sedang berbelanja sendiri maka itu tak bisa mengangkat telepon. Sendy dan Lintang tak tahu apakah Banyu adalah tipe pencemburu, jadi Sendy memilih berbohong untuk berjaga-jaga menyelamatkan Kanya. “Kita nggak bilang banyak kok,” ucap Sendy ragu. “Waktu itu Lintang ngomong kalau kamu udah ketemu dan pulang bareng kita. Terus…” Ada jeda sebentar yang membuat Kanya agak curiga. “Aku bilang kamu lagi solo shopping jadi gabisa ngangkat telepon.” “Kalian bohong?” tanya Kanya terkejut. “Dikit…” “Tapi… tapi Baskara bilang juga mau ngomong sama Banyu kalau aku lagi sama dia. Jangan-jangan Banyu tahu kalau kalian bohong, makanya dia marah?” Kanya jelas panik. “Engga kok. Kami udah sepakat sama Baskara kalau dia tutup mulut dan bilang kalau kamu shopping sendirian.” Jawab Sendy yakin. Dirinya sendiri yang membuat kesepakatan itu agar hubungan Kanya dan Banyu membaik. “Terus… Banyu kenapa nggak mau ngomong sama aku?” Keduanya diam dalam kepalanya masing-masing. Mencari di mana kesalahan yang menyebabkan Banyu tak mau menemui Kanya. “Aku harus ketemu Banyu.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD